NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

#3

Malam belum terlalu larut, tapi suasana rumah sudah sunyi, sepertinya Ersha ketiduran, karena tak menyambut Firza seperti biasanya. 

Hidangan makan malam pun sudah tersaji, melihat ada dua buah piring di meja makan, Firza yakin, istrinya pun belum makan malam karena menunggunya. 

Diam-diam pria itu menyesali perbuatannya yang sengaja pulang larut, hanya sekedar ingin bernostalgia mengenang tiap potongan senandung masa lalunya. 

“Ersha—” katanya sambil menggoyangkan bahu istrinya dengan lembut. Sekali, dua kali, hingga kali ketiga, Ersha baru membuka matanya. 

“Eh, Abang sudah pulang, maaf, aku ketiduran. Sudah makan, Bang?” Firza menggeleng. 

“Ayo, aku temani makan.” Ersha segera bangkit dan mendahului Firza menuju meja makan, menghangatkan rendang yang sudah dingin, tak lupa secangkir teh tawar. 

Tak lama kemudian, Firza pun menyusul, lalu menempati kursinya terlebih dahulu. “Tak usah bikin teh, aku minum air putih saja.” 

Ersha kembali menyimpan cangkir teh di tempatnya, “Kamu masak rendang itik, Er?”

“Tidak, Bang. Mana ada waktu, tahu sendiri Abizar sedang aktif-aktifnya. Tadi siang saja, aku kehilangan dia, padahal cuma kutinggalkan sejenak mengeluarkan pakaian dari pengering.” 

Ersha berkisah, tanpa menoleh, menyibukkan diri dengan apa saja yang ada di hadapannya. 

“Hah?! Lalu-lalu?” 

“Ternyata, lagi acak-acak kertas di meja Abang.” 

Firza ikut lega, karena tidak terjadi apa-apa pada putra mereka. Ersha kembali menghidangkan mangkuk saji berisi rendang ke tengah meja makan. “Jadi, rendang ini dari siapa?”

“Abang ini lupa, atau benar-benar nggak peduli? Kan minggu lalu Mamak dan Ayah main ke Jakarta, makanya kita bikin perayaan ulang tahun Abi dan Vio bersama-sama.” 

Firza tergelak sejenak, menepuk keningnya, karena ia benar-benar melupakan hal itu. “Maaf, aku benar-benar lupa,” akunya. 

Ersha sudah menyendokkan nasi dengan porsi agak banyak, karena Firza amat menyukai rendang itik buatan Mamak Karmila. 

Suasana makan cukup hening, karena tak ada lagi percakapan yang mereka bahas, hingga di sela-sela makannya Firza tiba-tiba menggenggam tangan istrinya, dengan lembut ia berucap. “Jika kamu merasa Abi terlalu aktif, mulailah berpikir untuk mempekerjakan asisten.” 

Hela nafas Ersha pun terdengar, wanita ini cukup pencemburu, hingga tak rela ladang pahalanya diambil alih oleh ART. Disamping itu juga, ia tak mau membuka peluang perselingkuhan. Tapi di jaman sekarang semua peluang bisa dilakukan meski tidak tinggal di bawah satu atap. Salah satu contohnya adalah foto mesra suaminya bersama seorang wanita yang ia lihat tadi siang. 

Entah siapa dia, dan apa maksudnya hingga mengirimkan foto semacam itu. Namun, Ersha lebih memilih menahan perasaan itu, karena yakin, bahwa suaminya tak akan pernah berbuat nista di belakangnya. Foto itu, pastilah masa lalu, dengan latar salah satu daerah di tempat suaminya dahulu menimba ilmu. 

“Er— kenapa malah melamun?” 

Lamunan Ersha pun buyar. “Maaf, Bang. Tadi aku— em, aku hanya berpikir, sebaiknya kita kasih oleh-oleh apa buat Mamak, kalau nanti kita mengunjungi beliau.” 

Firza mengunyah dan menelan makanannya, “Tak perlu risau soal itu, kita cukup datang saja, Mamak sudah bahagia. Selepas itu, bila kita hendak kembali ke kota, maka dengan senang hati dia bawakan semua yang ada di rumah dan di toko Ayah.” 

Ersha ikut tersenyum kecil, alangkah baik sang Mamak Mertuanya, tak pernah perhitungan, meski anak dan menantunya datang hanya dengan oleh-oleh seadanya. 

“Bagaimana dengan usulanku tadi?”

