SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 LUKA DI BALIK PERINGKAT SATU
Suasana pagi di SMA Nuansa terasa hangat dan lembut. Cahaya matahari menyusup melalui celah jendela kaca.
Alesia melangkah masuk ke kelas 11 IPA 2 dengan langkah pelan. Tas kainnya yang sudah sedikit pudar diselempangkan di bahu kiri. dengan memakai seragam yang rapi dan formal. Tidak ada perhiasan, tidak ada make up. Ia datang ke sekolah bukan untuk terlihat cantik, tapi untuk belajar.
Ia memilih duduk di bangku paling depan, tepat di depan papan tulis.
Satu per satu murid berdatangan. Kelas yang tadinya sepi mulai riuh oleh suara tawa, tarikan kursi, dan juga obrolan teman-teman sekelasnya, Alesia hanya diam. Ia mengeluarkan buku catatan, pena, dan penghapus. Menatap papan tulis kosong seolah di sana ada jawaban untuk semua kegelisahannya.
“Anak-anak, siapkan kertas! Hari ini ulangan matematika,” suara Bu Dea menggema dari pintu, membuat kelas seketika terdiam lalu mengeluh pelan.
Alesia menarik napas dalam. Matematika. Mata pelajaran yang selalu membuatnya tenang. Di antara angka dan rumus, ia bisa melupakan dunia luar.
Ia mengerjakan soal demi soal dengan fokus. Tangan kanannya bergerak cepat, coretan-coretan kecil memenuhi pinggir kertas. Saat pena terakhir diletakkan, ia merasa lega. Setidaknya untuk dua jam ke depan, ia bisa merasa berhasil.
Tapi ketenangan itu tidak berlaku untuk semua orang di ruangan itu.
Di bangku ketiga dari depan, Ema menggigit ujung pulpennya kesal. Sejak kelas 10, ia selalu berada di peringkat dua. Tepat di bawah Alesia. Dan itu membuatnya gila. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak pendiam, lusuh, dan anak dari si penjual kue itu selalu mengunggulinya. Ayah Ema seorang terkenal di kota itu ibunya pemilik butik ternama. Fasilitasnya lengkap, les privatnya tiga kali seminggu. Tapi tetap saja, ia kalah dari anak sialan itu.
Tidak ada yang berani dengan Ema karena ayahnya cukup terkenal dan punya pengangan kuat disana, jadi anak itu berprilaku seenaknya bahkan para murid takut berurusan langsung dengan Ema.
Satu minggu berlalu dengan cepat. Hari pembagian hasil ulangan tiba.
“Baik anak-anak, nilai sudah keluar,” ujar Bu Dea sambil meletakkan tumpukan kertas di meja. Suaranya datar seperti biasa. “Selamat untuk Alesia Nobara, nilai 100. Kamu tetap di peringkat satu.”
Kelas riuh sebentar. Beberapa teman menoleh ke arah Alesia dan bertepuk tangan tipis. Alesia hanya mengangguk kecil.
Tapi Ema tidak. Wajahnya memerah dalam hitungan detik. Kertas nilai di tangannya diremas sampai kusut. Turun, Ia turun ke peringkat tiga. peringkat ke dua adalah Dion, anak pendiam yang duduk di belakang yang jarang bicara tapi diam-diam jenius.
Mata Ema menyipit menatap Alesia dari samping. Tatapannya seperti singa kelaparan yang melihat mangsa. "awas kau Alesia nanti, ujar Ema mengigit bibir."
Bel istirahat berbunyi nyaring. Ema berdiri cepat, memberi isyarat pada Sasha dan Dita, dua teman setianya sejak SMP.
“Kalian ikut gue. Sekarang,” bisiknya dingin, suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua.
Mereka bertiga berjalan santai menuju bangku Alesia. Ema menggebrak meja dengan keras, membuat Alesia yang sedang merapikan buku tersentak kaget. Pulpennya jatuh.
“Kamu. Ikut aku,” perintah Ema, suaranya rendah tapi mengancam.
“Mau… mau ke mana?” suara Alesia bergetar. Ia sudah tahu ke mana arah ini akan pergi. Ini bukan pertama kalinya. bahkan itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi Alesia dia selalu di Perla seperti pembantu oleh Ema.
