NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok di Balik Kabut Kepalsuan

*"Jangan berani-berani menyentuhnya dengan tanganmu yang kotor oleh debu sejarah, karena meski ingatannya memudar, jiwa yang dia miliki adalah miliknya sendiri, bukan bagian dari koleksi busuk yang kau banggakan itu!"*

Suara Julius meledak dalam hujan yang menderu. Pedang emasnya yang tadi sempat meredup kini berkobar hebat, membelah kegelapan hutan dengan cahaya yang menyilaukan. Aku tergeletak di atas rerumputan basah, kesadaranku melayang di antara kehampaan dan rasa sakit yang menusuk. Di depanku, wanita yang berwajah persis seperti diriku—Marie Vance yang asli—berdiri dengan anggun, pakaiannya yang bertambal-sulam dengan benang emas seolah menyerap cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan mendung.

Wanita itu tidak membalas kemarahan Julius. Dia hanya menatap tubuhku yang tak berdaya dengan tatapan dingin, seperti seorang seniman yang sedang menilai karya seni yang retak.

*"Kau terlalu emosional, Julius,"* ucapnya. Suaranya sangat mirip denganku, namun ada nada datar yang membuatnya terdengar seperti lonceng kematian. *"Kau mencintai jiwa yang menumpang di tubuh ini, tapi kau lupa bahwa wadah ini memiliki pemilik yang sah. Aku telah menunggu ribuan siklus untuk kembali ke sini, untuk menutup retakan yang dibuat oleh jiwa asing itu."*

Julius tidak memedulikan penjelasannya. Dia melesat maju, pedangnya mengayun dengan teknik yang murni, tanpa sihir, hanya kekuatan fisik dan tekad yang membara. Namun, wanita itu tidak menghindar. Dia hanya menjentikkan jarinya, dan udara di sekitar Julius memadat menjadi dinding pelindung yang tak terlihat.

*BRAKK!*

Julius terlempar ke belakang, punggungnya menghantam batang pohon ek tua hingga retak. Dia terbatuk, darah segar mengotori bibirnya, namun dia tetap berusaha bangkit. Dia menatapku—tatapan yang penuh dengan rasa sesal dan janji yang tak terucapkan.

*"Marie,"* bisikku dari dalam kesadaran yang kabur, meski suaraku tak mampu keluar dari tenggorokanku yang kering. *Siapa dia? Dan siapakah aku?*

Wanita itu melangkah mendekatiku, tangannya yang dingin menyentuh keningku. Seketika, aku merasakan sensasi seperti ditarik keluar dari rumah yang hangat menuju badai salju. Ingatanku tentang pertemuan pertama dengan Julius, tentang malam-malam penuh ketakutan di kastil, tentang ciuman pertama kami di bawah cahaya lilin—semuanya ditarik paksa dari ingatanku, dimasukkan ke dalam bola kristal kecil yang muncul di telapak tangan wanita itu.

*"Kenangan yang manis,"* gumamnya sambil menatap bola kristal itu. *"Tapi kenangan ini bukan milikmu. Mereka adalah properti dari sejarah yang sedang kita susun ulang."*

*"Tidak... jangan..."* Julius meraung, mencoba menerjang sekali lagi, namun akar-akar pohon di sekitar kami tiba-tiba bangkit, mengunci tangan dan kakinya ke tanah.

Wanita itu menoleh pada Julius, seringainya melebar. *"Sumpah Darah itu memang kuat, Julius. Tapi dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melindungimu. Tanpa ingatannya, Marie hanyalah seorang gadis desa biasa yang tidak tahu cara merapal satu mantra pun. Dia akan segera dilupakan oleh dunia sihir, dan kau... kau akan kembali menjadi budak perpustakaanku."*

Aku merasa kosong. Benar-benar kosong. Namaku? Aku tidak tahu. Pria yang terluka di sana? Aku tidak tahu siapa dia, meski hatiku terasa hancur melihatnya kesakitan. Wanita di depanku ini... dia terasa seperti diriku sendiri, namun dia tampak asing dan menakutkan.

