NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 1: Kelahiran Kehancuran

Langit malam itu tidak sepenuhnya gelap.

Bintang-bintang tetap ada, bertaburan seperti biasa, namun redup—seolah-olah mereka sedang menahan napas. Bulan menggantung tinggi, tetapi cahayanya tampak tertelan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Di antara hamparan hitam yang seharusnya sunyi dan tenang, muncul sebuah kilau samar.

Bukan dari bulan.

Bukan dari bintang.

Cahaya itu datang dari luar—sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Ia tidak jatuh seperti meteor, tidak bergerak seperti komet. Ia hanya… ada. Mengambang di antara ruang dan waktu, seperti luka kecil di langit yang perlahan terbuka.

Dan dunia tidak menyadarinya.

Angin tetap berhembus lembut di permukaan tanah. Ombak masih bergulung di lautan yang jauh. Hutan-hutan tetap berbisik dengan suara daun yang saling bersentuhan. Tidak ada gemuruh. Tidak ada tanda peringatan.

Namun, di tempat yang tidak terjangkau oleh manusia, seseorang menyadarinya.

Seseorang yang tidak pernah berpaling dari keseimbangan dunia.

...—...

Di sebuah hutan yang seolah terpisah dari peradaban, berdiri seorang pria dengan rambut abu-abu yang tampak tenang. Tanah di bawah kakinya tidak berdebu, udara di sekitarnya tidak bergerak.

Segalanya terasa… murni.

Namanya adalah Purus.

Matanya terangkat perlahan ke langit. Tatapannya tenang, namun ada sesuatu yang bergerak di balik ketenangan itu—sebuah kesadaran yang dalam, seperti riak kecil di permukaan air yang biasanya tak tergoyahkan.

Ia melihatnya.

Cahaya itu.

Sebuah gangguan.

“...Ada sesuatu yang aneh.”

Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang tenggelam dalam keheningan. Tidak ada yang menjawabnya. Tidak ada yang perlu.

Namun, sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, ruang di depannya bergetar pelan.

Bukan seperti sesuatu yang pecah.

Melainkan seperti sesuatu yang… membuka jalan.

Cahaya lembut muncul, berbeda dari kilau aneh di langit tadi. Cahaya ini hangat. Hidup. Berdenyut dengan sesuatu yang lebih dari sekadar energi.

Dan dari dalam cahaya itu, seorang wanita melangkah keluar.

Rambutnya mengalir seperti aliran kehidupan itu sendiri—panjang, lembut, dan berkilau samar seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Matanya memancarkan ketenangan yang dalam, namun hari ini… ada sesuatu yang berbeda.

Ada kelelahan.

Ada kegelisahan.

Di kedua lengannya, ia menggendong seorang bayi.

“Purus.”

Suara wanita itu pelan, namun membawa beban yang tidak bisa disembunyikan.

Purus tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada bayi itu. Bukan karena penasaran—melainkan karena ia merasakan sesuatu.

Sesuatu yang tidak biasa.

“Sangat jarang kau datang tanpa alasan, Vita.”

Vita tidak tersenyum seperti biasanya.

Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah setiap langkahnya membawa keputusan yang berat. Bayi dalam pelukannya tidak menangis. Tidak bergerak banyak. Hanya bernapas pelan, seakan dunia di sekitarnya tidak berarti apa-apa.

“Waktuku tidak banyak.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa dramatisasi. Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

Purus akhirnya mengalihkan pandangannya ke wajah Vita.

“Apa yang terjadi?”

Vita terdiam sejenak. Matanya menunduk, memandang bayi itu dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kasih, penyesalan, dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya.

“Mereka memburu ibunya.”

Angin yang tidak ada sebelumnya, kini terasa.

Halus. Tipis. Namun cukup untuk menggeser ujung jubah Purus.

Ia tidak bertanya siapa “mereka”.

Ia sudah tahu.

Dan itu bukan kabar yang bisa dianggap ringan.

“Secepat ini?” gumamnya.

Vita mengangguk pelan.

Hening.

Untuk beberapa saat, hanya ada suara napas bayi itu yang menjadi pusat dunia kecil mereka.

Purus kembali menatapnya.

“Dan anak itu?”

Pertanyaan itu sederhana, namun maknanya dalam.

Vita mengangkat pandangannya. Kali ini, tatapannya tidak goyah.

“Ibunya adalah alasan kenapa dia masih hidup.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Tidak ada penegasan.

Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Purus bergetar—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Ia melangkah lebih dekat.

“Bolehkah aku?”

Vita tidak ragu. Ia mengulurkan bayi itu dengan hati-hati, seolah menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kehidupan.

Saat Purus menerima bayi itu, dunia terasa… berubah.

Bukan secara fisik.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami hakikat keberadaan.

Bayi itu ringan.

Terlalu ringan.

Seolah-olah ia belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia ini.

Purus menatap wajahnya.

