"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Marah
Alena menemani Rendra menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit.
Setelahnya, mereka dipersilakan masuk menemui dokter yang akan menjelaskan hasil dari pemeriksaan nya.
"Secara keseluruhan kondisi Anda cukup baik, Pak. Namun, beberapa keluhan yang Anda rasakan memang dipengaruhi oleh faktor usia."
Rendra mengangguk pelan. "Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Yang terpenting adalah menjaga pola hidup sehat," jelas dokter. "Kurangi makanan yang terlalu manis dan berlemak, istirahat yang cukup, serta jangan terlalu banyak berpikir."
Dokter tersenyum tipis, sebelum melanjutkan, "Dan satu lagi, hindari emosi yang berlebihan. Kondisi kesehatan Anda sangat dipengaruhi oleh pikiran."
Rendra terkekeh kecil. "Kalau begitu, saya harus lebih sering tertawa."
"Itu lebih baik," jawab dokter sambil tersenyum. "Jangan lupa juga untuk rutin meminum obat dan melakukan kontrol sesuai jadwal."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah konsultasi selesai, Alena membantu Rendra keluar dari ruangan.
"Kakek tunggu di sini, ya. Aku akan mengambil obat kakek," ujarnya.
"Baik."
Tidak lama kemudian, Alena kembali dengan kantong berisi obat-obatan.
Setelah semua urusan selesai, Rendra tiba-tiba berkata, "Karena kamu sudah menemani Kakek hari ini, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Alena tersenyum. "Boleh, Kek."
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah restoran mewah.
Alena langsung melihat sekeliling dengan canggung. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit, dekorasi yang elegan, dan para pelayan yang berpakaian rapi membuatnya merasa tempat ini terlalu mahal.
Ia lalu menoleh ke arah Rendra. "Kek, sebaiknya kita cari restoran lain saja."
Rendra mengernyit. "Kenapa? Kamu tidak suka tempat ini?"
"Bukan begitu." Alena menggeleng cepat. "Tapi, tempat ini pasti mahal. Kita bisa makan di tempat lain yang lebih murah."
Mendengar itu, Rendra justru tertawa. "Tenang saja. Hari ini Kakek yang traktir. Kamu boleh memesan apa pun yang kamu mau."
Alena terdiam. Entah mengapa, ia merasa bukan hanya cucunya yang keras kepala, tetapi kakeknya juga sama.
"Kek, daripada menghabiskan uang di sini, lebih baik uangnya digunakan untuk keperluan pengobatan Kakek."
Rendra tertawa lagi. "Kamu ini, Kakek masih punya uang untuk berobat."
"Tapi..."
"Kakek hanya ingin mentraktir mu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemani Kakek hari ini."
Melihat pria tua itu begitu bersikeras, Alena akhirnya menyerah.
"Baiklah."
Ia pun membuka buku menu dan memilih makanan yang menurutnya paling murah. Tapi, Rendra justru memesan menu utama dan beberapa hidangan tambahan.
Alena hanya bisa mengembuskan napas pelan. "Kakek dan cucu sama saja. Sama-sama gengsi dan keras kepala," gerutu Alena dalam hati.
"Oh, ya, Alena. Akhir-akhir ini kamu terlihat sibuk sekali. Ada apa?" tanya Rendra.
"Di kantor sedang ada proyek besar yang kami kerjakan, Kek."
"Pantas saja." Rendra memperhatikan wajahnya. "Kamu terlihat lelah."
Alena langsung menyentuh pipinya. "Memangnya terlihat sekali?"
Rendra tersenyum. "Iya. Tapi, meski begitu, kamu tetap cantik."
Alena terkekeh pelan. "Kakek bisa saja."
Tidak lama kemudian, para pelayan datang membawa pesanan mereka.
Aroma makanan yang menggugah selera langsung memenuhi meja.
"Oh, ya, soal suamimu, apa kamu sudah menemukan pengacara untuk menggugatnya?"
Alena menggeleng pelan. "Belum."
"Kenapa?"
"Aku ingin mencari pengacara hebat agar bisa memenangkan gugatan nanti." Ia tersenyum tipis. "Tapi, menyewa pengacara terbaik pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit."
Rendra mendengarkan dengan saksama.
"Kalau proyek yang kami kerjakan berhasil, mungkin bonusnya bisa aku gunakan untuk menyewa pengacara."
Rendra mengangguk pelan, memahami keadaan Alena.
"Kebetulan, Kakek punya seorang kenalan."
Alena mengangkat kepalanya. "Kenalan?"
