NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Pria bernama Jaya itu tertawa kecil, lalu duduk tanpa dipersilakan.

“Begini, Pak. Saya datang cuma mau membicarakan surat tanah warung ini. Kemarin kan sudah saya bilang, ada pihak yang tertarik membeli area sini. Kalau Bapak tanda tangan sekarang, uang muka bisa langsung cair.”

Pak Harun mengerutkan kening.

“Saya sudah bilang belum mau jual.”

Jaya tetap tersenyum. “Saya paham, Pak. Tapi keadaan bisa berubah. Lagipula, kalau Bapak menolak sekarang, nanti bisa repot. Ada rencana pelebaran akses jalan. Kalau masuk proyek, harga tanah bisa jatuh. Lebih baik Bapak ambil tawaran bagus dari awal.”

Beberapa pelanggan mulai diam. Mereka saling pandang, tetapi tidak ikut bicara.

Raka menatap Jaya.

Kabut gelap di sekitar tubuh pria itu semakin pekat.

Lalu suara sistem terdengar.

[Kebohongan terdeteksi.]

[Mata Dewa membuka lapisan niat manusia.]

Penglihatan Raka berubah.

Ia tidak lagi hanya melihat wajah Jaya. Ia melihat serpihan niat di balik senyum pria itu. Gambar-gambar samar muncul di benaknya.

Jaya menerima amplop dari seseorang.

Jaya menandatangani dokumen palsu.

Jaya menekan beberapa pemilik warung agar menjual tanah murah.

Di salah satu dokumen, ada nama Mahendra.

Raka menggenggam gelas kopinya.

Pak Harun menarik napas panjang.

“Saya tidak paham urusan proyek begitu. Tapi warung ini peninggalan keluarga. Saya belum mau melepasnya.”

Senyum Jaya sedikit menipis.

“Pak Harun, saya bicara baik-baik karena saya hormat. Tapi kalau Bapak keras kepala, nanti bukan saya yang datang.”

Kalimat itu membuat suasana warung berubah.

Pelanggan yang tadi diam semakin menunduk. Mereka tahu nada ancaman ketika mendengarnya.

Pak Harun masih berusaha tenang.

“Jadi sekarang kamu mengancam saya?”

Jaya tertawa pelan.

“Bukan mengancam, Pak. Saya hanya mengingatkan. Di Pontianak ini, ada orang-orang yang sebaiknya tidak dibuat menunggu.”

Raka meletakkan gelas kopinya.

Suara kecil itu membuat beberapa orang menoleh.

Jaya baru menyadari keberadaan Raka. Matanya menilai pakaian Raka yang kotor, lalu senyumnya berubah meremehkan.

“Siapa ini?”

Pak Harun menjawab, “Anak muda langganan saya.”

Jaya mengangkat alis. “Oh. Saya kira siapa. Dari tadi menatap saya seperti mau ikut bicara.”

Raka memandangnya dengan tenang.

Jaya mendengus kecil. “Anak muda, kalau orang tua sedang bicara urusan penting, sebaiknya diam.”

Biasanya, Raka akan diam.

Biasanya, ia akan menunduk dan memilih tidak mencari masalah.

Tapi malam ini berbeda.

Bukan karena ia merasa kuat.

Melainkan karena matanya bisa melihat kebusukan di balik senyum orang itu.

Raka berdiri perlahan.

Pak Harun menoleh. “Raka…”

Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Jaya.

“Surat yang Bapak bawa palsu.”

Senyum Jaya membeku.

Beberapa pelanggan langsung saling pandang.

“Apa?” suara Jaya turun.

Raka melangkah satu kali. Tidak cepat, tidak kasar. Namun entah kenapa, udara di warung itu terasa lebih berat.

“Kau bilang ada proyek pelebaran jalan. Bohong. Kau bilang harga tanah akan jatuh. Bohong. Kau bilang uang muka bisa langsung cair. Itu juga bohong.”

Wajah Jaya berubah.

“Jaga mulutmu.”

Raka tetap tenang.

“Kau cuma ingin Pak Harun tanda tangan malam ini supaya tanahnya bisa diambil murah. Setelah itu, dokumennya akan masuk ke orang Mahendra.”

Suasana warung langsung membeku.

Nama Mahendra membuat semua orang menahan napas.

Jaya berdiri cepat. Kursinya terdorong ke belakang.

“Kau tahu dari mana?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Terlalu panik.

Dan saat itu juga, semua orang di warung sadar.

Raka benar.

Pak Harun menatap Jaya dengan wajah kecewa.

“Jaya…”

Jaya menggerakkan rahangnya, mencoba mengembalikan senyum. “Pak Harun, jangan percaya anak ini. Dia cuma—”

“Di tas kananmu ada amplop cokelat,” potong Raka. “Isinya uang muka dari orang yang menyuruhmu. Di dalam amplop itu ada salinan perjanjian kosong dengan tanda tangan saksi palsu.”

Wajah Jaya kehilangan warna.

Pak Harun menatap tas kecil yang dibawa Jaya.

Beberapa pelanggan mulai berdiri. Salah satu dari mereka berkata, “Buka tasnya kalau memang tidak benar.”

Jaya mundur satu langkah.

Raka menatapnya.

Di mata Raka, kabut merah gelap di tubuh Jaya bergetar liar. Ketakutannya terlihat jelas seperti api kecil yang tertiup angin.

Jaya menunjuk Raka dengan tangan gemetar.

“Kau… siapa sebenarnya?”

Raka tidak menjawab.

Sistem berbisik di dalam jiwanya.

[Tuan tidak perlu menjelaskan diri kepada manusia seperti ini.]

