Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: TEROR DI PABRIK PUSAT
TEROR DI PABRIK PUSAT
Malam telah larut ketika gerimis tipis mulai membasahi kawasan industri Tangerang. Di dalam kompleks pabrik utama Shinta Group, deretan lampu sorot halogen menerangi dinding-dinding beton gudang penyimpanan bahan baku dengan cahaya putih yang benderang. Meskipun jarum jam telah menunjuk pukul dua pagi, aktivitas di dalam tidak sepenuhnya mati; mesin-mesin pengemas otomatis masih berderu halus, menyiapkan kloter pertama produk yang akan diekspor ke Singapura akhir minggu ini.
Di sudut area bongkar muat yang remang-remang, dua orang pria bermantel hujan hitam bergerak dengan sangat senyap. Langkah kaki mereka seringan kucing, memanfaatkan bayangan truk kontainer yang terparkir.
"Kamu yakin kodenya benar?" bisik salah satu pria, matanya awas menatap sekitar.
"Tenang. Ini kode enkripsi sekunder langsung dari Aris Pratama. Jalur ini tidak akan memicu alarm di ruang jaga utama," jawab pria satunya sambil mengeluarkan sebuah gawai pemindai khusus.
Mereka berhenti di depan pintu baja akses darurat yang terhubung langsung dengan ruang tangki pencampuran bahan baku utama (mixing tank). Dengan tangan gemetar menahan ketegangan, pria itu memasukkan deretan angka digital yang didiktekan Aris dari dalam Lapas Cipinang kemarin pagi.
Klik.
Lampu indikator pada panel pintu berubah dari merah menjadi hijau. Pintu baja itu terbuka tanpa suara. Kedua penyusup itu menyunggingkan senyum kemenangan yang licik. Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan steril, mendekati tangki raksasa tempat adonan sereal dan bumbu rahasia Shinta Group diolah.
Salah satu dari mereka merobek segel sebuah jerigen kecil berisi zat kontaminan kimia—cairan asam pekat yang sengaja dirancang oleh Mega Food untuk merusak rasa dan memicu bakteri pembusuk instan begitu produk dikemas. Jika cairan ini masuk, seluruh kloter ekspor senilai puluhan miliar rupiah akan dinyatakan cacat dan beracun saat tiba di pelabuhan Singapura. Nama Amira akan hancur di mata hukum internasional sebelum dinastinya sempat berdiri tegak.
Namun, tepat saat moncong jerigen itu hendak dituangkan ke dalam katup tangki...
BZZZZT!
Lampu ruangan yang semula temaram mendadak menyala benderang, menyilaukan pandangan kedua penyusup tersebut. Di saat yang sama, suara sirine peringatan berkekuatan tinggi melengking keras, memecah keheningan malam. Wiuuu... wiuuu... wiuuu!
"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian di atas kepala!"
Pintu ganda ruang tangki dihantam terbuka dari luar. Belasan petugas keamanan berseragam lengkap, dipimpin langsung oleh aparat kepolisian sektor Tangerang, merangsek masuk dengan senjata taktis yang terarah lurus ke dada kedua penyusup tersebut. Jerigen kimia di tangan pelaku langsung terlepas, jatuh menghantam lantai semen dengan bunyi klentang yang keras.
Dari balik barisan petugas keamanan, sesosok wanita melangkah maju dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Amira Shinta.
Ia mengenakan jubah panjang (trench coat) berwarna hitam pekat di atas gaun hamilnya. Meskipun waktu menunjukkan sepertiga malam, wajah Amira sama sekali tidak menyiratkan kantuk. Sepasang matanya berkilat tajam, menatap kedua penyusup yang kini sudah dipiting ke lantai oleh petugas dengan pandangan penuh kemenangan murni.
"Kalian pikir... saya tidak tahu tentang kode sekunder itu?" tanya Amira, suaranya terdengar begitu renyah namun dingin menusuk tulang.
Amira berjalan mendekati panel pintu darurat, lalu menyentuh layarnya yang kini menampilkan logo digital Shinta Group. "Saat saya merombak sistem IT kantor di Bab 28, saya sengaja menyisakan satu kode akses lama milik Aris sebagai umpan bayangan (honeypot). Siapa pun yang menggunakan kode itu, tidak akan mematikan sistem, melainkan langsung mengirimkan koordinat GPS dan rekaman wajah langsung ke ponsel saya dan pihak kepolisian."
Kedua penyusup itu terperangah dengan wajah pucat pasi bagai mayat, menyadari bahwa mereka bukan sedang melakukan sabotase, melainkan berjalan sukarela masuk ke dalam rahang singa betina yang cerdas.
"Pak Polisi, silakan amankan kedua orang ini beserta barang buktinya," ujar Amira sambil berbalik memunggungi para pelaku, mengusap perutnya yang mulai mengeras dengan lembut. "Pastikan interogasi mereka diarahkan langsung pada nama Mega Food Korporasi dan pengacara bernama Hermawan. Saya ingin dalang di balik teror ini diseret malam ini juga."
"Siap, Ibu Amira!"
Saat kedua pelaku diseret keluar dalam kondisi terborgol, Amira menatap tangki-tangki raksasa miliknya yang tetap bersih tanpa noda. Percobaan sabotase pertama dari kompetitor barunya berhasil dilibas total tanpa sempat menyentuh satu bita pun asetnya.
Amira melangkah keluar dari area pabrik menuju mobil Mercedes-Benz miliknya, menembus gerimis malam dengan kepuasan yang tertata. Namun, plot cerita berlanjut sesuai Outline Plot Arc 2 di Bab 35 besok pagi: di mana pihak Mega Food yang panik karena tim lapangannya tertangkap, mulai membalas dengan meluncurkan serangan kampanye hitam (black campaign) masif di media massa, menyebarkan rumor fitnah bahwa Amira adalah wanita kejam yang mengeksploitasi "anak di dalam kandungan" untuk merebut paksa harta mantan suaminya.