Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 CEO Mode On
Pagi itu matahari mulai meninggi, sinarnya memantul pada dinding-dinding kaca gedung.
Di puncak bangunan menjulang itu, logo Lunara berdiri elegan seperti manifestasi kejayaan.
Tamara duduk di ruangannya—setelan hitam profesional, rambut disanggul rendah ala sleek bun, mempertegas wibawanya.
Punggungnya bersandar santai, sementara tangan menggenggam ujung dokumen yang diangkat setinggi dada.
Matanya mencoba fokus menelaah tiap baris data-data, meski pikirannya masih berkecamuk soal keputusan papanya semalam.
Beberapa saat, ruangannya tampak hening. Sebelum akhirnya dokumen itu dihempas ke atas meja, agak kasar.
Rahangnya mengeras, terlihat jelas di garis matanya jika hari ini suasana hatinya sedang berantakan.
Tamara memijat pelipis, matanya tajam menatap dokumen itu.
"Apa lagi ini... " desisnya, geram.
Tangannya lantas menekan panggilan interkom.
"Jen... minta semua manajer berkumpul di ruang rapat. Sekarang!" titahnya pada sang sekretaris.
Tak berselang lama...
Suasana ruang rapat yang semula tenang, mendadak tegang begitu pintu terbuka.
Tamara berjalan masuk, blazernya berkibar ringan, sepatu haknya menghantam lantai marmer—tegas, dan cukup untuk membuat semua orang menegakkan punggung.
Ia berdiri di ujung meja, auranya memancarkan kontrol mutlak.
Tanpa peringatan, Tamara melempar dokumen yang ia bawa, hingga mendarat ke tengah meja panjang.
Tatapannya tajam penuh otoritas, memberi bayangan bahwa hari ini bukanlah hari yang baik untuk berbuat salah.
"Ada yang bisa jelaskan," katanya pelan, terkontrol. "Kenapa kesalahan seperti ini masih saja terulang?"
Tidak ada yang jawaban.
Tamara memukul meja dengan satu telapak tangan. Tidak keras, tapi bunyinya cukup membuat semua orang tersentak.
"Ini laporan final! Akan dijadikan acuan dasar bagi dewan direksi mengambil keputusan. Kenapa masih ada data yang bertabrakan antar departemen?" lanjutnya, tajam dan menekan.
Sunyi kembali. Tamara menatap wajah para manajer itu satu per satu.
Beberapa saling lirik tanpa mengangkat kepala, berharap ada yang cukup berani untuk mewakili memberikan jawaban dari bos mereka.
Hingga seorang perempuan muda yang duduk di tengah, mencoba angkat bicara.
Wajahnya tegang, setengah gugup, setengah yakin.
"Mohon maaf, Bu. Mungkin ada miskomunikasi antar tim, yang berakibat pada kesalahan input data," jelasnya dengan suara pelan, agak bergetar.
Alis Tamara berkerut. "Miskomunikasi? Salah input?" tanyanya, lalu meneruskan, "Saya tahu hal itu memang selalu bisa terjadi."
Jari-jarinya menekan ujung meja. "Tapi kenapa harus menunggu saya yang menemukan?" Nada bicaranya naik satu oktaf.
Semua kepala menunduk.
Tamara sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Kalian itu level manajer, loh. Bukan mahasiswa magang!"
Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain, cukup untuk membuat mereka sadar bahwa standar seorang Tamara Hadinata tidak bisa ditawar.
"Kalau terjadi kesalahan komunikasi ataupun data, selesaikan sebelum sampai ke meja saya!" Suaranya tajam.
"Berapa kali sudah saya tekankan. Koordinasi itu penting. Dan teliti... harga mati. Kita ini brand besar. Satu kesalahan seperti ini, akibatnya bisa fatal!"
Udara di ruang rapat kini terasa kian menyempit.
Seorang pria berkacamata yang duduk paling ujung, mencoba bersuara, "Kami akan lebih teliti lagi, Bu."
Tamara menegakkan tubuh, menarik napas panjang, mencoba menahan kesal.
"Saya beri waktu sampai jam tiga, revisi laporan keseluruhan dengan akurat!" perintahnya.
Ia merapikan blazernya. "Sebelum laporan diserahkan, tolong dicek dengan teliti."
Lalu menambahkan, "Jika saya menemukan kesalahan seperti ini lagi... bukan hanya laporan yang direvisi, posisi kalian juga perlu dievaluasi!"
Nada suaranya tidak meninggi, namun tegas, cukup menjadi teguran yang lebih keras daripada teriakan.
"Baik, Bu." Semuanya serempak menjawab dengan anggukan singkat.
Tamara berbalik, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh.
Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, ruangan itu mendadak riuh rendah dipenuhi hembusan napas lega dan gumaman pelan—seperti sudah menjadi kebiasaan.
