Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Aliansi Hitam di Kota Mode
Gemuruh ombak yang menghantam lambung kapal pesiar cepat faksi Valentino terdengar seperti ketukan genderang perang yang tak kunjung usai. Di dalam kabin utama yang mewah, keheningan mendadak merayap begitu pekat, menyergap setiap celah udara hingga terasa mencekik paru-paru. Kehangatan minuman wiski di dalam gelas sloki yang dipegang Arsen seolah menguap begitu saja, digantikan oleh hawa sedingin es yang memancar dari sepasang mata elang sang raja mafia internasional.
"Ulangi sekali lagi, Marco," suara Arsen terdengar sangat rendah, namun memiliki daya tekan yang luar biasa kuat hingga sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Pria itu tidak bergerak dari posisinya, namun garis rahangnya yang tegas mengeras dengan ekstrem.
Marco menelan ludah dengan susah payah, jemarinya yang memegang gagang telepon satelit kapal tampak memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Wajah pria tangan kanan itu masih sepucat mayat, kontras dengan noda darah kering yang mengotori kemeja taktisnya. "Laporan dari tim intelijen Paris baru saja dikonfirmasi secara mutlak, Tuan.
Valeria Baskoro... wanita yang kita kira hanya membawa cetak biru palsu, ternyata memiliki kartu as yang jauh lebih mengerikan. Dia disambut langsung oleh Jenderal Ivanov dari kementerian pertahanan Rusia di landasan pacu jet pribadi Le Bourget."
Marco melirik sekilas ke arah Arunika yang masih terduduk kaku di atas sofa beludru hitam, sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang kian bergetar. "Dia memegang dokumen legal yang sah, ditandatangani oleh mendiang ayah Anda, Tuan Haryo Valentino, dua belas tahun yang lalu sebelum beliau wafat. Dokumen itu bukan sekadar akta warisan biasa... melainkan surat perjanjian pernikahan siri legal di bawah hukum internasional dunia bawah tanah.
Di atas kertas itu, Valeria tercatat sebagai istri sah di masa tua ayah Anda. Dan berdasarkan klausul darurat faksi Valentino, jika terjadi kudeta atau kekosongan kekuasaan di markas pusat, seluruh hak pengelolaan aset dan saham faksi kita di Eropa... secara otomatis beralih mutlak ke tangannya."
*Brak!*
Gelas sloki di tangan Arsen hancur berkeping-keping dalam sekali remas. Cairan wiski amber bercampur darah segar dari telapak tangan Arsen menetes perlahan, membasahi meja mahoni yang mengkilap. Namun, pria itu sama sekali tidak meringis kesakitan. Sepasang matanya berkilat oleh amarah purba yang jauh lebih mematikan daripada ledakan bom di makam keluarga tadi.
"Perjanjian dua belas tahun lalu... dengan seorang gadis yang saat itu bahkan belum genap berusia sepuluh tahun?" desis Arsen, sebuah senyuman sarkas yang sangat mengerikan muncul di sudut bibirnya. "Ayahku memang seorang pebisnis yang kejam, tapi dia tidak sebodoh itu untuk menikahi seorang anak kecil.
Ini adalah konspirasi gila yang dipalsukan dengan sangat rapi oleh Baskoro dan faksi Volkov menggunakan stempel resmi keluarga Valentino yang hilang sepuluh tahun lalu!"
Arunika mendengarkan setiap bait kalimat itu dengan tatapan kosong yang kian mendalam.
Emosinya yang sempat terkuras habis kini berada di titik hampa yang paling dingin. Kisah kehidupannya bukan lagi sekadar labirin kebohongan; ini adalah sebuah skrip tragedi berskala global yang ditulis dengan tinta darah oleh orang-orang yang paling dia percayai. Valeria—kakak perempuannya yang selama ini tampak anggun dan penyayang—ternyata memiliki rencana yang begitu matang untuk merampas seluruh takhta tertinggi dunia hitam, bahkan sebelum Arsen sempat menyadarinya.
"Lalu, apa rencana kita sekarang?" tanya Arunika tiba-tiba, suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan tanpa riak ketakutan sedikit pun—sebuah perubahan psikologis yang membuat Marco kembali menatapnya dengan rasa ngeri yang samar.
