Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Air mataku terus luruh mengalir dan membasahi kedua pipiku, aku mendengar Mas Ivan memarahi Dion habis habisan.
Tapi yang membuat ku itu heran, Dion juga terdengar membalas amukan yang di lontarkan Mas Ivan, membuat keduanya sekarang ini malah beradu mulut.
Walaupun suara mereka tidak begitu jelas terdengar di telingaku. Tapi aku mendengar mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain.
Aku merasa hidungku mengeluarkan cairan, aku pun akhirnya reflek menyentuh bagian bawah hidungku. Lalu aku melihat darah, ternyata darah lah yang baru saja keluar dari dalam hidungku.
Aku pun mengelap darah itu dengan tanganku, lalu aku memilih untuk segera memakan bubur yang tadi di berikan oleh Rihana.
'Makasih banyak Rihana, karena kamu sudah mau peduli dengan keadaanku sekarang ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang kamu lakukan, amin.' batin ku dalam hati.
Dengan tangan gemetar, aku pun memakan bubur yang ada di depanku, sesuap demi sesuap.
"Aku harus kuat, aku harus bertahan, demi Reyhan," gumamku, bertujuan untuk memberikan semangat pada diriku sendiri.
Tak berselang lama pintu kamarku pun terbuka, jujur aku sedikit begidik kala membayangkan betapa marahnya Mas Ivan saat ini.
Aku yang sudah selesai memakan bubur itu sampai tandas, sekarang hanya bisa memejamkan kedua mataku, jujur aku sangatlah takut. Aku juga berharap Mas Ivan tidak akan marah kepadaku. Tapi untuk harapan itu, rasanya sungguh tidak mungkin.
"Dek," panggil Mas Ivan dengan suara datar.
Reflek, aku pun membuka kedua mataku, seraya menjawab panggilan darinya, "I--iya Mas."
Aku sedikit menundukkan wajahku, lumayan takut rasanya respon tubuhku saat ini.
Tiba tiba Mas Ivan pun mendekat lalu membungkukkan badannya.
"Maafkan aku Dek," ucapnya tulus sembari memelukku.
'ya Tuhan, apakah ini benar Mas Ivan? Aku tidak sedang bermimpi bukan," batinku.
Air mata ku pun luruh karena terharu, karena merasakan kebaikannya.
Sekarang aku baru berani untuk mendongakkan wajahku, aku pun menatap lekat ke dua bola mata Mas Ivan.
"Mas angkat tubuh mu itu ke kasur dulu ya, tapi maaf Dek! Tadi Mas udah muter muter cari mie ayam. Para penjual kelihatan nya sudah tutup," ujar Mas Ivan dengan wajah tidak enak.
Aku pun menatapnya dengan tatapan bingung, karena seingatku di depan gapura kompleks rumah ini, ada taman yang lumayan ramai dan banyak sekali gerobak jualan para penjual. Tapi lagi lagi aku hanya bisa berpikir positif, mungkin saja yang jual mie ayam kan tutup.
"hemm, gak papa kok Mas," ucapku dengan senyuman manis.
Berkali kali aku memastikan hidungku, untuk memastikan apakah indra penciuman ku itu salah? Saat Mas Ivan menggendong tubuhku, aku merasa, kalau aku itu mencium aroma parfum cherry blossom di bajunya.
Karena selama ini aku yang menyetrika semua baju Mas Ivan, dan aku tidak pernah membeli pelicin pakaian dengan aroma itu.
Lalu Mas Ivan pun merebahkan tubuhku dengan hati hati ke kasur. Tak lupa dia juga menyelimuti tubuhku.
Aku sebenarnya ingin sekali bertanya mengenai aroma parfum itu, tapi sekali lagi. Aku memilih untuk mengurungkan niatku itu.
Karena aku tidak ingin merusak momen manis ini, sebuah momen yang sangat langka. Yang tidak pernah Mas Ivan lakukan padaku.
Untuk mengenai pertengkaran yang terjadi antara Mas Ivan dan juga Dion tadi. Jujur aku memilih abai, apalagi melihat wajah Mas Ivan yang tidak babak belur. Mungkin ke duanya tadi hanya beradu mulut saja, ntah siapa yang akhirnya mengalah.
"Dek, kok malah melamun sih!"
Ucapan Mas Ivan seketika membuat lamunanku itu buyar.
Aku pun mendongakkan wajahku untuk melihat ke arahnya.
"Iya Mas, maaf ..."