"Dia seorang pengacara yang sangat hebat dan sudah menangani banyak kasus besar."
Mata Alena langsung berbinar. "Benarkah, Kek?"
"Tentu saja." Rendra tersenyum. "Kalau kamu bersedia, nanti Kakek akan mengenalkannya padamu."
"Aku mau, Kek," seru Alena senang. "Terima kasih banyak, Kek."
"Sama-sama."
***
Rendra pulang ke rumah dengan senyum lebar karena merasa senang hari ini. Selain hasil pemeriksaan yang bagus, ia juga bisa menghabiskan waktu bersama Alena.
Tapi, senyum itu perlahan memudar saat mendengar suara seseorang.
"Kakek dari mana saja?"
Rendra mengangkat pandangannya dan mendapati Kenan sedang duduk di ruang keluarga sambil menatapnya tajam.
Pria tua itu berdecak pelan. "Dari rumah sakit," jawabnya singkat sebelum duduk di sofa yang berhadapan dengan cucunya.
Kenan mengernyit. "Kakek pergi dari pagi dan baru pulang sore. Apa itu masuk akal?"
Rendra mendengus. "Kamu yang tidak masuk akal." Ia meletakkan tongkatnya di samping sofa. "Kamu tahu hari ini Kakek harus melakukan pemeriksaan, tapi malah sibuk dengan pekerjaan."
Kenan mengembuskan napas panjang. "Kek, aku bekerja juga demi Kakek dan demi perusahaan kita."
Rendra memutar bola matanya. Tapi, sedetik kemudian, ia teringat sesuatu.
"Oh, ya, Ken. Bisa kamu menghubungi Jerico?"
Kenan mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa?"
"Kakek ingin meminta bantuannya mengurus perceraian Alena dan...."
"Kek!" potong Kenan dengan nada sedikit meninggi.
"Bukannya aku sudah berulang kali bilang. Itu bukan urusan kita. Kita tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain."
Wajah Rendra langsung berubah.
"Aku tidak melarang kalau Kakek ingin membantu Alena. Tapi, kali ini Kakek sudah melewati batas.."
Pria tua itu mengepalkan tangannya.
"Aku sangat bersyukur karena Alena pernah menyelamatkan Kakek waktu itu. Aku juga berterima kasih padanya." Kenan menghela napas. "Tapi, aku sudah membiarkannya masuk ke perusahaan. Apa itu masih belum cukup?"
"Belum!" Bentak Rendra, membuat Kenan terperanjat.
"Apa kamu pikir sebuah pekerjaan bisa membayar nyawa Kakek mu ini, hah?"
"Kek..."
"Kamu selalu berkata bahwa semua yang kamu lakukan demi Kakek." Suara Rendra mulai bergetar. "Tapi, Kakek tidak membutuhkan semua itu."
Kenan terdiam.
"Kamu pikir, hanya kamu yang sibuk?" lanjut Rendra. "Alena juga sibuk. Dia sedang mengerjakan proyek besar sampai lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas."
"Seharusnya di hari libur, dia bisa beristirahat. Tapi saat Kakek memintanya menemani ke rumah sakit, dia langsung datang tanpa mengeluh sedikit pun."
Tatapan pria tua itu berubah tajam.
"Dia bahkan terus mengingatkan Kakek untuk menjaga kesehatan. Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Rendra tajam. "Apa yang kamu lakukan untuk Kakek selain memberi Kakek uang dan mengatakan kalau kamu sibuk?"
"Kakek...."
Rendra menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya.
"Kakek memintamu menghubungi Jerico bukan karena ingin ikut campur urusan Alena."
Rendra menatap Kenan dalam-dalam. "Dia sangat berharap bisa mendapatkan proyek kali ini. Kalau berhasil, dia akan mendapatkan bonus besar. Dan, uang itu akan dia gunakan untuk menyewa pengacara agar bisa menggugat suaminya."
Rendra mengembuskan napas pelan. "Jadi, apa Kakek salah jika ingin mengenalkan Jerico pada Alena? Bukankah itu bisa sedikit meringankan bebannya?"
"Kakek, aku...."
"Lupakan saja." Rendra mengibaskan tangannya. "Aku akan mencarikan pengacara lain untuk Alena."
Setelah mengatakan itu, Rendra bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Sementara, Kenan masih duduk diam di tempatnya.
Entah mengapa, ada rasa sesak di dadanya. Ini pertama kalinya Kakek nya meninggikan suara padanya. Dan, itu karena orang lain.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...