“Nanti aku pikirkan lagi, Bang. Bila benar-benar ku butuhkan, aku akan segera beritahu Abang.” 

Suasana kembali senyap, hanya denting sendok Ersha yang beradu dengan piring, karena Firza makan dengan tangan secara langsung. suapan demi suapan terasa seperti sayatan duri yang masuk ke kerongkongan Ersha, semua karena ia memendam rasa penasaran begitu mendalam. 

“Tak bisa dibiarkan, bila di pendam ini akan seperti duri yang mengganggu di sepanjang jalan,” batin Ersha. “Bang, Aku—”

Belum juga Esha menyelesaikan ucapannya, suara tangis Abizar membuatnya segera beranjak dari kursi, “Aku masuk dulu, Bang,” pamit Ersha. 

“Iya, biar Abang yang bereskan meja.” Firza membawa piring bekas makannya dan sang istri ke tempat cuci piring, sambil membasuh tangannya dengan sabun lalu membilasnya. 

Saat pria itu meraih tudung saji, tiba-tiba suara teriakan Ersha terdengar, “Bang, Abi demam, badannya panas sekali!”

Firza segera menyusul ke kamar Abizar, nampak bocah itu menangis keras dan menolak ASI dari ibunya. “Coba kasih obat turun panas dulu,” saran Firza sembari meraba kening dan badan Abizar. “Kok mendadak, ya? Tadi tak apa-apa, kan?” 

Abizar berpindah ke gendongan ayahnya, sementara Ersha berjalan ke tempat penyimpanan obat. “Iya, Bang, sejak siang dia main seperti biasa, makan lalu tidur siang juga.” 

Dengan cekatan Ersha memberikan obat turun panas, namun, hingga satu jam berlalu, demam Abizar tak ada perubahan. “Kita ke UGD sekarang, Abang akan menyalakan mesin mobil, kamu siapkan keperluan Abi.” 

“Iya, Bang.” 

Firza pun keluar, masih dengan Abizar dalam gendongannya, sementara Ersha menyiapkan semua keperluan putranya, serta berganti pakaian yang pantas untuk keluar rumah. 

Setibanya di UGD, Abizar langsung ditangani dokter, karena demam tak kunjung turun, maka dokter segera memasang infus di tangan Abizar, dengan harapan panasnya bisa segera turun. 

“Malam ini saya sarankan rawat inap, dan kita lihat perkembangan besok, sekaligus diobservasi kembali oleh dokter anak.” 

“Baik, Dok. Terima kasih,” kata Firza dan Ersha bersamaan. 

Abizar terlelap, tapi sesekali masih sesenggukan, karena menangis cukup lama. Firza mendekati brankar putranya, mengusap kepala dan menciumi wajah lucu Abizar. “Cepat sembuh, Nak. Ayah dan Mama akan menemani kamu di sini. 

Dini hari, Abizar pun dipindahkan ke ruang perawatan, dan hingga saat itu, Ersha belum bisa memejamkan mata karena risau dengan kondisi Abizar. 

Firza memijat lembut bahu istrinya, “Jangan risau, kita yakin saja, bahwa Abi tidak menderita sakit parah.”

“Amin, semoga saja, ya, Bang.” 

•••

Esok harinya, Firza pamit pulang, mengambil baju ganti Ersha dan dirinya. Karena pagi berikutnya, suhu badan Abizar kembali tinggi. 

“Abang akan segera kembali,” pamit Firza. 

“Iya, Bang. Hati-hati.” 

Dengan perasaan sedikit berat, Firza pun meninggalkan sejenak anak dan istrinya. Ia berjalan menyusuri lorong ruang rawat inap yang terdapat banyak kamar, serta perawat yang mondar-mandir ke setiap ruangan. 

Firza menekan tombol lift lalu menunggu sejenak sampai pintu terbuka. 

Ting! 

Pintu terbuka, Firza pun melangkah masuk ke dalamnya, tangannya menyalakan ponsel serta scroll sejenak memeriksa pesan serta email tentang pekerjaan yang masuk. 

Ting! 

Pintu kembali terbuka, seseorang masuk, sebagian wajah tertutup masker, serta kepala tertunduk, karena sibuk dengan layar ponselnya. 

Detik berlalu pelan di dalam lift, Firza menoleh karena merasa seseorang sedang memperhatikannya dengan intens. 

Sorot matanya, postur tubuhnya sedikit lebih kurus dibanding dahulu, tapi Firza masih mengenalinya dengan jelas, dia adalah—

Resha

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!