Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
POV: RIANI
Riani mengusap peluh di dahinya sambil berjalan keluar dari gedung Fakultas Ekonomi. Presentasi kelompok tadi menguras energi—dua jam debat dengan dosen penguji yang super detail soal analisis SWOT mereka. Untung saja nilainya bagus, kalau tidak, dia pasti sudah merengek minta revisi sampai minggu depan.
Sore itu kampus 1 masih ramai. Mahasiswa berlalu-lalang di koridor, ada yang buru-buru mengejar kelas sore, ada yang santai ngobrol sambil nunggu teman. Riani menarik tas selempangnya, bersiap jalan ke parkiran motor. Hari Kamis memang selalu padat—tiga kelas berturut-turut dari pagi, ditambah presentasi yang bikin deg-degan. Sekarang yang dia butuhkan cuma es teh manis di warung langganan dan tidur siang.
Tapi langkahnya terhenti.
Di ujung koridor, dekat tangga yang mengarah ke lantai bawah, Riani melihat sosok yang sudah sangat familiar dalam dua minggu terakhir. Cowok itu berdiri agak menyamping, sedang memasukkan sesuatu ke dalam tas ransel hitam. Hoodie abu-abu gelap, celana jeans hitam, sepatu Converse putih yang sudah agak kusam. Earphone putih tergantung di leher, rambut hitam agak panjang menutupi sebagian dahi.
Riani berhenti total. Napasnya tertahan.
Ini kali kelima.
Lima kali dalam dua minggu dia melihat cowok itu. Pertama di kantin kampus 1, waktu Riani lagi makan siang bareng teman-temannya. Cowok itu cuma beli kopi, bayar, lalu pergi tanpa duduk. Kedua di parkiran motor, cowok itu naik motor Honda Beat hitam, pakai helm half-face, langsung ngebut tanpa lirik kiri-kanan. Ketiga di tangga gedung C, mereka berpapasan, tapi cowok itu cuma nunduk sambil jalan cepat, seolah lagi kejar waktu. Keempat kemarin sore di dekat gerbang kampus, cowok itu lagi telepon sambil jalan santai, mukanya serius.
Dan sekarang, kelima kalinya.
Riani meremas tali tas. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena nervous biasa—tapi karena feeling aneh yang sudah mengganggu sejak minggu lalu.
Aku kenal dia.
Wajahnya... familiar. Sangat familiar. Garis rahang yang tegas, hidung mancung, bibir tipis yang hampir nggak pernah tersenyum. Cara cowok itu berdiri—agak bungkuk, tangan di saku hoodie, postur tubuh yang seolah bilang "jangan ganggu gue"—itu semua mengingatkan Riani pada seseorang.
Tapi siapa?
Riani memicingkan mata, mencoba menggali memori. Kuliah semester tiga, dia sudah kenal banyak orang—teman sekelas, senior, teman organisasi, bahkan beberapa junior yang suka minta bantuan tugas. Tapi cowok ini... bukan dari fakultas ekonomi. Dia yakin. Kalau iya, pasti sudah pernah ngobrol atau minimal tahu namanya.
Lalu dari mana?
Cowok itu menutup tas ranselnya, menarik zipper dengan gerakan cepat. Lalu dia mengangkat kepala—dan untuk sesaat, sangat singkat, matanya bertemu dengan mata Riani.
Riani tersentak.
Mata itu. Gelap, dalam, kosong. Seperti tidak ada emosi di sana. Cuma... kekosongan. Atau mungkin kelelahan? Riani tidak tahu. Yang jelas, dalam sekejap mata itu, sesuatu di dalam kepalanya klik.
SMA.
Ya ampun. SMA.
Cowok itu... siswa pindahan. Kelas tiga. Masuk semester awal, duduk paling belakang, nggak pernah ngobrol sama siapa-siapa. Riani ingat sekarang. Dia sempat notice cowok itu karena... well, karena ganteng. Secara objektif. Seperti idol Korea yang lagi trend waktu itu—kulit putih, mata sipit tapi tajam, rambut klimis, perawakan tinggi dan proporsional.
Banyak cewek di angkatannya yang ngomongin cowok itu. "Eh, anak pindahan di kelas sebelah ganteng banget!" atau "Dia mirip siapa ya? Kayak aktor gitu deh." Bahkan sahabatnya, Dinda, sempat bilang interested. Tapi ya itu, cowok itu dingin banget. Cuek. Nggak pernah respon siapa pun.
Nama...
Riani menggigit bibir bawah. Namanya apa ya?
Wahyu.
Iya. Wahyu.