Arunika bangkit dari sofa beludru, melangkah perlahan mendekati meja kerja Arsen dengan celana taktis dan sepatu bot kulit yang masih ternoda abu sisa ledakan pusara. "Jika dia memegang aset Eropa, itu artinya kita tidak bisa menyentuh Paris tanpa memicu perang terbuka dengan kementerian pertahanan Rusia."
Arsen menoleh, menatap lurus ke dalam sepasang mata porselen Arunika yang kini telah kehilangan seluruh cahayanya. Ada rasa puas yang dingin di balik tatapan sang raja mafia melihat boneka tawanannya kini telah menjelma menjadi belati yang siap dia ayunkan ke arah musuh-musuhnya. Pria itu mengambil selembar kain sutra bersih, menyeka darah di telapak tangannya sendiri tanpa ekspresi.
"Di mata hukum dunia hitam, dokumen sah hanya berlaku selama pemiliknya masih bernapas, 'Valeria'," ucap Arsen perlahan, sengaja menekankan nama baru itu untuk mempertegas identitas sandiwara yang kini melekat pada tubuh Arunika. "Kau adalah jaminanku yang paling berharga sekarang. Aliansi faksi barat hanya tahu bahwa pengantin resmi Arsen Valentino yang memiliki tanda bulan sabit merah di bahunya adalah wanita yang saat ini berdiri di sampingku.
Kita akan mendarat di Paris bukan sebagai buronan yang kehilangan aset, melainkan sebagai sepasang penguasa yang datang untuk menuntut hak waris yang sah."
Arsen berpaling menatap Marco yang masih berdiri menanti instruksi. "Perintahkan kapten kapal untuk memacu mesin maksimal menuju pelabuhan tikus di perairan internasional. Kita akan berganti menggunakan helikopter siluman faksi barat untuk masuk ke wilayah Prancis tanpa melalui pemeriksaan paspor resmi bandara. Dan pastikan tim intelijen kita di Paris terus memantau setiap pergerakan Jenderal Ivanov di kediaman mewah faksi Volkov di pinggiran kota."
"Baik, Tuan Arsen. Segalanya akan disiapkan dalam waktu tiga puluh menit," Marco membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari kabin dengan tergesa-gesa untuk mengoordinasikan seluruh pasukan elit yang tersisa.
Kapal pesiar hitam legam itu melesat membelah ombak laut malam yang kian ganas, meninggalkan wilayah perairan Indonesia menuju zona luar yang tak tersentuh hukum formal. Malam yang panjang berlalu dalam sunyi, berganti dengan fajar kelabu yang menyingsing di atas lautan internasional. Selama perjalanan, Arunika tidak sedetik pun memejamkan matanya. Dia menggunakan waktu yang tersisa untuk membersihkan luka memar di tubuhnya dan melatih kepekaan jemarinya dalam menggenggam belati kecil yang diberikan Marco. Dia harus belajar menjadi cepat.
Dia harus belajar menjadi mematikan, karena di Kota Mode nanti, setiap senyuman yang dia temui bisa jadi adalah topeng dari seorang pembunuh yang mengincar nyawanya.
Dua belas jam kemudian, sebuah helikopter siluman tanpa logo kenegaraan mendarat dengan senyap di sebuah lapangan terbang pribadi yang terisolasi di dalam hutan belantara sub-urban, beberapa puluh kilometer di luar batas kota Paris.
Kabut musim dingin yang tebal dan suhu yang menusuk tulang langsung menyergap tubuh Arunika saat dia melangkah turun dari helikopter, dibalut oleh jubah beludru hitam tebal yang sengaja disiapkan oleh anak buah Arsen untuk menutupi pakaian taktisnya.
Arsen melangkah di sampingnya dengan setelan mantel wol hitam panjang yang elegan, tangannya dengan posesif merangkul pinggang Arunika, memberikan kesan kepada dunia luar bahwa mereka adalah pasangan penguasa yang tak terpisahkan. Sebuah mobil sedan mewah antipeluru berwarna hitam sudah menunggu di tepi landasan dengan mesin yang menyala senyap.
