Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Tiga Dinasti Kegelapan
Dua minggu telah berlalu sejak Cang Li memulai latihannya di bawah bimbingan Guru Ling di Desa Sura. Waktu yang singkat itu telah mengubah banyak hal dalam dirinya. Jika dahulu ia masih tampak kaku, terburu-buru, dan terlalu mengandalkan tenaga mentah, kini gerakannya mulai menunjukkan ketenangan, ketepatan, dan pengendalian yang jauh lebih baik.
Pagi itu, cahaya matahari yang menembus celah-celah dedaunan jatuh lembut ke halaman belakang rumah Guru Ling. Tempat itu dipenuhi rumpun bambu hitam yang tumbuh rapat, menjulang tinggi, dan berdiri kokoh seperti para penjaga yang tidak pernah tidur. Udara pagi terasa sejuk, tetapi suasana di sana tetap dipenuhi tekanan yang khas dari tempat latihan.
Di tengah rumpun bambu itu, Cang Li berdiri dengan tubuh tegak. Matanya tertutup rapat oleh sehelai kain hitam yang diikat kuat di belakang kepalanya. Di tangannya, pedang kayu yang selama dua minggu terakhir menjadi teman sekaligus lawannya telah diselimuti percikan Petir Ungu yang lebih stabil dibanding sebelumnya.
Napasnya terdengar pelan dan teratur.
Tangannya menggenggam gagang pedang dengan mantap.
Seluruh tubuhnya diam, tetapi indranya bekerja dengan sangat tajam.
Tiba-tiba, angin pagi berembus sedikit lebih kencang, membuat beberapa batang bambu di sekitarnya bergoyang. Pada saat itulah, tubuh Cang Li bergerak.
Seketika ia melesat ke samping, lalu mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan bersih dan cepat. Kilatan ungu melintas di udara, diikuti suara tebasan yang tajam. Satu batang bambu di sebelah kirinya terpotong rapi. Belum sempat batang itu jatuh sepenuhnya, Cang Li sudah memutar tubuhnya dan menebas ke arah lain, memotong dua batang bambu sekaligus dengan gerakan yang nyaris tanpa jeda.
Beberapa helai daun beterbangan di sekelilingnya.
Petir ungu yang menyelimuti pedangnya berdesis halus.
Meskipun penglihatannya tertutup, setiap tebasan yang ia lepaskan terasa jauh lebih akurat daripada saat hari pertama ia datang ke tempat itu.
Di teras rumah kayu, Ling berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. Wajah pria tua itu tetap datar seperti biasa, tetapi sorot matanya memperlihatkan kepuasan yang sulit disembunyikan. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana pada hari pertama Cang Li bahkan nyaris tidak mampu meninggalkan goresan berarti pada Bambu Hitam Jiwa. Kini, anak itu sudah bisa merasakan arah angin, getaran batang, serta perbedaan aliran energi di sekitarnya meskipun matanya tertutup.
Perkembangan itu jelas jauh melampaui perkiraan awalnya.
Setelah menebas batang bambu terakhir, Cang Li mendarat ringan di atas tanah dan menurunkan pedangnya perlahan. Ia melepaskan penutup matanya, lalu mengusap peluh di dahinya sebelum menoleh ke arah Ling.
“Guru,” panggilnya sambil berjalan mendekat, “saya merasa gerakan saya sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Apakah saya sudah siap memasuki latihan tahap kedua?”
Ling menatapnya sejenak tanpa segera menjawab. Ia berjalan ke arah salah satu batang bambu yang baru saja ditebas Cang Li, lalu menyentuh bekas potongannya dengan jari. Permukaannya halus dan rapi, menandakan bahwa serangan tadi bukan hanya cepat, tetapi juga terkontrol dengan baik.
“Dua minggu lalu,” ujar Ling tenang, “kau menebas dengan amarah, tenaga, dan keberanian kosong. Sekarang, kau mulai menebas dengan kesadaran. Itu kemajuan yang baik.”
Cang Li menahan napas, menunggu jawaban gurunya.
Ling akhirnya menoleh dan berkata, “Baiklah. Jika kau memang merasa siap, maka malam ini kita akan memulai latihan tahap kedua.”
Mata Cang Li langsung berbinar. “Benarkah, Guru?”
“Jangan terlalu senang dulu,” jawab Ling datar. “Tahap pertama hanya mengajarkanmu cara memusatkan tenaga dan merasakan arah gerakan. Tahap kedua akan menguji apakah tubuh dan nalurimu mampu bertahan hidup saat nyawa benar-benar dipertaruhkan.”
Meski mendengar nada dingin itu, semangat Cang Li justru semakin membara. Ia membungkuk hormat dengan penuh tekad.
“Saya siap, Guru.”
Benua Jue Wang – Istana Kegelapan Dinasti Cangmo
Pada saat yang sama, jauh dari Benua Tian Zhu, awan hitam menggantung rendah di langit Benua Jue Wang. Udara di sana terasa berat dan lembap, seolah seluruh daratan itu hidup dalam bayang-bayang kebencian, darah, dan ambisi yang tak pernah padam.
Di pusat wilayah tergelap benua itu berdiri Istana Kegelapan Dinasti Cangmo, bangunan megah yang dibangun dari batu hitam pekat dan logam gelap yang memantulkan cahaya seperti cermin kematian. Pilar-pilar raksasa menjulang tinggi, sementara obor hijau redup menyala di sepanjang lorong, menciptakan suasana menyesakkan bagi siapa pun yang melangkah di dalamnya.
