"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 17
Setelah Layla selesai visum, Bennedict menawarkan untuk mengantar Layla ke tempat Riri.
"Jika kau mau aku bisa mengantarmu ke tempat Riri supaya kamu merasa aman untuk sementara waktu," kata Bennedict.
Layla tersenyum..
"Ia tentu, terimakasih." ucap Layla.
Setelah Bennedict menyelidiki tentang Zhao Lee, ia mulai menjalankan aksi balas dendamnya.
Ia mendekati Layla dengan maksud menyelamatkan Layla sekaligus merebut semua aset yang di miliki Zhao Lee.
Setelah kejadian itu Layla belum pulang ke rumah Zhao Lee ia masih di tempat Riri untuk beberapa hari kedepan sampai hasil visum itu keluar.
Layla juga tak berangkat bekerja.
Ia menghindari Zhao Lee sebisa mungkin.
Beberapa saat kemudian...
Bennedict mengunjungi rumah Riri untuk menjenguk keadaan Layla.
"Bagaimana keadaanmu?,'' tanya Ben.
Layla tersenyum.
"Sudah lebih baik, terimakasih buat yang waktu itu," kata Layla.
Bennedict membalas senyum itu.
''Syukurlah kalau begitu."
"Aku bawakan beberapa baju ganti, mungkin tidak terlihat bagus tapi cukup untuk menjalankan fungsinya," kata Bennedict.
Layla menerimanya dengan sopan. ekspresi wajah Layla masih terlihat gelap, ia belum sepenuhnya baik-baik saja.
Bennedict diam sesaat. Ia merasa iba pada Layla.
"Jika butuh sesuatu katakan saja padaku, aku pasti bantu'' kata Ben.
Diam-diam Riri mengamati mereka berdua dari jauh, ada sesuatu yang mencurigakan dari Riri.
Setelah semua di rasa cukup Bennedict pamit pulang dan berpesan pada Riri agar menjaga Layla dengan baik.
Lalu...
Riri merogoh sakunya.
Ia mengambil ponsel..
Lalu menelpon seseorang yang memegang kendali atas dirinya.
"Bagaimana perkembangannya?" terdengar suara pria di seberang telepon.
Riri diam sejenak...
"Target benar-benar memakan umpannya," ucap Riri.
Kemudian menutup telepon..
Riri menundukan kepala, ia merasa bersalah.
Namun tak bisa apa-apa.
"Maafkan aku..., aku terpaksa." ucap Riri dalam hati.
Ia melirik ke arah Layla beberapa detik sebelum ikut bergabung dengan Layla.
Kedekatan Layla dan Bennedict semakin intens, Layla merasa aman di dekat Ben.
Wajah Layla yang semula mendung sekarang menjadi cerah berkat Ben.
Ben selalu ada di saat Layla benar-benar butuh.
Sebulan kemudian hasil visum pun keluar, Layla ada janji temu dengan petugas rumah sakit untuk menyerahkan hasil rekam medis di rumah besar Zhao Lee.
Menurut jadwal yang diketahui Layla, Zhao Lee seharusnya masih berada di kantor. Karena itulah ia datang dengan tenang.
Namun, dugaannya meleset.
Layla melangkahkan kakinya ke ruang kerja pribadi Zhao Lee.
Layla yang baru tiba hendak mengetuk pintu ruang kerja. Namun, suara Zhao Lee dari dalam membuat langkahnya terhenti.
Layla terdiam sejenak memastikan sesuatu.
''Bukankah Zhao Lee masih ada di kantor jam segini," ujar Layla dalam hati.
Layla merasa tidak asing dengan suara yang sedang berbicara dengan Zhao Lee.
Seperti...
Suara petugas rumah sakit yang tadi menelponnya.
Anehnya petugas itu malah lebih dulu menemui Zhao Lee sebelum Layla.
Tanpa sadar Layla mendengar percakapan mereka yang akan mengubah segalanya.
"Kamu sebenernya ada apa sih sama istri mu? Aneh banget istri kok sampai lakuin visum," Dokter Adrian bertanya penasaran.
Adrian dan Zhao Lee adalah teman sekaligus rekan bisnis, mereka sudah mengenal luar dan dalam satu sama lain.
Zhao Lee minum seteguk wine sebelum berbicara,
"Udah lahh, kamu kan udah kenal lama sama aku. Enggak usah penasaran lah sama urusan rumah tangga orang," kata Zhao Lee.
