Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berenang Bersama
“Kiara!” bentak Bara yang kaget karena tidurnya terusik. “Apa-apaan kamu?”
Wajah pria itu tampak memerah menahan kesal. Namun bukannya takut, Kiara justru tertawa puas sambil menjulurkan lidahnya. Emosi Bara terpancing, ia segera bangkit dan mengejar Kiara yang sudah berlarian mengitari pinggiran kolam.
Tiba-tiba Kiara menceburkan diri kembali ke dalam air, dan mau tidak mau, Bara pun ikut melompat menyusulnya.
“Yeay! Akhirnya Om Bara ikut nyebur juga!” ledek Kiara penuh kemenangan.
“Awas kamu, ya. Tidak akan saya beri ampun!” geram Bara sambil berenang cepat mengejar istrinya.
“Aww, takut!” seru Kiara dengan nada menggoda.
Gadis itu mulai panik saat jarak Bara semakin dekat. Dengan satu gerakan tangkas, Bara berhasil menyergap tubuh Kiara dari belakang.
“Tidak bisa lari lagi kamu dari saya, dasar jahil!”
Bara tidak melepaskan dekapannya meski Kiara terus meronta meminta ampun. Ia bahkan menggigit bahu Kiara dengan gemas, membuat gadis itu memekik kesal.
“Sakit tahu! Ihh!” Kiara membalas dengan pukulan bertubi-tubi di dada Bara, yang justru disambut dengan tawa riang. Ini adalah pertama kalinya pemilik perusahaan starship terkenal itu merasa begitu menikmati momen di dalam air.
“Kiara, sudah hampir magrib. Cepat naik.” ujar Bara setelah beberapa saat, ia sendiri sudah lebih dulu membilas tubuhnya.
“Nggak mau, masih mau main!” sahut Kiara acuh tak acuh.
“Besok lagi, Kiara. Kita makan dulu sebelum kamu masuk angin.” bujuk Bara dengan nada yang masih sangat sabar.
Kiara tetap tidak bergeming, ia terus berputar-putar di dalam kolam dengan wajah menantang.
“Ya sudah, terserah. Saya tinggal ya, saya harus bersiap untuk pertemuan malam ini,” ujar Bara sambil melangkah menuju anak tangga.
Seketika itu juga, Kiara langsung bergerak naik dengan tergesa. “Om, tungguin! Saya takut sendirian di sini!”
Melihat reaksi Kiara yang mengekor di belakangnya, Bara tersenyum puas. Ia telah memenangkan perdebatan kecil ini.
“Om, tunggu!” rengeknya lagi saat menaiki tangga dengan tubuh yang masih basah kuyup.
“Aww!”
Pekikan itu terdengar bersamaan dengan suara jatuh. Kiara terpeleset di anak tangga. Bara yang sudah berada di atas segera berbalik dan turun mendekati istrinya.
“Kiara?”
“Duh, sakit... Om sih, main tinggal-tinggal saja.” sungut Kiara sambil memegangi lututnya yang memar.
“Iya, maaf... Mana yang sakit?” tanya Bara dengan nada suara yang melembut. Ia memijat lutut Kiara perlahan, mencoba meredakan rasa sakitnya. “Makanya, jangan bandel. Dari tadi sudah disuruh berhenti.”
“Sini, saya bantu naik.”
Bara kemudian menggendong Kiara dengan gaya bridal style. Secara refleks, Kiara melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Tiba-tiba saja, jantung Bara berdegup kencang saat mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.
Kiara mengulurkan tangannya, menyentuh bibir Bara dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya, membuat Bara secara spontan memejamkan mata dan sedikit membuka bibirnya, mengira sebuah ciuman akan mendarat di sana.
“Ini, ada bulu mata nempel di bibir Om.” bisik Kiara pelan sambil meniup helai halus itu hingga terbang.
Bara tertegun, lalu tersenyum kikuk sambil menelan ludah. Berada di dekat Kiara benar-benar menjadi ujian berat bagi ketenangannya. Entah mengapa, ia bisa sampai terbawa perasaan seperti itu.
“Oh ya, Om. Memangnya di vila ini tidak ada kamar lain?” tanya Kiara yang merasa keberatan jika harus berbagi tempat tidur dengan suaminya.
“Tidak ada. Semuanya sedang direnovasi.” jawab Bara asal. Sebenarnya ia hanya tidak ingin membiarkan gadis itu tidur sendirian.