Di salah satu lorong bagian dalam, seorang prajurit berseragam hitam berjalan dengan langkah tenang sambil menundukkan kepala. Wajahnya tertutup setengah oleh helm perang Dinasti Cangmo, dan dari luar, ia tampak sama seperti para penjaga lain yang bertugas di istana itu.
Namun pria itu bukanlah prajurit biasa.
Di balik penyamaran itu, tersembunyi sosok yang telah bertahun-tahun hidup dalam bahaya dan bayang-bayang.
Ia adalah Ye Chen.
Selama beberapa waktu terakhir, Ye Chen menyusup ke jantung wilayah musuh demi memantau pergerakan Dinasti Cangmo. Ia tahu bahwa ancaman dari benua gelap itu bukan lagi sekadar rumor. Sesuatu yang jauh lebih besar sedang disiapkan, dan waktunya semakin dekat.
Saat berjalan melewati lorong bagian dalam, langkah Ye Chen perlahan melambat ketika ia mendengar suara percakapan dari sebuah ruangan besar yang dijaga ketat. Ia segera merapat ke dinding batu dan menahan napas, lalu memfokuskan pendengarannya ke arah dalam.
Di balik pintu besar berukir simbol kegelapan itu, duduk Kaisar Zhu Ge Ling, penguasa Dinasti Cangmo yang dikenal kejam, cerdas, dan sangat ambisius. Di hadapannya berdiri seorang pria berzirah hitam dengan tubuh tinggi besar, wajah penuh bekas luka, dan aura pembunuh yang menyesakkan. Ia adalah Hun Yan, salah satu komandan inti terkuat Dinasti Cangmo.
Zhu Ge Ling duduk santai di singgasananya sambil memutar cincin hitam di jari telunjuknya. Suaranya terdengar rendah, tetapi setiap katanya dipenuhi tekanan.
“Pencarian Tongkat Kegelapan tidak boleh lagi berjalan lambat,” ucapnya. “Waktu kita tidak banyak. Jika artefak itu berhasil ditemukan dan dibangkitkan, maka gerbang penaklukan menuju Benua Tian Zhu akan terbuka sepenuhnya.”
Hun Yan menundukkan kepala. “Bawahan mengerti, Yang Mulia. Pasukan kami telah memperluas pencarian ke beberapa wilayah terluar, tetapi petunjuknya masih sangat samar.”
Zhu Ge Ling menyipitkan mata. “Karena itu, kita tidak akan bergerak sendirian.”
Hun Yan sedikit mengangkat wajahnya.
“Kirim utusan ke Dinasti Qiandu dan Dinasti Bashe,” lanjut Zhu Ge Ling. “Sudah waktunya mereka ikut turun tangan. Jika ketiga dinasti kita bekerja sama, proses pencarian akan jauh lebih cepat.”
Mendengar nama dua dinasti itu, sorot mata Ye Chen yang bersembunyi di luar ruangan langsung menegang.
Dalam hati, ia segera memahami betapa berbahayanya situasi itu.
Dinasti Qiandu adalah salah satu dinasti besar di Benua Jue Wang yang terkenal dengan teknik racun, kabut mematikan, dan seni pembusukan yang sangat mengerikan. Mereka tidak hanya mampu membunuh lawan secara langsung, tetapi juga menghancurkan pasukan secara perlahan tanpa meninggalkan kesempatan untuk melawan.
Sementara itu, Dinasti Bashe dikenal sebagai penguasa teknik ular dan makhluk berbisa. Para kultivator dari dinasti itu memiliki gaya bertarung licik, cepat, dan mematikan, dengan banyak teknik yang berfokus pada penyergapan, lilitan, dan racun yang menyerang tubuh dari dalam.
Jika Dinasti Cangmo, Dinasti Qiandu, dan Dinasti Bashe benar-benar bersatu, maka ancaman yang akan jatuh ke Benua Tian Zhu tidak lagi bisa dianggap ringan.
Itu bukan sekadar kemungkinan perang.
Itu adalah pertanda awal dari bencana besar.
Dalam hati, Ye Chen segera mengambil keputusan. Informasi ini harus dibawa keluar secepat mungkin. Jika Dinasti Tianjian, Leiting, dan dinasti lain tidak bersiap dari sekarang, maka mereka akan terlambat saat invasi benar-benar datang.
Namun tepat ketika ia hendak mundur perlahan dari dinding, Hun Yan yang berada di dalam ruangan tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Aura pria itu berubah seketika.
“Yang Mulia,” ucap Hun Yan pelan, “ada seseorang di luar.”
Ye Chen langsung menyadari bahaya itu.
Tanpa menunggu satu detik lebih lama, ia segera menekan energinya serendah mungkin dan bergerak cepat meninggalkan lorong tersebut. Langkahnya nyaris tidak bersuara saat ia melesat menembus bayang-bayang koridor istana.
Di dalam ruangan, Hun Yan telah melangkah maju sambil menyipitkan mata ke arah pintu.
“Sepertinya ada tikus yang mendengar terlalu banyak,” katanya dingin.
Zhu Ge Ling hanya tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“Jika memang ada penyusup,” ucap sang kaisar perlahan, “biarkan dia lari dulu. Terkadang, tikus yang ketakutan akan menuntun kita pada sarang yang lebih besar.”
Di kejauhan lorong, Ye Chen terus bergerak cepat sambil menahan gejolak di dalam dadanya. Ia tahu bahwa penyamarannya mulai berada di ujung bahaya.
Dan itu berarti, waktunya di Benua Jue Wang mungkin tidak akan lama lagi.
End Chapter 28