"Selamat datang di Paris, Nona 'Valeria'," sebuah suara dengan aksen Prancis yang kental menyapa mereka dari arah kursi kemudi depan mobil saat mereka masuk ke dalam kabin yang hangat. Pria itu adalah Pierre, agen intelijen senior faksi Valentino yang bertugas di wilayah Eropa barat.
"Bagaimana situasi di mansion pinggiran kota, Pierre?" tanya Arsen datar sambil menyandarkan tubuh tegapnya di kursi belakang, lengannya masih melingkari bahu Arunika.
Pierre menghela napas pendek, matanya terus melirik ke arah kaca spion tengah untuk memantau situasi jalanan raya yang mulai padat oleh kendaraan kota mode. "Gawat, Tuan Arsen.
Jenderal Ivanov telah mengerahkan satu batalyon pasukan khusus bayaran untuk menjaga ketat mansion pribadi faksi Volkov. Dan malam ini... mereka sedang mengadakan jamuan makan malam tertutup untuk merayakan... 'dekrit kepemilikan baru' atas seluruh jaringan bisnis Valentino di Eropa. Seluruh kepala keluarga mafia faksi barat diundang untuk menyaksikan penandatanganan pengalihan saham tersebut secara resmi."
Arunika merasakan debar jantungnya sedikit berakselerasi di dalam dadanya. Jamuan makan malam malam ini adalah panggung sandiwara yang sesungguhnya. Jika mereka gagal merusak acara tersebut, maka kekuasaan Arsen di Eropa akan runtuh total, dan posisinya sebagai perisai darah palsu akan berakhir di dalam ruang interogasi militer Rusia.
"Mereka mengundang seluruh faksi barat?" sebuah seringai dingin kembali muncul di wajah tampan Arsen. "Bagus. Itu artinya panggung kita sudah memiliki penonton yang cukup banyak.
Pierre, siapkan gaun pesta paling mewah untuk istriku. Potongan kerahnya harus tetap rendah di bahu kiri. Aku ingin semua orang di pesta itu melihat dengan jelas tanda yang akan membuat Jenderal Ivanov gemetar ketakutan di atas kursinya."
"Dimengerti, Tuan. Segalanya sudah disiapkan di safe house sektor dua dekat Menara Eiffel," jawab Pierre sambil menambah kecepatan mobil, membelah jalanan kota Paris yang mulai dihiasi oleh lampu-lampu kota yang indah namun menyimpan kegelapan yang pekat di balik kemegahannya.
Tiga jam berlalu dengan persiapan yang sangat ketat di dalam kompleks apartemen rahasia faksi Valentino. Arunika membiarkan dua orang perias profesional dunia bawah tanah menata penampilannya kembali. Rambut panjangnya ditata dengan gaya sanggul modern yang elegan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang kini tampak begitu dingin dan tegas. Sebuah gaun malam sutra premium berwarna hitam legam dengan potongan asimetris membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Sesuai perintah Arsen, bagian bahu kirinya terekspos sepenuhnya, menampilkan tanda lahir buatan bulan sabit merah yang berkilau di bawah sorot lampu ruangan—sebuah stempel kepalsuan yang kini akan dia gunakan untuk menghancurkan pemilik aslinya.
Arsen masuk ke dalam ruangan dengan tuksedo hitam baru yang sangat pas di tubuh atletisnya.
Pria itu menatap Arunika dari atas ke bawah, ada kilatan kepuasan penuh dominasi di sepasang mata elangnya. Dia berjalan mendekat, menyematkan sebuah kalung berlian hitam yang indah di leher ramping Arunika, sebelum membungkuk sedikit dan membisikkan kalimat maut di dekat telinganya.
"Kau tampak sangat memukau malam ini, Ratu palsuku," bisik Arsen, suaranya sedingin es musim dingin Paris. "Ingat setiap gerakan yang aku ajarkan di kapal tadi. Di dalam pesta itu nanti, jangan pernah melepaskan pandangan matamu dari Jenderal Ivanov. Biarkan dia mengira kita datang untuk menyerah, sebelum kita mencabut jantung pertahanannya dari dalam."
