Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama jadi kurir
Pagi di Jakarta selalu punya ritme sendiri. Tidak seperti di desa, di mana suara ayam jago dan angin dingin pegunungan menyapa pelan, Jakarta menyapa dengan suara motor yang menderu, klakson dari segala arah, dan teriakan pedagang sayur yang entah kenapa sudah semangat sejak jam enam pagi.
Cantika terbangun karena suara itu semua. Ia mengucek matanya, menatap sekeliling kamar kos Rani yang sempit tapi sangat nyaman dibandingkan gubuk Lastri.
Rani sudah sibuk di depan cermin kecil, merapikan rambut pendeknya. “Tik, bangun! Kita telat!”
Cantika setengah merangkak dari kasur. “Hah? Telat apa? Kita belum sarapan…”
Rani menunjuk jam dinding. “Sarapan pakai apa? Pakai doa? Uang kita dikit, Tik. Kita makan di tempat kerja aja. Bos biasa nyediain snack.”
Cantika langsung bangkit. “Aduh iya! Aku lupa…”
“Kamu tuh… masih kebiasaan tidur nyenyak kayak orang bebas hutang,” goda Rani.
Cantika nyengir. “Soalnya aku beneran bebas hutang. Hutang hidupnya udah selesai sejak keluar dari rumah itu.”
Rani tertawa sambil nyenggol bahunya. “Nah itu! Semangat! Ayo woy, cepet!”
---
Tempat Kerja Baru
Rani dan Cantika naik ojek online menuju tempat kerja, sebuah dapur katering sederhana bernama “Dapur Maju Jaya Selalu”. Nama yang sedikit terlalu optimis, tapi lumayan mudah diingat.
Dapur itu berada di deretan ruko dua lantai. Di depan ruko, satu mobil box dan lima motor sudah terparkir. Beberapa pegawai terlihat mondar-mandir membawa boks makanan.
Begitu masuk, Cantika mencium aroma tumisan bawang putih yang langsung membuat perutnya keroncongan.
“Ran… aku lapar…” bisiknya lirih.
“Sabaaaarrr… bentar lagi ada snack.”
Bos Rani, seorang wanita dengan tubuh berisi, wajah ramah, dan suara lantang muncul dari dapur sambil membawa panci gede.
“Oh, ini yang namanya Cantika?” tanya Bu Diah sambil menyeringai.
Cantika cepat menunduk, sopan seperti biasanya. “Iya, Bu. Saya Cantika.”
“Manis ya mukanya. Cocok jadi kurir,” komentar Bu Diah. “Orang kalau lihat kamu, pasti langsung buka pintu… atau langsung ngasih tips!”
Rani langsung ngakak. “Tuh kan, Tik. Aku bilang juga kamu cantik. Rezeki kamu, rezeki aku!”
Cantika menepuk lengan Rani. “Eh, jangan gitu! Aku jadi malu…”
Bu Diah melambaikan tangan. “Udah udah, ayo ikut. Hari ini kamu ikut Rani dulu. Besok kamu bisa jalan sendiri kalau sudah hafal rutenya.”
---
Belajar Jadi Kurir
Di pojok dapur, ada tumpukan kotak makanan tertutup rapat. Rani memberikan penjelasan.
“Nah Tik, jadi kerjaan kita nganter paket makanan ke kantor-kantor. Kadang katering harian, kadang snack rapat.”
Cantika mengangguk-angguk serius, seperti mendengarkan pidato presiden.
“Terus nanti kamu bawa motor ini…” Rani menunjuk motor matic merah.
Cantika langsung mengerutkan kening. “Aku… belum pernah bawa motor di Jakarta… di desa aja jarang.”
Rani melotot. “Kamu bisa naik motor kan?”
“Bisa sih… tapi jalanan desa mah sepi, Ran… ini Jakarta. Ada motor lewat kayak kilat, mobil sembarangan belok, belum lagi bajaj…”
Rani langsung ngakak sampai pegang perut. “Ya Allah, Tik. Kamu ngomong bajaj kayak ngomong setan. Tenang ajaaa… semua kurir di sini juga awalnya takut.”
Bu Diah lewat sambil menimpali, “Kalo kamu liat bajaj ngebut, kamu minggir aja. Jangan ditantang. Mereka tuh raja jalanan.”
Cantika terdiam. “Wah… serem juga ya…”
“Udah, kamu ikut aku dulu. Jadi hari pertama kamu bonceng aku. Besok baru kamu bawa sendiri.”
---
Perjalanan Pertama
Rani memasang tiga boks makanan di belakang motor. Cantika duduk di belakang sambil memeluk tas ransel.
“Ran, pelan-pelan ya…”
“Iyaaa. Santai. Aku nyawa cuma satu kok.”
Begitu motor keluar dari gang… Rani langsung ngegas.
