NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 ~ Tetap Di Sisiku

Garra terhuyung ke belakang sedikit karena dorongan itu, menatap wajah pucat Hezlin yang kini tampak berusaha menahan muntah lagi. Amarah di matanya perlahan bercampur dengan kebingungan, namun ia tak lagi mendekat. Ia mendengus kasar, menepuk setir keras sekali sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Baik. Kita pulang," ucapnya singkat, nada bicaranya dingin dan penuh kekecewaan. Ia langsung menyalakan mesin kembali, memacu mobil dengan kecepatan tinggi tanpa lagi mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan.

Hezlin memeluk tubuhnya sendiri di sudut kursi, matanya menatap kosong ke luar jendela sementara rasa mual itu perlahan mereda namun digantikan oleh kecemasan yang tak berujung. Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan rumah besar yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman baginya, namun kini terasa seperti sebuah penjara yang menanti.

Hezlin tidak bergerak sedikit pun dari duduknya, menatap lurus ke arah Garra dengan raut wajah yang tenang namun tajam.

"Kenapa kamu membawaku kemari?" tanyanya jelas dan tegas, tidak ada getar takut di suaranya. "Aku sudah bilang, aku mau ke apartemenku. Bukan ke sini."

Garra menatapnya balik, sorot matanya tak kalah kuat.

"Selama kau masih istriku, kau takkan pernah pergi dari sini. Keputusanku sudah bulat," jawabnya dingin. "Turun sekarang. Atau aku yang akan membawamu masuk paksa."

Hezlin menatapnya lama, matanya menyala menantang meski dadanya sesak. Ia tahu Garra bukan sekadar mengancam, pria itu benar-benar akan melakukannya. Akhirnya ia menghela napas kasar, melangkah turun sendiri dengan gerakan tegak, tak mau terlihat seperti penakut.

"Kau tidak bisa menahanku selamanya," ucapnya dingin saat berdiri di hadapannya. "Surat itu sebentar lagi sah."

Garra menyeringai tipis, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka sangat dekat.

"Kita lihat saja nanti," bisiknya rendah. Ia langsung memegang lengan Hezlin tidak menyakiti, tapi cukup kuat agar wanita itu tahu ia takkan lolos. "Masuk."

Ia membimbing Hezlin masuk ke dalam rumah, pintu kayu besar di belakang mereka tertutup pelan namun terdengar seperti penutup yang mengunci semua jalan keluar.

Mereka baru melangkah masuk ke ruang tengah, saat Bi Rumi segera bergegas menyambut dari arah dapur. Wajah wanita paruh baya itu membelalak tak percaya saat melihat sosok Hezlin berdiri di sana.

"Nyonya Hezlin..." bisiknya pelan, matanya tak lepas menatap. "Saya tidak menyangka Nyonya akan kembali lagi ke sini."

Hezlin hanya mengangguk singkat tanpa senyum, lalu menatap Bi Rumi tegas.

"Bi Rum, tolong siapkan kamar tamu lantai atas untukku. Aku ingin tidur di sana."

Bi Rum tampak ragu seketika, tangannya meremas ujung celemek, lalu menoleh meminta kepastian ke arah Garra.

Garra diam saja, hanya mengedipkan matanya pelan tanda setuju dan menyuruhnya melaksanakan permintaan itu.

"Baik, Nyonya. Saya siapkan sekarang juga," ucap Bi Rum segera, lalu bergegas pergi.

Hezlin berbalik sepenuhnya menatap Garra, sorot matanya tenang namun tak bisa dibantah.

"Selama aku masih di sini, aku tidak mau lagi satu kamar denganmu. Sampai surat perceraian kita benar-benar turun," ucapnya tegas. "Setelah itu, aku akan pergi untuk selamanya."

Garra menatapnya lama, rahangnya mengeras mendengar kalimat terakhir itu. Tapi Hezlin tak menunggu jawaban, wanita itu langsung berbalik melangkah menuju kamar tamu yang sudah disiapkan.

Tak lama kemudian Bi Rum menyelesaikannya, lalu membungkuk sopan hendak pamit.

"Tolong bawakan pakaianku juga, Bi," ucap Hezlin singkat sebelum menutup pintu.

"Baik, Nyonya."

Bi Rumi kembali ke ruang tengah, melihat Garra masih berdiri diam di tempat yang sama. "Tuan, saya hendak mengambilkan pakaian Nyonya dikamar utama."

Garra mengangguk pelan. Tiba-tiba dia teringat tentang kejadian barusan. Garra tau.. Hidup di luar sana pasti membuat Hezlin tidak bisa menjaga kesehatannya.

"Setelah itu tolong siapkan sup hangat untuk Hezlin." titah Garra tegas.

"Baik, Tuan."

Bi Rumi segera naik ke lantai atas, mengambil beberapa setel pakaian Hezlin, lalu membawanya turun menuju kamar tamu.

Tok... tok... tok...

"Nyonya, saya bawakan pakaian yang Nyonya minta."

Pintu terbuka perlahan. Hezlin muncul di baliknya, menatap pelayan tua itu sekilas. "Terima kasih, Bi."

Setelah menyerahkan tumpukan pakaian itu, Bi Rumi menambahkan pelan, "Saya juga akan buatkan sup hangat untuk Nyonya nanti, sesuai permintaan Tuan Garra."

Hezlin terdiam sejenak, sedikit tertegun mendengarnya. Ia mengangguk pelan tanpa menampik.

"Terima kasih," ucapnya singkat, lalu menutup pintu kembali.

Bi Rumi pun berjalan menuju dapur. Di sepanjang jalan, hatinya terasa lega sekaligus sedih, setidaknya, masih ada rasa peduli yang tersisa di hati Garra, meski caranya menyampaikannya selalu bercampur dengan kekakuan yang menyakitkan.

••

Sementara itu di ruang kerjanya, Garra berdiri di dekat jendela lebar. Asap rokok mengepul pelan dari bibirnya, matanya menatap kosong ke arah halaman depan sambil menempelkan ponsel di telinga.

"Ervan," ucapnya begitu sambungan terhubung.

"Siap, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

"Cari tahu sekarang juga, apakah Hezlin sudah benar-benar mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan," suara Garra rendah namun penuh penekanan. "Kalau benar sudah ada berkasnya, tarik kembali. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bercerai dengannya."

"Baik Tuan, akan segera saya urus."

Garra menutup telepon, lalu kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Baginya, kalimat perceraian itu takkan pernah ada tempat di antara mereka.

Asap rokok melayang perlahan terbawa angin yang masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Garra menatap bayangan pohon di luar tanpa benar-benar melihatnya, jemarinya mencengkeram bibir jendela begitu erat hingga urat di punggung tangannya menonjol.

Ia tak peduli berapa banyak cara yang harus ditempuh, berapa biaya atau siapa yang harus ia temui. Satu hal yang pasti, ia takkan membiarkan Hezlin pergi, takkan membiarkan nama mereka terpisah secara hukum.

Garra berbalik, lalu mematikan puntung rokok di asbak dengan gerakan kasar. Matanya kini beralih menatap lurus ke arah pintu kamar di lantai atas tempat Hezlin berada.

"Tidak ada jalan keluar lain selain tetap di sisiku," gumamnya lirih, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!