Pemimpin mereka memang masih muda, keindahan paras serta kemewahan penampilannya juga selalu menyenangkan dipandang mata.
Tetapi amarahnya? Tidak ada satu pun dari mereka yang mau melihatnya lagi.
...
Tamara kembali ke ruangan, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
Ia berjalan mendekat ke arah jendela besar, mencoba sejenak menenangkan pikirannya yang sedang kalut.
Di balik kaca, pemandangan kota diluar sana terlihat seperti potongan kecil kehidupan yang terus bergerak.
Jemarinya lalu membuka layar ponsel yang sejak pagi baru ia periksa.
Matanya sedikit membulat, banyak panggilan tak terjawab, rentetan pesan yang masuk hampir setiap menit—semuanya dari Andra.
Dahinya berkerut membaca beberapa pesan, polanya sama dan berulang: mengaku salah, minta maaf, dan mengharap kembali.
Tamara menghela napas. "Kesalahan kamu nggak termaafkan, Andra," gumamnya.
Pandangannya teralihkan, begitu pintu ruangannya diketuk. Jenna—sekretarisnya, muncul di balik pintu yang sedikit terbuka.
"Bu, Kiara ingin bertemu dengan Ibu," ujar perempuan muda itu, dengan suara enerjik khasnya.
"Kiara?" Alis Tamara terangkat sedikit. "Suruh masuk!"
Tak lama, seorang perempuan muda melangkah masuk—setelan modis, rambut diikat ala ponytail, tapi otot wajahnya tampak tegang.
Tamara berjalan ke tengah ruangan, menghampiri perempuan yang saat ini berdiri kaku di hadapannya.
Ia menyilangkan tangan, sorot matanya menatap penuh penilaian.
Sekilas, potongan memori kecil berputar dalam ingatannya—suara desahan manja penuh gairah di ranjang apartemennya—tadi malam.
Perempuan bernama Kiara itu menatap segan . "Bu... Saya minta maaf," ucapnya.
Tamara tersenyum, bukan senyum yang ramah. "Akhirnya kamu berinisiatif sendiri menemui saya, Kiara."
Perempuan itu mengangguk. "Saya masih mau karir saya aman, Bu."
Lalu berbisik dengan ragu. "Ibu nggak akan melakukan sesuatu kan? Soal... video itu."
Tamara memandangnya lama, ia ingat semalam sempat merekam singkat momen Andra bersama Kiara. "Video itu?"
Sudut bibirnya terangkat nakal, seperti menemukan kesenangan baru. "Tergantung... " katanya seraya berbalik.
Langkahnya tenang menuju sofa kulit berwarna gelap, kemudian duduk dengan santai sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Kiara mengikuti, meski tanpa disuruh, ia langsung ikut duduk di dekat Tamara.
Tubuhnya mencondong. "Bu, saya mohon. Karir saya bisa hancur dalam sekejap kalau sampai video itu..."
Kiara menahan kalimatnya, wajahnya terburu panik.
Tamara menyadarkan lengan di sofa. "Kalau sampai video itu dilihat orang?" ujarnya meneruskan.
"Terus publik gempar... Video syur seorang beauty influencer muda dengan aktor pendatang baru yang sedang naik daun—beredar di media sosial," lanjutnya.
Perkataannya nyaris terdengar seperti pembawa berita profesional, namun mengandung ejekan halus.
Kiara meraih tangan Tamara, tatapannya memelas. "Bu... Saya tahu Ibu marah. Tapi Ibu nggak mungkin tega lakuin hal itu kan?"
Ia menarik napas pendek, lalu melanjutkan, "Saya brand ambassador produk-produk Lunara, loh Bu. Saya juga sudah bersusah payah membangun karir saya sampai di titik ini."
Tamara menarik kembali tangannya, menyilangkan di dada.
Sementara Kiara tertunduk sejenak, lalu kembali bersuara sebelum Tamara sempat memberi tanggapan.
"Bu, kita kan baru tanda tangan kontrak, video perdana promosi juga baru tayang minggu lalu. Dan saya berhasil memenuhi target jumlah views. Secara profesional, kita harusnya nggak ada masalah kan?" papar Kiara.
Suaranya rendah, tapi rasa percaya dirinya sedikit bangkit.
Tamara menatapnya, datar. "Memang," katanya. "Tapi masalah kita, jauh lebih pribadi."
Tubuhnya sedikit mencondong, lalu berbisik, "Dan itu lebih bahaya dari sekadar urusan kerjaan."
Kiara menahan napas sebentar. "Bu, sumpah! Saya nggak tahu kalau Andra punya hubungan sama Ibu. Dia—dia yang godain saya duluan," ujarnya membela diri.
"Oke." Tamara mengangguk-angguk pelan, seperti menimbang sesuatu. "Sekarang saya tanya. Sudah berapa lama hubungan kalian?"
