Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Kartu Hitam
Di Terminal Lebak Bulus.
Bus antarkota itu berhenti dengan bunyi rem panjang yang memekakkan telinga.
Kemala tersentak bangun.
Kemala telah duduk semalaman. Lehernya pegal, matanya sembab, sementara tubuhnya masih terasa nyeri setelah melahirkan beberapa hari lalu. Namun rasa sakit itu seperti tidak berarti dibanding kekosongan di dadanya.
Rambut panjang hitam wanita itu tampak tidak lurus lagi karena duduk semalaman dalam bus. Dia menoleh ke luar jendela.
Jakarta.
Deretan kendaraan memenuhi jalanan seperti aliran sungai besi yang tidak pernah berhenti bergerak. Langit tampak kelabu, sementara suara klakson bersahut-sahutan tanpa jeda. Namun di kota sebesar inilah satu-satunya petunjuk tentang putranya berada.
Kemala menggenggam erat dalam ingatannya ucapan seorang pengunjung rumah sakit.
Wanita paruh baya. Mobil plat B.
Hanya itu. Keterangan samar yang bahkan belum tentu benar. Namun tidak ada lagi yang bisa Kemala lakukan jika tetap berada di desanya.
Rumah sakit menolak membuka informasi lebih jauh. Laporan kepolisian seperti tak ada perkembangan sama sekali. Keluarga Kemala menyuruhnya melupakan anak itu. Reza bahkan tidak peduli apakah bayinya hidup atau mati.
Jadi sekarang, Kemala hanya punya informasi yang bahkan tak layak disebut sebagai informasi sebagai modal mencari buah hatinya.
Kemala perlahan turun dari bus. Kakinya sedikit gemetar saat menapak lantai terminal. Orang-orang langsung berlalu-lalang melewatinya tanpa peduli.
Pedagang berteriak menawarkan minuman. Kernet memanggil penumpang. Anak kecil menangis di sudut terminal.
Sementara Kemala berdiri di tengah keramaian itu dengan tatapan kosong, seperti orang yang tersesat terlalu jauh.
Ponselnya bergetar. Nama Rani muncul di layar.
Kemala segera mengangkat panggilan itu.
“Mala?” suara Rani terdengar khawatir. “Kamu sudah sampai?”
“Iya.”
“Ya Tuhan … kamu benar-benar nekat pergi sendiri.”
Kemala tersenyum tipis meski matanya terasa panas.
“Aku gak punya pilihan.”
“Mala, Jakarta itu luas banget. Kamu bahkan gak tahu siapa nama wanita paruh baya itu.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu mau cari dari mana?”
Kemala terdiam beberapa detik. Tatapannya menyapu kendaraan yang keluar-masuk terminal.
Mobil plat B.
Di kota ini, semua mobil juga plat B. Kemala tidak punya petunjuk lain.
“Aku gak bisa diam aja, Ran,” bisik Kemala lirih. “Kalau aku gak nyari anakku … siapa lagi yang akan mencarinya?”
Di ujung telepon, Rani ikut diam.
Kemala tahu sahabatnya itu cemas. Namun bahkan Rani pun tidak bisa menghentikannya sekarang. Karena seorang ibu yang kehilangan anak akan tetap berjalan, bahkan saat seluruh dunia bilang pencariannya mustahil.
“Nanti kabarin aku terus, ya?” pinta Rani akhirnya.
“Iya.”
“Dan jangan gampang percaya orang.”
Kemala mengangguk pelan meski tahu Rani tidak bisa melihatnya.
Setelah sambungan telepon terputus, Kemala menarik napas panjang lalu mulai berjalan keluar terminal. Namun baru beberapa langkah, suara teriakan mendadak memecah keramaian.
“COPET!”
Kemala refleks menoleh.
Seorang wanita paruh baya berbaju merah menunjuk lurus ke arahnya dengan wajah penuh amarah.
“Itu dia! Dia yang ambil dompet saya!”
“Apa?” Kemala langsung membelalak.
Kerumunan spontan bergerak mendekat. Tatapan curiga bermunculan begitu cepat.
“Bukan saya!” bantah Kemala panik.
“Jangan bohong!” bentak wanita itu sambil menarik lengan Kemala kasar. “Dari tadi saya lihat kamu mepet-mepet!”
“Saya gak ngapa-ngapain!”
“Pasti kamu pelakunya!”
Orang-orang mulai ikut bersuara.
“Bawa aja ke polisi!”
“Iya, walaupun cantik tetap saja mencurigakan!”
“Jaman sekarang yang cantik biasanya jahat!”
Kemala tercekat mendengar itu.
Mencurigakan. Jahat. Hanya karena bajunya kusut, wajahnya pucat, dan datang sendirian?
“Saya bukan pencuri!” bantah Kemala mulai gemetar.
Namun beberapa orang telanjur memegang lengannya.
Wanita berbaju merah itu semakin menjadi-jadi.
“Dompet saya hilang habis dia nyenggol saya!”
“Saya gak nyenggol Ibu.”
