Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari bahagia mereka
“Sial... Samuel di mana sih?”
Citra membanting ponselnya ke atas kasur dengan kesal.
Sejak kemarin ia terus mencoba menghubungi Samuel, tetapi nomor pria itu tidak aktif.
Pesannya pun sama sekali tidak dibalas.
Padahal hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
Rasa kesal bercampur cemas membuat Citra semakin tidak tenang.
“Sayang, kamu kenapa?”
Ciara menghampiri putrinya yang tampak tidak baik-baik saja.
Citra mengembuskan napas kasar sambil meremas selimut di tangannya.
“Samuel, Mom...”
Wajahnya dipenuhi kekesalan.
“Sejak semalam dia nggak angkat teleponku, pesan-pesanku juga nggak dibalas,” keluhnya.
Ciara mengerutkan kening.
“Bukannya kalian kemarin bertemu?”
Citra mengangguk cepat.
“Aku memang ketemu dia kemarin.”
Ia menatap ibunya dengan wajah kesal.
“Tapi pagi ini dia nggak kirim pesan seperti biasanya, Mom.”
Nada suaranya terdengar semakin kesal.
“Jadi aku inisiatif telepon dia dan kirim pesan... tapi sampai sekarang belum ada balasan darinya.”
Citra kembali mengembuskan napas kasar.
Ciara menatap putrinya sejenak sebelum akhirnya mengambil ponselnya.
“Tunggu.”
Tatapannya berubah serius.
“Mommy telepon Iren.”
Ciara langsung menghubungi calon besannya itu.
Tak butuh waktu lama, panggilan pun terhubung.
“Iya, Jeng?” suara Iren terdengar dari seberang telepon.
“Samuel di mana?”
Ciara bertanya tanpa basa-basi.
Nada suaranya terdengar dingin dan penuh tuntutan.
“Kenapa dia nggak membalas pesan bahkan mengangkat telepon Citra?”
Iren yang berada di rumah langsung menegakkan tubuhnya.
Ia sempat terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Maaf, Jeng. Saya lupa memberi tahu.”
Nada suaranya terdengar dibuat tenang.
“Samuel sakit. Dia sedang demam.”
Iren melirik ke arah kamar putranya.
“Mungkin kecapekan mengurus pernikahan dan masalah kantor.”
“Sakit?”
Citra yang mendengar percakapan itu langsung menutup mulutnya.
Wajah kesalnya perlahan berubah menjadi rasa bersalah.
Ternyata ia sudah salah paham.
“Iya, Jeng.”
Iren kembali menjawab dengan tenang.
“Tolong sampaikan pada Citra ya... jangan salah paham dulu.”
Ciara menatap putrinya sekilas sebelum kembali menjawab panggilan itu.
“Baiklah, Jeng. Saya akan sampaikan ke Citra.”
“Maaf sekali ya, Jeng. Nanti kalau kondisi Samuel sudah membaik, saya minta dia langsung menghubungi Citra,” ujar Iren dengan nada lembut, berusaha terdengar meyakinkan.
“Baik.”
Panggilan pun berakhir.
Ciara menurunkan ponselnya lalu menatap Citra yang sejak tadi menunggu dengan wajah cemas.
“Samuel sakit,” ucap Ciara singkat.
Citra langsung berdiri dari duduknya.
“Sakit? Sakit apa, Mom?”
“Demam. Kata calon mertuamu, dia kelelahan mengurus pekerjaan kantor dan persiapan pernikahan.”
Wajah Citra langsung dipenuhi rasa bersalah.
“Ya Tuhan... aku malah berpikir macam-macam.”
Ciara menghela napas pelan.
“Jangan terlalu emosional dulu sebelum tahu kebenarannya.”
Citra menggigit bibir bawahnya.
“Aku mau jenguk Samuel.”
Ciara menggeleng pelan.
“Tidak sekarang. Biarkan dia istirahat dulu.”
Citra menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk.
Ia perlahan mengetik pesan untuk Samuel.
Cepat sembuh ya. Maaf aku sempat salah paham.
Setelah mengirim pesan itu, Citra menghela napas panjang.
Namun entah kenapa, hatinya tetap merasa tidak tenang.
