NovelToon NovelToon
Queenara Sheva

Queenara Sheva

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Idola sekolah
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mayra Zahra

Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa dia harus pindah kesini ?

   Hari ini aku bisa berangkat lebih awal dari hari biasanya. Tak perlu lagi ku pacu si coklat motor matic yang kubeli setahun lalu. Tiga bulan terakhir aku terpaksa berangkat agak siang karena harus membantu mbak Miysa buka toko sembakoku terlebih dahulu.

   Alhamdulillah setelah tiga bulan buka tokoku mulai ramai dan jika hanya berdua sama mbak Misya saja kami kewalahan melayani pembeli.Akhirnya mulai hari ini aku merekrut dua kakak asuh ku di panti untuk membantu mbak menjaga toko.

   Awalnya mbak Misya selalu menolak saat aku bilang mau membuka lowongan katanya kita berdua saja cukup. Tapi, karena semakin kesini semakin ramai dia nyerah juga akhirnya.

  " Sheev, usul kamu kemaren kayaknya memang benar deh ?" Ucap mbak May dua hari lalu.

  " Usul yang mana mbak ?" Ucapku dengan masih sibuk menghitung penghasilan kami hari itu.

  " Cari pegawai " Aku terkekeh.

  " Lha siapa coba yang kemaren bilang masih bisa handle semua sendiri ?" Mbak Misya hanya tersenyum.

  " Makin hari pelangan kita makin banyak Sheev, suka kewalahan kalau pas kamu nggak ada. Kasian pada ngantri pelangan kita "

   " Kira-kira mbak ada pandangan tidak ?"

   " Kemaren sih Mutia sama Andi yang cerita lagi cari pekerjaan " Aku menoleh ketika nama kak Andi di sebut. Karena setau aku kak Andi sudah tiga bulan kerja jadi OB di salah satu perusahaan swasta.

    " Lho bukannya kak Andi katanya kerja di perusahaan jadi OB mbak ?" Aku tanya saja dari pada penasaran.

   " Udah nggak di perpanjang kontraknya. Kamu tau kan Andi itu kelawatan rajinnya. Ada seniornya yang nggak suka. "

   " Ada orang kerja rajin kok malah nggak suka gimana ceritanya itu ?"

  " Ya begitulah dunia kerja Sheev "

   " Oya rencana mau ambil berapa orang kamu ?"

  " Gimana kalau dua-duanya biar di sini mbak, soalnya aku ada rencana buat beli armada buat kirim barang. Jadi pembeli yang beli dalam partai besar bisa mendapat jasa antar begitu mbak "

   " Kak Andi bisa nyetir nggak ya mbak ?"

   " Bisa kayaknya. Kalau boleh saran Sheev, jangan dulu beli mobil. Bisakan motor roda tiga dulu."

" Yang ada gerobak belakangnya gitu mbak ?' mbak Misya mengangguk.

" Iya Sheev soalnya yang buat parkir an juga belum ada"

" Ya udah itu dulu juga tidak apa-apa mbak "

Jadilah mulai pagi ini kak Andi dan mbak Mutia sudah mulai aktif di toko. Jadi aku bisa berangkat sekolah lebih awal dan lebih tenang.

Sekolah masih terlihat sepi, maklum baru pukul 06.30 pagi. Biasa anak-anak baru akan datang di pukul 06.45. Kebanyakan siswa memilih datang mepet jam masuk, bahkan tidak sedikit yang jadinya terlambat.

" Pagi Sheeva tumben sudah sampai jam segini ?" Langkahku terhenti sejenak, karena sapaan dari Bisma.

" Pagi juga Bis, iya jalanan agak lenggang tadi."

" Aku duluan Bis " aku melangkah tanpa menunggu jawaban dari Bisma.

Kelasku masih terasa lengang, banyak bangku yang masih kosong. Ku putuskan membuak buku desaiku yang selau ku bawa kemana-mana. Lumayan sembari menunggu jam masuk setidaknya satu desai baju bisa aku selesaikan.