“Sudah ngaku aja!”
Kemala mulai panik saat tubuhnya didorong mengikuti kerumunan menuju pos polisi terminal. Dia membantah berkali-kali, tetapi tak ada yang benar-benar mendengar.
Di kota sebesar ini, orang seperti dirinya memang lebih mudah dicurigai daripada dipercaya.
Ruang lapor kantor polisi sektor terminal terasa pengap dan sempit. Kipas angin tua berdecit pelan di atas kepala.
Kemala duduk dengan tegang di kursi besi. Napas wanita itu tidak teratur dan rambutnya semakin berantakan akibat ditarik paksa tadi.
Sementara wanita yang menuduh Kemala masih terus mengomel.
“Pokoknya dia yang ambil dompet saya!”
“Ibu sabar dulu. Kami masih melakukan pemeriksaan.” Seorang polisi mencoba menenangkan.
“Periksa apa lagi? Jelas-jelas dia pelakunya!”
Kemala mengepalkan tangan di pangkuannya.
“Saya bukan copet, Bu,” sergah Kemala sembari mempertahankan sopan santunnya pada wanita yang tampak lebih tua beberapa tahun darinya itu.
“Bohong!” bentak wanita itu. “Kamu pasti sudah mengincar saya karena tahu ada uang jutaan di dompet saya!”
“Saya gak ambil dompet siapa pun!” Kali ini Kemala bicara lebih tegas.
“Kalau bukan kamu, hilangnya ke mana?” ucap wanita itu semakin lantang.
Wanita itu tiba-tiba maju dan mendorong bahu Kemala keras.
Brak!
Tubuh Kemala nyaris jatuh dari kursi.
“Bu, jangan main tangan!” tegur polisi.
Namun wanita itu sudah terlanjur emosi.
“Wanita kampungan kayak kamu pasti udah biasa nyopet!”
Kemala langsung berdiri.
“Saya bilang bukan saya pelakunya!”
“Pembohong! Kamu pasti bekerja sama dengan komplotanmu, kan?!”
Wanita itu mendadak menjambak rambut Kemala.
“Akh!” jerit Kemala kesakitan sekaligus terkejut.
Kemala refleks mendorong tubuh wanita itu menjauh.
Ruangan langsung ricuh. Kursi bergeser kasar. Beberapa polisi buru-buru mencoba melerai.
“Sudah! Sudah!”
Namun wanita itu masih berusaha menyerang Kemala.
“Cepat kembalikan dompet saya! Dasar miskin!”
“Saya gak ambil dompet Ibu!” bentak Kemala sambil menahan rambutnya yang sakit.
Ruangan menjadi panas, sempit, dan ricuh. Sampai suara langkah sepatu terdengar dari lorong luar. Tidak terburu-buru, tetapi cukup berat untuk membuat beberapa polisi refleks menoleh ke pintu.
Tepat ketika suara wanita itu kembali melengking, sesuatu mengalihkan perhatian lebih dulu.
“Cukup.” Suaranya rendah, terdengar begitu dingin dan tidak keras.
Namun entah bagaimana langsung membelah keributan seperti pisau.
Ruangan mendadak sunyi. Semua kepala otomatis menoleh.
Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap berdiri di ambang pintu. Bahunya lebar dibalut setelan jas hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya. Kancing jasnya terbuka satu, memperlihatkan kemeja abu gelap tanpa satu lipatan pun. Jam tangan perak di pergelangan tangannya berkilau samar terkena cahaya lampu ruangan.
Di belakangnya, dua pria bertubuh besar ikut berhenti. Dilihat dari mana pun, mereka bukan polisi. Dari cara mereka berdiri, jelas mereka pengawal pribadi.
Pria itu perlahan melangkah masuk. Tatapan matanya menyapu ruangan dengan tenang. Namun sorot dingin di matanya membuat suasana mendadak terasa lebih sesak.
Kemala tanpa sadar ikut terpaku. Bukan hanya karena penampilannya. Namun karena aura pria itu terlalu berbeda dibanding siapa pun yang pernah ia lihat sebelumnya.
Rapi, mahal, dan begitu intimidatif. Seolah keberadaannya sendiri membuat orang lain spontan menyingkir.
Seorang polisi yang tadi tampak kewalahan langsung berdiri tegak.
“Selamat siang, Pak.”
Pria itu hanya memberi anggukan tipis. Tatapannya tidak menghangat sedikit pun.
Kemala sempat melihat lencana nama kecil di meja polisi memantulkan cahaya ketika pria itu lewat. Bahkan kepala sektor yang tadi keluar dari ruangan dalam ikut muncul dengan wajah jauh lebih sopan dibanding sebelumnya.
“Maaf jadi berisik, Pak,” katanya cepat.
Pria itu berhenti tepat di tengah ruangan. Aroma parfum maskulin yang lembut sekaligus tajam samar tercium ketika ia melewati Kemala.
“Ada masalah?” tanyanya dingin.
Semua orang langsung menahan suara.
