Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Kenangan di Sudut Kota
Pagi di pesantren dimulai terlalu awal bagi Lea. Suara azan Subuh yang bersahutan dari berbagai penjuru kompleks, diikuti lantunan selawat yang menggema melalui pengeras suara, terasa seperti alarm yang menyiksa gendang telinganya. Lea menarik bantal, menutupi kepalanya rapat-rapat, mencoba kembali ke mimpi tentang jalanan London yang dingin dan bebas. Namun, ketukan di pintunya tak kunjung berhenti.
"Lea... sudah Subuh, Sayang. Ayo bangun, kita jemaah bersama," suara lembut Najwa menembus kayu pintu.
Lea mengerang frustrasi. Ia bangkit dengan rambut pirang yang berantakan, mengenakan piyama satin tipis yang jika dilihat oleh Gus Malik, mungkin pria itu akan langsung pingsan karena syok. Ia membuka pintu dengan wajah bantal.
"Gue nggak shalat, Kak. Lagi 'halangan'," bohong Lea. Ia hanya tidak ingin dipaksa memakai mukena dan berdiri di belakang pria kaku itu.
Najwa tersenyum maklum, meski matanya menunjukkan gurat kekecewaan. "Ya sudah, kalau begitu setelah ini ikut Kakak sarapan ya? Mas Malik sudah menunggu."
"Gue mau keluar," potong Lea cepat. "Gue ada janji sama teman lama. Gue butuh udara segar, Kak. Di sini... gue sesak."
Najwa terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Hati-hati ya, Lea. Jangan pulang terlalu larut. Mas Malik tidak suka gerbang dibuka lewat jam sembilan malam."
"Terserah dia," gumam Lea sambil menutup pintu kembali.
Satu jam kemudian, Lea sudah berada di sebuah kafe bergaya industrial di daerah Jakarta Selatan. Ia mengenakan skinny jeans hitam dan atasan crop top yang ditutupi kemeja flanel kebesaran. Setidaknya, ini lebih tertutup daripada pakaiannya kemarin, tapi tetap saja akan dianggap "pakaian kurang bahan" di lingkungan pesantren.
"Lea? Kalea?!"
Seorang wanita dengan rambut pendek sebahu dan gaya chic melambaikan tangan dengan antusias dari sudut kafe. Itu Dira, sahabat masa kecil Lea sebelum Lea dikirim ke London dua dekade silam. Satu-satunya orang yang tetap mengiriminya pesan meski Lea sering menghilang tanpa kabar.
"Dira!" Lea menghambur ke pelukan sahabatnya. Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Jakarta, Lea merasa bisa bernapas.
"Ya ampun, *look at you!* Benar-benar *London girl* banget ya sekarang," Dira memperhatikan Lea dari atas ke bawah. "Tapi kok muka lo ditekuk gitu? Bukannya harusnya lo senang balik ke sini?"
Lea memesan *double espresso* pahit, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Senang apanya, Dir? Gue dijebak. Gue pulang karena katanya Ibu sakit, eh ternyata gue malah mau dijadiin tumbal."
Dira mengerutkan kening, mengaduk *latte*-nya. "Maksudnya? Tumbal apa?"
Lea menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca saat ia menceritakan semuanya. Tentang kondisi Najwa yang ternyata sakit parah, tentang rencana gila "turun ranjang", hingga tentang sosok Gus Malik yang memperlakukannya seperti wabah penyakit di bandara kemarin.
"Gila..." Dira menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi Kak Najwa minta lo nikah sama suaminya? Gus Malik yang terkenal itu? Yang pesantrennya punya cabang di mana-mana?"
"Lo kenal dia?" tanya Lea heran.
"Siapa yang nggak kenal Gus Malik Al-Fatih, Lea? Dia itu idola para ukhti-ukhti di internet. Pinter, tajir, gantengnya kayak aktor Timur Tengah, tapi ya itu... orangnya terkenal dingin banget. *Savage* kalau bicara soal prinsip agama. Dan dia cinta mati banget sama Kak Najwa. Satu Indonesia tahu betapa romantisnya dia kalau lagi sama kak lo."
Lea mendengus sinis. "Romantis? Yang gue lihat kemarin cuma patung es yang hobi istighfar tiap kali lihat muka gue. Dia benci banget sama gue, Dir. Dan sekarang gue disuruh gantiin posisi kakaknya di ranjang pria itu? This is sick. This is purely insane!"
