seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perpisahan pertama
Tiga hari berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan Alya.
Setiap pagi ia bangun dengan perasaan campur aduk. Kadang ia merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa mengejar impiannya, tetapi beberapa saat kemudian rasa takut datang menghampiri seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Hari keberangkatannya ke Akademi Zenith akhirnya tiba.
Langit Neo Jakarta pagi itu berwarna abu-abu pucat. Hujan tipis turun perlahan membasahi jalanan sektor timur. Suara kendaraan magnetik terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan dengung drone yang terbang rendah di antara gedung tua.
Di kamar kecilnya, Alya sedang memasukkan pakaian ke dalam tas hitam sederhana. Ia tidak memiliki banyak barang untuk dibawa. Hanya beberapa pakaian, tablet belajar lama, foto keluarganya, dan sebuah kalung kecil peninggalan ayahnya.
Kalung itu berbentuk lingkaran perak dengan simbol aneh di tengahnya.
Alya memandang benda itu beberapa detik.
Sejak kecil ia selalu memakainya, tetapi ia tidak pernah tahu arti simbol tersebut.
“Ayah pasti membelinya dari pusat kota,” gumamnya pelan.
Ia memasukkan kalung itu ke dalam saku jaketnya sebelum menutup tas.
Dari luar kamar terdengar suara Dito.
“Kak, Ibu memanggil!”
“Aku keluar!”
Saat Alya keluar, aroma makanan hangat langsung memenuhi rumah kecil itu. Ibunya ternyata memasak sarapan lebih banyak dari biasanya.
Ada nasi sintetis, sup hangat, bahkan sedikit ayam asli yang sangat jarang mereka beli.
Alya langsung terkejut.
“Bu… ini mahal.”
Ibunya tersenyum lembut.
“Untuk hari spesial.”
“Tapi uang kita—”
“Jangan pikirkan itu hari ini.”
Alya terdiam.
Ia duduk perlahan di meja makan sambil menahan rasa haru.
Dito yang duduk di sebelahnya tampak murung sejak tadi.
“Kamu kenapa?” tanya Alya.
“Kalau Kak Alya pergi, nanti siapa yang bantu aku belajar?”
Alya tertawa kecil.
“Kita masih bisa video call.”
“Tapi beda.”
Ucapan polos itu membuat suasana mendadak sunyi.
Ibunya mencoba tersenyum.
“Kakakmu pergi untuk masa depan yang lebih baik.”
“Aku tahu…” jawab Dito pelan.
Mereka makan bersama dalam diam cukup lama. Alya memperhatikan rumah kecil itu satu per satu.
Dinding tua yang mulai kusam.
Lampu kecil di dapur.
Jendela yang selalu berbunyi saat tertiup angin.
Tempat itu sederhana, tetapi penuh kenangan.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia harus meninggalkannya.
Setelah sarapan, Alya membantu ibunya membereskan meja.
“Alya,” panggil ibunya tiba-tiba.
“Ya?”
Ibunya tampak ragu sebelum berbicara.
“Kalau nanti hidupmu berubah… jangan pernah membenci tempat asalmu.”
Alya langsung menggeleng cepat.
“Aku tidak akan pernah seperti itu.”
Ibunya tersenyum tipis, tetapi matanya terlihat sedih.
“Kota pusat bisa mengubah banyak orang.”
“Aku tetap Alya yang sama.”
“Semoga begitu.”
Ucapan itu terasa aneh di telinga Alya.
Namun sebelum ia sempat bertanya, suara kendaraan berhenti terdengar dari luar rumah.
Transportasi Akademi Zenith telah datang.
Dito langsung berlari ke jendela.
“Keren sekali…”
Alya ikut melihat keluar.
Sebuah kendaraan hitam futuristik melayang beberapa sentimeter di atas tanah. Lambang Akademi Zenith bersinar biru di bagian pintunya.
Tetangga sekitar mulai keluar rumah untuk melihat.
Beberapa anak kecil bahkan menunjuk kagum.
“Benar-benar kendaraan Zenith…”
“Alya hebat sekali…”
Bisik-bisik terdengar di mana-mana.
Jantung Alya berdegup cepat.
Semua terasa nyata sekarang.
Ia benar-benar akan pergi.
Petugas berpakaian hitam keluar dari kendaraan.
“Nona Alya?” tanyanya sopan.
Alya mengangguk.
“Kami ditugaskan menjemput Anda menuju stasiun kereta magnetik pusat.”
“Baik…”
Ibunya membantu membawakan tas Alya sampai depan rumah.
Hujan tipis masih turun.
Udara pagi terasa dingin.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Alya menatap ibunya lama sekali.
Wanita itu terlihat berusaha kuat, tetapi matanya mulai memerah.
“Aku akan sering pulang,” kata Alya pelan.
Ibunya mengusap rambut Alya.
“Ibu tidak takut kamu pergi.”
“Lalu?”
“Ibu takut dunia di luar sana terlalu keras.”
Alya memeluk ibunya erat.
