Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Pengepungan, Pedang Pertama Pembelah Langit
"Di sana! Ada pergerakan di dekat gua terlarang!"
"Formasi pelindung hancur! Siapa yang berani menodai tempat suci sekte?!"
Suara teriakan-teriakan nyaring memecah keheningan gunung belakang Sekte Sembilan Matahari. Obor-obor minyak spiritual menyala di antara pepohonan yang basah, menciptakan siluet puluhan bayangan murid penegak hukum sekte yang sedang bergerak cepat mengepung area tebing. Di depan mereka, dua orang Tetua luar sekte memimpin dengan wajah murka, memegang pedang pusaka yang memancarkan pendaran cahaya kuning.
Di balik semak-semak lebat yang berjarak hanya seratus langkah dari perimeter kepungan, Lin Huang sedang berjongkok. Keringat dingin bercampur air hujan mengalir di pelipisnya. Di punggungnya, tubuh Dewi Ye Qingyue terasa begitu ringan, namun dingin yang dipancarkannya membuat pakaian Lin Huang sedikit membeku. Aroma harum seperti bunga es yang langka terus mengusik indra penciuman Lin Huang, kontras dengan bau tanah berlumpur di sekeliling mereka.
[00:14:22]
[00:14:21]
Waktu di pergelangan tangan kiri Lin Huang terus menyusut. Dua puluh menit yang diberikan oleh Tanda Batas Batil kini tersisa kurang dari lima belas menit.
"Manusia rendah... lepaskan tangan kotormu dari tubuhku," bisik Ye Qingyue tepat di telinga Lin Huang. Suaranya selembut desiran angin salju, namun mengandung niat membunuh yang begitu pekat hingga bisa membuat murid biasa pingsan ketakutan. Jika tatapan mata bisa memotong daging, Lin Huang pasti sudah dicincang menjadi ribuan serpihan.
Lin Huang sedikit menoleh, memperlihatkan seringai tipisnya yang penuh tekad. "Dewi Ye, kalau aku melepaskanmu sekarang, dalam tiga menit para tetua bangsat itu akan menangkapmu dan menjadikanku kambing hitam. Karena jiwa kita sudah terikat, kau mati, aku mati. Jadi, demi nyawaku dan kesucianmu, tutup mulutmu dan pegangan yang erat."
"Kau—! Berani-beraninya kau berbicara tidak sopan pada—"
Sebelum Ye Qingyue menyelesaikan kalimat marahnya, Lin Huang tiba-tiba bergerak.
Boom!
Tanah di bawah kaki Lin Huang retak saat dia melompat maju seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kecepatan Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Sempurna dikombinasikan dengan Fondasi Tubuh Perunggu Kuno membuat pergerakannya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Dia memotong jalur hutan, langsung menuju ke arah gerbang keluar gunung belakang.
"Siapa itu?! Berhenti!" seorang murid penegak hukum yang berada di jalur pelarian Lin Huang berteriak kaget saat melihat bayangan hitam menerjang ke arahnya.
"Enyah!" Lin Huang meraung. Dia tidak berniat membuang waktu satu detik pun. Tangan kanannya mengepal, pendaran warna perunggu keemasan berpadu dengan pusaran Qi yang masif meledak dari tinjunya.
Brak!!!
Tinju Lin Huang menghantam dada murid tersebut sebelum sang murid sempat mengangkat pedangnya. Kekuatan hantaman itu begitu mengerikan hingga pelindung Qi milik murid tersebut hancur berkeping-keping seperti kaca. Tubuhnya terbang lurus ke belakang, menabrak tiga pohon besar hingga tumbang sebelum akhirnya terkapar tidak sadarkan diri dengan muntahan darah.
"Ada penyusup! Dia membawa seseorang di punggungnya! Tangkap dia!" teriakan peringatan bergema di seluruh penjuru hutan.
Dua Tetua luar sekte yang memimpin pengepungan langsung menyadari arah pelarian Lin Huang. Dengan raungan marah, mereka menggunakan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi, melompati puncak-puncak pohon dan mendarat tepat di depan jalur pelarian Lin Huang, menutup satu-satunya jalan keluar dari gunung belakang.
