NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

(Flashback H-60 sebelumnya)

Malam ini kami duduk di ruang makan keluarga seperti biasanya, dengan lampu gantung di atas meja yang memancarkan cahaya hangat yang membuat ruangan terasa nyaman. Meja makan sudah tertata rapi, dengan beberapa piring porselen putih, gelas kristal, dan hidangan yang baru saja pelayan rumah sajikan di atas meja makan.

Kini, aroma masakan langsung memenuhi ruangan. Ayah duduk di ujung meja seperti biasa, dan Ibu duduk tepat di sampingnya. Sementara itu Jake duduk di seberangku, memberiku senyuman hangat meskipun wajahnya tampak sedikit lelah usai seharian bekerja. Semuanya terasa begitu akrab sehingga sulit membayangkan malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang mengubah hidupku.

Jake baru saja mengambil suapan terakhir dari piringnya ketika ia bersandar santai di kursinya. “Kalau ibu terus memasak seperti ini,” katanya sambil menghela napas puas, “aku bisa berhenti makan di luar selamanya.”

Ibu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Aku sudah mendengar kalimat itu sejak kau masih kuliah, Jacob.”

Jake mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. “Itu karena ibu memang selalu memasak terlalu enak.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Jake memang selalu seperti itu—terlihat santai, tapi selalu berhasil membuat suasana rumah terasa hidup. Malam ini juga tidak berbeda. Setidaknya sampai aku menyadari sesuatu.

Ayah tidak ikut tertawa. Ia hanya duduk diam sambil memegang gelasnya, tatapannya sesekali berpindah dari satu wajah ke wajah lain di meja makan. Ada sesuatu di wajahnya, malam ini. Bukan kemarahan, bukan juga kegelisahan. Tapi lebih seperti keputusan yang sudah dipikirkan begitu lama.

Beberapa menit berlalu dengan percakapan ringan. Namun akhirnya ayah meletakkan sendoknya di atas piring. Hingga suara kecil dari logam yang menyentuh porselen itu cukup membuat kami semua menoleh. “Ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan dengan kalian.”

Nada suaranya terdengar tenang, tapi jelas lebih serius dari biasanya. Jake langsung mengangkat tangan seolah menyerah. “Kalau ini soal bisnis lagi, aku menyerah duluan.”

Ayah menggeleng pelan. “Bukan soal bisnis.”

Jake menurunkan tangannya lagi, meskipun ekspresinya masih santai. Lalu ayah menoleh ke arahku. Tatapannya membuatku sedikit bingung. “Ayah baru saja bertemu dengan teman lama beberapa hari lalu.”

Jake mengangkat alis. “Teman lama?”

Ayah mengangguk. “Keluarga Roux.”

Jake langsung berhenti mengunyah, dan menanggapi perkataan Ayah, karena sepertinya ia paham betul siapa yang dimaksud Ayah. “Keluarga Roux yang itu?”

Aku ikut mengangkat kepala. Nama itu memang terdengar tidak asing. Setelah mencoba mencerna beberapa saat, baru aku sadar tentang siapa yang sedang Ayah bicarakan beberapa saat yang lalu.

Keluarga Roux adalah salah satu keluarga yang sangat berpengaruh. Nama mereka sering muncul di berita bisnis, majalah, bahkan acara-acara sosial besar. Aku pernah melihat nama itu berkali-kali. Namun tidak pernah terpikir bahwa suatu hari nama itu akan disebut di meja makan rumahku.

Ayah melanjutkan dengan nada hati-hati. “Ayah dan Rowan Roux membicarakan kemungkinan kerja sama antara kedua keluarga.”

Jake sontak menyipitkan matanya. “Kerja sama seperti apa?”

Ayah tidak langsung menjawab. Ia menatapku sekali lagi. “Pernikahan.”

Ruangan pun mendadak terasa sangat sunyi. Aku bahkan bisa mendengar suara jam dinding di ruang sebelah. Juga suara detak jantungku yang yang mendadak berdegup lebih kencang, ketika kata 'pernikahan' itu kudengar, dan tatapan Ayah tertuju padaku.

