Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah merah jambu
...Zhara terbangun mendengar ponselnya berdering di atas meja, tangannya berusaha meraba raba permukaan meja yang dingin, mencari sumber suara yang semakin nyaring ditelinganya....
...Sedangkan matanya yang masih ngantuk hanya terbuka setengah, pandangannya buram oleh sisa mimpi yang belum sepenuhnya hilang....
...Akhirnya, ujung jarinya menyentuh ponsel itu. Zhara menariknya mendekat, hampir menjatuhkan ponselnya, karena genggamannya belum sepenuhnya kuat. Dengan susah payah, ia menekan tombol untuk menerima panggilan....
...“Halo…” suaranya serak, nyaris seperti bisikan....
...“Zhara sayangku... Maaf pagi pagi buta sudah menelfonmu.” terdengar suara Tiara di sebrang ponsel....
...“Iya Tii... Kenapa?” Zhara mengusap matanya dengan satu tangan, mencoba mengusir sisa kantuk. Ia melirik ke arah jendela. Langit masih gelap, hanya sedikit cahaya kebiruan yang mulai muncul di ufuk....
...“Zhaa... aku boleh minta tolong?” suara Tiara pelan....
...“Iya katakanlah...” Zhara bangkit dan duduk bersandar diranjangnya....
...“Zhara… hari ini aku nggak bisa masuk kerja,” suara Tiara terdengar lelah di ujung telepon....
...“Aku lagi nemenin pacarku di rumah sakit, dia kena DB. Aku juga nggak sempat nelpon Kak Mega sama Bu Mirah.”...
...“Zhara tolong bantu aku sampaikan izin ke mereka?” lanjutnya pelan, seolah berharap....
...“Baiklah, Hari ini aku shift pagi, nanti aku izin sama atasan” ucap Zhara lembut, berusaha menenangkan Tiara....
...“Kamu fokus aja jagain dia di rumah sakit. Jangan khawatir soal kerjaan.” suara Zhara terdengar hangat dan meyakinkan....
...“Makasih Zhara sayangku.” Tiara terdengar lebih tenang kali ini. Udara pagi terasa tenang...
...TUTT......
...Panggilan berakhir....
...Zhara bangkit dari ranjang, Hangatnya cahaya matahari terbit menembus jendela kamarnya, jatuh lembut di wajahnya....
...Ia melangkah pelan menuju dapur, masih dengan sisa kantuk yang menggantung. Cahaya pagi ikut masuk melalui celah jendela dapur, membuat suasana terasa hangat dan tenang....
...Zhara mengambil teko air di atas meja dapur, menggenggamnya dengan hati-hati....
...Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, suara gemericiknya terdengar lembut di tengah pagi yang sunyi. Uap tipis mengepul saat teh mulai diseduh, aromanya perlahan memenuhi udara dapur....
...Ia lalu menyeruput tehnya sedikit, membiarkan hangatnya mengalir, mencoba menenangkan pikirannya sebelum hari benar-benar dimulai....
...Zhara meletakkan cangkirnya di meja, lalu berjalan menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuhnya, perlahan mengusir sisa kantuk, membuatnya terasa lebih segar....
...Tak butuh waktu lama, Zhara sudah rapi, wangi dan siap. Ia mengenakan pakaiannya, merapikan rambut, lalu mengambil tasnya....
...Zhara pun bergegas keluar rumah, melangkah cepat menuju tempat kerja, membawa harapan kecil agar hari ini berjalan lebih tenang....
...Setibanya di tempat kerja, Zhara langsung melangkah menuju ruangan Bu Mirah. Menyampaikan izin Tiara yang tidak dapat bekerja hari ini, setelah menyampaikan izin Zhara pamit keluar dari ruangan....
...Suasana di atas masih cukup sepi, hanya beberapa karyawan yang mulai beraktivitas....
...Saat kakinya melangkah turun dari anak tangga, pikirannya melayang tidak fokus....
...Tanpa sadar....
...BRUKK!...
...Zhara menabrak seseorang dari arah berlawanan....
...Tubuhnya terdorong mundur sedikit terhuyung, ia hampir kehilangan keseimbangan. Nafasnya tercekat sesaat, tangannya refleks terangkat seolah mencari pegangan....
...Seseorang itu sudah lebih dulu menahannya, satu tangan besar dan hangat mencengkeram pinggang dan lengannya dengan mantap, mencegahnya jatuh. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup kuat untuk menompang tubuhnya tetap berdiri. Zhara memejamkan matanya....
...“Pelan pelan Zhara...”...
...Suara itu....
...Dalam. Berat. Tenang. Dan lembut....
...Zhara membeku....
...Perlahan Zhara membuka mata....
...Zhara berkedip berkali kali, kali ini lebih jelas. Wajah Kak Daniel Sagara ketua marketing. perlahan terbentuk di hadapannya....
...Jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kak Daniel, bahkan napasnya yang stabil, kontras dengan detak jantungnya sendiri yang tiba tiba tidak teratur, berdegup sangat kencang....