"Terus lo mau gimana? Lo punya pacar kan di sana?"
"Gue punya Tom. Dia nungguin gue di London. Tapi setiap kali gue mau bilang 'nggak' ke Kak Najwa, gue lihat mukanya yang pucat... gue lihat Arkan yang masih kecil... gue jadi ngerasa kayak orang paling jahat di dunia kalau nolak," Lea menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Dunia nggak adil, Dir. Kenapa harus gue? Kenapa bukan sepupu mereka atau siapa gitu? Kenapa harus si 'anak buangan' ini yang ditarik buat beresin kekacauan mereka?"
Dira memegang tangan Lea, mencoba memberi kekuatan. "Lea, dengerin gue. Lo nggak bisa dipaksa. Ini hidup lo. Tapi gue juga paham posisi lo. Kak Najwa itu satu-satunya orang yang bela lo pas lo dikirim ke London dulu kan?"
Lea mengangguk pelan. Memori lama berputar saat ayah mereka masih hidup dan marah besar melihat Lea remaja pulang terlambat dengan aroma rokok, hanya Najwa yang berdiri di depan ayah, melindunginya dari kemarahan yang meluap.
"Itu masalahnya," bisik Lea parau. "Gue berutang nyawa sama Kak Najwa. Tapi gue nggak sanggup kalau harus hidup sama pria yang nggak bakal pernah bisa cinta sama gue. Gue cuma bakal jadi bayang-bayang kakaknya selamanya."
"Dan lo tahu yang paling parah apa?" Lea melanjutkan. "Tadi pagi, dia bahkan nggak sudi nyapa gue. Pas kita sarapan sebentar sebelum gue cabut, dia cuma bicara sama Arkan dan Kak Najwa. Gue dianggap transparan. Gue dianggap nggak ada."
"Mungkin dia juga tertekan, Lea. Bayangin, istrinya masih ada, tapi dia udah disuruh mikirin penggantinya. Dia pasti ngerasa lagi mengkhianati Kak Najwa juga," analisis Dira.
Percakapan itu berlangsung berjam-jam. Lea menumpahkan segala kemarahan, ketakutan, dan rasa tidak berdayanya. Di London, ia merasa berkuasa atas hidupnya. Di Jakarta, ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan oleh takdir dan keinginan orang lain.
"Gue nggak tahu harus gimana, Dir," Lea menyeka air matanya yang jatuh. "Kalau gue kabur, gue bakal menyesal seumur hidup kalau Kak Najwa tiba-tiba pergi. Tapi kalau gue tinggal... gue bakal mati perlahan di dalam pesantren itu."
Sore harinya, Lea kembali ke pesantren dengan perasaan yang lebih berat dari saat ia pergi. Saat ia melangkah masuk melalui gerbang samping, ia melihat Gus Malik sedang duduk di teras samping rumah utama, mengajari Arkan membaca iqra.
Sinar matahari sore yang keemasan menyinari wajah Malik, memberikan kesan lembut yang jarang terlihat. Suara Malik saat membimbing Arkan terdengar sangat tenang, sangat berbeda dengan nada dinginnya pada Lea.
Lea terpaku sejenak di balik pilar. Pria ini bisa selembut itu, batinnya.
Tiba-tiba, Malik mendongak. Matanya bertemu dengan mata Lea. Kelembutan di wajah Malik sirna seketika, digantikan oleh tatapan datar dan dingin. Ia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke buku iqra Arkan, seolah-olah melihat Lea adalah sebuah gangguan dalam ibadahnya.
Lea mengepalkan tangan. Rasa benci dan tertarik yang aneh bercampur jadi satu. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Malik tanpa menyapa, sengaja mengeraskan langkah sepatunya di lantai kayu.
Di dalam, ia menemukan Najwa sedang terbatuk di ruang tengah, memegang dadanya dengan wajah meringis kesakitan.
"Kak!" Lea berlari mendekat.
"Nggak apa-apa, Lea... cuma capek," bisik Najwa sambil mencoba tersenyum, namun ada noda darah di sapu tangan yang ia pegang.
Lea mematung. Di saat itu juga, ia tahu. Waktunya untuk memilih sudah habis. Ia mungkin membenci Malik, ia mungkin mencintai kebebasannya di London, tapi ia tidak bisa membiarkan kakaknya pergi dengan membawa kekhawatiran tentang masa depan Arkan.