kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Di BAWAH NAUNGAN KEGELAPAN
BAB 3: DI BAWAH NAUNGAN KEGELAPAN
Keheningan seketika mencekam. Tatapan Indra membuat bulu kuduk Agus berdiri—dingin dan kosong. Di depan matanya, sosok itu bukan lagi sahabat yang ia kenal, melainkan orang asing dengan binar seorang predator yang siap menerkam siapa saja.
“Tujuanku mengajakmu bukan sekadar untuk menemaniku, Gus,” ucap Indra. Suaranya merendah, berat oleh beban yang ia pikul di dada. "Aku mengajakmu karena kamu adalah saksi hidup saat aku hancur. Kamu tahu Mira, kan?"
Indra menjeda kalimatnya, matanya menatap kosong ke arah kegelapan. "Wanita yang sudah mencabik-cabik hatiku selama bertahun-tahun... yang menyeretku ke dalam lubang tanpa dasar."
Jiwa Agus tergoncang. Rasa sesak mulai menghimpit dada. "Sudah! Cukup, Dra!" potong Agus dengan nada yang meninggi.
"Aku tidak mau dengar lagi! Terserah kamu mau bicara apa, yang pasti aku tidak akan melangkah se-senti pun ke tempat itu!"
Ketegangan itu berakhir buntu. Karena argumen yang bertolak belakang, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah jalan. Indra melangkah pergi dengan seribu ambisinya, sementara Agus tetap diam dengan keteguhan hatinya.
Mereka berjalan saling membelakangi, membiarkan motor terparkir sendirian di jalan setapak yang sepi. Hanya cahaya redup dari layar ponsel yang menemani langkah mereka, sekaligus menjadi satu-satunya penerang di tengah kegelapan yang menyelimuti hati masing-masing.
Langkah Agus terasa berat, dipenuhi kekecewaan yang mendalam terhadap sahabatnya itu. Ia sama sekali tak menyangka perubahan yang terjadi begitu drastis. Dulu, Indra adalah sosok teman yang paling solid, jujur, tenang, dan penuh keramahan. Namun kini, sikap Indra telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Baru sepuluh langkah, Agus menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Dadanya terasa sesak dan hatinya tak tenang. Rasa cemas perlahan menyelinap, mengusik pikirannya tentang nasib temannya itu. Meski Indra baru saja membuatnya kecewa berat, namun di sudut hati Agus masih tersimpan rasa empati yang besar. Ikatan persahabatan lama itulah yang akhirnya membuatnya memilih untuk berhenti.
Pikiran Agus berkecamuk hebat. “Duh, bagaimana kalau nanti ada apa-apa dengan Indra di dalam sana? Pasti nanti aku juga yang disalahkan keluarganya,” batinnya gelisah.
"Ahhhh!" Agus mengerang frustrasi sambil membalikkan badan dengan cepat dan berlari kecil mengejar bayangan di depannya. "Dra...! Tunggu aku!"
Di tengah kegelapan malam, Indra menoleh ke belakang. Sebuah senyum puas terukir di wajahnya. Ia merasa menang; merasa egonya sedang di atas angin karena berhasil memaksa sahabatnya itu ikut.
Agus sampai di situ dengan napas yang terengah-engah. “Tunggu dulu sebentar, biarkan aku bernapas dulu,” ucapnya sambil membungkuk kelelahan.
"Nah, gitu dong! Sebagai sahabat sejati seharusnya kamu memang mendukungku. Masa kamu tega melihat aku ke tempat itu sendirian?" seru Indra sambil tertawa kecil yang terdengar licik.
“Tunggu dulu, Dra. Jangan senang dulu,” sahut Agus sambil menepuk bahu Indra pelan. "Aku balik untuk menemanimu, bukan berarti aku setuju dengan apa yang mau kamu lakukan. Aku kembali ke sini semata-mata hanya khawatir dengan keselamatan kamu."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Apapun itu, yang penting kamu sudah mau ikut denganku,” ucap Indra tegas. "Ayo lanjut jalan, sebelum semakin malam."
Meskipun Agus masih merasa kesal dan kecewa, dan ia melakukan ini pun terpaksa karena keadaan, Agus seakan terjebak di antara dua rasa itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengalah dan menuruti keinginan Indra tanpa banyak bicara lagi.
Mereka mulai melangkahkan kaki menembus kegelapan malam yang kian pekat. Jalan setapak yang tertutup dedaunan kering dan ranting-ranting kecil menimbulkan suara krak-krak yang renyah saat diinjak, seakan mereka sedang menginjak tulang-tulang yang sudah rapuh dimakan usia.
Di sekeliling mereka, barisan pohon berdiri kaku seperti penjaga tak kasatmata. Batang-batang hitam itu seolah memiliki mata, membisu namun tajam, mengawasi setiap inci pergerakan dua manusia yang berani mengusik kesunyian malam di jantung hutan ini.
Suara-suara binatang malam terdengar begitu mengerikan. Ditambah lagi hujan rintik-rintik yang mulai turun, seakan menjadi peringatan dari alam bahwa tujuan ini sudah tidak beres.
"Dra... tolong pikirkan lagi. Apa kamu benar yakin dengan tujuanmu? Hanya karena ingin membalas dendam kepada Mira?" seru Agus dengan nada memohon, mencoba membujuk Indra.
Indra tidak menoleh sedikitpun. Matanya terus menatap lurus ke depan, menembus kegelapan jalanan yang basah dan licin. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang menggelegak di dada.
"Aku tak akan mundur, Gus," jawabnya pelan namun tegas. "Dia sudah membuatku merasakan sakit selama bertahun-tahun. Sekarang gilirannya untuk merasakan apa yang aku rasakan."
Angin yang bertiup semakin kencang, membawa hawa dingin yang kian menusuk hingga ke tulang. Di tengah deru angin, Agus menghela napas panjang sambil menatap punggung sahabatnya dengan gurat kecemasan yang mendalam.
Batinnya bergolak. Rasa takut terus menyergap, meminta untuk berhenti, namun rasa tanggung jawab sebagai sahabat memaksa kakinya untuk tetap bergerak. Baginya, keselamatan orang di depannya adalah segalanya.
Setelah hampir satu jam mereka berjalan menembus hujan dan kegelapan, akhirnya sebuah cahaya berwarna jingga samar-samar terlihat di kejauhan. Itu pertanda jelas... Mereka sudah sampai
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar yah.
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