Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAPAN BERACUN
Lina tidak kembali ke rumahnya Dia menginap di sebuah hotel ber bintang lima yang sewanya membuat dompetnya menjerit, tapi setidaknya kasurnya empuk dan pelayan kamarnya tidak bertanya kenapa dia menangis sambil memakan es krim cokelat jam tiga pagi.
Lina bukan tipe wanita yang akan bersembunyi selamanya. Dia punya rencana. yang dinamakan "Operasi Hantu di Dapur".
saat Jam 7 pagi, Lina sudah berdiri di depan pintu rumahnya sendiri. Dia memakai kacamata hitam besar, syal sutra, dan jaket kulit hitam. Penampilan ala agen rahasia yang gagal masuk audisi film action.
Dia memasukkan kunci yang masih bisa dipakai karena Raka terlalu bodoh untuk mengganti gembok setelah pintu terbuka Lina masuk dengan pelan Rumah itu begitu sunyi dan sepih
Lina mengendap-endap ke dapur. Dia membuka kulkas, mengambil telur, susu, dan tepung. Dia akan membuat sarapan spesial untuk Raka. Bukan untuk memberikan racun tikus, Tapi sesuatu yang lebih psikologis: Pancake Bentuk Hati yang Dihiasi Tulisan "Selamat Tinggal Kebahagiaanmu" dengan Sirup Maple.
Tepat saat dia mulai mengaduk adonan, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
"Lina?"
Suara Raka terdengar serak, penuh harapan dan ketakutan.
Lina tidak menoleh. Dia tetap fokus membalik pancake-nya. "Pagi, Sayang. Mau telur mata sapi atau telur dadar? Atau mungkin telur kecewa?"
Raka turun mengenakan baju tidur yang kusut. Matanya bengkak. Dia terlihat seperti panda yang kurang tidur. "Kamu... kamu sudah pulang? Aku kira kamu marah banget."
"Saya memang marah," kata Lina datar, meletakkan pancake di piring. "Tapi lapar lebih kuat daripada marah. Dan saya nggak mau pingsan gara-gara gula darah rendah saat sedang merencanakan kehancuran hidupmu."
Raka mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Duduk," perintah Lina.
Raka pun menurut, lalu duduk di kursi makan dengan ragu. Lina meletakkan piring berisi tumpukan pancake di hadapannya. Di atas pancake itu, sirup maple membentuk huruf-huruf yang jelas: S E L I N G K U H.
Raka menatap tulisan itu. Wajahnya pucat pasi. "Lina... ini..."
"Ini seni kuliner modern," potong Lina sambil duduk di seberangnya, menyilangkan kaki dengan elegan. "Silakan dimakan. Rasanya manis, tapi ada aftertaste pahit. Seperti hubungan kita sekarang."
Raka menelan ludah. "Bisa kita bicara serius nggak, Lin? Tanpa metafora makanan?"
"Bicara serius?" Lina tertawa kecil. "Oke. Mari kita bicara serius. Kemarin, kamu bilang kamu khilaf. Khilaf itu apa, Raka? Apakah khilaf itu berarti kamu lupa bernapas? Atau kamu lupa kalau kamu sudah punya istri?"
"Aku stres, Lina!" Raka membesarkan suaranya, lalu segera mengecilkannya lagi. "Pekerjaan di kantor gila-gilaan. Klien minta ini-itu. Dinda datang, dia siap dengerin aku. Dia nggak nuntut macam-macam. Berbeda sama kamu yang selalu ngeluh soal tagihan listrik!"
Lina menatap Raka dengan tatapan dingin yang bisa membekukan lava. "Jadi, alasannya adalah aku terlalu realistis mengurus keuangan, sedangkan Dinda terlalu... apa? Terlalu patuh? Terlalu mudah diatur? Sampai-sampai kamu merasa nyaman menyelipkan tanganmu ke dalam hidupnya?"
"Itu nggak sampai begitu!" bantah Raka panik. "Kami cuma... dekat secara emosional!"
"Dekat secara emosional?" Lina mengeluarkan ponselnya. Dia membuka galeri, lalu menunjukkan sebuah foto. Foto itu diambil diam-diam kemarin sore dari jendela tetangga (berkat bantuan Ibu Tuti yang punya drone mainan anak cucunya).
Foto itu menampilkan Raka dan Dinda duduk berdekatan di sofa ruang tamu. Tangan Raka berada di pundak Dinda. Dan wajah Dinda menatap Raka dengan pandangan yang jelas-jelas bukan pandangan adik pada kakak ipar.
Raka terbelalak. "Dari mana kau dapat foto ini? Ini pelanggaran privasi!"
"Privasi?" Lina tertawa sinis. "Kamu bicara soal privasi setelah menghancurkan pernikahan ini? Raka ,dengarkan baik-baik. Saya nggak peduli kalau kamu mau dekat sama Dinda secara emosional. Tapi kalau 'dekat' itu artinya kamu mencium keningnya saat saya sedang beli sabun di luar, atau mengirim pesan mesra jam 2 pagi, maka itu bukan kedekatan. Itu pengkhianatan."
