Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Tarian Perak di Mulut Gua Karang
Keheningan yang mencekam mendadak turun menyelimuti dermaga batu hitam Pulau Tengkorak Hitam, menggantikan suara ledakan jarum-jarum cahaya Cundamani milik Dyah Sekar Ayu yang baru saja usai membersihkan sisa-sisa kapal perompak.
Aroma anyir darah dari jasad ratusan kultivator rendahan dan tiga kapten armada bercampur dengan bau asin air laut, menciptakan atmosfer yang begitu pekat dan menekan dada.
Dari dalam kegelapan mulut gua karang raksasa yang menganga di hadapan Satria Pamungkas, terdengar suara langkah kaki yang berat dan ritmis. Setiap kali telapak kaki itu menapak, permukaan air laut di sekitar dermaga tampak bergetar, membentuk riak-riak gelombang kecil yang tidak wajar.
Sesosok pria tua bertubuh jangkung kurus perlahan melangkah keluar dari bayang-bayang gua. Ia tidak mengenakan jubah abu-abu koyak seperti kultivator bawahan, melainkan jubah panjang berwarna hitam legam yang dihiasi sulaman benang perak membentuk pola ombak badai.
Wajahnya dipenuhi kerutan dalam dengan janggut putih panjang yang dikepang rapi, namun yang paling mengerikan adalah sepasang matanya yang tidak memiliki selaput putih—seluruh bola matanya berwarna hitam pekat, memancarkan aura dingin dari kedalaman samudra purba.
Dialah Tetua Surogati, pemegang kendali barisan depan Faksi Bajak Laut Laut Selatan di wilayah perairan Dwipantara, seorang kultivator yang telah bertahun-tahun mendekam di Ranah Senopati Tahap 4.
"Bocah daratan yang sombong..." Suara Surogati terdengar seperti gesekan dua batu karang di dasar laut, bergaung rendah menembus gendang telinga. "Kau telah membunuh Surokolo di Blambangan, dan sekarang kau berani membawa kapal rongsokanmu untuk mengotori gerbang markasku? Kau benar-benar mengira bahwa dengan sedikit keberuntungan mendobrak Ranah Senopati, kau bisa menantang keagungan Faksi Laut Selatan?"
Satria Pamungkas berdiri diam, membiarkan ujung caping bambunya sedikit terangkat oleh embusan angin laut. Sifat anti-hero-nya yang dingin dan pragmatis sama sekali tidak terpengaruh oleh intimidasi verbal sang Tetua. Di mata Satria, pria tua di hadapannya ini tidak lebih dari sekadar tumpukan poin berjalan yang sangat besar yang akan melesatkan sistemnya ke tingkat berikutnya.
"Sistem, kunci target 'Tetua Surogati'. Berikan rincian sirkulasi energi dan teknik andalannya," perintah Satria di dalam kesadaran batinnya.
[Bip! Mengunci target: Tetua Surogati (Ranah Senopati Tahap 4).]
Atribut Energi: Prana Arus Dalam Samudra (Fokus pada manipulasi tekanan air dan serangan jarak menengah).
Senjata Utama: Tongkat Karang Hitam Pusaka (Dapat memperkuat densitas energi pelindung hingga dua kali lipat).
Kelemahan Taktis: Sirkulasi Prana miliknya memiliki jeda selama 0,3 detik setiap kali ia berpindah dari teknik ofensif ke defensif. Rekomendasi: Gunakan Ajian Pedang Pembelah Lautan tebasan keempat yang dipadukan dengan kecepatan Tubuh Fisik Sisik Naga untuk mengeksploitasi jeda tersebut.
Melihat analisis dari sistem, seulas senyum kejam dan penuh percaya diri tersungging di wajah tampan Satria. "Keagungan? Sebuah faksi yang hanya bisa bersembunyi di pulau karang terpencil dan mengandalkan rubah tua seperti Bhre Wirabhumi untuk mendapatkan pasokan logistik... sama sekali tidak layak disebut agung di hadapanku."
"Cari mati!" Raung Surogati, janggut kepangnya bergetar hebat karena amarah yang meledak.
HENTAK!
Surogati menghentakkan tongkat karang hitam di tangan kanannya ke atas lantai dermaga. Seketika, air laut di sekeliling pulau karang bergolak hebat. Dua pilar air raksasa berdiameter lima meter melesat naik dari permukaan laut, berputar cepat membentuk sepasang naga air raksasa yang dilapisi oleh Prana hitam korosif.
"Teknik Rahasia Laut Selatan: Naga Hitam Penggulung Sukma!"
Dengan lambaian tongkatnya, kedua naga air raksasa itu meluncur deras dari dua arah berbeda, siap menghancurkan dan melarutkan tubuh Satria menjadi genangan darah dalam sekali hantaman. Tekanan udara yang dihasilkan oleh gerakan serangan ini begitu kuat hingga membuat beberapa sisa tiang kapal yang terbakar di dekatnya langsung hancur menjadi serpihan kayu.
Dyah Sekar Ayu yang menyaksikan serangan tersebut dari atas tiang layar kapal perang sempat menegang, tangan kanannya refleks mengencangkan cengkeraman pada selendang sutra hijaunya. Namun, ia menahan diri untuk tidak ikut campur setelah melihat punggung tegap Satria yang tetap berdiri sekokoh gunung purba.
Satria menarik napas dalam-dalam. Aliran Prana emas murni di dalam dantiannya bergolak, mengalir deras melewati meridian lengannya menuju ke bilah Pedang Bintang Tujuh Kedewaan. Cahaya perak dari tujuh permata rasi bintang meledak, menerangi seluruh pelataran dermaga batu hitam dengan kilauan kedewaan yang menyilaukan.
