seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
musuh seluruh akademi
Suasana taman energi berubah kacau hanya dalam hitungan detik.
Layar hologram raksasa masih menampilkan wajah Alya dengan tulisan merah besar:
SUBJEK INTI: ALYA RAHMAN
Bisikan memenuhi seluruh area akademi seperti gelombang yang semakin besar.
“Itu dia…”
“Gadis Elysium…”
“Jangan dekat-dekat dengannya…”
Tatapan para siswa berubah total.
Beberapa mundur perlahan saat melihat Alya.
Sebagian lain menatapnya dengan rasa takut.
Dan yang paling menyakitkan…
Ada juga tatapan jijik.
Tubuh Alya terasa membeku di tempat.
Napasnya sesak.
Ia seperti kembali menjadi anak kecil yang sendirian di tengah keramaian.
Namun kali ini jauh lebih buruk.
Karena seluruh akademi melihatnya seperti ancaman.
“Alya…”
Suara Hana terdengar pelan di sampingnya.
Namun Alya hampir tidak mendengar.
Matanya masih terpaku pada layar hologram besar.
Kaizer tersenyum samar dari layar.
“Zenith menyembunyikan kebenaran terlalu lama,” katanya tenang. “Dan sekarang, pewaris terakhir Project Elysium telah muncul.”
“Matikan layar itu sekarang!”
Suara petugas keamanan terdengar dari kejauhan.
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, seluruh hologram tiba-tiba mati bersamaan.
Gelap.
Suasana menjadi sunyi beberapa detik.
Lalu—
Keributan meledak di seluruh taman.
“Aku tidak mau satu area dengannya!”
“Bagaimana kalau dia berbahaya?!”
“Dia mungkin bisa meretas sistem AI!”
Alya menunduk pelan.
Tangannya gemetar kecil.
Ia tidak pernah merasa seasing ini sebelumnya.
Bahkan setelah pindah ke Zenith.
Bahkan setelah gagal di simulasi.
Namun sekarang…
Ia benar-benar merasa seperti monster.
Tiba-tiba seseorang melemparkan sesuatu kecil ke arah Alya.
Kaleng minuman kosong itu jatuh tepat di dekat kakinya.
“Pergi dari Zenith!”
Suara siswa laki-laki terdengar keras.
“Orang seperti dia tidak seharusnya ada di sini!”
“Apa kalian gila?!” Hana langsung membalas marah.
Namun beberapa siswa lain mulai ikut bicara.
“Dia bagian eksperimen ilegal!”
“Bagaimana kalau dia membahayakan kita?!”
“Zenith harus mengeluarkannya!”
Setiap ucapan terasa seperti pisau.
Alya mundur satu langkah perlahan.
Dan saat itulah—
“Diam.”
Suara Reno terdengar dingin.
Tidak keras.
Namun cukup membuat suasana langsung hening.
Reno berdiri di depan Alya.
Tatapannya menyapu seluruh kerumunan siswa.
Dingin.
Tajam.
Mengintimidasi.
“Kalau kalian takut hanya karena satu layar hologram,” katanya pelan, “berarti kalian lebih lemah dari yang kupikir.”
Tidak ada yang langsung membalas.
Karena semua siswa Zenith tahu satu hal.
Reno bukan orang yang bisa dianggap remeh.
Namun beberapa detik kemudian, seorang siswa laki-laki maju dengan wajah kesal.
“Jadi kau membelanya?”
Reno menatapnya datar.
“Ada masalah?”
“Dia ancaman!”
“Berdasarkan apa?”
“Semua orang lihat sendiri!”
Reno mendekat satu langkah.
Dan seketika siswa itu langsung terdiam gugup.
“Aku juga bagian eksperimen Elysium.”
Kalimat itu membuat seluruh taman membeku.
Mata Alya langsung membesar.
“Hah…?”
Bisikan langsung muncul lagi.
“Dia serius?”
“Reno juga?”
Namun Reno tetap tenang.
“Kalau kalian menganggap Alya monster,” katanya dingin, “berarti kalian juga harus takut padaku.”
Suasana langsung berubah mencekam.
Tak seorang pun berani bicara lagi.
Karena semua orang tahu kemampuan Reno memang tidak normal.
Tatapannya akhirnya kembali ke Alya.
“Ayo pergi.”
Alya masih terlalu syok untuk menjawab.
Namun ia tetap mengikuti Reno dan Hana meninggalkan taman energi.
Tatapan siswa lain terus mengikuti mereka sampai menghilang di balik koridor akademi.