Arunika menatap bayangan dirinya sendiri di cermin besar. Wajah seorang gadis dua puluh dua tahun yang dulu penuh ketakutan kini telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh sosok wanita dingin yang siap melangkah masuk ke dalam sarang serigala Rusia. "Aku siap, Arsen. Mari kita lihat bagaimana reaksi kakakku saat dia menyadari bahwa perisai darahnya ini datang untuk merenggut kembali mahkotanya."
Mobil limosin mewah faksi Valentino bergerak membelah malam kota Paris, mendaki jalanan perbukitan eksklusif di daerah pinggiran yang dipenuhi oleh mansion-mansion megah milik para oligarki dunia hitam. Ketika kendaraan mereka memasuki gerbang utama mansion pribadi faksi Volkov, pengamanan ketat langsung terlihat. Belasan pria berpakaian taktis militer Rusia dengan senjata serbu laras panjang dan rompi antipeluru berdiri berjaga di setiap sudut halaman yang luas.
Pintu limosin dibuka oleh seorang pelayan berjas formal. Arsen melangkah keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk membantu Arunika turun. Detik itu juga, sorot lampu taman yang terang benderang langsung menyinari bahu kiri Arunika, memantulkan kilatan tanda bulan sabit merah yang sangat kontras di atas kulit putih mulusnya.
Beberapa pengawal taktis Rusia di dekat pintu masuk langsung menegang melihat kehadiran mereka, tangan mereka secara refleks bergerak mendekati pelatuk senjata. Namun, karena ini adalah jamuan resmi yang dihadiri oleh seluruh faksi barat, mereka tidak bisa melakukan tindakan kekerasan terbuka tanpa perintah langsung dari Jenderal Ivanov.
Arsen menggenggam erat jemari Arunika, membawa gadis itu melangkah melewati pintu ganda besar terbuat dari kayu jati kuno yang menuju langsung ke arah aula pesta utama mansion. Suara alunan musik klasik bertempo lambat dan gemuruh obrolan dari ratusan tamu elit dunia hitam Eropa langsung menyambut kedatangan mereka. Suasana di dalam aula ini sangat megah, dipenuhi oleh para pria berjas mewah dan wanita-wanita bergaun mahal yang sedang memegang gelas sampanye kristal.
Namun, tepat ketika langkah kaki Arsen dan Arunika menginjak lantai marmer putih area tengah aula, seluruh kebisingan pesta mendadak mereda dengan sangat drastis. Ratusan pasang mata dari berbagai faksi mafia internasional secara serentak menoleh ke arah mereka, pandangan mereka langsung terkunci dengan penuh keterkejutan politik pada bahu kiri Arunika yang terekspos jelas.
Di ujung aula pesta, di atas sebuah panggung kecil yang dihiasi oleh bendera faksi Volkov, Jenderal Ivanov berdiri tegak dengan seragam militer lengkap penuh lencana kehormatan. Di sampingnya, sesosok wanita dengan gaun malam sutra berwarna putih salju tampak berdiri dengan keanggunan yang luar biasa mematikan—Valeria Baskoro yang asli.
Valeria menatap adiknya dari kejauhan dengan sepasang mata cerdiknya yang menyipit tajam, sebuah senyuman manipulatif yang sangat tipis muncul di bibir merahnya yang indah. Dia mengangkat gelas sampanyenya ke udara, memberikan gestur sambutan yang sarat akan intrik maut.
Arsen menuntun Arunika melangkah perlahan membelah kerumunan tamu yang bergerak mundur memberikan jalan, menuju ke arah panggung utama tempat para penguasa Rusia itu berada. Ketegangan di dalam aula kian menebal hingga ke titik didih, seolah-olah satu percikan kecil saja bisa memicu baku tembak massal di antara seluruh faksi yang hadir.
Namun, tepat ketika jarak di antara mereka menyusut hingga menyisakan sepuluh langkah di depan panggung Jenderal Ivanov, seorang pelayan pria muda dengan pakaian seragam formal pesta tiba-tiba menyelinap dari balik kerumunan tamu di samping kiri Arunika. Pria muda itu bergerak dengan kecepatan yang terlalu tidak wajar untuk seorang pelayan biasa, tangannya dengan cepat merogoh sesuatu dari balik nampan perak yang dibawanya—sebilah belati kecil beracun yang berkilau tajam di bawah cahaya lampu gantung kristal.