Jake yang pertama bereaksi. “Sebentar.”

Ia meletakkan sendoknya di meja dengan suara kecil. “Ayah sedang bercanda?”

Ayah menatapnya dengan tenang. “Ayah tidak bercanda.”

Jake menghela napas panjang. “Ayah serius?”

Ayah mengangguk. Lalu ia berkata dengan suara yang lebih pelan. “Rowan punya seorang anak laki-laki bernama Mason Roux.”

Nama itu menggantung di udara di antara kami. Aku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja kudengar. Sementara Jake langsung bersandar ke kursinya. “Mason Roux?”

Ia mengulang nama itu dengan nada yang setengah tidak percaya. Jake jelas tahu siapa pria itu. Aku juga pernah mendengar namanya beberapa kali.

Jake lantas mengerutkan kening. “Bukankah dia tipe pria yang sangat… sulit didekati?”

Ayah menjawab dengan tenang. “Dia pria yang sangat kompeten.”

Jake menghela napas pendek. “Bukan itu yang aku dengar.”

Ibu yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Mason berasal dari keluarga yang sangat baik.”

Suaranya lembut seperti biasa. Kemudian ia menoleh kepadaku. “Yang paling penting adalah keputusan Hazel.”

Tiba-tiba semua mata di meja makan tertuju kepadaku, hingga aku pun sedikit tersentak. Baru beberapa detik yang lalu aku hanya menikmati makan malam seperti biasa, dan sekarang aku tiba-tiba menjadi pusat pembicaraan. Aku menelan sisa makanan di mulutku dengan pelan.

Lalu, Ayah mulai menjelaskan dengan lebih tenang. “Mason adalah pewaris utama keluarga Roux.”

Jake mengangguk kecil. “Itu sudah jelas.”

Ayah melanjutkan. “Dia memiliki reputasi yang sangat baik dalam bisnis. Keluarganya juga terhormat.”

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Jika kalian menikah, kedua keluarga akan semakin dekat.”

Jake masih terlihat tidak sepenuhnya yakin. Namun aku menyadari sesuatu yang aneh. Saat ini aku tidak merasa marah. Aku juga tidak merasa ingin menolak ide perjodohan itu. Justru sebaliknya, aku merasa penasaran.

Nama Mason Roux bukan nama yang benar-benar asing bagiku. Aku pernah melihat wajahnya di beberapa majalah bisnis. Ia selalu terlihat tenang, rapi, dan sangat percaya diri.

Lalu, aku menatap ayah. “Apakah… dia tahu tentang ini?”

Ayah mengangguk. “Ya, tentu saja, Hazel.”

Jake pun langsung menyela. “Dan dia setuju?”

Dan Ayah menjawab tanpa ragu. “Dia tidak menolak.”

Jawaban itu membuat Jake menghela napas panjang. Namun aku justru semakin memikirkan nama itu. Mason Roux. Aku mencoba membayangkan seperti apa pria itu jika berdiri di hadapanku secara langsung.

Saat ini, semua orang masih menunggu jawabanku. Lalu, Jake menatapku dengan serius. “Hazel, kau tidak perlu setuju hanya karena ayah mengatakannya.”

Ayah juga menambahkan dengan jujur, “Ini hanya sebuah kemungkinan. Bukan perintah.”

Aku terdiam beberapa saat. Aku benar-benar memikirkan kata-kata mereka. Ayah selalu membuat keputusan yang baik untuk keluarga kami. Ia tidak pernah memaksa kami melakukan sesuatu yang tidak kami inginkan.

Aku pun akhirnya mengangkat kepala. “Ayah selalu membuat keputusan yang baik untuk keluarga kita.”

Jake langsung menggeleng. “Itu tidak berarti kau harus menikah dengan orang asing.”

Aku tersenyum kecil. “Kurasa dia tidak sepenuhnya asing.”

