NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara

​Derasnya hujan seolah tidak mampu meredam kengerian yang terbentang di atas pasir Arena Puncak Darah.

​Setelah Lin Tian menghancurkan sihir gabungan puluhan kultivator dengan satu pukulan vakumnya, arena kembali sunyi sedetik. Kesunyian itu langsung pecah oleh suara tulang yang remuk.

​Lin Tian muncul di tengah kerumunan dua puluh kultivator. Ia bergerak dengan kecepatan dan kehalusan air yang mengalir, namun daya hancurnya setara gletser yang runtuh. Tidak ada suara teriakan perang, tidak ada aura spiritual yang bersinar. Hanya ada bayangan abu-abu yang berpindah-pindah dalam keheningan mematikan.

​Ia meraih pergelangan tangan seorang kultivator yang hendak menusuknya, memuntirnya hingga tulang sikunya mencuat keluar dari kulit. Tanpa membuang sisa momentum, Lin Tian menarik lengan yang patah itu dan menggunakan tubuh si kultivator sebagai perisai daging untuk memblokir tebasan pedang dari kultivator lainnya.

​JLEB!

​"Maafkan aku, Saudara!" teriak kultivator pemegang pedang yang tak sengaja menusuk temannya sendiri.

​Lin Tian tidak memberi kesempatan untuk meminta maaf. Ia melangkahi mayat perisainya dan melepaskan tendangan lurus yang menghancurkan dada si pemegang pedang.

​Seorang kultivator elemen petir mencoba menyerang dari belakang, menyalurkan aliran listrik ribuan volt ke punggung Lin Tian. Namun, listrik itu hanya menggelitik kulit perunggunya yang telah menembus tahap Baja Pembelah Urat. Lin Tian bahkan tidak menoleh; ia hanya mengayunkan siku kanannya ke belakang.

​DUMMM!

​Dada kultivator petir itu meledak ke dalam.

​Satu per satu dari dua puluh kultivator gabungan itu tumbang bagai ranting kering yang dipatahkan oleh angin topan. Tubuh-tubuh hancur terlempar melintasi udara yang diguyur hujan. Kepanikan yang sesungguhnya kini menyebar di seluruh arena. Ini bukan pertarungan bertahan hidup lagi, ini adalah pembantaian sepihak oleh seekor monster!

​"Menjauh darinya! Biarkan iblis itu sendirian!" teriak beberapa petarung tersisa, berlari ke ujung-ujung arena, saling berdesakan menjauhi Lin Tian.

​Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, dari seratus petarung yang masuk, tujuh puluh orang telah tewas. Lima puluh di antaranya dibunuh secara langsung oleh tangan kosong Lin Tian.

​Lin Tian berdiri di tengah lautan mayat, napasnya tetap stabil seolah ia hanya baru saja melakukan jalan santai di pagi hari. Hujan mencuci darah musuh dari jubah dan topeng kayunya.

​Di tribun penonton, kesunyian mencekam juga terjadi. Para Tetua sekte lokal saling bertukar pandang dengan wajah pucat. Tuan Hei di balkon VIP menyunggingkan senyum lebar hingga giginya terlihat semua, menikmati pertunjukan investasi terbaiknya.

​Di sudut arena yang lain, lima petarung terbaik yang tersisa akhirnya menampakkan wujud asli mereka. Mereka sengaja bersembunyi sambil membiarkan petarung lemah membunuh satu sama lain (atau dibunuh Lin Tian), dan kini waktu mereka telah tiba.

​Di antara mereka berlima, yang paling mencolok adalah pria botak bertato tengkorak dari Geng Kapak Hitam—pria yang sebelumnya memprovokasi Lin Tian di ruang tunggu.

​Pria botak itu, Gu Ba, melangkah maju sambil menginjak mayat di bawah kakinya. Gagak Roh merah di pundaknya berkaok keras. "Cukup pertunjukan akrobatmu, si Bisu. Harus kuakui, tubuh fisikmu adalah sesuatu yang langka di era ini. Tapi kultivator fana tetaplah semut yang tidak mengerti arti sihir dan kutukan sejati!"

​Gu Ba mengiris telapak tangannya sendiri dengan kapaknya, membiarkan darah segar menetes ke tanah. Ia merapal mantra kuno. "Ilmu Hitam: Rantai Darah Pengekang Jiwa!"

​WUSHHH!

​Darah yang menetes itu berubah menjadi kabut merah gelap. Kabut itu melesat membelah hujan, berubah menjadi lima rantai berlumuran duri darah yang mengunci kedua tangan, kedua kaki, dan leher Lin Tian!

​KRAK! Lin Tian merasakan rantai itu bukan sekadar mengikat fisiknya, melainkan menembus pori-pori dan mencoba meracuni sumsum tulangnya serta melumpuhkan pikirannya. Ini adalah sihir tingkat menengah yang murni berbasis pada Yin (kegelapan).