Sebelum Arsen atau Marco yang berjaga di belakang sempat bereaksi, pelayan misterius itu mengayunkan belatinya ke bawah dengan kecepatan mematikan, menyasar langsung ke arah leher ramping Arunika.
Arunika yang insting bertarungnya telah terpicu maksimal akibat tekanan malam panjang sebelumnya, tidak mencoba menghindar ke belakang. Dia justru menggunakan tangan kanannya untuk menangkap pergelangan tangan sang pelayan pembunuh, sementara tangan kirinya bergerak secepat kilat merogoh belati kecil di balik lipatan gaun hitamnya dan menghujamkannya tepat ke arah dada sang penyerang.
*Sret!*
Darah segar menyembur keluar, mengotori sebagian lantai marmer putih dan ujung gaun sutra hitam milik Arunika. Pelayan misterius itu terkapar di lantai sambil memegangi dadanya, kejang-kejang sesaat sebelum akhirnya tewas akibat racun yang berada di bilah belati Arunika sendiri.
Seluruh aula pesta seketika pecah menjadi teriakan panik para wanita, disusul suara kokangan senjata dari puluhan pasukan khusus Rusia yang langsung mengepung posisi Arsen dan Arunika dengan moncong senjata terarah ke depan.
Di atas panggung utama, Jenderal Ivanov menatap mayat pelayannya dengan pandangan dingin, lalu beralih menatap Arsen dengan senyuman kejam yang amat mengerikan. Pria tua Rusia itu perlahan merogoh saku seragam militernya, mengeluarkan sebuah ponsel dengan layar yang menampilkan sebuah rekaman langsung dari satelit militer internasional.
"Pertunjukan yang sangat bagus, Arsen Valentino," suara Jenderal Ivanov menggelegar membelah kepanikan aula, dipenuhi oleh nada kemenangan mutlak. "Kau mengira kau bisa masuk ke rumahku dan merusak pestaku dengan membawa umpan palsumu ini? Kau salah besar. Rekaman satelit ini baru saja menangkap sebuah pergerakan baru di perbatasan utara kota Paris... pasukan bayanganmu yang kau tinggalkan di Indonesia ternyata baru saja dibantai habis oleh faksi Volkov internasional dalam waktu tiga puluh menit lalu. Dan untuk wanita di sampingmu..."
Jenderal Ivanov mengalihkan pandangan matanya yang tajam tepat ke arah wajah Arunika, sebuah rahasia konspirasi baru yang jauh lebih mengerikan meluncur dari bibir keriputnya yang kaku.
"Kau mengira tanda lahir palsu di bahumu itu hanya dirancang oleh Baskoro, jalang kecil? Kau tidak pernah tahu bahwa stempel kimia itu... mengandung sebuah microchip pelacak militer Rusia yang sejak awal sengaja ditanam di dalam kulitmu oleh ibumu sendiri, Katarina Vane, untuk memastikan bahwa ke mana pun kau pergi... kau adalah bom bunuh diri berjalan yang akan meledakkan seluruh faksi Valentino saat kau berada cukup dekat denganku malam ini."
_____________________________
**Bersambung ke Bab 16...**
*Bagaimanakah nasib Arunika saat menyadari bahwa tanda lahir di bahunya ternyata adalah sebuah senjata pemusnah massal berbentuk microchip pelacak militer Rusia yang siap diledakkan dari jarak jauh? Rencana gila apakah yang sebenarnya disembunyikan oleh mendiang Katarina Vane di masa lalu hingga mengorbankan anak kandungnya sendiri sebagai bom berjalan di dunia bawah tanah? Dan akankah Arsen Valentino mampu membalikkan keadaan di tengah kepungan satu batalyon pasukan khusus Rusia yang siap menembak mati mereka dalam hitungan detik? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin menegangkan dan penuh letupan konflik luar biasa di bab berikutnya!*