Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
Ethan Royce Adler berjalan beriringan dengan Rowan Hale, asistennya yang selalu tampil rapi.
Wajah Ethan tenang seperti biasa, setelan jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi tegapnya. Aura dingin dan berwibawa itu membuat setiap pegawai yang dilewati refleks menunduk atau menahan napas.
Rowan membaca laporan di tabletnya. “Semua staf sudah menunggu di ruang meeting, Pak. Lift eksekutif sudah siap.”
Namun Ethan menghentikan langkahnya di tengah lorong. “Tidak. Aku akan naik lewat lift karyawan.”
Rowan menatapnya kaget. “Lift… karyawan, Pak? Kenapa?”
Ethan melirik sekilas ke arah lift kecil di ujung koridor. “Sekadar ingin tahu,” jawabnya pelan sambil memasukkan tangan ke saku celananya. “Bagaimana mereka bersikap jika tidak tahu bahwa aku CEO mereka.”
Rowan menatapnya tak yakin, tapi akhirnya mengangguk hormat. “Baik, Pak. Saya tunggu di ruang rapat.”
Ethan hanya menjawab singkat, “Hm.”
Rowan pun pergi undur diri.
Di waktu yang sama, Keira berjalan tergesa-gesa melewati lobby kantor cabang AdlerTech Industries dengan wajah panik. Sepatu haknya beradu keras dengan lantai marmer. Rambutnya yang tadi disisir asal sudah mulai berantakan lagi karena ia setengah berlari sambil membawa map besar di tangannya.
““Duh! Telat lagi! Kena omel Bu Clara nih!” rutuknya sambil berlari kecil menuju lift karyawan.
Beberapa karyawan yang lewat saling berbisik dan menatapnya geli.
“Itu si Keira bagian design ya? Tiap hari ngaret terus.
“Iya. Lagi-lagi Keira dikejar waktu.”
Keira berhenti, lalu menoleh cepat sambil menunjuk mereka. “Iya, iya, ketawa aja! Ntar aku suruh kalian backup presentasi! Biar tau rasa!” bentaknya spontan, membuat dua karyawan langsung pura-pura sibuk menatap ponsel.
Keira mendengus puas. Sedetik kemudian matanya melotot saat melihat pintu lift karyawan hampir tertutup. "Eh... TUNGGU!"
Ia berlari dan buru-buru masuk ke dalam lift tersebut tanpa menatap ke depan — dan brak!
Tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri tegap di sana. Map di tangannya terlempar, kertas bertebaran di lantai.
“Aduh! Maaf banget! Aku nggak liat jalan!” serunya panik sambil jongkok memunguti dokumen.
Suara dalam dan rendah menjawab singkat, “Tidak apa-apa.”
Keira menoleh spontan, hendak berterima kasih, tapi suaranya tercekat.
Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi, berjas hitam, berwajah tegas dengan rahang kuat dan mata abu-abu pekat yang tajam namun menenangkan di saat bersamaan. Aura dinginnya membuat udara di lift seolah berhenti.
Ethan.
Keira menelan ludah. “Eum… makasih…”
Ia buru-buru berdiri dan menunduk, wajahnya memanas.
Dalam hati, ia mengumpat pelan, "Ya ampun, ini orang siapa sih? Ganteng banget, kayak keluar dari iklan parfum mahal!"
Sementara itu, Ethan terpaku.
Tatapan matanya membeku ketika melihat wajah perempuan itu — wajah yang sama, yang menghantuinya selama tujuh belas tahun.
Gadis yang ia cari di setiap keramaian, di setiap pesta, di setiap wajah yang menyerupai, namun tak pernah benar-benar sama.
Helaan napasnya tertahan. Seluruh dunia terasa mengecil di sekitar mereka.
Bahkan suara lift yang berdenting lembut pun terdengar jauh.
Namun Keira tak menyadarinya. Ia hanya merasa jantungnya berdebar aneh karena tatapan pria di depannya terasa begitu intens. "Kenapa rasanya kayak… pernah liat dia? Tapi di mana?" batinnya.
Ethan mengumpulkan sisa ketenangannya, suaranya terdengar rendah namun lembut. “Kerja di divisi mana?”
Keira, yang masih kikuk, menjawab cepat, “Desain. Kalau kamu pasti karyawan baru, ya? Baru masuk minggu ini? Wajah kamu belum pernah keliatan.”
Ethan diam sebentar, lalu menjawab pendek, “Bisa dibilang begitu.”
“Wah, siap-siap aja deh,” lanjut Keira tanpa berhenti, nada suaranya kayak emak-emak rumpi. “Kerja di sini tuh… yah, seru sih, tapi atasannya kadang kayak robot. Serius mulu, jarang senyum. Kadang pengen aku copot dasinya terus bilang: ‘Santai, Bos! Hidup cuma sekali!’”
Ethan mengangkat alisnya tenang. “Gitu, ya?”
Keira mengangguk mantap. “Iya! Aku tuh yakin, kalau CEO-nya bisa senyum dikit aja, aura kantor ini langsung cerah. Tapi ya sudahlah… katanya sih orangnya dingin kayak es batu.”
Ethan menatapnya, menahan senyum. “Dingin?”
“Iya! Katanya cuma peduli kerjaan. Kalau aku sih—eh, tapi ngomong-ngomong, kamu bagian mana?”
Ethan menjawab santai, “Hmm… bagian pengawasan.”
“Wah, berarti di atasanku dong. Jangan bilang ke atasan ya aku ngomel barusan!” kata Keira panik.
Ethan menyilangkan tangan di dada, menahan tawa yang nyaris lolos. Lalu mengangguk “Hm. Aku tidak akan melaporkannya. Lagipula, komentarmu… menarik.”
Lift berhenti di lantai dua puluh. Keira buru-buru keluar, menoleh sebentar sambil tersenyum sopan. “Eh... Aku duluan, ya! Semoga betah kerja di sini. Hati-hati, kantor ini kadang kayak hutan korporat—yang kuat yang menang!”
Ethan tidak menjawab, hanya menatap punggung Keira yang menjauh dengan langkah cepat dan gaya berantakan khasnya.
Begitu pintu lift menutup, senyum tipis muncul di wajah dinginnya.
“Masih cerewet seperti dulu…” gumamnya pelan.
Tatapannya melembut, seolah waktu mundur ke tujuh belas tahun lalu—malam di klub Eclipse, saat gadis itu mencium dirinya lebih dulu.
“Dan masih sama lucunya.”
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