Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Menunggu Kabar dari Ujung Senar
Cahaya matahari pagi belum juga sepenuhnya masuk lewat celah jendela kayu yang catnya sudah mengelupas. Namun, mataku sudah terbuka lebar sejak azan Subuh berkumandang dari surau sebelah rumah. Tubuhku masih terasa berat, sisa-sisa kekakuan pasca-stroke membuat jari-jari tanganku sulit digerakkan pagi ini. Tapi, bukan sakit fisik yang paling menyiksa. Melainkan keroncongan di perut yang tadi malam sempat kubohongi dengan air putih hangat.
Aku menoleh ke samping. Balqis sudah bangun.
Anak kecil itu tidak menangis. Ia hanya duduk diam di atas kasur tipis, memeluk lututnya yang mungil. Matanya yang bulat menatapku kosong. Tidak ada senyum, tidak ada rengekan minta susu. Hanya tatapan itu... tatapan seorang anak berusia dua tahun yang sepertinya sudah terlalu dini memahami arti kelaparan.
“Balqis...” suaraku serak, hampir tak terdengar.
Anak itu menoleh pelan. “Papa... lapa?” tanyanya polos. Satu kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada lumpuh yang membelenggu separuh tubuhku.
Aku mencoba tersenyum, meski bibirku terasa kering. “Iya, Nak. Papa juga lapar. Tapi kita tunggu sebentar ya? Mungkin Mama kirim kabar.”
Kalimat itu lebih untuk menghibur diriku sendiri daripada Balqis. Semalam, sebelum tidur, aku mengirim pesan WhatsApp kepada istriku, ibu dari Balqis. Pesan singkat penuh harap: “Bu, beras habis. Obat juga tinggal sedikit. Balqis rewel semalaman. Kalau ada rezeki, mohon dikirim. Aku sudah coba tulis cerita, semoga bisa jadi jalan lain.”
Hingga detik ini, belum ada balasan.
Jam dinding tua di dinding retak menunjukkan pukul 07.30 pagi. Biasanya, di jam segini, aroma nasi goreng atau setidaknya bau kopi sudah tercium dari dapur tetangga. Tapi hari ini, hidungku hanya menangkap bau lembap tanah dan kayu lapuk. Perutku berbunyi lagi, kali ini lebih nyaring. Balqis mendengarnya. Ia menunduk, memainkan ujung selimut kotor kami.
Aku memaksakan tubuhku untuk bergerak. Dengan tangan kiri yang masih memiliki sedikit tenaga, aku berusaha menggeser badan, bersandar pada kepala tempat tidur agar bisa mencapai HP-ku yang tergeletak di meja kecil sebelah kasur. Gerakannya lambat, menyakitkan. Setiap otot berteriak protes. Tapi aku harus mengecek HP-ku. Mungkin notifikasinya muncul tapi getarnya terlalu halus hingga tak kurasakan?
Dengan gemetar, jariku menyentuh layar. Membuka aplikasi WhatsApp.
Belum ada pesan baru.
Hati ini rasanya seperti ditarik turun ke dasar sumur yang gelap. Kecewa? Tentu saja. Tapi aku tidak boleh menyerah. Istriku mungkin sedang kesulitan juga di perantauan. Mungkin dia sedang bekerja keras membanting tulang demi mengirim uang, tapi terkendala sistem bank, atau mungkin sinyalnya buruk. Aku harus berprasangka baik. Aku harus yakin bahwa doa-doa yang kupanjatkan semalam, di sela-sela tangis Balqis, didengar oleh Allah.
“Sabar ya, Nak,” bisikku pada Balqis sambil mengelus kepala halusnya. “Papa janji, hari ini kita akan makan. Entah dari mana, entah bagaimana, Allah pasti kirim rezeki.”
Balqis mengangguk pelan, seolah mengerti janjiku. Ia merangkak mendekat, lalu memeluk lenganku yang lumpuh. Pelukan hangatnya menjadi satu-satunya obat bagi dinginnya pagi ini.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Tok. Tok. Tok.
Jantungku berdegup kencang. Siapa yang datang sepagi ini? Tetangga? Petugas bantuan? Atau kurir yang membawa paket dari istriku?
Aku menatap pintu kayu itu dengan harapan yang tiba-tiba membara. Apakah ini awal dari kabarku? Apakah ini jawaban dari doa semalam?
“Assalamualaikum...” terdengar suara wanita dari balik pintu. Suara yang cukup akrab, tapi dalam keadaan lapar dan cemas, otakku sulit mengenali siapa pemiliknya.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaga untuk menjawab, sambil berharap di balik pintu itu ada solusi untuk perut Balqis yang kempis dan masa depan kami yang masih kabur.