NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Terakhir

Pukul 06.00 pagi. Kabut tebal masih menyelimuti seluruh kawasan Puncak, membuat suasana terasa dingin dan sunyi.

Aku bangun jauh lebih awal dibandingkan teman-teman yang lain. Saat keluar kamar, aku melihat Sasha sudah siap sepenuhnya—mengenakan jaket tebal dan sepatu olahraga.

“Sha, kamu yakin nanti tidak akan ketiduran di tengah-tengah rencana?” tanyaku bercanda.

“Jam empat pagi aku sudah terjaga, Nay. Jantungku berdebar tidak karuan,” jawabnya.

Aku tertawa kecil. “Aku juga merasakannya.”

Kami berjalan beriringan menuju Vila C, tempat para guru menginap. Di sana, Rasya sudah menunggu di depan pintu bersama Pak Bambang, guru Bimbingan Konseling yang dikenal baik hati namun cenderung mudah panik.

“Kamu yakin hal ini benar-benar perlu dilakukan, Nak?” tanya Pak Bambang dengan nada khawatir.

“Saya yakin, Pak. Nyawa saya benar-benar terancam,” jawab Rasya tegas.

“Aduh… aduh…” Pak Bambang mengusap wajahnya. “Kenapa anak-anak zaman sekarang harus menghadapi hal seberat ini, ya…”

“Ini bukan soal zaman, Pak. Ini soal masalah pribadi yang harus diselesaikan,” jelas Rasya.

“Ya, sudah… ya sudah.”

Kami masuk ke dalam ruangan. Pak Bambang mempersilakan Rasya untuk berbaring di dipan ruang tamu dan berpura-pura pingsan.

“Tutup matamu rapat-rapat,” perintahku.

Rasya memejamkan matanya. Wajahnya dibuat tampak sangat pucat—Sasha sudah meminjamkan bedak taburnya untuk memberikan efek yang meyakinkan.

“Atur napasmu agar tidak terlalu berat terdengar,” bisik Sasha lagi.

“Baiklah.”

Kami bertiga bersembunyi di balik pintu ruangan sebelah, meninggalkan Rasya sendirian terbaring dengan selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya.

Kini tinggal menunggu.

---

Tidak lama kemudian, Rio masuk ke dalam Vila C dengan ekspresi penasaran—namun bukan penasaran biasa. Matanya menelusuri seluruh sudut ruangan, seolah sedang mengendus mangsa yang sudah diincarnya.

“Selamat pagi, Pak Bambang,” sapanya terdengar ramah.

“Pagi, Rio. Ada keperluan apa?”

“Saya mendengar kabar… Rasya sakit?”

Pak Bambang melirik sekilas ke arah tempat persembunyian kami. Aku mengangguk pelan memberi isyarat.

“Benar,” jawab Pak Bambang berusaha terdengar wajar. “Dia tiba-tiba pingsan pagi tadi. Kami masih menunggu kedatangan ambulans.”

“Pingsan?” Rio berjalan perlahan mendekati dipan. “Kasihan sekali. Bolehkah saya melihat keadaannya?”

“Silakan saja.”

Rio semakin mendekat. Aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, melainkan karena ia merasa senang. Ia mengira rencananya telah berhasil.

Ia mengulurkan tangan hendak membuka selimut yang menutupi wajah Rasya—

Namun tepat saat itu, Rasya tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.

“Kau kalah, Rio.”

Rio tersentak mundur terkejut. “APA—”

Saat itu juga, Sasha melompat keluar dari balik pintu sambil mengangkat ponselnya yang sedang merekam. “Tertangkap! Angkat tangan!”

“REKAMAN SEMUA UCAPANMU TERDENGAR JELAS!” teriak Sasha dengan gaya seperti detektif di film.

Wajah Rio seketika berubah pucat pasi. Ia berbalik hendak lari, namun Andre sudah berdiri tegak menghadang di pintu masuk sambil memegang sebuah botol kecil berisi sisa cairan.

“Sedang mencari ini, Rio?” tanya Andre dengan suara dingin.

“ANDRE, KAU—”

“Aku sudah tidak mau lagi menjadi budakmu.”

---

Tidak lama kemudian, dua mobil polisi tiba di lokasi. Rio dibawa pergi dengan tangan terborgol. Vania yang datang menyusul untuk memastikan keadaan (entah bagaimana ia bisa mengetahui kejadian ini) juga ikut dibawa karena terbukti terlibat dalam rencana jahat tersebut.

“Saya benar-benar tidak tahu apa-apa!” teriak Vania sambil menangis histeris.

“Kamu tahu semuanya,” sahut Sasha sambil berdiri tegak dengan tangan di pinggang. “Kamu hanya pandai berpura-pura tidak tahu.”

Vania terus menangis dan meronta. Aku hanya menatapnya dengan pandangan dingin. Di kehidupan sebelumnya, aku juga pernah menangis seperti itu—saat aku difitnah, saat semua orang memandangku dengan pandangan penuh kebencian.

Namun kali ini, air mata itu bukan untukku.

“Nayla,” panggil Andre mendekat. “Aku… aku meminta maaf atas segala hal yang telah terjadi.”

“Permintaan maafmu memang belum cukup untuk menutupi semuanya, Andre. Tapi setidaknya ini adalah awal yang baik.”

Andre mengangguk mengerti. “Saya bersedia menjadi saksi. Saya akan menceritakan semua yang saya ketahui kepada polisi.”

“Pastikan kamu melakukannya dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya untukku, tapi demi kebaikan dirimu sendiri juga.”

---

Bus pariwisata berangkat lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Rio dan Vania dibawa pergi dengan mobil polisi secara terpisah. Aku, Rasya, dan Sasha duduk berdampingan di kursi belakang bus.

Sasha sudah terlelap, kepalanya bersandar di bahuku.

“Sha, jangan tidur begitu, nanti lehermu kaku,” bisikku.

“Biarkan saja,” sahut Rasya pelan. “Dia pantas beristirahat setelah bekerja keras membantu kita.”

Aku tersenyum tipis.

“Kita berhasil, ya?” tanyaku.

“Kita baru saja memenangkan satu pertempuran saja. Masih ada perang yang jauh lebih besar yang menanti.”

“Apa maksudmu?”

Rasya menatap keluar jendela, memandangi hamparan pegunungan yang mulai diterangi sinar matahari pagi.

“Rio sempat menyebutkan bahwa ada orang yang berada di balik semua ini. Seseorang yang jauh lebih berkuasa dan berbahaya. Dan orang itu… belum menunjukkan dirinya.”

Jantungku berdebar kencang mendengarnya.

“Kamu tahu siapa orang itu?”

“Aku memiliki beberapa nama yang mencurigakan. Tapi aku belum yakin seratus persen.”

“Katakan padaku siapa saja.”

Rasya menggenggam tanganku erat. “Nanti saja. Saat kita sudah tiba di Jakarta dan berada di tempat yang aman.”

Aku mengangguk setuju.

Di luar jendela, kabut tebal perlahan mulai menghilang. Perjalanan pulang masih terasa panjang. Namun setidaknya, kali ini aku tidak merasa berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!