NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:820
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 yang mulai berantakan

Suasana venue tidak lagi sama seperti pagi tadi, Dekorasi yang tadi masih setengah jadi, sekarang sudah hampir penuh.

Bunga-bunga menggantung di langit-langit, kain putih jatuh rapi di tiap sudut, dan kursi tamu mulai tersusun sesuai layout.

Tapi justru karena semuanya sudah hampir jadi kesalahan kecil jadi lebih terlihat.

Wulan berdiri di tengah aisle, memegang catatan di tangan kirinya. Matanya bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lain, Ada yang tidak sinkron.

“Ini… kenapa lighting-nya agak lebih kuning?” gumamnya pelan.

Seorang teknisi mendekat. “Baru ganti setting, Mbak. Klien minta lebih warm.”

Wulan mengangguk pelan. “Tapi tone bunga putih jadi agak kusam.”

Teknisi itu menghela napas “Nanti kita adjust lagi.”

Wulan tidak menjawab Tapi tangannya sedikit mengepal di buku catatannya.

Di sisi lain, Saka sedang membantu pemasangan rangka utama backdrop.

Beberapa pekerja terlihat mulai panik kecil. “Ini bautnya nggak masuk! Kayunya kurang presisi!”

Saka tidak banyak bicara Dia hanya mendekat, melihat, lalu mengambil alat dari tangan salah satu pekerja.

“Coba sini.” Gerakannya tenang Presisi Tidak terburu-buru.

“Tekan sedikit di sisi kiri, Sekarang masuk.”

Klik, Baut itu akhirnya pas.

“Udah.” Singkat, Tapi cukup bikin dua orang di sana langsung diam.

Sarah berdiri di dekat meja kontrol, tablet di tangan Dia tidak berteriak, Tidak panik, tapi semua orang tahu.

kalau Sarah mulai berdiri diam seperti itu, berarti dia sedang menghitung ulang semua risiko di kepalanya.

Wajahnya tenang, Tapi tajam. “Vendor lighting,” panggilnya.

“Iya, Bu?”

“Kalau warna masih berubah lagi, kita pakai backup plan.”

“Baik.

Sarah mengangguk Lalu melirik ke arah Wulan, Wulan masih berdiri di aisle, Tapi kali ini langkahnya sedikit melambat.

Matanya berkedip lebih lama dari biasanya Saka yang baru selesai dari backdrop langsung memperhatikan itu.

Dia berjalan mendekat. “Wulan.”

“yaa?” jawabnya pelan.

“Kamu duduk dulu.”

“Ehh kenapa duduk? ”

Saka menatapnya. “Duduk.”

Nada suaranya tidak keras,Tapi tegas.

Wulan ingin protes Tapi tubuhnya lebih dulu mengkhianati, Langkahnya berhenti.

Lalu, dia duduk di pinggir kursi tamu paling depan Hening.

Beberapa detik kemudian, Sarah datang Melihat itu Lalu berkata datar “Bagus.”

Hanya satu kata Tapi Wulan tahu itu bukan pujian, Itu perintah halus.

“Minum ini.” Sarah melempar botol air ke Wulan.

Wulan menangkapnya.“ makasih, Kak.”

Sarah mengangguk menjawab lalu melanjutkan jalan.

Saka berdiri di dekat Wulan sekarang Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk bikin Wulan sadar dia tidak sendiri.

“Kepalanya pusing?” tanya Saka.

Wulan menggeleng pelan. “ ngga Cuma capek dikit.”

Saka mengangguk Dia duduk di kursi sebelahnya, Tidak banyak bicara, Tapi tidak pergi.

Dan itu… cukup aneh bagi Wulan Biasanya orang sibuk akan langsung pergi Tapi Saka tetap di sana.

Jam berjalan cepat Semakin mendekati sore, semakin banyak detail kecil yang harus diperbaiki.

Dan di titik itu masalah datang.

“MBK SARAH!” Seorang vendor berlari kecil.

“Bunga centerpiece utama ada yang rusak karena pengiriman ulang!”

Wulan langsung berdiri. “Hah? Yang di pelaminan?”

“Iya, yang putih besar itu.”

Wulan langsung berjalan cepat Saka ikut di belakang.

Sarah sudah lebih dulu sampai.

Melihat kondisi bunga Diam, Lalu menarik napas. “Ganti sekarang.”

Vendor panik. “Tapi stoknya tinggal sedikit…”

Sarah menatapnya.“Cari." Satu kata Tapi cukup.

Wulan berdiri di samping.Dadanya mulai terasa sesak.

Ini bunga utama, Fokus acara Kalau salah semuanya akan kelihatan.

“Gimana, Kak?” tanya Wulan pelan.

Sarah tidak langsung jawab,Matanya masih menghitung Lalu. “Saka.”

“Iya?”

“Bantu Wulan. Ambil stok cadangan di mobil.”

Saka langsung mengangguk. “Ya.”

Wulan dan Saka berjalan cepat ke arah belakang venue, Mobil logistik.

Angin sore mulai terasa lebih panas, Wulan membuka pintu mobil. “Ini harusnya ada di ”

Saka ikut masuk, Mereka mulai mencari kotak bunga cadangan Beberapa detik sunyi.

“Ketemu.” Saka mengangkat kotak putih besar.

Wulan langsung lega. “Oke…”

Tapi saat ia ingin mengambilnya

Saka lebih dulu mengangkat semua. “Biar saya aja"

Wulan menoleh. " Silahkan"

ya, dia sudah tidak kuat membawa beban lebih berat lagi.

Kembali ke venue,  Sarah sudah mengatur ulang posisi. “Cepat pasang.”

Tim langsung bergerak Wulan ikut membantu Tangannya mulai bergerak lagi.

Saka di sampingnya, membantu memasang struktur bunga.

“Lebih ke kiri sedikit,” kata Wulan.

Saka menggeser. “Ini?”

“Ya.”

Klik, Pas.

Wulan mengangguk kecil. “Bagus.”

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi ritme mereka mulai sinkron, Tanpa banyak bicara Tapi saling ngerti.

Beberapa jam kemudian, venue akhirnya hampir selesai Lampu mulai dinyalakan, Bunga tertata Backdrop berdiri sempurna.

Sarah berdiri di tengah ruangan Melihat semuanya Lalu berkata pelan, “Done.”

Hening, Semua orang berhenti.

Wulan menghembuskan napas panjang.“akhirnya.”

Tapi tubuhnya langsung terasa ringan sekaligus kosong.

Saka berdiri di sampingnya. “Kerja bagus.”

Wulan menoleh. “ kamu juga.”

Hening kecil Tapi kali ini tidak canggung.

Malam mulai turun, Venue yang tadi penuh teriakan dan langkah cepat sekarang berubah jadi tenang.

Dan di tengah semua itu Wulan berdiri diam, Untuk pertama kalinya hari ini Dia tidak terlalu memikirkan rumah, Tidak terlalu memikirkan lelah.

Karena ada satu hal kecil yang baru ia sadari tanpa sadar Dia tidak sendirian hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!