"Lin Huang?! Sampah pengumpul obat?!" Tetua Liu, salah satu tetua berwajah tirus, menyipitkan matanya dengan tak percaya saat mengenali wajah Lin Huang di bawah pendaran obor. Namun, pandangannya segera beralih ke sosok wanita berambut perak di punggung Lin Huang. Merasakan aura suci yang luar biasa dari wanita itu, mata Tetua Liu dipenuhi keserakahan. "Kau... berani sekali mencuri harta karun rahasia dari gua terlarang! Serahkan wanita itu dan berlututlah menerima hukuman mati!"
Lin Huang menghentikan langkahnya sepuluh langkah di depan kedua tetua. Angka di tangannya berkedip kejam: [00:08:12].
Waktuku tidak banyak. Jika aku tertahan di sini oleh dua rubah tua ini, jantungku akan meledak sebelum mereka sempat menyentuhku! pikir Lin Huang dengan dahi berkerut.
"Kalian berdua menghalangi jalanku," kata Lin Huang dengan nada dingin, sama sekali tidak memiliki rasa hormat yang biasanya ditunjukkan oleh murid luar. "Minggir, atau aku akan meratakan kalian dengan tanah."
"Lancang! Hanya seorang sampah Kondensasi Qi tingkat rendah berani menggertak kami?!" Tetua Wang, tetua kedua yang bertubuh gempal, tertawa terbahak-bahak. Dia mengayunkan pedangnya, memicu api spiritual berwarna merah yang membakar udara di sekitarnya. "Biar kuhancurkan kultivasimu terlebih dahulu!"
Tetua Wang menerjang maju, pedang apinya menebas secara diagonal, menciptakan gelombang panas yang mengeringkan air hujan di sekitarnya.
Di punggung Lin Huang, Ye Qingyue mengerutkan keningnya yang indah. Sebagai seorang dewi dari alam atas, dia bisa menghancurkan dua manusia fana ini hanya dengan embusan napas jika kekuatannya tidak tersegel. Namun sekarang, dia hanya bisa mengandalkan pemuda bermuka tebal yang menciumnya tadi. "Manusia, hindari serangan itu. Pedang apinya mengandung hukum elemen tingkat rendah, tetapi tubuhmu—"
"Tidak perlu menghindar," potong Lin Huang dengan nada arogan yang liar.
Tanda Batas Batil di tangannya tiba-tiba berdenyut, dan sebuah pengetahuan mistis tentang teknik pedang langsung tertanam di dalam otaknya seiring dengan hitungan mundur yang mendekati batas kritis.
[Misi Darurat: Kalahkan kedua Tetua dalam satu jurus! Waktu tersisa untuk penyelesaian misi: 2 menit!]
[Membuka Hadiah Lebih Awal: Teknik Pedang Pembelah Langit (Fase 1)!]
BOOM!
Sebuah pemahaman tentang pedang yang begitu luas dan tajam mengalir ke dalam kesadaran Lin Huang. Dia tidak memiliki pedang sejati, tetapi dengan Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Sempurna, dia bisa mengubah energinya sendiri menjadi senjata paling mematikan.
Lin Huang mengangkat tangan kanannya, menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk formasi pedang. Detik itu juga, seluruh Qi murni di dalam tubuhnya mengalir ke ujung jarinya, menciptakan sebilah pedang energi berwarna putih keperakan sepanjang dua meter yang memancarkan pendaran cahaya yang begitu tajam hingga membelah tetesan air hujan di sekelilingnya menjadi dua bagian sebelum menyentuh tanah.
Aura tajam yang keluar dari tubuh Lin Huang membuat tawa Tetua Wang terhenti seketika. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. "Ini... aura pedang macam apa ini?! Bagaimana mungkin seorang murid luar memiliki pemahaman pedang setingkat ini?!"
Bahkan Ye Qingyue yang berada di punggung Lin Huang melebarkan matanya yang indah. Teknik pedang ini... ini bukan teknik dari alam fana ini! Bagaimana bisa pemuda sekte rendah ini menguasainya dalam sekejap?
"Sudah kubilang, jangan menghalangi jalanku!" Lin Huang meraung. Dia melangkah maju dengan kaki kirinya, menciptakan hentakan yang menghancurkan tanah, lalu mengayunkan jari pedangnya ke depan.
