NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Gadis dengan Almamater

Gemini berkata

Rumah bercat krem di sudut perumahan Kediri itu tampak tenang, namun bagi Dimas, atmosfer di depannya terasa lebih mencekam daripada tenggat waktu penerbit yang paling galak sekalipun. Ia merapikan kemeja batik parangnya untuk yang kesekian kali. Di sampingnya, Pak Subroto tampak begitu bersemangat, seolah sedang melakukan ekspedisi penaklukan wilayah baru.

"Eling, Dim. Jaga sikapmu. Ojo kakehan guyon sing aneh-aneh," bisik Pak Subroto saat mereka melangkah menuju pintu jati yang terbuka lebar.

Dimas hanya mengangguk pelan. Dalam hati ia membatin, Lha, justru guyon itu senjataku supaya nggak mati kaku di sini, Pak.

Keluarga Dinara menyambut dengan keramahan khas orang Jawa yang kental. Suguhan teh melati dan penganan pasar segera memenuhi meja. Namun, perhatian Dimas teralihkan sepenuhnya ketika sosok itu muncul dari balik tirai ruang tengah.

Seorang gadis melangkah ragu. Ia masih mengenakan almamater kampus berwarna biru tua, seolah baru saja pulang dari medan tempur perkuliahan dan langsung dilempar ke medan perjodohan. Rambutnya tertutup jilbab instan berwarna senada. Wajahnya cantik, tapi matanya tidak bisa berbohong—ada mendung yang lebih tebal di sana dibandingkan langit Blitar kemarin sore.

"Ini Dinara, anak kami yang bungsu," ujar Ayah Dinara dengan nada bangga.

Dinara menyalami orang tua Dimas dengan gerakan yang sangat kaku. Saat tiba gilirannya berhadapan dengan Dimas, ia hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada, menunduk dalam-dalam tanpa berani menyapu pandangan pada pria di depannya.

"Dinara baru pulang kampus, Pak Broto. Maaf ya, masih pakai seragam kebesarannya," seloroh Ibu Dinara mencoba mencairkan kekakuan.

Setelah basa-basi antar orang tua yang terasa seperti berjam-jam bagi Dimas, akhirnya kedua orang tua mereka memberikan "ruang" bagi keduanya untuk berbicara di teras samping yang asri.

Hening. Hanya suara gesekan daun mangga yang tertiup angin sore. Dimas berdeham, mencoba mencari celah untuk menghancurkan dinding es yang membekukan suasana.

"Kuliah di mana, Dek?" tanya Dimas lembut.

Dinara tersentak kecil, jemarinya meremas ujung almamaternya yang sedikit kusut. "Di... di Malang, Mas. Tapi ini lagi pulang karena diminta Bapak."

"Oh, Malang. Ademm ya di sana. Nggak kayak Surabaya, panasnya sudah kayak simulasi lain dunia," seloroh Dimas mencoba memancing tawa.

Dinara hanya tersenyum tipis—tipe senyuman yang lebih mirip tarikan otot terpaksa. "Nggih, Mas."

Dimas memutar otak. Ia melihat sebuah buku tebal yang menyembul dari tas ransel Dinara yang diletakkan di kursi sebelah. "Itu buku Hukum Perdata ya? Wah, berat juga bacaannya sore-sore begini. Lagi ada tugas akhir atau gimana, Dek?"

"Nggih, Mas. Ada tugas penelitian," jawabnya singkat. Suaranya halus, namun bergetar.

Dimas mengamati profil samping wajah Dinara. Gadis ini ketakutan. Bukan takut padanya, tapi takut pada narasi hidup yang mendadak berubah arah tanpa persetujuannya. Dimas tahu betul rasanya. Ia pun merasakan beban yang sama, hanya saja ia lebih pandai menutupinya dengan topeng ketenangan.

"Dek Dinara," panggil Dimas, kali ini suaranya lebih rendah dan serius. "Mas tahu, pertemuan ini mungkin bukan sesuatu yang Adek harapkan di tengah sibuknya kuliah. Mas juga sama. Kita ini kayak dua orang yang dipaksa naik bus yang sama, tapi nggak tahu terminal tujuannya di mana."

Dinara akhirnya memberanikan diri sedikit mengangkat wajah, menatap sepatu kulit Dimas. "Mas nggak... nggak keberatan?"

"Kalau Mas bilang nggak keberatan, Mas bohong. Tapi kalau Mas bilang Mas mau nolak, Mas nggak tega lihat wajah Bapak sama Ibu di dalam," Dimas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan. "Mas cuma mau tanya satu hal. Apa Adek punya cita-cita yang takut hilang kalau kita... ya, kalau kita lanjut ke jenjang itu?"