Jake mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Aku mengangkat bahu sedikit. “Aku pernah melihatnya di majalah.”

Jake langsung menghela napas panjang. “Ayolah, Hazel. Itu adalah alasan yang buruk untuk menikah.”

Semua orang di meja makan pun langsung tertawa kecil, termasuk aku. Namun aku tetap berkata dengan jujur. “Aku tidak menolak ide itu.”

Ruangan pun kembali hening sejenak. Ayah terlihat sedikit lega. Ibu tersenyum hangat kepadaku. Dan Jake masih terlihat belum sepenuhnya puas.

Lalu, Ayah berkata dengan tenang, “Ayah tidak akan memaksamu.”

Aku mengangguk. “Aku tahu.”

Lalu aku menambahkan dengan pelan, “Tapi aku percaya pada pilihan ayah.”

Percakapan itu akhirnya selesai begitu saja. Namun malam belum benar-benar berakhir bagiku. Beberapa jam kemudian aku berdiri di balkon kamarku. Udara malam terasa sejuk di kulitku, dan lampu-lampu kota terlihat seperti bintang kecil yang tersebar di kejauhan.

Aku menyandarkan kedua tanganku di pagar balkon. Mason Roux. Nama itu terus berputar di kepalaku. Aku mencoba membayangkan wajahnya lagi. Pria yang hanya pernah kulihat dari foto. Pria yang mungkin akan menjadi suamiku.

Hingga akhirnya, pintu kamarku tiba-tiba diketuk. Aku menoleh ke arah pintu, dan merespon siapapun yang sedang berdiri di baliknya. “Masuk.”, kataku.

Pada detik berikutnya, kulihat sosok Jake membuka pintu dan berjalan keluar ke balkon. Ia bersandar santai di pagar, tepat di sampingku. “Aku datang sebagai seorang kakak yang terlalu protektif.”

Aku tertawa kecil. “Itu sudah menjadi pekerjaanmu sejak aku lahir.”

Jake menatap ke depan beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan jujur. “Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar baik-baik saja.”

Aku menoleh padanya. “Aku baik-baik saja, Jake.”

Jake lalu menghela napas pelan. “Jika kau tidak setuju dengan ide ini, aku akan bicara dengan ayah.”

Ia menatapku dengan serius. “Aku yang akan maju paling depan.” lanjutnya.

Aku tersenyum melihat ekspresinya. Jake memang selalu seperti ini. Ia selalu berusaha melindungiku seolah aku masih anak kecil yang perlu dijaga dari dunia.

“Aku tidak melakukannya dengan terpaksa,” kataku lembut.

Jake menatapku.“Benarkah?”

Aku lantas mengangguk. “Ayah tidak pernah membuat keputusan buruk untuk kita.”

Jake masih terlihat ragu. Namun akhirnya ia menghela napas panjang. “Kalau begitu… aku akan mempercayaimu.”

Aku menyentuh lengannya pelan. “Terima kasih, Jake.”

Jake menepuk bahuku sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar. Tidak lama setelah itu, pintu kamarku tertutup pelan di belakangnya, dan bayangannya menghilang di balik pintu itu.

Sementara itu, aku kembali menatap langit malam. Angin berhembus lembut melewati rambutku. Malam ini terasa tenang. Namun di suatu tempat dalam hidupku, sesuatu yang baru telah mulai bergerak. Malam ini aku menerima sebuah kemungkinan baru. Sebuah nama dan sebuah masa depan. Mason Roux dan pernikahan.

Saat ini aku belum tahu seperti apa pria itu sebenarnya. Aku juga belum tahu seperti apa hidupku nanti jika kami benar-benar menikah. Namun aku percaya pada keluargaku. Aku percaya pada pilihan ayahku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, masa depan terasa seperti pintu yang baru saja terbuka.

Aku tidak tahu bahwa suatu hari aku benar-benar akan berdiri di altar bersama pria itu. Dan aku sama sekali tidak tahu, bahwa pernikahan kami akan terasa seperti hidup bersama orang asing.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!