"Teknik Pedang Pembelah Langit—Tebasan Pemutus Fana!"
SRAAAKKK!!!
Satu tebasan energi pedang horizontal berwarna perak raksasa melesat keluar. Tebasan itu begitu cepat dan tajam hingga menciptakan suara robekan udara yang memekakkan telinga. Gelombang api dari pedang Tetua Wang langsung padam seketika seolah-olah disiram air es, dan pedang pusakanya patah menjadi dua bagian tanpa perlawanan berarti.
"TIDAK mungkin—" Tetua Wang bahkan tidak sempat berteriak penuh saat gelombang kejut dari energi pedang itu menghantam dadanya, mengirimnya terbang mundur menabrak Tetua Liu yang berada di belakangnya.
Kedua Tetua luar tersebut terlempar sejauh tiga puluh meter, memuntahkan darah segar di udara sebelum akhirnya jatuh berdebam ke tanah dalam kondisi tidak berdaya, pakaian mereka robek-robek dipenuhi bekas sayatan pedang yang dalam. Seluruh murid penegak hukum yang menyaksikan hal itu langsung menjatuhkan senjata mereka, tubuh mereka gemetar hebat karena ketakutan yang mendalam. Satu tebasan... menghancurkan dua Tetua sekaligus!
Lin Huang tidak berhenti untuk merayakan kemenangannya. Dia menurunkan tangan kanannya yang sedikit gemetar karena kehabisan energi, lalu kembali berlari kencang melewati tubuh kedua tetua yang mengerang kesakitan, menerjang keluar dari perbatasan gerbang gunung belakang Sekte Sembilan Matahari.
[Tugas Selesai! Mengamankan Dewi Ye Qingyue dari area kepungan...]
[Selamat! Anda telah menyelesaikan tugas tepat waktu. Sinkronisasi penuh hadiah: Teknik Pedang Pembelah Langit berhasil dikuasai!]
[Tanda Batas Batil beralih ke mode siaga. Status Nyawa: AMAN (Sisa waktu hingga tugas berikutnya: 12 Jam).]
Melihat tulisan hijau tersebut, Lin Huang mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dia terus berlari menuruni gunung, meninggalkan kompleks sekte yang kini gempar dan kacau balau di belakang mereka.
Setelah berlari sejauh beberapa mil ke dalam hutan belantara yang jauh dari jangkauan sekte, Lin Huang akhirnya memperlambat langkahnya dan menurunkan Ye Qingyue dengan hati-hati di bawah naungan pohon rindang yang kering.
Ye Qingyue berdiri dengan anggun, meski tubuhnya masih sedikit lemas. Dia merapikan jubahnya yang sedikit kotor, lalu menatap Lin Huang dengan tatapan mata peraknya yang sangat rumit—perpaduan antara amarah, penghinaan, dan rasa penasaran yang mendalam.
"Manusia," suara Ye Qingyue terdengar dingin namun tidak sekejam sebelumnya. "Siapa kau sebenarnya? Teknik pedang tadi... dan bagaimana bisa kau menyerap energi Yin murniku tanpa meledak?"
Lin Huang duduk bersandar di akar pohon, menyeka sisa air hujan di wajahnya, lalu menatap sang Dewi dengan senyuman mukanya yang tebal dan tanpa dosa.
"Dewi Ye, namaku Lin Huang. Dan soal bagaimana aku melakukan semua itu..." Lin Huang mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan tato jam pasir yang kini berdetak lambat dengan warna hijau yang tenang. "Aku melakukannya karena aku dipaksa oleh takdir. Dan kurasa, mulai hari ini... kita berdua adalah sepasang suami istri yang terikat hidup dan mati."
Mendengar kata "suami istri", wajah suci Ye Qingyue langsung membeku karena amarah yang kembali tersulut. "Kau... cari mati!"
Lin Huang hanya tertawa lepas. Di bawah langit malam yang badainya mulai mereda, dia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia adalah buronan sekte, pemilik kutukan kematian, dan sekarang... dia adalah pria yang membawa lari seorang dewi tercantik dari alam atas.