NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN DI BALIK CAHAYA

Kisah: Jejak Darah yang Menghilang

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak hari di mana cahaya putih menyelimuti dunia dan mengubah segalanya. Lira sekarang sudah menjadi wanita tua yang bijaksana, Perpustakaan Kehidupan yang ia dirikan menjadi tempat paling suci di seluruh negeri, tempat di mana setiap orang bisa datang untuk mencatat nama, cerita, dan mimpi mereka agar selamanya tidak terlupakan. Tidak ada lagi orang yang hilang tanpa jejak, tidak ada lagi rahasia yang dikubur dalam kegelapan, dan tidak ada lagi kekuatan gelap yang mengancam kehidupan manusia. Dunia terasa begitu aman, begitu damai, seolah semua rasa sakit dan kengerian masa lalu benar-benar sudah musnah sampai ke akar-akarnya.

Namun… kedamaian itu perlahan mulai retak.

Semuanya bermula dari hal-hal kecil yang awalnya dianggap tidak penting. Orang mulai lupa hal-hal yang baru saja mereka katakan atau lakukan beberapa menit yang lalu. Orang tua mulai tidak mengenal anak kandungnya sendiri. Anak-anak mulai lupa nama mereka sendiri saat ditanya. Awalnya dokter menyebutnya penyakit otak baru, gangguan ingatan yang aneh, tapi lama-kelamaan gejalanya semakin mengerikan dan semakin tidak masuk akal.

Orang tidak hanya lupa — mereka MULAI MENJADI ORANG LAIN.

Seorang ibu yang pagi tadi penuh kasih sayang, sore harinya berubah menjadi orang dingin, kejam, dan tidak mengenal siapa pun, seolah jiwanya sudah digantikan oleh sesuatu yang lain. Seorang ayah yang pekerja keras dan jujur, tiba-tiba melakukan kejahatan mengerikan tanpa alasan sama sekali, dan saat ditanya kenapa ia melakukannya, ia hanya menjawab dengan tatapan kosong: “Karena itu yang seharusnya aku lakukan. Aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya.”

Yang paling mengerikan: setiap kali hal ini terjadi, orang-orang di sekitarnya akan lupa siapa orang itu sebelumnya. Mereka akan merasa bahwa orang yang berubah itu memang selalu seperti itu sejak awal, seolah ingatan lama mereka telah dihapus dan diganti dengan ingatan baru yang palsu. Sejarah, catatan, foto, dan bukti apa pun yang berkaitan dengan orang itu juga ikut berubah sendiri, menyesuaikan dengan identitas barunya.

Lira merasa darahnya membeku setiap kali mendengar laporan itu. Ia tahu ini bukan penyakit biasa. Ini bukan gangguan alamiah. Ini adalah sesuatu yang sangat ia kenal — sesuatu yang seharusnya sudah lenyap selamanya.

Suatu malam yang hujan deras, persis seperti malam pertama semuanya dimulai, Lira mendengar suara langkah kaki berat berjalan masuk ke dalam Perpustakaan Kehidupan. Pintu utama yang seharusnya terkunci rapat terbuka sendiri perlahan, dan dari kegelapan luar masuk sosok yang membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Sosok itu tampak seperti manusia biasa, tapi bayangannya di lantai tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya — bayangannya panjang, bergerak liar, dan memiliki ribuan tangan kecil yang terus bergerak seolah meraih sesuatu. Wajahnya tampak seperti wajah Raka, tapi matanya bukan lagi kosong atau penuh cahaya putih — matanya berwarna merah gelap pekat, berdenyut pelan persis seperti darah yang hidup.

“Kamu… kamu siapa?” tanya Lira dengan suara serak, tangannya mencengkeram pinggir meja erat-erat. “Kamu bukan Raka… Raka tidak pernah punya mata seperti itu.”

Sosok itu tersenyum — senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang dingin, penuh penghinaan dan kemarahan yang tertahan sangat lama.