[Cukup biarkan kebohongannya runtuh di hadapan semua orang.]

Pak Harun mengambil tas Jaya sebelum pria itu sempat kabur. Jaya mencoba menahan, tetapi dua pelanggan lain langsung berdiri menghalanginya.

Tas itu terbuka.

Amplop cokelat jatuh ke meja.

Isi di dalamnya persis seperti yang dikatakan Raka.

Warung mendadak riuh.

“Benar ada surat!”

“Kurang ajar, mau nipu Pak Harun!”

“Pantas beberapa warung sebelah dijual murah!”

Jaya panik. Ia mencoba mengambil amplop itu, tetapi Pak Harun menahannya dengan wajah keras.

“Keluar dari warung saya.”

“Pak Harun, ini salah paham.”

“Keluar.”

Suara Pak Harun tidak keras, tetapi cukup membuat Jaya terdiam.

Jaya menatap Raka dengan campuran takut dan marah.

“Kau akan menyesal ikut campur.”

Raka menatap balik.

Untuk sesaat, cahaya emas tipis melintas di matanya.

Jaya langsung mundur tanpa sadar. Kakinya hampir tersandung kursi.

Raka berkata pelan, “Pergi.”

Satu kata.

Namun tubuh Jaya seperti mendapat perintah langsung. Ia berbalik dan keluar dari warung dengan wajah pucat. Langkahnya terburu-buru, hampir seperti orang yang baru saja melihat hantu.

Beberapa pelanggan masih bicara dengan suara bersemangat. Ada yang memuji Raka. Ada yang bertanya bagaimana ia bisa tahu. Ada yang mulai membicarakan keluarga Mahendra dengan nada takut.

Namun Raka tidak menikmati perhatian itu.

Ia duduk kembali perlahan.

Dadanya terasa berat.

Ini baru satu orang.

Satu penipu kecil.

Tapi di baliknya sudah ada nama Mahendra.

Pak Harun duduk di hadapan Raka. Wajahnya masih penuh kebingungan.

“Raka,” ucapnya pelan, “kau tahu semua itu dari mana?”

Raka menatap kopi yang mulai dingin di depannya.

Ia tidak bisa menjawab jujur.

Tidak sekarang.

“Aku cuma… mendengar sesuatu sebelumnya,” jawabnya akhirnya.

Pak Harun menatapnya lama. Ia jelas tidak sepenuhnya percaya, tetapi seperti biasa, pria tua itu tidak memaksa.

Ia hanya menghela napas, lalu menepuk bahu Raka pelan.

“Terima kasih.”

Raka terdiam.

Dua kata sederhana itu terasa aneh di telinganya.

Selama ini, ia lebih sering mendengar hinaan daripada ucapan terima kasih.

Sistem berbicara pelan.

[Perasaan Tuan berubah.]

Raka menunduk.

“Diam,” gumamnya dalam hati.

Namun sistem tetap melanjutkan, seolah sengaja mengabaikan rasa tidak nyaman Raka.

[Manusia ini lemah.]

[Namun ia termasuk bagian dari dunia yang pernah Tuan lindungi.]

Raka tidak menjawab.

Ia hanya menatap keluar warung.

Dari kejauhan, langit Pontianak tampak kembali normal. Tidak ada retakan. Tidak ada cahaya emas. Tidak ada tanda bahwa beberapa jam lalu dunia nyaris terbuka.

Namun Raka tahu.

Sesuatu sudah berubah.

Bukan hanya dirinya.

Kota ini juga.

Di sudut jalan yang gelap, jauh dari cahaya warung, Jaya berdiri dengan napas memburu. Tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel.

Ia menekan satu nomor.

Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.

“Pak…” suara Jaya bergetar. “Ada masalah.”

Dari seberang telepon, suara laki-laki terdengar dingin.

“Masalah apa?”

Jaya menoleh ke arah warung kopi. Matanya masih menyimpan ketakutan.

“Ada anak muda. Namanya Raka. Dia tahu soal dokumen itu. Dia tahu nama Mahendra.”

Hening sesaat.

Lalu suara di seberang telepon berubah lebih rendah.

“Raka?”

Jaya menelan ludah. “Iya, Pak.”

Suara itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.

“Awasi dia.”

Jaya mengerutkan kening. “Pak?”

“Jangan sentuh dulu. Cukup awasi.”

Panggilan terputus.

Jaya menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.

Sementara itu, di sebuah rumah besar yang berdiri jauh dari warung kopi sederhana itu, seorang pria paruh baya duduk di kursi kulit hitam. Wajahnya tenang, rambutnya tersisir rapi, dan matanya memandang jendela besar yang memperlihatkan gemerlap malam Pontianak.

Surya Mahendra menurunkan ponselnya perlahan.

Di atas meja di depannya, terdapat laporan singkat tentang beberapa tanah di sekitar Sungai Kapuas. Di antara kertas-kertas itu, ada satu nama yang baru saja ditulis dengan tinta hitam.

Raka Pratama.

Surya menatap nama itu lama.

“Menarik,” gumamnya.

Di belakangnya, bayangan gelap di sudut ruangan bergerak sedikit.

Bukan bayangan manusia biasa.

Namun Surya belum menyadarinya.

Malam itu, Raka berhasil membongkar satu kebohongan kecil.

Tapi tanpa ia tahu, dari kebohongan kecil itulah pandangan keluarga besar Pontianak mulai mengarah kepadanya.

Dan di dalam jiwanya, Sistem Dewa Absolut berbisik sangat pelan.

[Mata Dewa telah terbuka.]

[Dunia mulai memperlihatkan wajah aslinya kepada Tuan.]

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!