Menjelang jam masuk kelas ku mulai ramai. Akau masih fokus dengan gambar milikku. sampai...

" Hay Sheevaku tumben sudah sampai ?" Nindi sepertinya terkejut melihatku sudah berada di kelas.

" Iya mbak Misya sudah ada yang bantuin di toko, jadi aku bisa berangkat lebih awal. Nggak perlu bantu mbak Misya buka toko dulu "

" Wah bu bos kita bisa santai dong sekarang ? "

" Kalau begitu balik sekolah nanti bisa dong mampir ke kafe sebentar, mama sama kak Agung kangen kamu katanya."

" Lihat nanti ya Nin, soalnya hari ini ada suplayer mau datang." Nindy mengacungkan ibu jarinya lalu beralih duduk di bangkunya sendiri.

Bel tanda jam pelajaran pertama akan dimulai sudah berbunyi. Kelasku mendadak riuh saat bu Sari wali kelas kami masuk bersama seorang siswa baru.

Aku terkejut begitu mengetahui yang masuk bersama bu Sari adalah Pamungkas saudara tiriku. Jantungku berdetak tak karuan. Kenapa dia harus pindah ke sekolah ini, bagaimana kalau nanti dia harus bertemu dengan papa dan saudara tiriku yang lain ?

" Kamu kenapa Sheev, kenal sama anak baru itu ?" Nindy rupanya begitu peka. Aku hanya bisa menjawab dengan angukan.

" Siapa ?"

" Anak papaku " Nindy pun sepertinya juga terkejut. Dia menatap sendu kearahku.

" Are you ok ? " Aku mengeleng lemah.

Anehnya pamungkas tak terkejut melihat keberadaanku. Dia malah terlihat menunduk saat kamitak sengaja saling tatap. Ada apa dengan anak ini, bukankah dia biasanya selalu membuat onar ?

Aku sudah mencoba fokus dengan pelajaran akan tetapi, konsentrasiku benar-benar sudah pecah. Bahkan sampai bel tanda jam istirahat berbunyi.

" Sheev ke kantin yuk ?" Ucap Nindy.

" Kamu duluan aja Nin, aku mau ketoilet dulu "

" Ya mana seru Sheev ?"

" Kan ada ayang kamu Nin, itu sudah di jemput "Nindy hanya tersenyum.

" Ya sudah aku duluan. Langsung nyusul ke kantin ya ?" Aku hanya menjawab dengan anggukan.

Tanpa ku duga setelah kepergian Nindy dan kelas mulai kosong, Pamungkas mendekat kearahku dan langsung duduk di depanku.

" Sorry !" Aku terkejut.

Seorang pamungkas yang hanya tau membuat onar mengucap maaf, demi apa ini ?

" Untuk apa ?"

" Untuk sikap burukku di masa lalu " Aku semakin heran di buatnya. Ini benar Pamungkas bukan sih ?

" Yang sudah berlalu ya sudah biarkan saja berlalu. Aku hanya minta satu hal sama kamu ?"

" Apa itu ?"

" Tolong jangan sampai ada yang tau kalau aku saudara tirmu "

" Why ?"

" Aku hanya ingin hidup tenang. Anggap saja Queen kalian sudah mati " Pamungkas nampak keberatan dengan ucapanku.

" Dan satu lagi, jangan sampai ada keluargamu yang tau kalau aku di sini "

" Jangan risau gue udah lama keluar dari rumah itu " aku dapat melihat dengan jelas ada amarah dari sorot mata Pamungkas.

" Kenapa ? " jujur aju penasaran, anak mami seperti dia milih keluar dari rumah nyamannya.

" Sama kayak loe, gue nggak nyaman disana "

" Loe tau kan bang Jagad dan bang Erlan masih selalu mengawasi loe ?" aku mengangguk.

" Papa sehat kan ?"