“Kamu benar, Cucu Kecil,” jawabnya dengan suara yang bergema aneh, seolah ribuan mulut berbicara serempak dari dalam tenggorokannya. “Aku bukan Raka. Aku adalah APA YANG TINGGAL SETELAH RAKA HILANG. Kamu pikir dia benar-benar lenyap begitu saja? Kamu pikir dengan melepaskan ingatannya dan menjadi kosong, dia bisa benar-benar menghilang? Kamu salah besar. Setiap hal yang ada di dunia ini punya dua sisi. Ada sisi yang terlihat, ada sisi yang tersembunyi. Ada sisi yang diingat, ada sisi yang dilupakan. Saat Raka memilih menjadi kosong dan bersih… sisi lain dari dirinya — sisi yang gelap, sisi yang haus, sisi yang membawa seluruh ingatan buruk dan rasa sakit masa lalu — TERTINGGAL DI BELAKANG. Dan selama dua puluh tahun ini aku tumbuh, berkembang, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.”

Lira mundur perlahan, napasnya tersengal-sengal. Ia selalu berpikir bahwa saat Raka mengorbankan ingatannya, seluruh beban masa lalu ikut lenyap bersamanya. Ternyata beban itu tidak hilang — ia hanya dipisahkan, disingkirkan ke tempat yang paling gelap dan tidak terlihat, menunggu sampai cukup kuat untuk kembali.

“Kamu bilang kamu adalah sisi gelapnya…” kata Lira berusaha tetap tenang meski hatinya mau hancur. “Tapi kenapa kamu baru muncul sekarang? Kenapa tidak langsung datang saat kekuatanmu masih baru dan kuat?”

“Sebab aku butuh waktu untuk MENYUSUP KE DALAM SISTEM YANG KALIAN BUAT,” jawab sosok itu sambil berjalan perlahan mendekat, setiap langkah kakinya membuat lantai batu bergetar dan retak-retak kecil muncul. “Kalian membuat dunia di mana tidak ada yang terlupakan, tidak ada yang hilang, tidak ada yang dihapus. Kalian pikir itu hal yang indah dan suci. Tapi kalian lupa satu hal yang paling penting: JIKA TIDAK ADA YANG BISA DIHAPUS, MAKA SEMUA HAL YANG BURUK, SEMUA RASA SAKIT, SEMUA KEBENCIAN JUGA AKAN SELALU ADA. Aku masuk ke dalam setiap nama yang kalian catat, masuk ke dalam setiap cerita yang kalian simpan, masuk ke dalam setiap ingatan yang kalian jaga. Selama dua puluh tahun ini aku memakan bagian baik dari ingatan itu sedikit demi sedikit, menggantinya dengan bagian buruk, rasa sakit, dan keinginan untuk menghancurkan. Sekarang seluruh dunia ini sudah penuh dengan diriku. Setiap orang yang kalian kenal, setiap tempat yang kalian cintai, setiap cerita yang kalian banggakan — semuanya sudah tercemar olehku. Dan sekarang aku sudah cukup kuat untuk mengambil alih sepenuhnya.”

Seketika itu juga, seluruh ruangan di sekitar mereka berubah. Dinding-dinding yang dulu putih bersih dan penuh tulisan indah perlahan berubah warna menjadi merah gelap. Tulisan-tulisan yang dulu berisi nama dan cerita bahagia berubah menjadi tulisan yang penuh rasa sakit, kemarahan, dan sumpah serapah. Cahaya lembut yang selalu menyinari ruangan berubah menjadi redup dan suram, dan dari celah-celah dinding mulai keluar tetesan darah yang tidak mengalir ke bawah — melainkan bergerak naik ke atas, menuju langit-langit, seolah hukum alam sudah tidak berlaku lagi di sini.

“Lihat sekelilingmu, Lira,” kata sosok itu sambil merentangkan tangannya lebar, ribuan tangan bayangan dari belakang tubuhnya ikut merentang bersamanya. “Ini baru permulaan. Orang-orang yang mulai berubah itu adalah tanda bahwa aku sudah mulai mengambil alih tubuh dan jiwa mereka. Lama-kelamaan seluruh umat manusia akan berubah menjadi diriku yang sama persis — tidak punya kepribadian sendiri, tidak punya keinginan sendiri, tidak punya perasaan sendiri. Semuanya akan menjadi SATU, seperti yang Dara impikan dulu, tapi kali ini jauh lebih sempurna dan jauh lebih mengerikan. Karena kali ini tidak ada yang bisa lari, tidak ada yang bisa bersembunyi, tidak ada yang bisa menghapus diriku lagi — karena aku sudah menjadi bagian dari ingatan abadi yang kalian sendiri buat.”