“Itu, Pak! Dia copet!” Wanita berbaju merah itu buru-buru menunjuk Kemala. “Dia ambil dompet saya!”
Tatapan pria gagah itu akhirnya beralih. Untuk pertama kalinya, mata pria tampan itu jatuh sepenuhnya pada Kemala.
Rambut panjang hitam Kemala berantakan akibat dijambak. Wajah pucat wanita itu tampak lelah dan baju sederhananya semakin kusut setelah didorong ke sana-sini.
Menyedihkan. Dari penampilannya saja, Kemala tahu dunia pria itu berada sangat jauh dari yang bisa dia bayangkan.
Selain ketakutan dan kekacauan, ada juga keputusasaan di mata wanita itu.
“Kamu mencuri?” Pria itu mengangkat salah satu alisnya.
Kemala menggeleng cepat. “Saya gak ambil apa pun.”
“Dia bohong!” sela wanita itu keras kepala. “Maling mana mau ada yang ngaku?!
Kemala menggigit bibirnya.
Pria berjas itu mengembuskan napas pelan sebelum menoleh pada polisi.
“Cek CCTV terminal.”
“Baik, Pak.”
Tak sampai beberapa menit, seorang petugas datang tergesa membawa hasil pemeriksaan.
“Dompet ibu ternyata jatuh di kios minuman.”
Hening sesaat.
“Apa?” Wanita berbaju merah itu langsung pucat.
“Ditemukan oleh pedagang.” Petugas menyerahkan dompet cokelat miliknya.
Wajah wanita yang tadi terus-menerus menuduh Kemala itu berubah malu sekaligus kesal. Sementara pria berjas tadi menatapnya dingin.
“Lain kali jangan asal menuduh orang.”
Wanita itu membuka mulut, tetapi akhirnya memilih diam.
Polisi buru-buru menutup masalah itu dan mempersilakan semua orang keluar.
Ruangan perlahan sepi.
Kemala menunduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Lalu suara pria tadi terdengar lagi.
“Kamu baik-baik saja?”
Kemala mendongak perlahan.
Jas mahal dan jam tangan mewah. Tidak ada yang memakai pakaian seperti itu di desa Kemala. Namun pria asing itulah yang membantu Kemala saat semua orang menuduhnya.
Kemala buru-buru berdiri.
“Terima kasih, Pak.”
“Lain kali hati-hati.” Pria itu hanya mengangguk tipis.
Lalu dia berbalik pergi begitu saja.
Namun saat melihat pria itu berjalan menuju mobil hitam mewah di luar kantor polisi, sesuatu mendadak berdesakan di kepala Kemala.
Mungkin satu-satunya kesempatan yang tersisa ada pada pria itu.
“Pak!” Kemala spontan mengejarnya. Napasnya terengah-engah.
Pria itu menoleh singkat. “Ada apa lagi?”
Kemala berhenti di depannya sambil menahan napas.
“Saya butuh pekerjaan,” jawab Kemala bahkan tidak mempedulikan kedua pengawal yang terlihat mengintimidasi.
Kening pria itu langsung berkerut. “Apa?”
“Saya bisa kerja apa saja,” desak Kemala dengan suara bergetar penuh putus asa. “Masak, nyuci, bersih-bersih, apa pun.”
Pria itu tampak tidak nyaman.
“Tolong, Pak.” Mata Kemala mulai berkaca-kaca. “Saya harus cari anak saya.”
Pria itu terdiam sesaat, seolah mencoba memahami ucapan yang terdengar kacau itu. Namun akhirnya dia tetap menggeleng.
“Saya tidak bisa sembarang mempekerjakan orang,” tolaknya.
“Saya gak akan nyusahin Bapak,” janji Kemala.
“Saya sedang buru-buru.”
Pria itu berusaha masuk mobil yang pintunya sudah dibuka oleh salah satu pengawal.
Kemala panik. Kalau pria ini pergi, dia kembali tidak punya apa-apa. Refleks, tangannya menarik ujung jas pria itu.
“Pak, tolong ….”
Pria itu langsung menoleh. Tatapannya berubah sedikit terkejut.
“Lepaskan!”
Kemala buru-buru melepas genggaman, tetapi air matanya sudah jatuh lebih dulu.
“Saya cuma mau kerja supaya saya bisa hidup di sini untuk mencari anak saya,” bujuk Kemala.
Pria itu tampak mengembuskan napas tipis, menahan kesal. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Dia masuk ke mobil lalu menutup pintu.
Mesin mobil menyala halus.
Kemala berdiri mematung di tepi jalan, memandangi mobil hitam itu perlahan menjauh meninggalkannya. Harapan kecil yang tadi sempat muncul terasa ikut pergi bersama deru kendaraan itu.
Kemala menunduk putus asa.
Sesuatu terlihat jatuh tepat di depan sepatunya, sebuah kartu hitam elegan. Mungkin terjatuh saat tadi dia menarik jas pria itu.
Kemala memungutnya perlahan. Tulisan perak mengilap tercetak jelas di sana.
[Rothmere Group.]
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