Tenang. Tidak bersalah. Tidak mengetahui apa pun tentang dunia yang akan ia pijak.

Namun di balik itu…

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Dia tidak seperti yang lain.”

Vita mengangguk. “Karena dia memang bukan.”

Purus menghela napas pelan. “Apa yang kau minta dariku?”

Pertanyaan itu bukan penolakan.

Melainkan konfirmasi.

Vita tidak langsung menjawab. Tangannya yang kini kosong perlahan mengepal, lalu kembali rileks.

“Lindungi dia.”

Sederhana.

Namun beratnya tak terukur.

Purus tidak langsung menjawab. Ia menatap bayi itu lagi, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis.

“Jika mereka mencarinya…”

Vita memotong, suaranya tetap tenang.

“Mereka tidak tahu dia ada.”

“Lalu kenapa aku?”

Ada jeda.

Kali ini, Vita tersenyum tipis.

Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia.

“Karena kau masih bersih.”

Jawaban itu singkat, namun tepat.

Purus adalah kemurnian.

Ia tidak condong pada kehancuran.

Ia tidak berpihak pada kehidupan.

Ia menjaga keseimbangan.

Dan justru karena itu, ia adalah tempat paling aman.

Atau mungkin… tempat paling tidak terduga.

“Jika aku menerima ini,” kata Purus perlahan, “maka keseimbangan itu akan terganggu.”

“Sudah terganggu.”

Vita menatapnya lurus.

“Apa kau tidak berpikir kemungkinan lain.”

Jeda singkat.

"Mungkin dia akan menjadi aktor utama yang akan mengubah tatanan di dunia."

Hening kembali jatuh.

Namun kali ini, lebih dalam.

Purus menutup matanya sejenak. Seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa diukur dengan logika.

Ketika ia membukanya kembali, tidak ada lagi keraguan di sana.

“Baik.”

Satu kata.

Dan dunia berubah arah.

Vita menghembuskan napas yang bahkan ia sendiri tidak sadar ia tahan.

“Terima kasih.”

Purus tidak menjawab.

Ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke bayi itu.

“Namanya?”

Vita terdiam sejenak.

Seolah pertanyaan itu membuka sesuatu yang lebih dalam dari sekadar identitas.

“...Grachius.”

Nama itu keluar pelan.

Namun begitu diucapkan, sesuatu di udara berubah.

Seperti gema yang tidak terdengar, namun terasa.

Purus mengulangnya dalam hati.

Grachius.

Nama yang akan diingat dunia.

Meski dunia belum tahu itu.

Vita menatap bayi itu untuk terakhir kalinya.

Tangannya terangkat sedikit, seolah ingin menyentuhnya lagi—namun berhenti sebelum benar-benar melakukannya.

“Jangan biarkan dia tahu terlalu cepat.”

Purus mengernyit sedikit. “Tentang apa?”

Vita tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

“Tentang siapa dan apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.”

Angin kembali berhembus.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Cahaya di sekeliling Vita mulai memudar.

Waktunya habis.

Purus menyadarinya, namun tidak menghentikannya.

Beberapa perpisahan memang tidak bisa ditunda.

“Vita.”

Wanita itu berhenti sejenak.

“Jika saat itu tiba…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Vita mengangguk.

“Dia akan memilih jalannya sendiri.”

Kalimat itu bukan harapan.

Bukan doa.

Melainkan kepastian yang tenang.

Cahaya di sekelilingnya mulai pecah menjadi partikel-partikel kecil.

Tubuhnya perlahan menghilang.

Namun sebelum benar-benar lenyap, ia mengucapkan satu kalimat terakhir—

Pelan.

Hampir tidak terdengar.

“Maafkan aku.”

Dan kemudian…

Ia pergi.

...—...

Purus berdiri sendirian.

Atau setidaknya, tidak sepenuhnya sendiri.

Bayi itu masih dalam pelukannya.

Grachius.

Ia menatap langit sekali lagi.

Cahaya aneh itu masih ada.

Namun kini… terasa lebih dekat.

Atau mungkin dunia yang mulai mendekat padanya.

“Jadi ini awalnya.”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Namun keheningan itu tidak lagi sama.

Di kejauhan, langit bergetar pelan.

Sangat halus.

Hampir tidak terasa.

Namun cukup untuk membuat bintang-bintang meredup sedikit lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak waktu yang tidak tercatat—

Cahaya matahari yang seharusnya belum terbit…

tampak redup.

Seolah-olah dunia itu sendiri…

ragu untuk menyambut hari esok.

Di dalam pelukan Purus, Grachius bergerak sedikit.

Matanya tetap tertutup.

Namun napasnya berubah.

Lebih dalam.

Lebih… nyata.

Dan tanpa disadari oleh dunia—

Sesuatu telah lahir.

Bukan sekadar kehidupan.

Bukan sekadar takdir.

Melainkan awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Dan dunia…

masih belum menyadarinya.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!