“RAN!!” teriak Cantika sambil memeluk Rani erat kayak koala. “Ini nggak pelan!!”
Rani tertawa. “Ini mah baru pemanasan!”
Cantika nyaris pingsan.
Namun setelah beberapa menit, ia mulai terbiasa. Ia menatap gedung-gedung tinggi, berhenti di lampu merah yang panjang, dan melihat ratusan orang yang tampak terburu-buru.
“Aku masih shock sih…” gumam Cantika setelah 15 menit perjalanan.
“Shock kenapa?” tanya Rani.
“Shock karena… aku masih hidup. Dan belum jatuh dari motor.”
Rani tertawa lagi. “Ya ampun Tik, kamu lucu banget sumpah.”
---
Pengiriman Pertama
Mereka tiba di kantor kecil yang menjadi pelanggan katering. Rani menunjuk pintu kaca.
“Kamu ikut ya. Kamu belajar cara ngomong sama customer.”
Cantika mengangguk, menata rambutnya yang sedikit berantakan. Ia mengetuk pintu.
Seorang resepsionis muncul, seorang wanita dengan rambut kuncir dan ekspresi bosan.
“Dari Dapur Maju Jaya ya?”
Cantika menunduk sopan. “Iya, Mbak. Ini pesanannya.”
Wanita itu melihat Cantika dari ujung kepala sampai kaki. “Baru ya? Cantik banget sih. Pantesan Rani bawa-bawa partner baru.”
Rani langsung nyeletuk, “Mbak, jangan direkrut ya. Dia milik saya.”
Cantika memukul lengan Rani pelan. “Ran! Jangan asal ngomong!”
Resepsionis itu tertawa geli sambil memberikan uang pembayaran. “Udah sana. Hati-hati di jalan.”
Keluar dari kantor, Cantika mengembuskan napas panjang. “Aku deg-degan…”
“Wajar! Tapi kamu tadi bagus. Senyumnya manis, sopan. Cusss lanjut!”
---
Perjalanan Kedua ,sedikit membuat malu
Titik berikutnya adalah gedung tinggi. Mereka harus naik lift.
Cantika menatap lift itu dengan bingung. “Ran… aku belum pernah naik lift…”
Rani melotot. “Masa sih?!”
“Di desa nggak ada lift, Ran…”
“Oh iya bener juga…”
Begitu lift terbuka, mereka masuk. Lift mulai naik, Cantika langsung memegang pegangan samping.
“Ran… kok kayak melayang ya…”
“Itu normal. Kamu bukan melayang. Kamu lagi naik. Kalo melayang mah kamu udah jadi arwah.”
Cantika langsung mencubit lengan Rani. “Ran jangan ngomong serem!”
Lift berhenti di lantai 6. Mereka turun sambil membawa boks makanan.
Namun begitu pintu kantor terbuka, seekor anjing kecil putih langsung berlari ke arah mereka.
“RAN!! ITU ANJING!!” Cantika spontan naik ke belakang Rani dan bersembunyi.
Pemilik anjing tertawa ngakak. “Tenang! Ini anjing kecil kok!”
Cantika mengintip. “Kecil tapi tetep anjing, Mbak…”
Rani sudah nangis ketawa. “Cantikaaaa… kamu takut anjing?!”
“Di desa paling kucing sama ayam. Mana aku biasa lihat anjing bebas kayak gini…”
Pemilik anjing mengelus peliharaannya. “Tenang, dia jinak.”
Cantika akhirnya menyerahkan kotak makanan sambil tetap menjaga jarak lima meter dari si anjing.
Begitu keluar kantor, Rani masih belum bisa berhenti tertawa. “Ya Allah Tik… aku nggak tahan… kamu lucu banget sumpah…”
“Aku takut beneran loh, Ran…”
“Iya iya… tapi lucu banget tetep.”
---
Titik Ketiga – Ketemu Orang Judes
Tidak semua customer ramah. Di pengiriman berikutnya, muncul ibu-ibu berkacamata besar yang tampak kesal.
“Lho, ini telat! Rapat saya sudah mulai!”
Cantika buru-buru menunduk. “Maaf banyak, Bu. Tadi jalanan macet…”
“Semua orang juga macet! Kalian harusnya berangkat lebih awal!”
Rani mengambil alih. “Maaf ya bu, kita minta maaf. Lain kali kita pastikan lebih cepat.”
Ibu itu terus mengomel sampai akhirnya pergi sambil membanting pintu.
Cantika menelan ludah. “Ran, kok galak banget…”
Rani menepuk bahunya. “Biasaaa. Ibu-ibu Jakarta kalau belum minum kopi bisa kayak begitu semua.”
Cantika tertegun. “Serem juga dunia kerja…”
“Tenang. Ada yang galak, ada yang ramah. Kamu bakal kebal nanti.”