"Dek, Mas boleh minta tolong gak?" tanyanya.
"Iya Mas," jawabku lirih. Sembari berusaha untuk menenangkan detak jantungku.
Karena Mas Ivan saat ini memegang tanganku, bahkan meremas punggung tanganku juga.
"Nanti kalau bapak sama ibuk datang kesini, terus melihat melihat keadaanmu seperti ini. Bilang saja, tadi sore ada orang gila yang mengamuk di jalan, terus memukulmu pakai sabuk. Dion tadi mengancam Mas, akan melaporkan keadaanku pada Ibuk dan juga Bapak," ucapnya dengan nada memohon.
Hatiku jujur saat ini terasa di sayat sayat, aku tahu jika selama ini Mas Ivan baik karena ada maunya. Jika tidak ada maunya, dia akan cuek dan tidak pernah menganggap ku itu ada.
"Iya Mas, aku akan mengatakan kebohongan itu pada bapak dan juga ibuk. Jika mereka datang," jawabku.
"Oke bagus, kalau begitu Mas mau balik ke kamar Mas dulu ya, soalnya kamar mu itu kumuh banget Dek. Mana bau lagi. Kalau kamu mau istirahat. Ya tinggal istirahat saja, Mas udah belikan susu formula buat Reyhan kok. Jadi Reyhan malam ini biar full tidur sama Mas, biar luka luka mu itu cepet sembuh dan tidak infeksi. Jadinya Mas kan gak perlu keluarin uang lebih, hanya untuk membawamu ke rumah sakit," ucap Mas Ivan dengan nada mencibir.
Ya Allah kenapa sesakit ini, ucapan Mas Ivan sungguh bagaikan sebuah belati yang merobek robek hatiku.
Tapi aku masih berusaha untuk sabar, dan mengubah ekspresi wajahku menjadi biasa kembali.
Tanpa menunggu jawabanku Mas Ivan keluar begitu saja.
Aku menatap lekat punggung Mas Ivan yang menghilang dari balik pintu.
Aku berusaha untuk memejamkan mataku, berharap semua luka luka di tubuhku ini segera sembuh. Sakit hati di tambah tubuh yang sakit, duh rasanya benar benar sulit untuk di jabarkan.
"Rena, setiap hari kan kamu selalu di berikan kesehatan. Ingat bukankah Allah selama ini lebih banyak memberikan kesehatan, dari pada sakit. Dan mungkin Allah memberikan takdir begini. Untuk mengangkat derajat mu sebagai manusia Rena," gumamku dengan air mata yang luruh membasahi ke dua pipiku.
Aku pun memeluk diriku sendiri sendiri saat ini.
Akhirnya aku sudah tidak sanggup menahan tangisanku ini. Aku pun menangis tersedu sedu, tapi ini rasanya lebih baik. Karena aku merasa sesak di dalam dadaku, seperti menghilang.
Setelah beberapa saat, setelah puas menangis. Aku pun berusaha mati matian untuk memejamkan mata, agar segera tertidur. Karena Mas Ivan lah yang menyuruh ku untuk istirahat, aku takut jika tidak menuruti perintahnya. Dia akan marah.
***
**
Keesokan paginya.
Sayup sayup akupun berusaha untuk membuka mata ku secara perlahan, kala ada seseorang yang saat ini sedang memegang megang bagian perutku.
Mataku membulat sempurna, saat ada seorang wanita berpakaian khas bidan berada di depanku sembari terus menekan nekan perutku.
"Gimana Bu Bidan? Apa janin itu bisa diambil paksa?" tanya Mas Ivan dengan raut wajah khawatir.
Bidan itu nampak menghembuskan nafasnya dengan kasar berkali kali, seraya berkata, "Mungkin bapak selama ini salah paham. Karena dalam perut istri bapak itu kosong, dia tidak hamil. Malah sepertinya di dalam perut istri bapak ada benjolan di bagian lambungnya."
Mas Ivan tiba tiba sujud syukur di depan Bidan itu. Seraya berkata, "Ya udah Bu Bidan, terimakasih banyak karena mau memeriksa istri saya. Kalau begitu, ayo saya antar untuk keluar dari rumah saya. Kita sama sama jaga rahasia.
Bu Bidan tidak boleh bilang kepada siapa pun mengenai keadaan luka di tubuh istri saya, saya juga tidak akan bilang ke siapa pun mengenai pekerjaan tambahan yang Bu Bidan jalani."
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