Lira merasa dunianya runtuh seketika. Semua usaha yang ia lakukan selama puluhan tahun, semua pengorbanan orang-orang yang ia cintai, semua harapan yang ia bangun perlahan — ternyata semuanya menjadi sarang bagi kejahatan yang lebih besar dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Ia berlutut di lantai yang sekarang sudah basah dan lengket karena darah, air mata mengalir deras di pipinya.

“Tapi… tapi kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya dengan suara tercekik. “Kamu adalah bagian dari Raka. Bagian dari orang yang rela menjadi kosong demi menyelamatkan dunia. Kenapa kamu malah ingin menghancurkannya?”

“Sebab aku adalah SEMUA YANG DIA TOLAK,” jawab sosok itu dengan suara yang penuh kemarahan yang menghancurkan. “Dia memilih sisi yang baik, sisi yang suci, sisi yang penuh cinta. Tapi dia tidak punya hak untuk membuang sisiku begitu saja! Aku juga bagian dari dirinya! Aku juga punya hak untuk hidup, untuk dilihat, untuk diakui! Selama ratusan tahun kami — sisi gelap, sisi sakit, sisi yang dibuang — selalu dianggap jahat, dianggap kotor, dianggap harus dihapus. Tapi kami juga punya perasaan! Kami juga punya alasan kenapa kami menjadi seperti ini! Kami menjadi gelap karena kalian selalu membuang kami ke kegelapan! Kami menjadi jahat karena kalian selalu menganggap kami tidak pantas hidup di antara kalian!”

Sosok itu melangkah semakin dekat, sampai wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Lira. Mata merahnya menatap tajam menembus ke dalam jiwanya, membuatnya melihat semua rasa sakit yang pernah ia sembunyikan, semua ketakutan yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun.

“Kamu juga punya sisi seperti ini, Lira,” bisiknya pelan, suaranya sekarang penuh rasa sedih yang dalam selain kemarahannya. “Kamu selalu berpura-pura kuat, selalu berpura-pura bijaksana, selalu berpura-pura tidak pernah takut atau sedih. Tapi di dalam hatimu kamu penuh rasa takut — takut kehilangan semua yang kamu bangun, takut gagal seperti leluhurmu, takut suatu hari nanti semua orang akan membencimu. Aku ada di dalam hatimu juga. Aku tahu segalanya tentangmu.”

Tiba-tiba, suara lain terdengar dari arah pintu masuk — suara yang lembut, tenang, dan sangat dikenal oleh Lira.

“Dia benar. Setiap orang punya dua sisi. Tidak ada yang sepenuhnya baik, tidak ada yang sepenuhnya jahat. Dan kesalahan terbesar kita selama ini adalah selalu mencoba membuang sisi yang kita anggap buruk, bukannya menerima dan menyatu dengannya.”

Lira menoleh cepat dan melihat sosok berdiri di ambang pintu — sosok pemuda yang wajahnya masih samar, matanya kosong tapi tidak lagi terasa dingin, melainkan terasa hangat dan penuh rasa damai yang dalam. Di tangannya ia menggenggam sepotong benang kain hitam yang sekarang berwarna campuran putih dan merah, bergerak pelan seolah hidup dan bernapas.

“Raka…” bisik Lira tidak percaya mata yang dilihatnya. “Kamu… kamu masih ada? Aku pikir kamu sudah lenyap selamanya.”

“Aku tidak pernah pergi,” jawab Raka sambil berjalan masuk perlahan, setiap langkah kakinya membuat darah di lantai menyusut perlahan dan dinding yang berubah merah kembali menjadi putih bersih. “Aku selalu ada di tempat yang paling dalam, tempat yang tidak bisa dilihat atau dijangkau oleh siapa pun — bahkan oleh diriku sendiri. Aku tahu sisi ini tertinggal. Aku tahu dia tumbuh dan menunggu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk datang kembali dan menyelesaikan apa yang seharusnya aku selesaikan dua puluh tahun lalu.”

Ia berhenti tepat di depan sosok sisi gelapnya, menatap mata merah itu dengan tatapan yang tidak penuh marah atau benci — melainkan tatapan penuh rasa hormat dan rasa sedih yang mendalam.

“Maafkan aku,” kata Raka pelan, suaranya terdengar tulus sampai membuat seluruh ruangan berguncang pelan. “Maafkan aku karena membuangmu begitu saja. Maafkan aku karena menganggapmu bukan bagian dari diriku. Kamu benar — aku tidak bisa menjadi lengkap tanpamu. Aku tidak bisa menjadi benar-benar hidup tanpamu. Selama ini aku hanya menjadi setengah orang, setengah jiwa, karena aku membiarkanmu terperangkap dalam kegelapan sendirian.”

