NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIRAI PANGGUNG SANDIWARA TERBUKA

​Pukul delapan malam, pintu masuk utama ballroom dibuka. Ratusan tamu undangan mengalir masuk, memenuhi barisan kursi bundar yang telah ditata dengan ornamen mewah. Aris dan Kirana berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan, disambut oleh riuh tepuk tangan dan jepretan kamera para wartawan. Di belakang mereka, Bimo berjalan dengan langkah yang stabil, diikuti oleh Sarah yang berjalan dengan kepala tegak, mencoba mempertahankan harga dirinya.

​Aris dan Kirana duduk di meja VIP nomor satu, tepat di barisan paling depan, berhadapan langsung dengan panggung utama yang dihiasi oleh layar proyektor LED raksasa berukuran 12x6 meter.

​Acara dimulai dengan sambutan dari pembawa acara kondang, disusul oleh beberapa tarian pembuka bertema modern kontemporer yang menggambarkan filosofi pembangunan gedung-gedung bertingkat. Aris duduk dengan tegak, sesekali menyapa kolega bisnis di meja sebelah dengan lambaian tangan yang penuh percaya diri. Ia merasa berada di puncak dunia.

​"Dan sekarang, hadirin yang terhormat..." suara pembawa acara kembali menggema lewat pengeras suara berkekuatan ribuan watt, membuat seluruh perhatian tamu terpusat ke depan. "Kita akan menyaksikan sebuah mahakarya visual. Sebuah video dokumenter perjalanan sepuluh tahun PT Utama Karya Propertindo. Mari kita saksikan bagaimana seorang visioner, Bapak Aris Utama, membina kesuksesan, membangun mimpi, dan menjaga nilai kesetiaan dalam bisnis maupun keluarga!"

​Lampu utama di dalam ballroom perlahan-lahan diredupkan hingga ruangan menjadi gelap gulita. Hanya ada pendar cahaya biru dari lampu sorot panggung dan cahaya putih yang memancar dari layar LED raksasa di depan.

​Musik latar instrumental yang megah dan bersemangat mulai mengalun, menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya. Di layar, muncul logo emas PT Utama Karya Propertindo, disusul oleh teks berjalan tentang visi dan misi perusahaan. Aris tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menggenggam gelas sampanyenya.

​Namun, baru dua menit video itu berjalan, musik latar tiba-tiba mengalami gangguan teknis. Suara instrumen yang megah mendadak berubah menjadi distorsi suara yang melengking tajam, sebelum akhirnya mati total.

​Layar LED raksasa di panggung mendadak berkedip-kedip hitam, memotong tayangan dokumenter tentang proyek apartemen di Jakarta Barat.

​Aris mengerutkan kening. Ia menoleh ke arah meja operator di sudut belakang ruangan dengan wajah kesal. "Ada apa dengan tim multimedia? Ceroboh sekali," gerutunya pelan kepada Kirana.

​"Tenang saja, Aris. Mungkin hanya gangguan sistem kecil," jawab Kirana dengan nada suara yang sangat santai, bahkan ia sempat menyesap sampanyenya dengan gerakan yang sangat anggun.

​Tiba-tiba, layar LED raksasa itu menyala kembali dengan cahaya yang sangat terang. Namun, gambar yang muncul di layar bukan lagi foto-foto maket gedung atau grafik keuntungan perusahaan.

​Layar itu menampilkan sebuah rekaman video dengan sudut pandang dari atas—sebuah rekaman kamera pengawas (CCTV) berkualitas tinggi yang dipasang di sebuah koridor hotel butik bernuansa temaram yang sangat familiar bagi Aris. Hotel Ametis.

​Di dalam video tersebut, waktu digital di sudut kanan atas menunjukkan tanggal tiga bulan lalu, pukul 14.30. Pintu salah satu kamar executive suite terbuka, dan dua orang melangkah keluar sambil berpelukan erat. Pria dalam video itu mengenakan kemeja biru dongker yang sama dengan yang dipakai Aris saat ia berpamitan untuk "rapat luar kota", dan wanita yang menggelayut manja di pundaknya sambil mengenakan gaun merah mini adalah Sarah.

​Di dalam ballroom yang dihadiri ratusan orang itu, suasana seketika berubah menjadi senyap senyap. Keheningan yang begitu pekat hingga suara gesekan garpu di atas piring pun bisa terdengar jelas.

​"Apa-apaan ini?!" Aris tersentak berdiri dari kursinya, wajahnya mendadak pucat pasi seperti kain kafan. Gelas sampanye di tangannya bergetar hebat. "Matikan! Siska! Bimo! Siapa yang bertanggung jawab di bagian operator?! Matikan layarnya sekarang juga!" teriak Aris dengan suara yang mulai panik, memecah keheningan ballroom.

​Namun, sebelum ada tim operator yang bergerak, sistem audio ballroom kembali menyala. Bukan musik dokumentasi, melainkan sebuah rekaman suara percakapan telepon yang sangat jernih, menggema di setiap sudut ruangan melalui pengeras suara.

​Suara Aris: "Kamu tenang saja, Sarah. Uang 20 miliar dari konsorsiummu sudah masuk. Proyek Bali ini akan menjadi milik kita berdua. Kirana? Hahaha, wanita bodoh itu tidak tahu apa-apa. Dia mengira aku sibuk rapat setiap malam. Dia terlalu naif, dia hanya istri rumahan yang bisa kusogok dengan perhiasan mewah setiap kali aku pulang dari kamar hotelmu."

​Suara Sarah: "Kamu yakin dia tidak curiga, Ris? Aku bosan harus bersembunyi terus seperti ini. Kapan kamu akan menceraikannya?"

​Suara Aris: "Segera setelah proyek Uluwatu selesai dan seluruh aset perusahaannya berhasil kupindahkan ke struktur baru. Aku akan mendepaknya tanpa sepeser pun uang gono-gini. Dia tidak punya kuasa apa-apa di perusahaanku."

​Rekaman suara itu berhenti, disusul oleh transisi layar LED yang menampilkan belasan foto-foto intim Aris dan Sarah di berbagai restoran mewah, pantai di Bali, hingga dokumen tagihan kartu kredit untuk pembelian barang-barang mewah atas nama Sarah.

​Kasak-kusuk yang riuh langsung meledak di dalam ballroom bagai sarang lebah yang dihantam batu. Ratusan pasang mata berpaling dari layar, menatap lurus ke arah meja nomor satu tempat Aris berdiri mematung. Para kolega bisnis terkemuka saling berbisik dengan wajah penuh penghinaan, para pejabat pemerintahan menggelengkan kepala dengan kecewa, dan barisan wartawan di belakang barikade beludru mulai merangsek maju, lampu kilat kamera mereka berkedip-kedip tanpa henti ke arah wajah Aris yang kini dibanjiri keringat dingin.

​Di kursi VIP sebelah, Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar hebat karena malu dan panik yang luar biasa. Reputasi sosialnya sebagai pengusaha muda berkelas hancur lebur dalam hitungan menit di depan seluruh ekosistem bisnis Jakarta.

​"Bimo! Matikan! Aku perintah kamu untuk mematikan itu!" raung Aris, menoleh ke arah Bimo dengan mata yang memerah penuh amarah dan keputusasaan.

​Bimo hanya berdiri diam di samping meja operator, melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya sedatar dinding batu, tanpa ada niat sedikit pun untuk bergerak membantu pria yang menganggapnya sebagai "anjing penjaga" yang setia itu.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!