"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Keempat: Tebasan Bintang Memutus Arus!"
Satria tidak maju selangkah pun. Ia hanya mengayunkan pedangnya dua kali dalam gerakan silang yang sangat cepat dan presisi. Dua berkas cahaya perak berbentuk huruf 'X' melesat memotong udara, membawa serta hawa dingin ekstrem yang langsung membekukan uap air di sekitarnya.
CRAAAASH!
Dua naga air raksasa milik Surogati yang semula menderu dahsyat langsung terpotong menjadi empat bagian saat bersentuhan dengan cahaya perak pedang Satria. Tidak hanya terpotong, energi dingin dari rasi bintang yang dibawa oleh pedang tersebut menjalar cepat, membekukan seluruh sisa pilar air tersebut menjadi pilar es hitam yang mati, sebelum akhirnya pecah berantakan menjadi jutaan serpihan es yang berjatuhan ke laut.
"Apa?! Mematahkan Naga Hitam Penggulung Sukma milikku dengan begitu mudah?!" Surogati terbelalak, sepasang mata hitam pekatnya memancarkan rasa tidak percaya yang amat sangat. Meskipun ia tahu Satria telah menembus Ranah Senopati, ia tidak pernah menyangka bahwa densitas Prana seorang pemuda yang baru saja naik ranah bisa begitu murni dan tajam hingga mampu menekan energi Ranah Senopati Tahap 4 miliknya.
Sebelum Surogati sempat memulihkan keterkejutannya, sosok Satria telah lenyap dari tempatnya berdiri. Kecepatan dari Tubuh Fisik Sisik Naga yang dipadukan dengan Prana emas murni membuat gerakan Satria tidak lagi meninggalkan bayangan, melainkan seberkas garis lurus perak yang memutus jarak seratus langkah dalam sekejap mata.
"Sirkulasi energimu tertunda, Pak Tua," sebuah bisikan dingin terdengar tepat di telinga kiri Surogati.
Jantung Surogati seolah berhenti berdetak. Mengandalkan insting bertarungnya yang telah ditempa selama puluhan tahun, ia mencoba menarik kembali tongkat karang hitamnya untuk mengaktifkan pelindung ghaib. Namun, jeda 0,3 detik yang telah diprediksi oleh sistem terbukti menjadi celah kematian yang fatal.
Sret!
Bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan bergerak dalam lintasan horizontal yang sangat halus dari kiri ke kanan, memotong tepat melewati pergelangan tangan kanan Surogati yang memegang tongkat pusaka.
CRASH!
"AAAGHHH!"
Jerit kesakitan meledak dari mulut sang Tetua saat tangan kanannya terputus bersih dari lengannya, melayang ke udara bersama dengan tongkat karang hitam yang langsung jatuh berdenting di atas batu dermaga. Darah segar menyembur keluar, menodai jubah hitam bersulam perak miliknya.
Surogati melesat mundur dengan panik menggunakan kaki ghaibnya, mencoba menciptakan jarak dari Satria sembari memegangi pangkal lengannya yang buntung. Wajah tuanya kini dipenuhi oleh pucat pasi dan ketakutan yang mendalam. Ia akhirnya menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah seorang pendekar jenius biasa, melainkan sesosok monster pembantai yang dikirim untuk memusnahkan faksi mereka.
"Kau... kau tidak bisa membunuhku!" Rintih Surogati, suaranya gemetar hebat menahan rasa sakit dan kehancuran mental. "Aku adalah Tetua ketiga dari Faksi Laut Selatan! Pemimpin Besar kami... Pemimpin Besar kami berada di Ranah Raja! Jika aku mati di sini, beliau akan meratakan seluruh daratan Dwipantara untuk mencarimu!"
Satria menghentikan langkahnya, menatap Surogati dengan pandangan penuh penghinaan dari balik caping bambunya. "Ranah Raja? Katakan pada Pemimpin Besarmu itu di alam baka nanti, bahwa aku akan segera datang ke pulau utama kalian setelah aku selesai membersihkan sisa-sisa tikus di tempat ini."
TEBAS!
Satu ayunan pedang vertikal dari atas ke bawah mengakhiri kalimat Satria. Berkas cahaya perak murni membelah tubuh Tetua Surogati menjadi dua bagian dari kepala hingga selangkangan dengan sangat rapi, menghentikan seluruh rintihan dan ancamannya untuk selamanya.
[Bip! Anda telah menumpas Tetua Faksi Laut Selatan 'Surogati' (Ranah Senopati Tahap 4).]
[Mendapatkan: 80.000 Poin Sistem!]
[Mendapatkan Tambahan: Formula Penempaan Ulang Senjata Ghaib Puncak!]
[Saldo Poin saat ini: 137.500 Poin!]
[Pemberitahuan: Pangkalan aju Pulau Tengkorak Hitam telah dihancurkan sepenuhnya. Misi selesai dengan hasil sempurna.]
Satria menyarungkan kembali Pedang Bintang Tujuh Kedewaan ke punggungnya, lalu menatap hamparan poin sistemnya yang kini kembali melimpah ruah melampaui angka seratus ribu. Dengan formula penempaan ulang senjata yang baru didapatnya dan logam meteorit inti bintang di dalam ruang penyimpanannya, ia kini siap untuk melahirkan sebuah senjata legendaris baru yang akan menggetarkan seluruh langit Dwipantara.