Raka menunduk. Bahunya lunglai. "Aku minta maaf, Lina. Sungguh. Aku nggak bermaksud menyakitimu. Aku cuma... bingung. Aku merasa tua. Aku merasa nggak dihargai. Dan Dinda... dia membuatku merasa muda lagi."
Lina merasa mual. "Jadi, solusimu untuk merasa muda adalah tidur dengan adik istrimu? Bukannya beli motor sport atau ikut kelas zumba?"
Raka terdiam. Alasannya terdengar sangat konyol saat diucapkan keras-keras.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Dinda masuk, membawa tas belanjaan. Dia berhenti mendadak saat melihat Lina dan Raka duduk berhadapan dengan suasana tegang.
"Eh... Kak Lina? Kak Raka?" suara Dinda gemetar.
Lina menoleh perlahan. Senyumnya tipis, tapi matanya tajam seperti elang. "Oh, halo Din. Pas sekali. Silakan duduk. Kita lagi diskusi soal menu sarapan. Kamu mau pancake juga? Ada sisa sirup 'pengkhianatan' kok."
Dinda meletakkan tasnya dengan tangan gemetar. "Kak, aku... aku mau jelasin..."
"Jelaskan apa?" potong Lina. "Jelaskan kenapa kamu menyimpan nomor Kakak iparmu dengan nama 'Raka ❤️'? Jelaskan kenapa kamu bilang aku istri yang membosankan? Atau jelaskan kenapa kamu pikir kamu lebih berhak atas suami orang daripada aku?"
Dinda mulai menangis. "Aku nggak bilang gitu! Kak Raka yang bilang! Dia bilang Kakak sibuk, Kakak nggak romantis, Kakak cuma mikirin beras!"
Raka mendongak, wajahnya merah padam. "Dinda! Jangan fitnah!"
"Siapa yang fitnah?" seru Dinda histeris. "Kemarin malam Kakak bilang, 'Andai Lina sepertimu, Din, pasti hidupku lebih berwarna'!"
Lina menoleh menatap Raka. Tatapan itu bukan lagi tatapan marah. Itu tatapan jijik. tidak ada lagi rasa sakit. Hanya jijik.
"Berwarna?" kata Lina pelan. "Jadi, aku itu hitam putih? Membosankan? Monoton?"
Raka mencoba berbicara, tapi lidahnya kelu.
Lina berdiri. Dia mengambil piring pancakenya, lalu membuangnya ke tempat sampah dengan bunyi gedebuk yang memuaskan.
"Baiklah," kata Lina tenang. "Kalau aku begitu membosankan, maka aku akan memberimu kejutan terbesar dalam hidupmu."
"Kejutan apa?" tanya Raka waspada.
"Perceraian," jawab Lina singkat. "Dan bukan perceraian biasa. Aku akan pastikan aset rumah ini dibagi dua. Setengah buatku, setengah buat kamu. Tapi ingat, Raka. Kamu harus bayar utang kartu kreditku bulan ini. Karena aku baru saja membeli jaket kulit seharga gaji tiga bulanmu. Anggap saja biaya konsultasi psikologi."
Dinda terkejut. "Kak Lina, jangan begitu..."
"Diam, Din," bentak Lina, suaranya tegas untuk pertama kalinya. "Kamu bukan bagian dari solusi. Kamu adalah masalah. Dan mulai hari ini, aku nggak mau melihat wajahmu di rumah ini lagi. Keluar."
Dinda menatap Raka, mencari perlindungan. Tapi Raka hanya menunduk, malu dan takut.
Lina berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar, dia berbalik sekali lagi.
"Oh, iya. Kunci rumah sudah aku taruh di meja. Ganti gemboknya kalau mau. Dan Raka.. selamat menikmati masa mudamu yang 'berwarna'. Semoga warnanya nggak cepat pudar jadi abu-abu seperti hatiku dulu."
Lina keluar menutup pintu dengan lembut. Tidak ada gebrakan. Tidak ada teriakan. Hanya ketenangan yang mematikan.
Di luar, udara pagi terasa segar. Lina menarik napas dalam-dalam. Dia merasa ringan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arka.
Arka: Udah selesai operasinya? Gimana hasilnya? Pancakenya dimakan?
Lina tersenyum. Dia mengetik balasan.
Lina: Pancakenya dibuang. Tapi hatinya? Sudah mulai sembuh. Meet me at the usual place. I need coffee. And maybe a new lawyer.
Arka membalas cepat.
Arka: Lawyer? Wah, level up. Oke, aku traktir kopi. Tapi kamu yang bayar lawyer-nya. Saya cuma ahli dalam hal menjadi dingin, bukan ahli hukum.
Lina tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tawanya terdengar jujur. Bebas.
Perang belum selesai. Tapi Lina sudah memenangkan pertempuran pertama. Dan dia siap untuk babak berikutnya.