*"Siapa... siapa kau?"* bisikku dengan suara parau yang hampir tak terdengar.

Wanita itu membungkuk, menatap wajahku dengan saksama. *"Aku adalah Marie Vance. Dan kau... kau hanyalah anomali yang harus dikoreksi."*

Dia mengeluarkan belati perak dari balik gaunnya. Bukan belati biasa, melainkan *Belati Penghapus*. Jika belati itu menusuk jantungku, keberadaanku di dunia ini akan dihapus dari ingatan siapa pun yang pernah mengenalku. Julius akan melupakanku. Kolektor akan melupakanku. Dunia sihir akan melanjutkan sejarahnya seolah-olah aku tidak pernah ada.

*"Tunggu!"* Julius berteriak, air mata mengalir di pipinya. *"Jika kau ingin mengambil wadah itu, ambillah! Tapi lepaskan dia! Biarkan dia pergi ke mana pun dia mau, asalkan dia tetap hidup!"*

Wanita itu tertawa meremehkan. *"Dan membiarkan bibit pemberontakan berkeliaran di dunia sihir? Tidak. Tidak ada tempat bagi anomali di tatanan yang sudah mapan."*

Dia mengangkat belati itu tinggi-tinggi. Cahaya perak yang tajam berpendar dari bilahnya, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding hutan. Aku memejamkan mata, bersiap untuk kegelapan abadi yang akan menungguku.

Namun, tepat sebelum belati itu menusuk, sebuah suara bergema di seluruh hutan—suara yang berasal dari cincin kayu yang masih melingkar di jariku. Cincin itu tiba-tiba memanas, membakar kulitku, dan memancarkan cahaya merah yang sangat kuat.

*Bukan sihir, melainkan kehendak.*

Kata-kata itu tiba-tiba terbakar dalam pikiranku. Aku bukan anomali. Aku adalah pilihan. Seseorang—entah siapa, mungkin Marie yang asli di masa lalu, atau mungkin aku sendiri sebelum aku lupa—telah menanamkan sesuatu di dalam cincin itu.

Sebuah ledakan kehendak yang murni!

Bukan mantra, bukan kekuatan sihir yang dipinjam dari alam, tapi sebuah "penolakan" yang sangat keras dari jiwaku sendiri. Ledakan itu membuat belati perak di tangan wanita itu hancur menjadi debu. Wanita itu terhempas ke belakang, wajahnya yang cantik distorsi oleh kemarahan yang tak terhingga.

*"Bagaimana mungkin?! Dia sudah tidak punya ingatan! Dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk melawan?!"* teriaknya.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya merasa bahwa di dalam dadaku, sesuatu yang selama ini tertidur telah terbangun. Itu bukan sihir purba. Itu adalah sesuatu yang lebih dasar: *Kesadaran Diri.*

Aku bangkit berdiri. Tubuhku terasa berat, tapi ada api di mataku. Aku melihat Julius yang masih terikat, dan wanita yang mencoba membunuhku itu.

*"Aku tidak tahu siapa aku,"* kataku, suaraku tenang namun bergema dengan kekuatan yang membuat dedaunan di hutan berhenti jatuh. *"Tapi aku tahu siapa kau. Kau adalah ketakutan yang mencoba menyamar menjadi diriku."*

Aku berjalan ke arahnya. Wanita itu mencoba mengeluarkan sihir hitam dari tangannya, namun sihir itu lenyap sebelum mencapai tubuhku. Seolah-olah kehadiranku sendiri adalah sebuah ruang hampa bagi sihirnya.

*"Mustahil! Kau hanyalah manusia biasa!"*

*"Mungkin,"* jawabku. Aku meraih kerah gaunnya. *"Tapi manusia biasa memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh koleksi sepertimu. Kami memiliki masa depan yang tidak tertulis."*

Aku tidak tahu apa yang kulakukan, namun aku menarik cincin kayu itu dari jariku dan menekannya ke arah dada wanita itu. Cahaya merah yang keluar dari cincin itu tidak menyakitinya, melainkan *menyatukan* kami.