“Jangan banyak tanya. Jalan!” Ema mencengkeram pergelangan tangan Alesia tanpa ampun dan menyeretnya keluar kelas.
Melewati koridor yang mulai kosong, menuruni tangga belakang yang jarang dipakai siswa, menuju gudang tua di belakang lapangan basket. Gudang itu sudah lama tidak dipakai. Pintunya berderit, baunya lembab, dan di dalamnya hanya ada kursi rusak, papan tulis patah, dan sarang laba-laba.
BRUK!
Alesia terdorong hingga terjatuh. Lututnya menghantam lantai semen kasar, tergores hingga darah merembes pelan.
“Awww… Ema, apa yang mau kamu lakukan padaku?” Alesia merintih, mencoba mundur tapi punggungnya sudah mentok tembok.
Ema berjongkok di depannya. Matanya melot, napasnya memburu karena marah.
“Apa yang mau aku lakukan? Oh, tentu saja memberimu pelajaran. Karena berani melangkahi aku lagi!”
“Kenapa kamu jadi rajin banget sih? Apa ancaman aku waktu kelas 1 dulu udah kamu lupa, ha?!” Ema mencengkeram dagu Alesia dengan kasar, memaksanya mendongak dan menatap mata. Kuku Ema hampir menembus kulit Alesia.
Di belakang, Sasha sudah bersiap dengan ember plastik hitam berisi air got yang berbau menyengat. Air itu ia ambil dari selokan belakang sekolah.
“Hahaha! Pukul aja, Bos! Biar kapok! Biar dia tahu siapa yang berkuasa di sekolah ini!” Sasha tertawa keras, suaranya bergema di ruangan sempit itu.
“Jangan… jangan di muka. aku gak mau Mama tahu,” Alesia memohon sambil menangis. Ia mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangan.
Tapi Ema sudah hilang akal. Tinju melayang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Mengenai mata kanan dan pipi Alesia hingga membiru. Bibirnya pecah. Rambutnya dijambak, kepalanya dibenturkan pelan ke tembok.
“Jangan main-main denganku!” Ema berteriak, suaranya parau. “Kamu pikir karena pinter kamu bisa seenaknya? Kamu pikir mama kamu yang jualan kue itu bisa ngelawan papaku?”
Setelah puas memukul, Ema merebut ember dari Sasha. Tanpa peringatan, ia mengguyur air got itu dari atas kepala Alesia.
CROSSSHH!
Air kotor yang berbau busuk, bercampur sampah dan lumpur, mengguyur kepala, baju, dan wajah Alesia. Bau busuk langsung menyengat memenuhi ruangan. Baju seragam putihnya kini coklat kehitaman, lengket dan menjijikkan. Rambutnya basah, menempel di wajah yang sudah lebam.
Ema tertawa puas. “Mandi sana.!! Biar gak bau. Tetap di gudang sana sampai bel pulang. Kalau kamu lapor guru, besok aku bikin lebih parah.”
Tanpa menoleh lagi, Ema, Sasha, dan Dita keluar dari gudang. Pintu dibanting.
KLIK.
Tinggal Alesia sendirian, terduduk di lantai kotor, menggigil bukan karena dingin tapi karena rasa sakit dan malu. Ia tidak menangis keras. Tidak ada gunanya. Ia hanya terisak pelan, memeluk lututnya yang terluka.
DING DONG. DING DONG.
Bel masuk berbunyi. Anak-anak berhamburan masuk kelas seperti semut yang kehilangan jalurnya.
Bu Ana masuk dengan buku fisika tebal di tangan. Dengan ekspresinya datar. “Baik, semua keluarkan buku fisika kalian lalu Buka halaman 23. Ibu akan menerangkan.”
Bu Ana melihat sekeliling. “Di mana Alesia? Kenapa kursinya kosong?”
Sasha mengangkat tangan, wajahnya pura-pura khawatir. “Alesia mungkin pulang, Bu. Katanya sakit perut dari tadi pagi.”
“Oh begitu? Ya sudah, kita mulai pelajarannya."
