Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Keluar dari Masa Lalu
Teddy mengerutkan keningnya. Hendak berjalan perlahan kembali mendekati Lova, mencoba menggapai wanita itu, tetapi tangannya tak sampai karena dari belakang ada yang menahan tubuhnya untuk mendekati Lova.
"Maaf, Nak Teddy ... lebih baik kamu keluar dulu," ucap ibu Lova.
Tanpa sepatah kata pun, Teddy menganggukkan kepala dan keluar dari kamar Lova memilih menunggu di teras dan bersandar pada pilar yang ada di bagian depan rumah ini.
"Ternyata, masih sama ..." gumamnya putus asa.
"Apakah dia akan terus begitu?"
Teddy pun mengangkat kepalanya yang tertunduk, memandang hujan kecil yang mulai turun membasahi halaman rumah ini.
Entah kenapa, dadanya terasa sesak.
Belasan tahun telah berlalu, tetapi ketakutan di mata Lova masih sama seperti dulu saat mereka duduk di bangku SMA.
Bahkan mungkin ... terlihat lebih buruk.
Krekk ...
Pintu rumah terlihat dibuka dari arah dalam. Ibu Lova keluar sambil membawa segelas teh hangat dan meletakkannya di meja kecil dekat kursi teras.
"Tante minta maaf ya, Nak Teddy."
Teddy segera menggeleng cepat. "Tante jangan minta maaf. Saya sangat mengerti keadaan Lova."
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tampak jelas terlihat lelah.
"Semua lelaki yang datang ke rumah ini selalu bilang begitu." Ia menarik napas panjang. "Tapi ujung-ujungnya mereka menyerah. Lova seakan terkurung di masa itu, di masa ia diculik dan disiksa ketika berusia dua belas tahun. Dia masih begitu kecil, dan kejadian tersebut seakan tak pernah beranjak dari ingatannya."
Teddy terdiam.
"Tante ..." panggilnya hati-hati. "Apa Lova pernah dibawa ke psikolog?"
Pertanyaan itu membuat sang ibu sedikit terkejut.
"Sudah." Wanita itu mengangguk pelan. "Berkali-kali."
"Lalu?"
"Dia selalu berhenti di tengah jalan."
"Kenapa?"
Sang ibu menatap hujan yang semakin deras di luar sana.
"Karena setiap bertemu dokter laki-laki, Lova sudah dihantui ketakutan." Suaranya melemah. "Dan setiap bertemu dokter perempuan, dia hanya diam dan memilih melukis dibanding menjawab pertanyaan sang dokter."
Teddy menggigit bibir bawahnya pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia menyukai Lova sejak lama. Sangat lama. Namun, apakah harus segera ia kubur rasa cinta yang begitu mendalam ini?
...****************...
Beberapa hari kemudian
Lova terlihat lebih tenang. Ia sedang sibuk dengan canvas, kuas, dan cat, duduk di depan teras.
Tin
Tin
Lova dikagetkan oleh suara klakson dari kendaraan roda empat yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
Lova menatap panjang mobil itu hingga melihat siapa yang turun melambaikan tangan padanya. "Ah, dia ..." resahnya mendapati kehadiran pria yang beberapa hari lalu menyerahkan bunga dengan hati-hati padanya.
"Hai," ucap pria itu dengan ringan berjalan mendekatinya. Lalu, langsung fokus pada canvas yang tepat berada di hadapan Lova.
Lova mengangguk canggung dan menundukkan kepala. "Maaf ya, kemarin aku ...."
“Kamu masih suka melukis hujan dan warna gelap seperti dulu,” gumam Teddy memperhatikan kanvas di hadapannya. “Sepertinya dunia di matamu memang selalu mendung.” ucap Teddy memotong keraguan Lova yang seakan langsung memasang sikap waspada terhadapnya.
Lova menunduk pelan.
“Warna hitam itu sesuatu yang tak mau keluar dari pikiranku,” jawabnya lirih. “Sebenarnya, aku ingin keluar dari semua itu.”
Teddy tersenyum tipis, mencoba paham dengan jawaban yang diberikan oleh wanita yang berada di hadapannya ini.
Matanya kembali memperhatikan lukisan di atas canvas.
Di sana hanya ada bayangan kecil berdiri di tengah hujan dengan latar hitam pekat. Tak ada wajah. Tak ada bentuk jelas. Hanya rasa dingin dan kesepian yang entah kenapa terasa nyata.
“Kalau melihat lukisanmu...” Teddy terdiam sejenak. “Aku teringat cerita mamamu, seorang anak sekolah yang menyelamatkanmu. Dia juga laki-laki loh?"
Tangan Lova langsung berhenti bergerak. Suasana hening terasa merasuk di antara mereka berdua. Angin sore pun terasa meniup pelan rambut Lova.