Mata Dinara mulai berkaca-kaca. "Dinara mau jadi hakim, Mas. Dinara mau lanjut S2. Tapi kata Ibu, kalau sudah nikah, perempuan itu tugasnya di dapur sama ngurus anak. Dinara takut impian Dinara selesai di sini."

Dimas terdiam. Ia melihat bayangan dirinya sendiri dalam kecemasan gadis itu. Keinginan untuk bebas, keinginan untuk membuktikan diri. Ia kemudian tersenyum, jenis senyum yang biasanya ia berikan pada pelanggan kafenya yang sedang galau.

"Dek, dengerin Mas ya," ujar Dimas. "Surabaya itu kota pejuang. Kalau nanti kita memang ditakdirkan bersama, Mas nggak bakal jadi orang yang nahan langkahmu. Mas punya kafe, Mas nulis buku. Mas tahu rasanya memperjuangkan sesuatu. Mas janji, almamater itu nggak akan jadi pajangan di lemari saja. Mas bakal jadi orang pertama yang antar-jemput kamu ke kampus, bahkan kalau perlu Mas yang buatkan kopi supaya kamu kuat begadang ngerjain skripsi."

Dinara tertegun. Ia menatap mata Dimas untuk pertama kalinya. Ada kejujuran di sana, juga sedikit kilat jenaka yang entah mengapa membuat hatinya sedikit lebih ringan.

"Mas... beneran?"

"Lho, Mas Dimas ini kalau ngomong bisa dipegang, Dek. Kecuali kalau lagi bercanda, itu jangan dipercaya," gurau Dimas lagi, membuat Dinara akhirnya mengeluarkan tawa kecil yang tulus, meski sangat singkat. "Nah, gitu lho. Kalau ketawa kan Mas jadi nggak merasa kayak lagi sidang tilang."

Namun, kehangatan itu terinterupsi saat suara lantang Pak Subroto terdengar dari dalam. "Gimana Dim? Sudah cocok toh? Kalau sudah, minggu depan kita urus semuanya!"

Wajah Dinara seketika memucat kembali. Wibawa Pak Subroto yang keras dan dominan seolah menariknya kembali ke realita bahwa kesepakatan di teras ini mungkin tidak akan sejalan dengan keinginan orang tua di dalam. Dinara kembali menunduk, kembali menjadi gadis penurut yang ketakutan.

Dimas menghela napas panjang. Ia tahu perjuangannya bukan hanya meyakinkan Dinara, tapi juga membentengi gadis ini dari ego besar ayahandanya nanti.

"Dek," bisik Dimas sebelum mereka masuk kembali ke dalam. "Nanti kalau di dalam Bapak tanya, Adek diam saja. Biar Mas yang bicara. Pegang janji Mas soal kuliahmu, nggih?"

Dinara hanya mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.

Di dalam ruangan, di bawah lampu kristal yang bersinar kekuningan, sebuah kesepakatan besar diputuskan. Tanggal ditentukan, mahar dibicarakan, dan masa depan dua manusia diletakkan di atas meja bersama camilan yang mulai mendingin.

Dimas melirik ke arah Dinara yang duduk di pojok sofa, masih dengan almamater birunya. Di mata orang lain, mungkin mereka melihat calon pengantin yang serasi. Tapi di mata Dimas, ia melihat seorang pejuang yang sedang terluka, dan ia bersumpah, mulai hari ini, ia akan menjadi tempat pejuang itu beristirahat.

"Nggih, Pak. Dimas setuju," ucap Dimas dengan lantang, memutus keraguan yang sempat menggantung di udara.

Dinara memejamkan mata. Sebuah babak baru telah terbuka, dan ia hanya bisa berdoa dalam hati agar pria humoris di sampingnya ini benar-benar menjadi pelindung, bukan penjara baru bagi impian-impiannya.

Sore itu di Kediri, matahari terbenam dengan warna jingga yang pekat. Dimas pulang membawa beban baru di pundaknya, namun anehnya, ia merasa bebannya kali ini jauh lebih berarti daripada sekadar mengejar target penjualan kopi atau royalti buku. Ia baru saja membeli sebuah janji yang harus ia bayar dengan seluruh hidupnya.

"Gateli tenan," gumam Dimas pelan saat sudah di dalam mobil, menggunakan ungkapan khas Surabaya untuk mengekspresikan situasi yang sangat membingungkan namun harus dihadapi.

"Apa Dim?" tanya ibunya yang duduk di depan.

"Nggak apa-apa, Bu. Dimas cuma lagi mikir, nanti kalau Dinara pindah ke Surabaya, Mas harus beli mesin kopi yang lebih bagus biar dia betah di rumah," sahutnya asal, membuat kedua orang tuanya tertawa puas, tanpa tahu bahwa di balik candaan itu, Dimas sedang merancang strategi untuk melindungi mimpi istrinya nanti.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!