NovelToon NovelToon
Darah Dan Rune: Kutukan Kerajaan Gelap

Darah Dan Rune: Kutukan Kerajaan Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Atas Cawan Perak

Pagi di Kerajaan Sanjaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara lonceng katedral yang berdenting tujuh kali menandakan dimulainya upacara Pre-Vinculum, sebuah tradisi kuno di mana calon mempelai harus mencampurkan setetes darah mereka ke dalam cawan perak berisi anggur suci. Kabut tipis masih menyelimuti lantai batu istana, memberikan kesan mistis yang mencekam pada upacara yang tertutup bagi rakyat jelata itu.

Naomi berdiri di barisan pelayan paling belakang di aula altar. Tugasnya hari ini berat; ia harus memegang nampan berisi kain sutra pembersih. Kepalanya tertunduk, namun matanya yang sembab akibat tangisan semalam terus melirik ke arah altar. Pipinya masih terasa sedikit panas bekas tamparan ayahnya, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan luka yang menganga di hatinya saat melihat Pangeran Ares berdiri tegap mengenakan jubah upacara berwarna merah darah.

"Lihatlah mereka," bisik seorang pelayan senior di sebelah Naomi. "Bagai matahari dan bulan. Putri Ciara cantik sekali, ya? Kulitnya seputih porselen."

Naomi hanya mengeratkan pegangannya pada nampan perak. Porselen mudah pecah, batinnya pahit.

Raja Sanjaya maju ke depan, memegang belati kecil yang gagangnya bertahtakan batu delima. Di depannya, Ares dan Ciara berdiri berhadapan.

"Dengan darah ini, janji diikat. Dengan rune ini, takhta dijaga," ucap Raja dengan suara bariton yang menggema di langit-langit aula yang tinggi.

Ares mengulurkan telapak tangannya. Saat ujung belati itu menyentuh kulitnya, ia merasakan getaran hebat. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena rune di lengannya, yang kini tertutup rapat oleh kain tebal, terasa seperti terbakar. Setetes darah merah pekat jatuh ke dalam cawan perak.

Kini giliran Ciara. Gadis itu tidak ragu sedikit pun. Ia menggores telapak tangannya sendiri dengan keanggunan yang mengerikan. Darahnya menyatu dengan darah Ares di dalam cairan ungu anggur itu.

"Sekarang, minumlah," perintah sang Raja.

Ares meraih cawan itu. Namun, tepat saat bibirnya menyentuh pinggiran perak, matanya menangkap sosok Naomi di kejauhan. Gadis itu tidak lagi menunduk. Ia menatap Ares dengan tatapan yang penuh keputusasaan, seolah-olah sedang memohon padanya untuk tidak meminumnya. Tangan Naomi yang memegang nampan gemetar begitu hebat hingga kain sutra di atasnya terjatuh ke lantai.

"Ada apa, Pangeran?" Ciara berbisik pelan, matanya menyipit mengikuti arah pandang Ares. Ia melihat Naomi, seorang pelayan yang tampak kacau, dan seketika itu juga, Ciara menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Ares segera mengalihkan pandangannya dan meneguk isi cawan itu dengan kasar. Rasa logam yang anyir dan manisnya anggur meledak di kerongkongannya. Ciara melakukan hal yang sama.

Upacara selesai, namun ketegangan baru saja dimulai. Saat para bangsawan mulai meninggalkan ruangan, Naomi diperintahkan untuk memunguti kain yang jatuh dan membersihkan sisa-sisa bunga di sekitar altar.

Saat ia sedang berlutut memunguti kelopak bunga, sepasang sepatu bot hitam yang mengkilap berhenti tepat di depannya. Naomi mendongak. Itu Ares. Pangeran itu berdiri sendirian setelah berhasil melepaskan diri dari kerumunan penjaga.

"Kenapa kau ada di sini, Naomi? Ayahmu bilang kau sakit," suara Ares rendah, nyaris seperti bisikan yang menyakitkan.

Naomi berdiri dengan kaki gemetar. "Apakah Pangeran peduli? Anda baru saja mengikatkan nyawa Anda pada wanita lain. Apa bedanya bagimu jika aku sakit atau mati sekalipun?"

Ares melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Naomi bisa mencium aroma kayu cendana dan bau samar darah dari napasnya. "Kau tahu aku tidak punya pilihan. Janji ini lebih tua dari usiaku sendiri."

"Pilihan selalu ada, Ares!" Naomi meninggikan suaranya, melupakan posisinya. "Kau bisa menolaknya. Kita bisa..."

"Kita bisa apa?" potong Ares tajam. "Lari ke hutan? Menjadi buronan? Kau tidak mengerti apa yang ada di dalam darahku, Naomi. Rune ini... dia lapar. Jika aku tidak memberinya makan dengan janji ini, dia akan melahap siapa saja yang ada di dekatku. Termasuk kau."

Naomi terdiam. Air mata kini benar-benar jatuh membasahi pipinya. "Jadi ini alasanmu menjauh? Kau melindungiku dengan cara menyakiti aku?"

Sebelum Ares sempat menjawab, suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat. Princess Ciara muncul dari balik pilar, tangannya yang terbebat kain putih masih memegang setangkai bunga mawar hitam.

"Sungguh pemandangan yang menyentuh," ujar Ciara dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak tahu bahwa pelayan istana di sini memiliki hubungan yang begitu... akrab dengan calon suamiku."

Ares berbalik, tubuhnya menegang melindungi Naomi. "Dia hanya pelayan yang sedang menjalankan tugasnya, Putri."

Ciara mendekat, ujung mawar hitamnya menyentuh dagu Naomi, memaksa gadis pelayan itu menatapnya. "Cantik juga. Matanya memiliki api yang berbahaya. Tapi berhati-hatilah, Gadis Kecil. Api yang terlalu besar bisa membakar pemiliknya sendiri. Dan di kerajaan ini, hanya ada satu ratu yang boleh menyalakan api."

Naomi menepis mawar itu dengan berani, membuat Ciara sedikit terkejut. "Api saya tidak akan padam hanya karena air dari kerajaan asing, Tuan Putri."

Suasana membeku. Ares tahu, mulai detik ini, perang bukan lagi terjadi di perbatasan kerajaan, melainkan di dalam tembok istananya sendiri. Dan di tengah-tengah itu semua, rune di lengannya berdenyut semakin kencang, seolah-olah merayakan awal dari sebuah kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!