“Entah lah, aku tak ingat apa pun tentangnya,” bisiknya pelan.
Teddy mengangguk, sesuai cerita ibu Lova, Lova kecil pingsan berhari-hari hingga tak sempat bertemu dengan pemuda yang telah menyelamatkannya. “Aku tahu.”
“Lalu kenapa kenapa dengan dia?”
Teddy terdiam beberapa saat sebelum akhirnya duduk di kursi dekat teras.
“Seandainya, orang itu adalah aku ...,” ucapnya hati-hati.
Lova langsung memutar kepalanya yang tadi tertunduk, menatap Teddy tepat pada kedua bola matanya. "Lalu ...?"
"Jika orang itu adalah aku, aku pasti akan menemuimu kembali dan menunjukkan padamu bahwa tak semua lelaki itu jahat. Aku akan mungkin akan mencoba membantumu lebih lagi, agar kamu membuang pikiran buruk dari kepalamu," terang Teddy perlahan.
Lova terdiam, kepalanya kembali tertundum dan tangannya menggenggam erat kuas yang masih berada di tangannya.
"Tapi, dia bukan kamu!"
Napas Lova terasa memburu. "Dia tak membutuhkan validitas bahwa dia lah yang menolongku!" ucap Lova cepat dengan mata berapi.
Teddy terdiam terkejut oleh reaksi Lova. Kedua tangan Teddy menggantung di depan dada memberi kode agar Lova lebih tenang. Semua kembali hening hingga beberapa waktu berlalu.
"Aku rasa, aku mau sendiri," ucap Lova membuang muka.
"Maaf, sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin membantumu," ucap Teddy, mulai merasa putus asa.
Akhirnya ia paham, bagaimana perasaan ibu Lova, dan pria-pria yang mencoba untuk mendekatinya. Semua memilih untuk berhenti karena Lova, benar-benar menutup diri tanpa menyisakan celah sedikit pun.
"Lova, sejujurnya ... Aku sungguh sangat menyukaimu."
Wajah Lova kembali terangkat meski tak mau melihat ke arah Teddy.
"Aku ingin, kamu menjadi istriku."
Mendengar pernyataan demikian, kedua tangan saling tergenggam dan menempel erat di dada.
"Aku ini sakit ... Aku tak bisa terlalu dekat dengan lelaki. Aku ini ditakdirkan untuk sendiri dalam sepi," ucapnya bangkit tanpa mengatakan satu patah pun dan memasuki rumah membiarkan Teddy merenung sendiri.
...****************...
Pada malam harinya
"Lova, apa yang Mama katakan? Kamu ini sudah 32 tahun! Kenapa kamu tolak Nak Teddy? Padahal dia sudah siap menerimamu yang seperti ini!"
Lova memilih membenamkan diri di bawah selimut dan menutup kedua telinganya.
"Besok, kamu harus ikut Mama! Kalau kamu tidak menikah juga, Mama akan merasa berdosa pada mendiang papamu!"
Lova menurunkan selimutnya. "Mama mau membawaku ke makam Papa lagi lalu menangis-nangis menyalahkanku lagi?"
"Besok kita harus ke psikiatri!" ucap ibunya tegas.
"Ke sana lagi? Bukan kah Mama melihat sendiri hasilnya? Tak ada yang berubah, Ma." Lova memutar badan dan menatap dinding.
"Pokoknya besok kita harus ke psikiater!" Sang ibu keluar dan meninggalkan Lova kembali dalam sepi.
Lova hanya bisa menghela napas. "Hasilnya tak akan berbeda, Ma," bisiknya.
...****************...
"Saudari Zarisha Allova, dipersilakan masuk," ucap perempuan berpakaian perawat di depan sebuah ruangan di klinik kejiwaan.
Lova seakan ingin lari, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang ibu. "Ma, aku baik-baik saja," bisik Lova mencoba menahan langkah melihat nama yang tertera, seorang ahli kejiwaan berjenis pria.
"Ia, tunggu sebentar ya? Aku lagi ada pasien nich. Nanti, kalau semua pasienku selesai, kita ketemu deh," ucap seorang pria dengan suara ringan.
Kepala Lova sedikit miring mendengar suara pria yang sama sekali tak berat. Ada ingatan-ingatan samar tapi entah kapan suara seperti itu ia dengar. Lalu ia memperhatikan sosok yang duduk di meja sang dokter.
Tampak pria androgini yang mengenakan jas putih menyelesaikan pembicaraan dan berdiri menyambut mereka. "Selamat sore ..." suaranya kali ini terdengar lebih berat layaknya pria pada umumnya, dan keningnya sedikit mengerut melihat ibu Lova.
"Tante?" ucapnya spontan seolah mengenal wanita paruh baya itu.
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???