“Jadi kita harus tidur sekamar?”
“Ya, mau bagaimana lagi? Kecuali kalau kamu lebih suka tidur di balkon atau di kolam renang tadi.” jawab Bara acuh tak acuh sambil menyeringai.
Bukk!
Kiara melemparkan selembar handuk tepat ke wajah suaminya. Bara hanya tertawa, ia merasa senang bisa menjahili istrinya. Namun sesaat kemudian, tatapan Bara berubah terpesona saat melihat Kiara keluar dari ruang ganti dengan gaun panjang tanpa lengan malam itu.
“Tidak ada baju yang lebih tertutup?” tanyanya ketus saat menyadari gaun itu cukup seksi dengan bagian dada yang agak terbuka.
“Semuanya modelnya begini, lihat saja sendiri!” Kiara membuka lemari dan Bara hanya bisa menggelengkan kepala melihat pilihan baju yang dibelikan oleh stafnya.
‘Awas kamu, Margareth. Akan saya beri pelajaran besok.’gerutu Bara dalam hati.
Bara segera meraih kemeja lengan panjang miliknya dan memakaikannya di luar gaun Kiara untuk menutupi bagian yang terbuka.
“Loh, kok jadi begini? Aneh tahu, Om!” protes Kiara saat melihat pantulannya di cermin.
“Daripada kamu tampil terbuka di depan banyak orang. Saya yang rugi.” jawab Bara singkat.
“Kenapa Om yang rugi?” tanya Kiara heran.
Meskipun merasa penampilannya aneh, ia tidak bisa menolak saat Bara menarik lengannya untuk menuju tempat makan malam yang telah disiapkan.
“Wow...”
Mata indah Kiara berbinar menatap lokasi makan malam mereka. Sebuah restoran di pinggir pantai dengan cahaya lampu temaram yang eksotis. Alunan biola yang syahdu membuat suasana terasa begitu romantis dan berkelas.
Bara menarik kursi dan mempersilakan Kiara duduk sebelum ia menempati posisi di hadapannya. Untuk pertama kalinya, Kiara bersikap manis tanpa melayangkan protes, membuat Bara merasa pilihan tempatnya tidak salah.
“Terima kasih ya, Om. Saya suka tempat ini.”
Mendengar kalimat manis itu keluar dari bibir Kiara membuat hati Bara menghangat. Ia tersenyum tulus sambil menyerahkan buku menu.
Namun, tanpa disadari, seorang wanita anggun bergaun merah berjalan mendekat dari arah belakang. Dengan berani, wanita itu menempelkan kedua tangannya di mata Bara sambil tersenyum menggoda. Bara tersentak, merasa heran sekaligus terkejut dengan tindakan lancang itu.
Sementara itu, keceriaan di wajah Kiara mendadak sirna. Melihat perlakuan wanita asing itu pada suaminya, tangan kanannya mengepal kuat, sementara tangan kirinya menggenggam garpu dengan erat, seolah siap untuk dilepaskan kapan saja.
**
"Surprise!"
Hanum tersenyum lebar sembari menarik kursi tepat di samping Bara. Ia sama sekali tidak mengindahkan kehadiran gadis berwajah masam yang duduk di hadapan pria yang sedang ia goda itu. Bagi Hanum, Kiara seolah hanya pajangan restoran yang tak kasat mata.
Uhuk... uhuk!
Kiara sengaja terbatuk kecil, memaksa wanita bergaun merah itu menoleh ke arahnya.
"Oh, jadi ini keponakanmu, Bar? Aku dengar dari Margareth kalau kamu ke sini bawa keponakan. Siapa namanya? Kiara, bukan?"
Hanum mengulurkan tangan dengan gerakan tubuh yang meliuk luwes. Kiara tidak menyambut uluran tangan itu, ia justru terang-terangan menilai penampilan seksi Hanum dari ujung kepala hingga kaki. Dalam hati, Kiara bertanya-tanya apakah wanita inilah 'tamu istimewa' yang sempat disinggung Bara tempo hari.
Namun, Hanum tampak tak acuh dengan sikap dingin Kiara. Ia kembali memusatkan perhatian pada Bara yang masih sibuk dengan ponselnya. Pria itu tampak tidak terusik, bahkan tidak memberikan respons berarti atas kehadirannya.
semangat💪 crazyup