Dokter Andrian menghela nafas..
"Untung pemeriksaannya dilakukan di rumah sakitku. Kalau di tempat lain, situasinya mungkin akan lebih rumit," kata Adrian.
Zhao Lee tersenyum..
"Iya terimakasih atas bantuannya kali ini aku akan mengingatnya," kata Zhao Lee.
''Lalu bagaimana dengan dokter yang melakukan visum ke Layla?" tanya Zhao Lee penasaran.
Adrian tersenyum dengan percaya diri.
"Tenang saja. Semua prosedur sudah ditangani sesuai jalurnya. Tidak akan ada masalah kedepannya," ucap Adrian santai.
"Eh tapi kamu punya selera yang unik ya pilih istri. Hahaha."
Adrian sedikit mengejek.
Raut wajah Zhao Lee berubah serius...
Ia menatap tajam ke arah Dokter Adrian.
"Dengar ya, kalo kamu hina istriku itu berarti kamu juga hina ku juga. Cam kan itu!'' kata Zhao Lee tegas.
Suasana menjadi agak canggung.
Ia mencoba mencairkan suasana...
"Gimana ceritanya kamu bisa sama dia, dia pasti ngejar-ngejar kamu abis-abisan ya," ucap Adrian.
Zhao Lee tersenyum tipis.
Dengan tenang Zhao Lee berkata..
"Untuk mendapatkannya aku harus menyiapkan banyak bidak. Hutang, pekerjaan, sampai pernikahan... semuanya hanya bagian dari permainan.''
Lalu meminum segelas wine di tangannya.
Mendengar itu Adrian hanya menggelengkan kepala keheranan melihat tingkah Zhao Lee yang sudah gila karena cinta.
Dokter Adrian terseyum lalu mengatakan,
"Wah aku tidak menyangka seorang Zhao Lee bisa melakukan hal gila seperti itu hanya demi seorang wanita jelata. Aku jadi penasaran apa yang membuatmu terpikat olehnya, sehangat itukah perempuan itu?," kata Adrian.
Lalu minum segelas wine di tangannya.
Zhao Lee menatap tajam ke arah Dokter Adrian.
Dengan sedikit sombong ia berkata.
"Jangan menguji kesabaran ku Adrian Ferdinan, kau tidak akan sanggup jika memilih menjadi musuhku. Aku pemegang saham terbanyak di rumah sakit keluargamu bukan."
Adrian meresponnya dengan senyum karir ia tidak mau pertemuan ini mempengaruhi stabilitas bisnis keluarganya.
Setelah selesai menghabiskan satu gelas wine, Adrian pamit pergi karena ia sudah lama menunggu Layla namun tak kunjung datang.
Tak di sangka Adrian mendapati Layla sudah berada di balik pintu, ia terkejut dan sedikit khawatir.
Adrian takut bahwa pembicarannya yang tadi sudah di dengar semua oleh Layla.
Adrian tersenyum.
Ia mencoba tenang.
Lalu menyapa dengan sopan.
"Oh Nona Layla, selamat sore. Apa anda sudah sedari tadi di sini?," tanya Adrian.
Layla menahan marah.
"Oh tidak saya baru sampai." ucap Layla.
Adrian kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu dengan lugas ia menjelaskan hasil visum secara professional.
"Maaf saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ini berkasnya. Hasil pemeriksaan tidak menemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan telah terjadi kekerasan seksual. Luka yang ada bersifat tidak spesifik dan dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Saya pamit, jika ada yang ingin di tanyakan nanti hubungi saya saja," kata dokter Adrian.
Lalu melangkah pergi meninggalkan Layla berdiri sendiri di sana.
Layla menggenggam berkas itu erat-erat .
Ia tahu isi laporan itu tidak mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa menit yang lalu, ia telah mendengar sendiri bagaimana Zhao Lee dan Adrian membicarakan semua itu.
Layla mengepalkan hasil pemeriksaan itu hingga kertasnya kusut.
Untuk pertama kalinya, rasa takut dalam dirinya perlahan berubah menjadi amarah. Air mata yang biasanya jatuh kini tak lagi keluar.
Ia mengangkat kepalanya, menatap pintu ruang kerja Zhao Lee, lalu melangkah tanpa ragu.
Sore itu, ia datang bukan untuk memohon atau mengalah.
Ia datang untuk melawan.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
menyebalkan, memaksakan kehendak mentang dia kaya.