Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
“Pilihan ada di tanganmu,” ujar pria itu dingin. “Demi keselamatan anakmu… kau tidak punya pilihan lain.”
Hujan terus mengguyur.
Alyssa menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar menahan sakit.
Tak ada waktu untuk berpikir.
Tak ada jalan untuk mundur.
“Baik…” suaranya lirih, hampir hilang ditelan hujan. “Asalkan selamatkan anakku…”
Senyum tipis terukir di bibir pria itu. “Pintar.”
Tanpa ragu, ia mengangkat tubuh Alyssa dengan hati-hati. Asistennya segera memayungi mereka berdua saat ia membawa wanita itu menuju mobil.
Pintu terbuka.
Dan dalam hitungan detik, mobil hitam itu melaju meninggalkan jalan yang basah oleh hujan.
Keesokan harinya
Aroma antiseptik memenuhi ruangan.
Alyssa duduk di atas ranjang rumah sakit, tubuhnya masih lemah. Ia menyandarkan diri, satu tangannya refleks mengusap perutnya.
Di sampingnya, pria itu berdiri dengan tenang, wajahnya tetap dingin seperti biasa.
Seorang dokter sedang memeriksa kondisinya.
“Dokter…” suara Alyssa terdengar cemas, “bagaimana kondisi anak saya?”
Dokter itu tersenyum tipis.
“Beruntung Anda segera dibawa ke rumah sakit,” jawabnya. “Jika terlambat beberapa menit saja, bayi dalam kandungan tidak bisa diselamatkan. Ke depannya, Anda harus lebih berhati-hati.”
Napas Alyssa terasa lega.
“Terima kasih, Dokter…”
Dokter itu kemudian menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya.
“Tuan… Anda suaminya?”
Alyssa langsung terkejut.
“Bu—”
“Benar,” potong pria itu tanpa ragu. “Saya suaminya.”
Ruangan mendadak terasa hening. Mata Alyssa membesar.
Ia menatap pria itu dengan tak percaya.
Namun pria itu tetap tenang, seolah itu adalah fakta yang tak perlu dipertanyakan.
Dokter hanya mengangguk, tidak curiga sedikit pun.
“Kalau begitu, tolong jaga istri Anda dengan baik. Kondisinya masih lemah.”
“Pasti,” jawab pria itu singkat.
Setelah dokter pergi, Alyssa masih terdiam.
Pikirannya kacau.
"Kenapa dia langsung mengaku…? Padahal aku dan Darius belum bercerai…"
Tatapannya perlahan beralih ke pria di sampingnya.
Pria itu menatap Alyssa tanpa emosi.
“Di mana suamimu… sampai membiarkan istrinya sendirian di tengah hujan seperti itu?” tanyanya dingin.
Alyssa terdiam.
Bibirnya bergetar.
“Dia…” suaranya tertahan.
Pria itu menyipitkan mata.
“Selingkuh?”
Pertanyaan itu langsung menembus.
Alyssa memejamkan mata sesaat—bayangan Darius dan wanita lain itu kembali terlintas jelas di pikirannya.
Ia tidak menjawab.
“Kalau begitu,” ujar pria itu datar, “ceraikan dia sebelum anakmu lahir.”
Alyssa mengangkat wajahnya, menatap pria asing itu dengan bingung.
“Tuan… kenapa Anda ingin menikah dengan saya? Kita bahkan tidak saling kenal…”
“Aku butuh seorang istri,” jawabnya singkat. “Setelah kau bercerai, kita menikah. Jangan membuatku menunggu terlalu lama.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan.
Alyssa terdiam.
“Boleh aku tahu… siapa nama Anda?” tanyanya pelan.
“Lucien,” jawab pria itu. “Panggil saja namaku.”
Alyssa menelan ludah.
“Lu… Lucien…” suaranya masih lemah. “Aku sedang mengandung. Kalau aku menikah… apakah kau akan memisahkanku dari anakku?”
Tatapan Lucien turun ke perutnya.
“Anak itu akan menjadi anakku,” ucapnya tenang. “Setelah lahir, dia akan masuk ke dalam keluargaku.”
Jantung Alyssa berdegup keras.
Namun kali ini… ia tidak menolak.
“Baik…” ucapnya pelan. “Aku berjanji padamu. Tapi sebelum bercerai… aku ingin pulang dulu.”
Lucien menatapnya tajam.
“Kenapa? Kau masih ingin kembali padanya?”
Alyssa menggeleng.
Matanya yang sebelumnya penuh air kini berubah dingin.
“Tidak,” jawabnya tegas. “Aku hanya ingin membalas… dengan caraku sendiri.”
Sudut bibir Lucien terangkat tipis. “Tiga hari,” ucapnya.
Nada suaranya rendah… namun penuh tekanan.
“Aku tidak suka menunggu. Jika dalam tiga hari kau masih berada di sana...aku sendiri yang akan membawamu keluar.”
Tatapannya kemudian jatuh pada kalung di leher Alyssa.
Sebuah cincin giok yang tergantung.
Tanpa peringatan, Lucien menariknya.
Alyssa terkejut.
“Itu milikku!” ucapnya refleks.
Lucien menatap cincin giok itu, matanya sedikit menyipit.
“Benda ini… penting bagimu?”
“Iya!” jawab Alyssa cepat. “Tolong kembalikan…”
Namun Lucien menggenggamnya erat.
“Aku akan menyimpannya,” ucapnya dingin. “Sebagai jaminan… agar kau tidak mengubah keputusanmu.”
Alyssa terdiam.
“Jika kau berubah pikiran,” lanjutnya pelan, “cincin ini akan lenyap.”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya kembali tajam.
“Dan bukan hanya itu, aku juga bisa menghilangkanmu… dan pria itu dari dunia ini.”
Alyssa membeku.
Tanpa berkata apa pun lagi, Lucien berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Di koridor rumah sakit.
Asistennya berjalan di belakangnya.
“Bos… kenapa tidak langsung memberi tahu bahwa cincin itu milik Anda?” tanya sang asisten pelan.
Lucien tidak berhenti.
Tatapannya lurus ke depan.
“Tidak semua hal… perlu diungkapkan sekarang,” jawabnya singkat.
ayooooo