Ema dan dua temannya saling bertukar pandang di belakang, lalu tertawa kecil.
Dua jam pelajaran berlalu seperti biasa. Guru berganti, tugas menumpuk, dan tidak ada yang bertanya tentang Alesia. Seolah kehadirannya tidak penting.
Bel pulang berbunyi. Siswa-siswi keluar dengan riuh, bercanda dan berlari ke parkiran. Motor dinyalakan, mobil di-klakson, tawa menghilang di gerbang sekolah.
Sementara itu, di dalam gudang, Alesia baru berani bergerak. Tubuhnya lemas, wajahnya lebam, dan bau got masih menempel di pakaiannya. Ia berjalan menuju kelas. Ruangan itu sudah kosong, hanya tersisa debu, kursi yang berantakan, dan sisa kapur di papan tulis.
Alesia memeluk tasnya erat. Sambil mengusap air matanya.
“Aku capek… capek selalu diginiin terus sama Ema,” gumamnya pelan. Suaranya serak.
Ia mengambil tas dan berjalan keluar dari kelasnya. Rumahnya jauh. Sekitar 7 kilometer dari sekolah. Biasanya ia naik kereta komuter, turun di stasiun Pasar Lama, lalu jalan 10 menit. Tapi hari ini ia memilih berjalan kaki.
Rasanya seperti mimpi buruk bagi Alesia yang tidak akan berakhir. Setiap langkah terasa berat. Setiap tatapan orang yang lewat membuatnya ingin menghilang.
Tiba-tiba, langit menggelap. Awan hitam berkumpul cepat dari arah barat. Belum sempat ia berteduh, hujan turun deras.
Alesia terus berjalan, menatap kosong ke depan. Ia tidak mendengar suara klakson. Tidak melihat truk kontainer merah yang melaju kencang dari samping. Pikiran kosong. Mungkin kalau ia mati sekarang, semua ini selesai.
BRAK!
Seseorang menariknya kasar ke tepi jalan. Tubuhnya terpental, duduk di trotoar basah. Lututnya yang sudah luka kembali terantuk.
“Hei! Apa kamu gila?! Tidak lihat kanan kiri?!” suara laki-laki itu tinggi karena panik. Nafasnya tersengal.
Alesia tidak menjawab. Ia hanya menatap orang itu kosong, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa yang pecah menjadi tangisan histeris. Orang-orang yang berteduh di halte menoleh heran.
Laki-laki itu terdiam. Ia melihat lebam di mata kanan Alesia, bibirnya pecah, dan bau menyengat dari pakaiannya. Bajunya SMA Nuansa.
_Apa yang terjadi padanya? Siapa yang melakukan ini?_ batinnya.
“Di mana rumahmu? Biar aku antar. Kamu nggak bisa pulang sendiri kayak gini.”
Alesia diam. Ia tidak mendengar. Pikiran dan hatinya kosong. Dunia terasa jauh.
Dengan bingung, laki-laki itu merogoh tas Alesia. Beruntung, ponselnya tidak terkunci. Layarnya langsung menyala. Ia mencari kontak terakhir yang dipanggil: “Mama”.
Tu… tu… tu…
“Halo, Alesia? Kenapa kamu belum pulang juga? Mama khawatir! Mama sudah telpon dari tadi!” suara perempuan dari seberang terdengar cemas dan sedikit marah.
“Halo, Tante. Permisi. Ini Alesia bersama saya. Nama saya Gian. Boleh Tante kirim Alamat rumah Tante? Saya mau antar dia pulang."
“Gian? Kenapa dengan Alesia?! Alesia kamu di sana?!”
“Saya tidak tahu, Tante. Dia hanya Diam dengan Tatapannya kosong. Dia hampir ketabrak truk tadi.”
"Apa..!! Dengan nada cemas." Lesa meminta tolong pada Gian untuk membawa Alesia pulang.
Sang ibu langsung mengirimkan lokasi lewat WhatsApp. Gian melihatnya. Ternyata tidak jauh. Hanya 30 menit jalan kaki dari sini.
Gian mengangguk, lalu menggandeng tangan Alesia dengan hati-hati menyeberang jalan.