...“Kamu selalu buru buru, ya?” ujar Kak Daniel nada suaranya rendah, hampir seperti teguran yang dibungkus perhatian....
...Zhara membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Tangannya masih berada dalam genggaman Kak Daniel. Dan anehnya, ia nyaman dan tidak ingin segera melepaskannya....
...“Maaf...” ucap Zhara refleks, sedikit mundur sambil menatap Kak Daniel di depannya....
...Kak Daniel tidak langsung menjawab. Hanya menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Lalu, dengan suara yang lebih lembut namun tetap berwibawa, ia berkata,...
...“Tidak apa apa, Zhara... Lain kali, hati hati.” ucapnya tersenyum ramah....
...Beberapa berkas yang dibawah Kak Daniel jatuh berserakan di lantai. Kertas kertas putih menyebar, sebagian terlipat, sebagian meluncur menjauh mengikuti langkah lorong koridor di sekitar....
...“Ah...” Zhara refleks berjongkok, panik....
...“Maaf, maaf kak Daniel… aku nggak sengaja…”...
...Tangannya bergerak cepat, memungut satu per satu berkas itu, berusaha merapikan meski jemarinya sedikit gemetar....
...Namun sebelum ia sempat mengumpulkan semuanya, tangan Kak Daniel ikut turun, tenang dan terukur, mengambil lembar-lembar yang tercecer tanpa tergesa....
...Di wajahnya yang tenang, terlihat Kak Daniel sedang tersenyum. Zhara tanpa sadar menatapnya sangat dalam, mengagumi setiap sudut tubuh Kak Daniel....
...Garis rahangnya tegas, memperkuat kesan maskulin yang sulit diabaikan....
...Wajah yang tampan, Bukan tipe yang mencolok tapi terlihat lebih dewasa dan lebih matang....
...Suara yang berwibawa, terdengar dalam, berat, tenang, dan lembut....
...Postur badan tinggi tegap, bahu yang lebar, otot otot yang tampak samar mencuat....
...Zhara sempat terdiam....
...Lama memandang tanpa berkedip....
...Tiba-tiba tersadar....
...Refleks, ia mengangkat berkas di tangannya dan...
...PLAKK!...
...Zhara menepuk wajahnya sendiri dengan berkas ditangannya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya semakin salah tingkah....
...“Apa yang aku pikirkan?...” gumannya malu. ...
...Pipinya memanas saat ia menyadari dirinya terlalu lama menatap. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena malu yang tiba-tiba menyeruak....
...Kak Daniel sempat terdiam sepersekian detik....
...Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit lebih lebar....
...“Kamu… baik-baik saja?” tanyanya....
...Nada suaranya mengandung sedikit keheranan yang tertahan, tapi jelas terhibur....
...Zhara langsung menurunkan kertas itu, wajahnya kini benar-benar memerah....
...“Eee... Anu... Kak... ” ia bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa....
...Dari samping, terdengar hembusan nafas pelan....
...“Hemm.”...
...Kak Daniel tidak tertawa, tidak juga berkomentar panjang. Tapi sorot matanya menyiratkan heran, dan sedikit geli....
...“Unik,”...
...Suara Kak Daniel singkat, terdengar rendah seperti biasa....
...Tubuh Zhara tiba tiba kaku, perasaan malu dan canggung bercampur aduk, rasanya ingin menghilang saat itu juga....
...“Kak. Saya duluan.” katanya cepat, nyaris terburu-buru, mencoba kabur dari situasi yang semakin membuatnya salah tingkah....
...Belum sempat pergi untuk menghilang....
...“Zhara.”...
...Suara Kak Daniel menahannya....
...Langkah Zhara yang semula terburu-buru langsung terhenti, Perlahan, ia menoleh....
...Kak Daniel melangkah mendekat....
...“Kamu mau lari kemana?... Serahkan dulu berkas berkas saya.” ujarnya pelan....
...“Ahh... Oh... Iya...” Ucap Zhara malu, ia mengulurkan tangan, dan menyerahkan lembaran kertas yang ia pungut tadi....
...“Sudah, nggak usah buru buru,” ujar Kak Daniel ringan, mencoba mencairkan suasana....
...Zhara hanya menunduk malu, dan menggangguk kecil....
...“Iya, Kak…” ucapnya pelan, ia tidak menunggu lama lagi. Tanpa berkata apa apa, ia berbalik, dan berlari secepat mungkin. ...
...Langkahnya cepat, hampir tergesa, menembus keramaian tanpa benar benar memperhatikan arah. Ia hanya ingin satu hal, cepat lenyap dan menghilang dari situasi barusan....
...Kak Daniel tersenyum lebar, melihat Zhara berlari sudah jauh, bahkan hampir tak terlihat lagi di ujung koridor....
...Sementara itu....
...jauh di ujung sana....
...Zhara akhirnya melambat....
...Tangannya menempel di dada, mencoba menenangkan napas yang tersengal....
...“Yaampunn... Malu banget... Gila...” Zhara menutup wajahnya dengan kedua tangannya, antara malu, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan....