NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Ditangkap Polisi

Bab 3 — Ditangkap Polisi

Semua anak yang ikut balapan malam itu dibawa ke kantor polisi. Karena kebanyakan masih di bawah umur, mereka dikumpulkan di lapangan kecil di halaman kantor polisi sambil menunggu orang tua datang menjemput.

Seorang polisi berdiri di depan memberi nasihat panjang lebar. Tapi suasana di sana tetap ramai.

Satu per satu orang tua mulai berdatangan.

Ada yang wajahnya merah karena marah.

Ada yang menangis sambil memeluk anaknya.

Ada yang langsung menjewer telinga tanpa peduli orang-orang di sekitar.

Meski marah, pada akhirnya mereka tetap menandatangani surat pernyataan dan jadi penjamin buat anak-anak mereka.

“mah tolong jadi penjamin nadia mah” ujar dino penuh harap

“ngapain ngurus anak, orang, ngurus lu aja gue udah pusing,,bukannya belajar yang bener malah balapan,,” ucap ibunya dino sambil menjewer dino

Dino meringis sambil memegangi telinganya. Sebelum pergi dia menoleh ke arah Nadia.

“nad gue duluan”

Nadia cuma mengangguk pelan.

Lalu beberapa menit kemudian seorang wanita datang terburu-buru.

“kamu enggak apa-apa sayang” ibu leo datang dengan panik meraba-raba pipi leo “mamah jangan lebay deh aku enggak apa-apa,,,mah tolong jadi penjamin nadia mah” pinta leo

Wajah ibu Leo langsung berubah sedih. Dia menunduk sebentar lalu berbisik pelan.

“sayang uang mamah enggak cukup buat jamin nadia, maaf ya sayang”

Wanita itu lalu mendekat ke Nadia.

“nadia maafin tante ya,,andai saja uang tante banyak,,tante pasti mau jadi penjamin kamu,,kamu tahu sendirilah,,,” ibunya leo menepuk nepuk pundak nadia

“ga masalah tante,,,terimakasih atas perhatiannya” jawab nadia expresinya biasa saja

Wajah Nadia tetap datar, tapi diam-diam dadanya terasa hangat.

Dia tahu keluarga Leo hidup sederhana. Ibunya cuma pedagang keliling dan ayahnya bekerja sebagai sopir.

Tapi anehnya, mereka selalu ada buat Leo.

Mereka selalu membela anaknya apa pun yang terjadi.

Dan entah kenapa, melihat hal sesederhana itu membuat Nadia tiba-tiba merasa iri.

Karena selama ini dia nggak pernah punya hal seperti itu.

Kini di lapangan hanya tersisa Nadia dan Aldo.

“orang tua lu ga datang” tanya aldo

“ga tahu gue,,,” jawab nadia datar

Belum sempat Aldo bicara lagi, dua sosok berjalan mendekat.

Rangga dan Rina.

Tatapan mereka jatuh ke Nadia tanpa kehangatan sedikit pun.

Bukan karena mereka peduli.

Mereka hanya nggak mau kalau berita anak keluarga Wijaya ditangkap polisi sampai tersebar keluar.

“dasar tak berguna, memalukan nama keluarga saja, mau jadi apa kamu coba kecilkecil sudah kriminal seperti ini” cerocos rani

Rangga berdiri di sampingnya.

Diam.

Tatapannya sendu ke arah Nadia.

Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi semuanya seperti tertahan oleh rasa bersalah.

“tanda tangan surat pengunduran diri dari peserta olimpiade baru kami akan membebaskan kamu” ujar rangga dengan nada datar tangannya sedikit gemetar saat memberikan surat itu pada nadia

Nadia melihat surat itu lalu tersenyum sinis.

“olimpiade itu masa depanku,,,aku tidak akan mundur” ujar nadia dengan tatapan dingin melihat ke arah rangga

“sudah seperti ini saja masih keras kepala” ucap rina dengan rahang yang mengeras “cepat tanda tangan atau kamu akan membusuk disini,,jangankan ikut olimpiade sekolah saja kamu enggak akan bisa”

“kenapa kalian ngotot aku mengundurkan diri, apakah yulia takut kalah,,yulia mendapatkan pendidikan terbaik, guru hebat dengan bayaran mahal. Belum lagi kursus kursus yang intens dengan persiapan seperti itu apa dia masih tak percaya diri”

“hentikan omong kosong kamu nadia,,,yulia enggak mungkin kalah dari kamu,,,kami tidak mau nama keluarga wijaya tercoreng,,,satu jadi juara masa satunya jadi pecundang,,,cepat tanda tangani”

Rina menyodorkan surat itu.

Nadia mengambilnya.

Beberapa detik dia menatap kertas itu.

Lalu—

Sreettt...

Nadia merobek surat itu tepat di depan mereka.

Potongan kertas jatuh berserakan.

“lebih baik busuk di penjara daripada mengikuti keinginan konyol kalian”

“plak”

Tamparan keras mendarat di wajah Nadia.

Tubuh Nadia sampai terhuyung.

Sudut bibirnya berdarah.

Dia mengusap darah itu pelan lalu menatap Rina.

Tatapannya tajam.

Tatapan yang selalu berhasil membuat Rina kesal.

“dasar anak tak tahu di untung,,mas ayo kita pergi biar saja dia mati di penjara”

Rina menarik tangan Rangga.

Tangan lelaki itu terasa dingin.

Rangga menoleh sekali lagi ke arah Nadia.

Tatapannya terlihat putus asa.

Lalu mereka pergi.

Suasana mendadak sunyi.

Gerimis turun perlahan.

Kini yang tersisa di lapangan hanya Nadia dan Aldo.

Suasana kantor polisi mulai sepi. Gerimis di luar semakin deras, suara air yang jatuh ke atap terdengar pelan menemani malam yang terasa panjang.

“Cepat kalian masuk, di luar hujan,” terdengar suara Pak Polisi.

Nadia dan Aldo masuk ke dalam lalu duduk di kursi panjang. Aroma kopi hitam menyeruak memenuhi ruangan. Suara ketikan keyboard terdengar bersahutan, sementara beberapa polisi berlalu-lalang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

“Gila ya nyokap lu,” Aldo memecah keheningan.

Nadia hanya menoleh sebentar, lalu kembali melihat televisi yang menyala di depan mereka. Wajahnya tetap datar seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dadanya masih terasa sesak.

Tak lama kemudian suara deru beberapa mobil terdengar dari luar.

Brumm...

Brumm...

Tiga mobil SUV hitam berhenti tepat di halaman kantor polisi.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria paruh baya turun dengan langkah tenang. Rahangnya tegas, tatapannya tajam. Jas mahal melekat di tubuhnya, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya. Di belakangnya beberapa pria berbadan besar dengan kaos hitam mengikuti.

Beberapa polisi langsung menghampiri dan menyapanya dengan akrab.

Pria itu berjalan mendekati Aldo.

“Kebiasaan lu ya, Boy, kenapa enggak hubungi papah?” ucap bapaknya Aldo.

“Pengen aja rasain lantai penjara gimana, Pah,” jawab Aldo santai.

“Dasar anak nakal.”

Meski berkata begitu, senyum tipis malah terlihat di wajahnya.

“Ayo Boy pulang, mamah kamu bisa enggak tidur semalaman kalau papah enggak bawa pulang kamu.”

“Pah, tolong jadi penjamin teman aku, Pah,” Aldo menatap Nadia.

Pria itu menoleh.

“Wow amazing, ladies... kau ketangkap juga. Luar biasa, mana mamah papah kamu?” ucapnya.

“Sudahlah Pah, pokoknya bebaskan teman Aldo kalau enggak Aldo enggak akan pulang.”

Pria itu menatap anaknya cukup lama.

“Serius lu Boy, lu jatuh cinta sama ini cewek?” ucap bapaknya Aldo.

Lalu matanya melihat Nadia sekali lagi.

Gadis itu duduk diam dengan wajah datar, padahal baru saja ditinggalkan keluarganya.

“Bukan wanita biasa...” gumamnya dalam hati.

“Oke, papah akan bebasin dia,” ucapnya lembut.

Setelah beberapa urusan administrasi selesai, akhirnya Nadia diperbolehkan pulang.

“Cantik, pulang bareng Om mau?” tawar Andika, bapaknya Aldo.

“Saya pulang sendiri Om.”

“Nad sudah malam, lagian motor kamu belum bisa dibawa pulang. Udah, lagian kita searah,” ucap Aldo.

Nadia mengernyit.

"Searah dari mana? Emang dia tahu rumah gue?" pikirnya.

“Sudahlah cantik, tak baik anak gadis pulang malam, biar om ganteng ini yang anter” ucap Andika dengan suara lembut.

Beberapa anak buahnya langsung menunduk menahan tawa.

Melihat bos mereka yang biasanya galak tiba-tiba bicara selembut kapas memang pemandangan langka.

“Baiklah kalau begitu.”

Nadia akhirnya menyerah.

Dia duduk di kursi belakang bersama Andika, sementara Aldo di kursi depan.

Sepanjang jalan Andika terus mengobrol.

“Cantik kamu garang sekali, keren. Mamahnya Aldo senang sekali kalau kamu jadi anak semanis kamu.”

Kalimat itu terdengar aneh.

Garang tapi manis.

Benar-benar enggak masuk akal.

Nadia cuma tersenyum kecil sesekali sambil mengangguk.

Aneh.

Rasanya hangat.

Perasaan yang jarang dia rasakan.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah besar milik keluarga Rangga Wijaya.

Andika mengangkat alisnya.

“Aih, ada hubungan apa dengan si pecundang Rangga ini?”

Belum sempat dia lanjut bicara—

“Dia ayahku Om,” jawab Nadia datar.

Andika langsung menutup mulutnya.

“Maafin Om.”

“Enggak masalah Om, makasih udah anterin.”

Nadia turun dari mobil.

Setelah memastikan Nadia masuk ke rumah mewah itu dengan cara memanjat pagar, Andika dan rombongannya hanya bisa terdiam.

Beberapa detik kemudian mobil kembali melaju meninggalkan rumah itu.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!