" Sehat badanya, tapi, mentalnya seprtinya nggak "

" Loe nggak mau ambil apa yang sebenarnya menjadi hak loe ?" Aku lagi-lagi di buat terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan pamungkas.

" Buat apa ?"

" Toh tanpa itu semua aku masih bisa hidup sampai saat ini "

" Queen.."

" Please jangan panggil aku dengan panggilan itu "

" Sorry !"

Aku memilih keluar kelas lebih dulu. Sesak rasanya dadaku jika harus berlama-lama ada bersama seseorang yang membuat kenangan pahit itu berputar kembali.

Lima tahun aku menjauh, mencoba menyembuhkan luka itu sendiri. Menutup segala akses dengan orang-orang yang bergelar keluargaku. Walau ku tahu bang Jagad dan bang Erlan tidak pernah lepas mengawasiku.

" Mah kenapa masih sesakit ini " bulir air mataku tak mampu ku bendung.

Bayangan ketika mama harus meregang nyawa di hadapku kembali menari-nari di atas kepalaku.

Aku baru kelas 7 waktu itu dan harus meyaksikan mamaku mengalami insiden kecelakan persis di depan mataku.

Siang itu mama menjemputku saat pulang sekolah karena bang Jagad harus menghadiri pesta ulang tahun mama kadungnya. Yang tak lain adalah mama tiriku.

Mama yang baru keluar dari mobil tiba-tiba di tabrak dengan keras oleh sebuah sepeda motor yang melaju dengan kencang. Mama terpental jauh, tubuhku bergetar hebat waktu itu. Bahkan sampai sekarang aku masih selalu begitu jika mengingat hal itu.

Dari segala kejadian itu hal yang membuat ku sakit adalah papa yang tak kunjung datang meskipun sudah aku kabari sejak awal. Bahkan dia baru datang saat kami sudah selesai menguburkan jasad mama. Hanya bang Jagad yang lansung datang. Dan hanya om David dan bunda Aya lah yang mendampingiku sedari awal.

Tak menaruh rasa benci, hanya masih sakit jika bertemu dengan mereka. Untuk itu kau pergi ke panti asuhan bunda Aya.

1
Lisa
Segera pulih y Sheeva..
Lisa
Puji Tuhan Sheeva udh sadar..cpt pulih y Sheeva & beraktivitas kembali juga utk Bunda Aya cpt pulih.
𝐈𝐬𝐭𝐲
bangun sheeva banyak yg menunggu dan menyayangi mu...
Lisa
Cepat sadar y Sheeva..banyak yg masih sayang sama kamu.
Lisa
Moga Sheeva cpt sadar kembali..
𝐈𝐬𝐭𝐲
semoga sheeva lekas bangun dan baik2 saja...
terlalu berat beban hidup sheeva..
Lisa
Bpk macam apa itu..udh Sheeva anggap kmu g punya bpk..semangat y msh byk yg menyayangimu..
Sustika Ekawati
iiisssshhh....bener² ya...bapak g ada akhlak....semangat neng sheva💪💪💪
𝐈𝐬𝐭𝐲
masa² remaja adl masa² paling indah😂
𝐈𝐬𝐭𝐲: iya jadi pingin balik lagi ke jaman muda yg bisanya cuma happy² aja belum mengenal beban hidup😂😂
total 2 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Pepet terus si sheeva, Kay🤣🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
cieee Kay gak mau kalah dari Yongki😂😂
Lisa
Makin seru aj nih ceritanya 👍👍
Erni Kusumawati
cara berfikir sheeva bagus nih,harus di tiru☺
Lisa
Sukses terus y utk tokonya Sheeva..👍😊
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku juga mau kok kalo di traktir 😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲
toko sheeva jadi makin laris manis nih😂😂
Lisa
Sukses y utk toko sembakonya Sheeva
Lisa
Puji Tuhan tokonya Sheeva laris manis👍👍 semangat y Sheeva..
𝐈𝐬𝐭𝐲
up yg banyak thor....
Mayra Zahra: siap kak
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya bagus aku suka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!