---
Malam itu, Akademi Zenith terasa berbeda.
Terlalu sunyi.
Dan terlalu tegang.
Pengawasan keamanan meningkat di seluruh area.
Drone patroli beterbangan lebih banyak dari biasanya.
Bahkan beberapa lorong utama dijaga petugas bersenjata.
Alya berjalan diam di samping Reno dan Hana menuju Menara Orion.
Pikirannya masih kacau.
“Kenapa kamu bilang soal eksperimen itu?” tanyanya akhirnya pelan.
Reno tetap berjalan lurus.
“Karena mereka tidak akan berhenti menyerangmu kalau aku diam.”
“Tapi sekarang mereka juga akan membencimu.”
“Aku tidak peduli.”
Jawaban singkat itu membuat Alya terdiam.
Sementara Hana berjalan sambil sesekali melihat sekitar dengan gelisah.
“Aku masih tidak percaya semua ini nyata,” katanya pelan.
“Aku juga,” jawab Alya lirih.
Begitu mereka tiba di depan Menara Orion, suasana mendadak terasa aneh.
Beberapa siswa yang berdiri di lobi langsung berhenti bicara saat melihat Alya.
Tatapan mereka berubah dingin.
Dan perlahan…
Mereka memberi jalan seperti menghindari sesuatu berbahaya.
Dada Alya terasa sesak lagi.
Ia mempercepat langkah menuju lift.
Namun sebelum pintu lift tertutup, suara seseorang terdengar dari belakang.
“Alya.”
Alya menoleh.
Livia Chen berdiri di tengah lobi dengan ekspresi serius.
Berbeda dari biasanya, kali ini tidak ada tatapan meremehkan di matanya.
Hanya ketegangan.
“Apa?” tanya Alya pelan.
Livia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata:
“Hati-hati.”
Semua orang langsung bingung.
Bahkan Hana membelalakkan mata.
“Hah?”
Namun Livia tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia hanya menatap Reno sebentar lalu pergi begitu saja.
“Itu… aneh,” gumam Hana.
Reno justru terlihat semakin waspada.
“Dia pasti tahu sesuatu.”
Lift akhirnya tertutup.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, suasana benar-benar hening.
---
Sesampainya di kamar, Alya langsung duduk di lantai dekat tempat tidur.
Tubuhnya terasa lelah luar biasa.
Hari-hari di Zenith baru berjalan sebentar.
Namun hidupnya sudah berubah total.
Ia kini dianggap ancaman.
Eksperimen.
Bahkan mungkin musuh.
Hana duduk di sampingnya pelan.
“Kamu masih kuat?”
Alya tertawa kecil lemah.
“Aku juga tidak tahu.”
Reno berdiri dekat jendela sambil memperhatikan area luar akademi.
“Ada yang tidak beres,” katanya tiba-tiba.
“Apa lagi?” keluh Hana.
“Kaizer terlalu sengaja mempublikasikan Alya.”
Alya mengangkat wajah.
“Maksudmu?”
“Dia bukan tipe orang yang bertindak tanpa tujuan.”
Tatapan Reno berubah serius.
“Kalau dia membuka identitasmu sekarang, berarti ada sesuatu yang sedang dia tunggu.”
Suasana kamar langsung terasa lebih dingin.
“Aku mulai membenci kalimat seperti itu,” gumam Hana.
Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi—
Brak!
Seluruh lampu kamar tiba-tiba mati.
Gelap.
“Apa lagi sekarang?!” Hana panik.
Gelang digital Reno langsung menyala otomatis.
Dan ekspresi pemuda itu berubah tajam.
“Kita harus pergi.”
“Apa?!”
“Sistem keamanan lantai ini diretas.”
Jantung Alya langsung berdegup keras.
Suara langkah terdengar di luar koridor.
Banyak langkah.
Tidak normal.
Reno bergerak cepat menuju pintu lalu melihat melalui panel kecil.
Ekspresinya langsung mengeras.
“Mereka datang.”
“Siapa?” bisik Alya.
Namun sebelum Reno menjawab—
Brak!
Pintu kamar mereka dihantam keras dari luar.
Suara seseorang terdengar berteriak:
“Buka pintunya!”
Hana langsung pucat.
“Itu siswa lain…”
Brak!
Pintu dihantam lagi lebih keras.
“Keluar, monster!”
“Zenith tidak butuh eksperimen!”
Alya membeku.
Tubuhnya terasa dingin.
Mereka…
Datang untuk dirinya.
Dan jumlah mereka banyak.