Riani nggak tahu nama belakangnya, karena mereka beda kelas. Tapi dia ingat, waktu try-out kelas tiga, ada pengumuman peringkat teratas. Nama "Wahyu" ada di urutan ketiga. Semua orang kaget karena dia kan siswa pindahan, masuk cuma beberapa bulan, tapi bisa masuk top three. Sejak itu, beberapa orang mulai panggil dia "si Nomor Tiga", meski nggak pernah ada yang berani ngomong langsung ke mukanya.
Dan sekarang... dia di sini? Kuliah di universitas yang sama?
Riani nggak pernah tahu Wahyu lanjut kuliah di mana. Setelah lulus SMA, semua bubar. Masing-masing sibuk dengan kehidupan sendiri. Riani langsung kuliah, beberapa teman ada yang gap year, ada yang langsung kerja. Tapi Wahyu? Dia seperti menghilang. Tidak ada kabar. Tidak ada sosial media yang bisa dilacak. Tidak ada yang tahu.
Dan sekarang tiba-tiba muncul di kampus 1?
Cowok itu—Wahyu—sudah melempar tas ransel ke pundak kanan, lalu mulai berjalan ke arah tangga. Langkahnya cepat, tegas, seolah punya tujuan yang jelas dan nggak mau buang waktu.
Riani panik.
Ini kesempatan. Kalau dia nggak bertindak sekarang, nanti bakal nyesel. Dua minggu dia penasaran, dua minggu dia mikir "itu siapa sih?", dan sekarang jawabannya ada di depan mata—literally lima meter di depannya—dan dia nggak boleh sia-siakan ini.
"Eh!"
Riani berteriak tanpa mikir. Beberapa mahasiswa yang lagi lewat menoleh. Wahyu juga berhenti. Cowok itu nggak langsung menoleh, tapi postur tubuhnya kaku, seolah sedang mempertimbangkan apakah itu ditujukan untuknya atau bukan.
Riani berlari kecil. Sepatunya—sandal jepit kampus—berbunyi tap-tap-tap di lantai keramik.
"Tunggu sebentar!" Riani berhenti tepat di samping Wahyu, agak terengah-engah. "Maaf, aku—"
Wahyu menoleh. Perlahan. Dan begitu tatapan mereka bertemu secara langsung, Riani langsung merasa... dingin.
Nggak ada senyum. Nggak ada rasa penasaran. Nggak ada ekspresi "oh, ada apa?". Cuma tatapan datar, kosong, seperti Riani adalah gangguan yang harus segera diselesaikan.
Riani menelan ludah. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Tapi sudah terlanjur. Dia sudah teriak, sudah lari, nggak mungkin mundur sekarang.
"Iya, maaf..." Riani mencoba tersenyum, meski gugup. "Kamu... Wahyu kan? Anak SMA 5 dulu? Yang pindahan kelas tiga?"
Hening.
Wahyu melepas satu sisi earphone dari telinganya dengan gerakan lambat. Matanya tetap menatap Riani—waspada, seperti sedang menganalisis ancaman.
"Iya." Suaranya pelan, datar, tanpa nada. "Kenapa?"
Riani tercekat. Kenapa? Ya karena... karena apa ya?
"Aku... Riani! Dulu kita satu angkatan. Beda kelas sih, tapi aku sering lihat kamu di kantin. Dan... gila, nggak nyangka kuliah di sini juga!"
Riani berusaha terdengar excited, friendly, seperti biasanya dia ketemu teman lama. Tapi entah kenapa, di depan Wahyu, semua itu terasa... fake. Berlebihan. Seperti berusaha terlalu keras.
Wahyu diam sebentar. Matanya seperti scanning Riani dari atas sampai bawah—bukan dengan tatapan yang creepy, tapi lebih seperti... menilai. Mencari sesuatu. Atau mungkin mencari tahu apakah Riani berbohong atau nggak.
"Oh." Wahyu mengangguk sedikit. "Oke."
Lalu dia memasang kembali earphone-nya.
Riani membeku.
Wait. That's it? Cuma "oh, oke"?
"Eh, tunggu—" Riani reflek mengulurkan tangan, hampir menyentuh lengan Wahyu, tapi cowok itu sudah melangkah.
Wahyu berjalan menuruni tangga tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, seperti tadi, seperti tidak ada yang terjadi, seperti percakapan tiga detik itu tidak penting.
Riani berdiri di situ. Sendirian. Tangan masih setengah terangkat. Mulut setengah terbuka. Tidak percaya.
Dia baru saja... diabaikan?
Beberapa mahasiswa yang tadi lihat interaksi mereka sekarang melirik Riani dengan tatapan simpati—atau mungkin geli. Riani cepat-cepat turunkan tangan, pura-pura sibuk pegang tali tas, meski mukanya panas.
"Apaan sih..." gumamnya pelan.
Riani berjalan ke arah parkiran dengan perasaan campur aduk. Malu, kesal, bingung, dan... penasaran. Sangat penasaran.