••
“Diana, istirahat dulu. Nanti ponakan aku kecapekan.”
Puspa menegur Diana yang sejak pagi terlihat belum berhenti bekerja sama sekali.
Diana yang sedang fokus menyusun pesanan menoleh dan tersenyum tipis.
“Sedikit lagi, Kak. Setelah ini aku istirahat.”
Puspa mengembuskan napas panjang.
Ia tahu Diana pekerja keras, tetapi wanita itu terkadang terlalu memaksakan dirinya sendiri.
Puspa berjalan mendekat, lalu langsung mengambil peralatan yang ada di tangan Diana.
“Istirahat sekarang.”
Nada suaranya tegas.
“Ingat, ada ponakan aku di dalam perutmu.”
Puspa menatap Diana tajam.
“Aku nggak mau dia kenapa-kenapa gara-gara mamanya sendiri.”
Diana terkekeh kecil mendengar omelan itu.
Hatinya terasa hangat diperlakukan seperti keluarga sendiri.
Akhirnya ia mengangguk pasrah.
“Baiklah.”
Diana pun berjalan menuju tempat istirahat karyawan lalu duduk di sana.
Tak lama kemudian, Tiara datang sambil membawa makan siang yang sudah disediakan untuk para karyawan.
“Nih, aku ambilin buat kamu.”
Diana menerimanya dengan senyum lebar.
“Terima kasih, aunty.”
Ia sengaja membalas dengan suara seperti anak kecil hingga membuat Tiara tertawa.
“Sama-sama.”
Tiara lalu mengelus perut Diana dengan gemas.
“Aunty ke toilet dulu ya. Kayaknya aku kekenyangan.”
Diana mengangguk sambil tertawa kecil.
“Iya.”
Setelah Tiara pergi, Diana mulai menikmati makan siangnya.
Tangannya perlahan mengusap perutnya.
“Maaf ya, sayang...”
Suaranya terdengar lembut.
“Bunda hampir lupa kasih kamu nutrisi.”
Senyum kecil terukir di bibir Diana.
Beberapa saat kemudian, makanannya habis.
Diana melirik jam dinding.
Waktu istirahatnya masih tersisa beberapa menit lagi.
Ia kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas, berniat membuka media sosial.
Sejak pindah ke kota Velmora, Diana memang belum pernah lagi membuka akun sosial medianya.
Ia ingin menjauh dari semua hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Namun—
berita pertama yang muncul di layar membuat tubuhnya membeku seketika.
Senyum pahit perlahan muncul di bibirnya.
Berita tentang pernikahan Samuel Dirgantara dan Citra Wiranata tersebar luas di media sosial.
Senyum di wajah Diana perlahan memudar.
Tangannya terasa dingin saat menatap foto Samuel dan Citra yang terpampang mesra di layar ponselnya.
Keduanya tampak serasi.
Gaun mewah, jas mahal, serta senyum bahagia yang dipamerkan ke publik.
Jadwal pernikahan mereka bahkan tertulis jelas: akan digelar beberapa hari lagi.
Diana menatap layar itu cukup lama.
Dadanya terasa sesak, tetapi anehnya air matanya tidak jatuh seperti dulu.
Mungkin karena hatinya mulai lelah untuk terus berharap.
“Atas nama cinta... aku benar-benar bodoh waktu itu,” lirihnya pelan.
Tangannya perlahan menutup berita itu.
Ia mengusap perutnya dengan lembut.
“Untung Bunda punya kamu.”
Bibir Diana melengkung membentuk senyum tipis yang terasa pahit.
Matanya menatap lama foto Samuel dan Citra yang terlihat begitu bahagia.
Begitu mudahnya pria itu tersenyum, seolah tidak pernah menghancurkan hidupnya.
Seolah tidak pernah memintanya menggugurkan anak yang kini sedang ia perjuangkan seorang diri.
Air mata perlahan menggenang, tetapi Diana buru-buru menghapusnya.
Tangannya mengelus perutnya pelan.
“Lihat... ayahmu tampak sangat bahagia tanpa kita,” lirihnya dengan suara bergetar.
Diana tertawa kecil, tetapi terdengar menyakitkan.