Kiara tak langsung menjawab, ia tampak berpikir.
"Du—dua bulan," jawabnya akhirnya.
Tamara langsung memukul meja. "Dua bulan?!" ulangnya, suaranya meninggi.
Matanya melotot, tak percaya bahwa selama itu Andra telah membodohinya.
Tamara menarik napas panjang, menahan kesal karena merasa harga dirinya terkoyak.
Rahangnya menegang. Aku menyimpan rapat hubungan dengannya, agar reputasiku dan karirnya tetap terjaga.Tapi dia malah mengambil kesempatan, batinnya.
Kiara kembali memelas. "Saya kan sudah minta maaf, karena saya bener-bener nggak tahu."
Tamara kembali menatapnya. "Kamu... suka sama Andra?"
Kiara sempat terdiam berpikir, lalu mengangguk ragu.
Tamara tersenyum—senyum yang justru membuat Kiara waspada. "Bagus... Ini akan jauh lebih dramatis."
Kiara menatap penuh tanya, sebelum Tamara menyuruhnya. "Putuskan hubungan kalian!"
Perempuan muda itu terdiam, belum ada niat menanggapi.
Hingga Tamara menyuruhnya lagi. "Telpon dia sekarang... " suaranya rendah, tapi penuh penekanan.
Kiara menegakkan punggung, wajahnya sedikit menunjukkan keraguan.
"Tunggu apalagi? Kamu mau dapat maaf dari saya kan?" desak Tamara.
Kiara mengangguk, meski setengah ragu-ragu.
"Saya nggak akan ganggu karir kamu. Tapi, urusan pribadi kita nggak bisa selesai hanya dengan kata maaf," ujar Tamara santai.
Lalu menatap Kiara penuh dominasi. "Tinggalkan Andra!" tegasnya, terdengar seperti seruan perintah yang sulit dibantah.
Tamara menimpali, senyumnya sinis. "Kamu pikir, setelah saya melepaskan Andra, kamu bisa jadi satu-satunya buat dia? Andra cuma menjadikan kamu pelampiasan, Kiara."
Kiara menoleh cepat, meski tanpa kata, matanya melebar penuh rasa tak percaya. Apa? Pelampiasan?
Jemarinya menggenggam kuat, menahan kesal. Sial!
"Baik," katanya dengan mantap.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, segera menekan panggilan.
Setelah terhubung, terdengar suara Andra dari panggilan yang di loudspeaker—serak, dan sedikit lembut.
Suara Kiara langsung menyambar, "Andra, aku mau kita putus! Mulai sekarang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!"
Kiara menekan tombol merah pada layar ponsel, dadanya naik turun, pipinya panas karena emosi.
Tamara menatapnya, tanpa iba. "Good. Itu baru sepadan."
Senyumnya puas. Bukan karena mengharapkan Andra kembali, tapi karena bisa sedikit membalasnya.
Ponsel Tamara tiba-tiba bergetar lama di atas meja. Tamara menoleh, panggilan masuk dari seseorang yang membuat jantungnya berdenyut waspada.
Matanya melebar, panggilan telepon itu dari manusia yang paling ia hormati di muka bumi—papanya.
Entah kenapa, setelah keputusan papanya semalam. Panggilan telepon yang seringkali terasa biasa saja, kali ini justru membuatnya lebih was-was.
Tamara menegakkan tubuh, menatap Kiara penuh wibawa. "Kamu boleh keluar," titahnya.
Kiara berdiri, menunduk hormat sebentar, lalu segera berjalan menuju pintu keluar.
Tamara meraih ponselnya. Ia menarik napas panjang, sebelum menjawab, "Halo, iya Pa?" suaranya mendadak sopan.
"Tata, nanti kamu pulang cepat ya. Malam ini kita akan bertemu Arvin dan keluarganya, membahas perjodohan kalian," kata Rudi di seberang sana.
Tamara tercengang. "Hah? Malam ini, Pa?"
"Ya. Papa tunggu," tegas Rudi. Sambungan telepon terputus begitu saja.
Tamara menurunkan ponsel dari telinga, menggigit jari.
Harus banget malam ini? Kenapa secepat itu? batinnya.
Ia menyandarkan punggung dengan malas. Hening menyelimuti ruangan.
Tak ada yang tahu, sosoknya yang biasa membuat banyak kepala tunduk di ruang rapat itu, justru kini takluk dengan satu keputusan papanya.
Dalam keheningan, satu nama yang sempat papanya ucapkan, tiba-tiba menyelusup dalam pikirannya.
"Jadi, namanya Arvin?" Pandangannya beralih ke arah jendela. Orang seperti apa dia?
Tamara tak bisa menerka, hanya merasa sedikit aneh. "Kok perasaanku tambah nggak enak ya?"
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