Kenapa Wahyu sedingin itu? Oke, memang dulu dia pendiam, tapi at least kalau disapa masih jawab secukupnya kan? Ini mah kayak... kayak Riani ganggu waktu dia atau apa.
Atau mungkin dia nggak ingat Riani?
Riani menghela napas panjang sambil membuka gembok motor. Dia duduk di atas jok motor Mio pink-nya, tapi belum juga menyalakan mesin. Otaknya masih penuh dengan pertanyaan.
"Kuliah di sini berarti dia fakultas apa?" gumam Riani pada diri sendiri. "Kampus 1 kan ekonomi sama FISIP. Apa dia FISIP? Atau cuma lewat doang kayak tadi?"
Universitas mereka punya empat kampus yang tersebar di lokasi berbeda. Kampus 1 untuk Ekonomi dan FISIP. Kampus 2 untuk MIPA dan Teknik. Kampus 3 untuk Hukum dan Psikologi. Kampus 4 untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jadi kalau Wahyu sering keliatan di kampus 1, berarti either dia kuliah di sini, atau ada urusan lain.
Riani mengeluarkan HP dari saku celana. Buka Instagram. Ketik "Wahyu" di search bar.
Muncul ratusan akun. Tapi nggak ada yang fotonya mirip cowok tadi.
Coba Facebook. Sama. Nggak ketemu.
Twitter? Nope.
"Dia nggak punya sosmed atau gimana sih?" Riani frustasi. Jaman sekarang siapa yang nggak punya sosmed?
Atau mungkin dia punya, tapi nama akunnya bukan nama asli?
Riani menatap layar HP-nya. Lalu tiba-tiba terlintas ide.
Grup angkatan SMA.
Dia buka WhatsApp, scroll ke grup "ALUMNI SMA 5 ANGKATAN 2021". Grup itu isinya campur aduk—anak semua kelas, total mungkin ada 150-an orang. Tapi nggak semua aktif. Paling cuma 30-40 orang yang sering ngobrol.
Riani scroll chat terakhir. Terakhir ada yang ngomongin reuni bulan depan, tapi nggak ada yang response serius.
Dia ketik:
Riani: "Guys, kalian ada yang tau Wahyu (anak pindahan dulu kelas 3) sekarang kuliah dimana? Atau ada kontaknya?"
Send.
Riani menatap layar. Waiting.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga centang biru mulai muncul. Beberapa orang baca.
Tapi nggak ada yang jawab.
Lima menit kemudian, baru ada yang reply.
Dinda: "Loh kok nanya Wahyu? Kenapa emang?"
Riani tersenyum kecil. Dinda. Sahabatnya yang paling kepo.
Riani: "Tadi gue liat dia di kampus gue. Kayaknya kuliah di sini deh. Penasaran aja."
Dinda: "SERIUS??? Wahyu yang itu??? Si cowok dingin kayak kulkas???"
Karin: "Tunggu. Wahyu? Wahyu yang mana?"
Riani: "Wahyu, anak pindahan kelas 3. Tinggi, putih, rambut hitam, suka pake hoodie."
Karin: "..."
Karin: "WAHYU SETIAWAN?"
Riani tersentak. Nama lengkap. Akhirnya.
Riani: "Iya mungkin! Gue nggak tau nama belakangnya. Tapi kayaknya itu."
Karin: "Ri, lo serius ketemu dia?"
Riani: "Iya. Di kampus 1 tadi. Gue sampe nyapa, tapi dia cuek banget. Cuma jawab singkat terus pergi."
Dinda: "Typical Wahyu. Dulu juga gitu. Gue pernah coba sapa, dia cuma ngangguk trus cabut."
Karin: "Ri, kapan lo bisa meet up? Gue pengen cerita sesuatu."
Riani mengerutkan kening. Sesuatu? Sesuatu apa?
Riani: "Besok gimana? Jam 4 sore di cafe deket kampus?"
Karin: "Oke. Gue ajak Dinda juga ya. Soalnya ini... panjang ceritanya."
Dinda: "Wah serius nih? Gue ikut dong. Penasaran."
Riani: "Oke deal. Besok jam 4."
Riani menutup HP. Menatap langit sore yang mulai oranye.
Panjang ceritanya.
Apa maksudnya?
Dan kenapa Karin terdengar... serius?
Riani menyalakan motor. Suara mesin mengaum pelan. Dia menarik gas, keluar dari parkiran kampus, tapi pikirannya tetap tertinggal di koridor tadi.
Di tatapan kosong Wahyu.
Di suaranya yang dingin.
Di cara dia pergi tanpa menoleh.
"Kenapa sih lo, Yu?" bisik Riani pelan, tertiup angin sore.
Tapi tentu saja, tidak ada yang menjawab.
Bersambung.....