“Tidak apa-apa.”
Tatapannya berubah dingin menatap layar ponselnya.
“Kalau hukum manusia tidak bisa menyentuhnya…”
Ia menjeda, rahangnya mengeras.
“Biarkan tangan Tuhan yang membalas semua perbuatannya.”
Tanpa ragu, Diana langsung mematikan ponselnya.
Ia menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya sebelum kembali berdiri.
“Ayo kembali bekerja.”
Kali ini langkah Diana terlihat lebih tegar.
Bukan karena lukanya telah sembuh—melainkan karena ia mulai belajar hidup tanpa berharap apa pun dari Samuel lagi.
“Diana, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Diana yang sedang fokus mengaduk adonan kue langsung mengerutkan keningnya.
Ia menoleh ke arah Tiara dengan wajah bingung.
“Siapa, Ra?”
Tiara mengangkat bahunya santai.
“Aku nggak tahu.”
Ia menunjuk ke arah luar dapur.
“Coba kamu hampiri. Kak Puspa juga ada di sana.”
Diana mengangguk pelan.
Ia meletakkan spatula yang ada di tangannya, lalu membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum melangkah keluar dari dapur.
Saat tiba di area depan toko, Diana melihat Puspa sedang berbincang santai dengan seorang wanita berpenampilan anggun.
Wanita itu terlihat elegan dengan pakaian mahal yang dikenakannya, tetapi wajahnya tampak ramah.
Puspa yang melihat kedatangan Diana langsung melambaikan tangan.
“Diana, sini.”
Diana mendekat.
“Chella, ini Diana yang aku ceritakan ke kamu,” ucap Puspa.
Diana tersenyum tipis dengan sopan.
Wanita itu langsung menatap Diana dengan antusias.
“Kamu yang Diana ya? Yang membuat kue Pavlova itu?”
Wanita tersebut mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
“Kenalin, aku Marchella. Kamu bisa panggil aku Chella.”
Diana langsung membalas jabatan tangan itu.
“Diana.”
Ia ikut tersenyum kecil.
“Senang bertemu dengan Kak Chella.”
Chella tampak semakin antusias.
“Puspa sudah cerita banyak tentang kamu.”
Ia lalu menjeda ucapannya, nadanya berubah lebih hati-hati.
“Termasuk kehidupanmu.”
Diana sedikit terdiam.
Sebelum suasana berubah canggung, Puspa buru-buru menyela.
“Maaf, Diana.”
Wajah Puspa terlihat tidak enak.
“Aku nggak bermaksud cerita terlalu jauh.”
Ia melirik Chella sekilas.
“Chella memang orangnya kepo.”
Chella langsung memutar bola matanya kesal.
“Eh, jangan buka kartu aku dong.”
Diana justru menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Kak. Aku nggak mempermasalahkannya.”
Ia lalu menatap Chella penuh tanda tanya.
“Oh iya... ada apa ya?”
Chella tersenyum lebar.
“Sebentar lagi hari pernikahanku.”
Wajahnya terlihat bahagia saat membicarakan hari spesialnya.
“Aku sudah memesan banyak kue Pavlova di sini.”
Chella menggenggam tangan Diana dengan antusias.
“Dan aku mau kamu hadir di pernikahanku.”
Diana tampak terkejut.
“Ha? Saya... datang ke pernikahan Kak?” tanyanya terbata-bata, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
Chella mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.
“Iya.”
Diana menatap Puspa bergantian dengan Chella masih dengan ekspresi bingung.
“Tapi... kita baru pertama kali bertemu.”
Chella terkekeh kecil.
“Makanya aku datang langsung biar kenalan sama kamu.”
Diana masih tampak ragu.
“Kenapa harus saya, Kak? Bukannya sudah ada tim dari Castella Cake?”
“Ada,” jawab Chella santai. “Tapi aku memesan Pavlova dalam jumlah besar dan itu jadi salah satu dessert utama di acara pernikahanku.”
Ia menjeda, lalu menatap Diana serius namun tetap ramah.
“Jujur saja, aku takut kalau terjadi sesuatu di lokasi acara. Misalnya kuenya kurang, ada yang rusak, atau tampilannya berubah. Aku cuma mau antisipasi.”