​"Haha! Tertangkap kau!" Gu Ba tertawa gila, kapak spiritual di tangannya kini menyala dengan aura api hitam. Ia melompat ke udara, mengayunkan kapaknya lurus ke kepala Lin Tian yang terikat. "Terima kasih telah membersihkan sampah-sampah ini, Bisu! Tapi kemenangan ini milik Geng Kapak Hitam!"

​Tiga petarung lain yang tersisa hanya menonton sinis, menanti Lin Tian terbelah dua sebelum mereka turun tangan menghabisi Gu Ba.

​Namun, di tengah hujan deras, di bawah ikatan rantai darah kutukan yang mustahil dilepaskan, mata perak Lin Tian dari balik topeng kayunya tidak memancarkan sedikit pun kepanikan.

​"Kutukan darah?" suara dingin Lin Tian menggema. "Kalian menggunakan darah fana untuk mengikat orang yang berendam di rawa darah purba."

​Inti Teratai Pedang di perut Lin Tian mendadak berputar gila-gilaan. Niat Pedang Sembilan Kematian merespons energi Yin dari rantai kutukan itu bukan dengan melawannya, melainkan dengan melahapnya.

​KRETAK... TRANG!

​Kelima rantai darah itu tiba-tiba mengering, membatu, dan pecah menjadi debu abu-abu dalam hitungan detik! Energi kutukan itu dihisap habis oleh Niat Pedang Lin Tian untuk meredakan keretakan di Inti Teratainya.

​Gu Ba, yang sedang melayang di udara bersiap menebas, terbelalak kaget. Kutukan darah andalannya dipatahkan hanya dengan menatapnya?! Pukulan balik dari hancurnya sihir darah membuat Gu Ba memuntahkan seteguk darah hitam di udara.

​Momen jeda itu adalah penentu kematiannya.

​Lin Tian tidak menghindar dari tebasan kapak yang turun. Ia menyongsongnya. Tangan kanannya yang terbalut perban bergerak melampaui kecepatan suara, mencengkeram erat pergelangan tangan Gu Ba yang memegang kapak.

​Kekuatan momentum jatuhnya Gu Ba ditambah dengan kekuatan fisik Lin Tian menciptakan bunyi patahan tulang yang memuakkan.

​KRAAAK!

​Lengan Gu Ba hancur hingga tulang putihnya menembus kulit. Kapak hitam itu terlepas.

​"AARRGGHHH!" Gu Ba menjerit, namun jeritannya dipotong seketika saat telapak tangan kiri Lin Tian menghantam dadanya.

​BOMMM!

​Tubuh kekar Gu Ba terhempas ke belakang layaknya layang-layang putus, menghantam dinding paku arena hingga menancap di sana. Gagak merah peliharaannya hancur berkeping-keping oleh gelombang udara dari pukulan itu.

​Satu lagi Pembangunan Pondasi Menengah tewas.

​Kini hanya tersisa empat orang di arena: Lin Tian dan tiga orang lainnya.

​Sesuai aturan, ketika hanya tersisa lima orang atau kurang, bel perak berbunyi nyaring. Pertarungan harusnya dihentikan karena mereka telah menjadi pemenang dan masuk ke babak final pembagian hadiah.

​Namun, Lin Tian tidak peduli dengan bunyi bel itu. Ia berdiri dengan sikap menantang, matanya mengunci tiga orang yang tersisa yang kini gemetar di sudut arena.

​"Turnamen ini tidak perlu final," ucap Lin Tian datar.

​Ia perlahan menarik Gagang Pemutus Langit hitam pekat dari sabuknya. Ia tidak mengaktifkan bilah ketiadaannya—tubuhnya masih belum stabil untuk menahannya tanpa Kristal Tinta—namun sekadar menggenggam gagang itu telah membuat Niat Pedang di dalam tulangnya beresonansi menakutkan, membangkitkan aura pembunuhan dari Kaisar Fana.

​Udara hujan di atas arena mendadak berhenti turun. Tetesan air hujan membeku di udara karena tekanan niat membunuh murni yang memancar dari tubuh Lin Tian.

​"Menyerah," kata Lin Tian, memutar gagang pedang tanpa bilah itu dengan jarinya. "Atau jadilah mayat."

​Ketiga petarung tersisa—meskipun mereka adalah kultivator pengembara kejam yang telah membunuh ratusan orang seumur hidup mereka—menjatuhkan senjata mereka seketika. Bunyi dentang logam yang berjatuhan menjadi tanda penyerahan mutlak. Mereka lebih memilih kehilangan muka dan hadiah turnamen daripada harus menghadapi Iblis Arena ini.

​Wasit di atas balkon menelan ludah, suaranya sedikit bergetar ketika ia menggunakan pengeras suara.

​"P-Pertandingan selesai! Pemenang tunggal dan penguasa Arena Puncak Darah tahun ini adalah... Petarung Mo!"

​Hujan kembali turun membasahi arena yang telah berubah menjadi kuburan massal. Di bawah sorotan obor dan kilat yang menyambar, bayangan sosok bertopeng kayu abu-abu dengan lengan kanan diperban dan gagang pedang hitam tanpa bilah itu tercetak jelas di benak setiap orang di Kota Perbatasan Batu Darah.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!