“TERLAMBAT!” teriak sisi gelap itu marah, ribuan tangan bayangan dari belakang tubuhnya melesat maju mencoba menangkap Raka. “Kamu baru mau menerima aku sekarang setelah aku menjadi kuat, setelah aku hampir mengambil alih segalanya! Kamu tidak peduli padaku saat aku lemah dan kesepian! Kamu hanya takut sekarang karena aku bisa melukaimu!”

“Bukan begitu,” jawab Raka tenang, tidak menghindar atau melawan. Ia membiarkan ribuan tangan itu menangkap tubuhnya, memeluknya erat, menariknya masuk ke dalam tubuh sisi gelap itu. “Aku tidak takut padamu. Aku takut kita akan terus terpisah selamanya, terus saling menyakiti, terus menyakiti dunia di sekitar kita karena rasa sakit kita sendiri. Aku datang bukan untuk melawanmu atau membunuhmu. Aku datang untuk MENYATUKAN KITA KEMBALI.”

Saat tubuh mereka bersentuhan, terjadi ledakan dahsyat yang menerangi seluruh ruangan. Cahaya putih bersih dan cahaya merah gelap bertemu, saling menyusup, saling menyatu, tidak ada yang menang atau kalah, tidak ada yang hancur atau hilang. Darah di lantai naik ke udara, berubah menjadi ribuan cahaya kecil yang berwarna merah muda lembut, berputar-putar di sekeliling mereka, membawa keluar semua rasa sakit, semua kemarahan, semua kesepian yang selama ini tersembunyi di dalam kedua sisi jiwa itu.

Lira melihat pemandangan itu dengan mata terbuka lebar. Ia melihat bagaimana sisi baik yang dulu suci tapi kosong, dan sisi gelap yang dulu kuat tapi sakit, perlahan menyatu menjadi satu sosok baru — sosok yang wajahnya jelas dan indah, matanya berwarna merah putih yang lembut dan tidak menakutkan, tubuhnya penuh cahaya yang hangat dan hidup. Sosok itu tidak lagi menjadi orang yang sempurna tanpa cacat, dan tidak lagi menjadi orang yang gelap dan jahat. Ia menjadi MANUSIA YANG SEUTUHNYA.

“Lihat…” suara sosok baru itu terdengar indah dan kuat, bergema di seluruh ruangan dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. “Kita tidak perlu membuang apa pun untuk menjadi baik. Kita tidak perlu menghapus apa pun untuk menjadi suci. Kita hanya perlu MENERIMA SEMUA BAGIAN DARI DIRIKITA — baik yang kita suka maupun yang kita benci, baik yang indah maupun yang menyakitkan. Karena semua bagian itu adalah yang membuat kita menjadi diri kita yang sebenarnya.”

Seketika itu juga, semua orang yang berubah kembali menjadi diri mereka sendiri, tapi kali ini mereka tidak lagi merasa terbagi atau bertentangan di dalam hati. Mereka menerima sisi gelap dan sisi terang mereka, menyatukannya, dan menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih hidup dari sebelumnya. Semua ingatan yang berubah kembali menjadi benar, tapi ingatan buruk dan rasa sakit masa lalu tidak lagi hilang atau dihapus — mereka tetap ada, tapi sekarang mereka menjadi pelajaran, menjadi kekuatan, menjadi bagian dari cerita yang membuat setiap orang menjadi lebih baik.

Genangan darah yang dulu menakutkan tidak pernah muncul lagi, tapi jejak-jejak kecil yang berwarna merah putih sering terlihat di tempat-tempat yang penuh kenangan indah, mengingatkan semua orang bahwa dari rasa sakit yang paling gelap, akan lahir sesuatu yang paling indah dan paling kuat.

Dan sosok Raka yang baru itu tidak pernah pergi lagi. Ia tetap ada di dunia ini, tidak lagi sebagai bayangan atau penunggu misterius, tapi sebagai teman, sebagai pelindung, sebagai pengingat bagi semua orang:

“Jangan takut pada sisi gelapmu. Jangan coba menghapus bagian yang menyakitkan. Karena di sanalah letak kekuatanmu yang sebenarnya. Di sanalah letak jejak yang tidak akan pernah hilang selamanya.”

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!