Diana terdiam mendengarnya.
“Kamu nggak perlu kerja berat,” lanjut Chella cepat. “Kamu hanya datang untuk memantau saja. Pastikan semuanya berjalan lancar. Kalau ada masalah kecil, kamu tinggal kasih arahan.”
Puspa ikut mengangguk membenarkan.
“Aku juga akan kirim beberapa staf ke sana, jadi kamu nggak sendirian.”
Diana refleks mengelus perutnya pelan.
“Acara pernikahannya kapan, Kak?”
“Dua hari lagi.”
Diana tampak berpikir sejenak.
Sejujurnya ia masih merasa canggung menghadiri acara orang yang bahkan baru dikenalnya hari ini.
“Aku juga akan bayar tambahan untuk kamu,” ujar Chella lagi sambil tersenyum jahil. “Anggap saja bonus buat calon ibu hebat.”
Mata Diana membulat.
“Tidak perlu, Kak. Saya hanya—”
“Harus,” potong Chella cepat. “Itu hak kamu.”
Puspa menepuk bahu Diana pelan.
“Terima saja. Lagi pula kamu memang pantas mendapatkannya.”
Diana akhirnya tersenyum kecil.
“Baiklah, Kak... saya akan datang.”
Wajah Chella langsung berbinar bahagia.
“Yeay! Aku jadi tenang sekarang.”
Diana terkekeh kecil melihat antusiasme wanita itu.
“Kalau begitu, nanti aku kirim alamat venue pernikahannya ya,” ujar Chella.
“Iya, Kak.”
Setelah berbincang sebentar lagi, Chella pamit pergi.
Diana menatap punggung wanita itu dengan bingung bercampur kagum.
“Dia... unik sekali.”
Puspa tertawa kecil.
“Memang. Tapi dia orang baik.”
Diana tersenyum tipis sambil mengusap perutnya.
••
“Samuel, kenapa kamu nggak membalas pesan Citra, hah?!”
Iren menatap putranya dengan wajah penuh kekesalan.
Samuel yang sedang santai bermain game di ponselnya hanya melirik sekilas ke arah sang ibu.
Hari ini ia sedang menikmati cuti menjelang pernikahannya.
Meski begitu, wajahnya masih terlihat sedikit pucat akibat demam.
“Mah, aku demam, Mah.”
Samuel menjawab dengan nada kesal.
“Dan ini semua gara-gara Papa.”
Ia masih kesal mengingat bagaimana Bayu memukulinya hingga tubuhnya benar-benar drop.
Iren mengembuskan napas kasar.
“Lalu kenapa kamu masih bisa main ponsel, hah?”
Tatapannya semakin tajam.
“Sedangkan pesan calon istri kamu sendiri nggak kamu balas.”
Samuel akhirnya menghentikan permainannya.
Ia meletakkan ponselnya di atas kasur lalu menatap mamanya dengan wajah datar.
“Mah, aku demam.”
Nada suaranya mulai terdengar lebih tegas.
“Aku baru selesai kerja sampai jam dua pagi.”
Ia menarik napas kasar.
“Aku butuh hiburan.”
Samuel menatap ibunya lurus-lurus.
“Jadi tolong ngertiin aku sekali aja.”
Setelah mengatakan itu, Samuel bangkit dari duduknya.
Ia berjalan mendekati sang ibu lalu menarik lengan Iren agar keluar dari kamarnya.
“Samuel, Mama belum selesai bicara!”
Iren semakin kesal.
Namun Samuel tetap menyeret ibunya menuju pintu kamar.
“Mah, aku perlu istirahat.”
Ia membuka pintu kamar dengan wajah lelah.
“Hari pernikahanku tinggal sebentar lagi.”
Tatapannya menatap ibunya serius.
“Mama nggak mau kan aku kenapa-kenapa saat hari H nanti?”
Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu—
Brakh!
Samuel langsung menutup pintu kamarnya.
Iren menatap pintu yang sudah tertutup rapat dengan wajah merah menahan emosi.
“Samuel!”
Ia menghentakkan kakinya kesal.
“Dasar anak kurang ajar!”
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...