“Semua akan baik-baik saja.”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Ia hanya memeluk Alya lebih erat seolah tidak ingin melepaskannya.
Dito ikut memeluk mereka dari samping.
“Aku akan belajar rajin,” katanya pelan.
Alya tersenyum sambil mengusap kepala adiknya.
“Itu baru adikku.”
Tetangga sekitar memperhatikan dengan ekspresi haru.
Pak Harun bahkan datang sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Ini untukmu.”
“Apa ini?”
“Buka nanti saja.”
Alya menerimanya dengan bingung.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Harun tersenyum.
“Kamu akan melihat dunia besar mulai hari ini. Tapi jangan takut kalau suatu saat kamu merasa sendirian.”
Alya mengangguk pelan.
Setelah mengucapkan salam kepada semua orang, akhirnya ia masuk ke kendaraan Zenith.
Pintu otomatis tertutup perlahan.
Dan saat kendaraan mulai bergerak, Alya melihat ibunya dan Dito semakin jauh dari pandangan.
Hatinya tiba-tiba terasa sesak.
Untuk pertama kalinya sejak diterima di Akademi Zenith, Alya benar-benar merasa takut.
Ia memalingkan wajah ke jendela sambil menahan air mata.
Neo Jakarta bergerak cepat di luar kendaraan.
Semakin mendekati pusat kota, pemandangan mulai berubah.
Bangunan tua menghilang perlahan, digantikan gedung kaca raksasa dan layar hologram yang memenuhi langit.
Jalur kendaraan bertingkat melayang di udara.
Drone polisi patroli terbang di antara gedung.
Robot pelayanan berjalan di trotoar bersama manusia.
Alya hanya bisa terpaku melihat semuanya.
Ia seperti masuk ke dunia lain.
“Pertama kali ke pusat kota?” tanya petugas Zenith.
Alya mengangguk pelan.
“Terlihat sekali.”
Alya tersipu malu.
Petugas itu tersenyum kecil.
“Kamu akan terbiasa.”
Namun entah kenapa, ucapan itu tidak membuat Alya tenang.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di stasiun kereta magnetik pusat.
Dan Alya langsung terpukau.
Bangunan stasiun itu sangat besar dengan atap transparan yang memperlihatkan langit kota. Jalur kereta melayang puluhan meter di udara, sementara papan hologram bergerak di mana-mana menampilkan jadwal keberangkatan.
Orang-orang berpakaian rapi berjalan cepat sambil membawa perangkat canggih.
Tidak ada suara berisik.
Semuanya terasa teratur dan modern.
Alya menggenggam tasnya erat.
Ia merasa kecil di tengah tempat sebesar itu.
“Kereta menuju Akademi Zenith akan berangkat lima menit lagi,” kata petugas.
Alya mengikuti langkah petugas menuju jalur khusus.
Namun saat sedang berjalan, seseorang tiba-tiba menabraknya dari samping.
Bruk!
Tablet di tangan Alya jatuh ke lantai.
“Maaf!” Alya buru-buru mengambilnya.
Seorang gadis berpakaian modis berdiri di depannya sambil menghela napas kesal.
“Kamu tidak lihat jalan?”
Alya langsung gugup.
“Maaf… aku tidak sengaja.”
Gadis itu melirik pakaian sederhana Alya dari atas sampai bawah.
“Kamu siswa baru Zenith?”
“Iya…”
“Hm.”
Belum sempat Alya bicara lagi, gadis itu sudah pergi begitu saja bersama dua temannya.
Alya menunduk pelan.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa dunia Akademi Zenith mungkin tidak akan semudah yang dibayangkan.
“Jangan dipikirkan,” kata petugas.
Alya memaksa tersenyum.
Mereka akhirnya tiba di depan kereta magnetik.
Kereta itu berbentuk panjang dengan warna putih perak mengkilap. Tidak ada roda sama sekali karena seluruh sistemnya melayang menggunakan teknologi magnetik.
Pintu terbuka otomatis.
Dan tepat ketika Alya hendak masuk, gelang digitalnya tiba-tiba bergetar.
Pesan baru.
Nomor tidak dikenal lagi.
Jangan percaya siapa pun di Zenith.
Napas Alya tertahan.
Ia buru-buru melihat sekitar, tetapi tidak ada siapa pun yang mencurigakan.
“Kenapa?” tanya petugas.
“Tidak… tidak apa-apa.”
Namun jantung Alya mulai berdetak lebih cepat.
Siapa sebenarnya yang mengirim pesan itu?
Dan kenapa orang itu terus menghubunginya?
Dengan perasaan gelisah, Alya akhirnya masuk ke dalam kereta.
Pintu tertutup perlahan.
Suara mesin magnetik berdengung lembut.
Lalu dalam hitungan detik, kereta meluncur sangat cepat meninggalkan stasiun.
Neo Jakarta terlihat mengecil dari balik jendela.
Alya memandang kota itu sambil memegang kalung peninggalan ayahnya erat-erat.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di Akademi Zenith.
Namun satu hal pasti.
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.