Gian berhenti di depan toko kue besar dengan kaca bening. Di dalamnya, seorang perempuan setengah baya dengan celemek putih langsung berlari keluar. Wajahnya panik.
“Alesia!”
Melihat ibunya, pertahanan Alesia runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk ibunya erat. Semua rasa sakit, malu, dan lelah tumpah dalam pelukan itu.
Mama Alesia langsung melihat lebam di wajah anaknya. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
“Siapa yang melakukan ini padamu, Nak?! Jawab mama!”
Alesia hanya menggeleng, menangis semakin keras. Ia tidak bisa bicara. Kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.
Gian berdiri di samping, canggung. “Saya tidak tahu, Tante. Saya hanya menolongnya di jalan. Dia hampir tertabrak. Saya menemukan dia di halte dekat SMA Nuansa.”
Mama Alesia menatap Gian sekilas. Matanya basah. “Masuk, Nak. Masuk dulu. Dingin-dingin begini kamu bisa sakit.” ujar sang mama.
Alesia yang tiba-tiba pingsan. Membuat mama nya semakin cemas. Gian membantu mengendong Alesia yang pingsan itu masuk kedalam tokoh kue rumahnya.
Mama Alesia segera menghubungi Dokter Kinan yang juga teman mama Alesia yang tak jauh dari tokoh kue itu untuk segera memeriksakan Alesia. tak lupa mengganti baju Alesia sambil menyuruh Gian untuk menunggu di luar kamar Alesia.
Dokter Kinan yang baru saja datang bergegas dimasuk ke kamar Alesia. Karena hubungan sudah sangat dekat bagi Dokter Kinan jadi dia tau di mana kamar Alesia. Gian yang melihat dokter yang baru datang itu langsung ke kamar Alesia hanya diam dan heran.
"Kina kau sudah datang cepat periksa Alesia, ujar Lesa." Tanpa pikir panjang Dokter Kinan pun memeriksa Alesia.
Setelah selesai, ia menghela napas panjang.
“Ini bukan jatuh biasa, Lesa. Anakmu mengalami kekerasan fisik. Ada lebam di pipi, mata kanan, dan beberapa memar di punggung dan lengan. Ini perundungan. Dan sudah berlangsung lama sepertinya.”
Mama Alesia menutup mulutnya. Air mata jatuh tanpa suara. Lututnya lemas. Selama ini Alesia tidak pernah cerita. Ia selalu pulang dengan senyum palsu, bilang semuanya baik-baik saja. “Mama jangan khawatir, kok,” katanya selalu begitu saat mama nya bertanya tentang sekolahnya.
"Lesa kamu harus menyelidiki apa yang terjadi di sekolah Alesia, dan siapa yang sudah merundungnya, ujar Dokter Kinan."
"Iya aku akan datang ke sekolah jika Alesia sudah sembu, saut mama Alesia."
"Jika perlu bantuan hubungi aku Lesa, senyum tipis Dokter Kinan sambil menepuk pelan bahu Lesa."
Setelah itu dokter Kinan pamit pulang dan memberikan obat serta salep. Lalu mama Alesia menghampiri Gian yang masih duduk di ruang tamu toko. Ia belum pergi. Menunggu kabar.
“Terima kasih banyak, Nak. Kamu sudah mengantar pulang anak saya. Kalau bukan karena kamu, mungkin…” suaranya tercekat.
“Sama-sama, Tante. Saya nggak melakukan apa-apa kok. Itu memang seharusnya.”
“Saya pamit dulu, Tante. Sudah malam. Mama saya pasti khawatir.”
“Tunggu,” mama Alesia pergi ke laci tokohmya membungkus kotak kue coklat. “Sebagai ucapan terima kasih lalu memberikannya kepada Gian.
"Tidak usah Tante."
Gian awalnya menolak tapi Tante Lesa terus memaksa agar Gian menerima kotak kue itu, dengan canggung Gian menerimanya“Makasih banyak, Tante. Semoga Alesia cepat sembuh.”
"Kalau begitu saya permisi, ujar Gian lalu melangkah keluar dari tokoh kue."
Tante Lesa cuman tersenyum tipis dan masih memikirkan apa yang sudah terjadi pada Alesia.