Dalam sekejap, aku melihat segalanya. Aku melihat Marie Vance yang asli, yang dulunya adalah seorang penyihir yang begitu lelah dengan peperangan hingga dia membagi jiwanya menjadi dua. Satu bagian tetap ada di dalam tubuh untuk menjaga rahasia, dan satu lagi... aku. Aku bukan jiwa asing. Aku adalah bagian dari jiwa Marie yang dia lepaskan untuk merasakan kehidupan sebagai manusia biasa tanpa beban takdir.

Dia bukan musuhku. Dia adalah beban yang dia tinggalkan.

Wanita itu mulai menangis. Tangisannya pecah menjadi isakan yang menyayat hati. *"Aku lelah, Marie... aku sudah lelah menjaga semua sejarah ini sendirian. Biarkan aku beristirahat."*

*"Beristirahatlah,"* bisikku lembut. *"Aku akan mengambil alih tanggung jawab ini. Bukan sebagai boneka, tapi sebagai seseorang yang akan menulis ulang akhir cerita kita."*

Wanita itu perlahan memudar, melebur menjadi cahaya yang masuk ke dalam tubuhku. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalaku saat ribuan ingatan Marie yang asli membanjiri otakku. Aku melihat kehancuran dunia sihir, aku melihat pengkhianatan dewan, aku melihat rahasia di balik Perpustakaan Terakhir.

Tubuhku ambruk ke tanah. Julius berhasil melepaskan diri dari akar-akar yang mengikatnya dan segera berlari ke arahku. Dia memeluk tubuhku dengan erat, wajahnya yang penuh luka kini dipenuhi dengan kelegaan.

*"Marie? Marie, apakah itu kau? Apa yang terjadi?"*

Aku menatapnya. Sekarang aku ingat semuanya. Aku ingat namaku, aku ingat kontrak pernikahan itu, aku ingat betapa aku mencintai pria bodoh ini yang rela mati untukku.

*"Ya, Julius,"* bisikku sambil mengusap wajahnya yang kasar. *"Ini aku. Dan aku punya banyak hal untuk diceritakan kepadamu."*

Namun, di tengah keheningan itu, aku mendengar suara langkah kaki yang berat dari balik pepohonan. Suara langkah kaki yang tidak asing. Langkah kaki dari seseorang yang seharusnya sudah menjadi pohon di puncak Arash.

Pria yang mengaku sebagai Ayahku keluar dari kegelapan. Dia tidak lagi berbentuk pohon, melainkan wujud manusianya yang paling mengerikan—wajahnya yang setengah terbakar, matanya yang menyala dengan sihir hitam yang murni.

*"Kalian pikir kalian sudah selesai?"* suaranya parau, penuh dengan dendam. *"Kalian baru saja menyatukan Kunci Utama. Sekarang, aku tidak perlu lagi mencarinya di dalam buku. Aku hanya perlu membelah kalian berdua dan mengambilnya langsung dari jiwa kalian!"*

Dia mengangkat tangannya, dan dari tanah, ribuan Kolektor bangkit. Mereka tidak lagi mencari buku. Mereka mencari kami.

Aku melihat ke arah Julius. Pedangnya sudah patah, kekuatannya terkuras habis. Tapi aku? Aku memiliki seluruh ingatan Marie yang asli, dan aku tahu satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun di dunia ini.

*"Julius,"* kataku sambil berdiri, tubuhku terasa seperti terbakar oleh sihir baru yang kusebut *Kehendak Terang*. *"Jangan biarkan mereka menyentuh tanah ini. Aku akan membuka gerbang menuju dunia di mana mereka tidak bisa masuk."*

*"Dunia mana?"* tanya Julius, bersiap dengan posisi bertarung terakhirnya.

*"Dunia di mana cerita dimulai,"* jawabku.

Aku merapal mantra—mantra pertama yang pernah kusebut dalam hidupku. Bukan bahasa kuno, tapi bahasa dari hatiku sendiri. Langit di atas kami terbuka, memperlihatkan lorong waktu yang belum pernah dilihat oleh manusia.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!