Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - Antara Aku, Cinta, dan Mama
Pukul sepuluh malam.
Rayna duduk di tempat tidurnya. Menggenggam ponsel. Membuka aplikasi TeleChat. Kemudian ia mengetik sebuah pesan untuk Vando.
[“Do?”]
[“Gimana kabar kamu hari ini?”]
[“Pasti ada cerita menarik ya disana? Aku jadi kepo banget, ingin dengerin kamu cerita lagi.”]
Tak ada balasan.
Ia menunggu beberapa menit. Masih hening.
"Apa dia udah tidur, ya?" pikirnya.
Ia mencoba mengirim satu pesan lagi,
[“Kamu sibuk banget ya? Atau udah tidur? Hemm.. Ya udah deh selamat tidur ya, Vando ❤️.”]
Namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya, ia meletakkan ponsel di meja kecil samping ranjang dan berbaring.
Langit malam Jakarta terasa sunyi, begitu pula hatinya.
Beberapa hari telah berlalu, dan hingga saat ini, pesan yang dikirim Rayna kepada Vando belum juga mendapat balasan. Ia juga sudah mencoba menghubunginya beberapa kali lewat telepon, namun tak sekali pun diangkat.
TOK TOK TOK.
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Rayna. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Rayna, sini, Nak," seru Mama dari luar.
Rayna segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Kamu lagi sibuk nggak?”
“Nggak kok, Ma. Aku lagi rebahan santai aja.”
“Yuk ke depan, Mama mau bicara sama kamu," ucap Mama pelan.
"Emm.. Oke. Tumben Mama mau bicara sama aku," jawabnya, sedikit heran.
“Emang biasanya juga Mama bicara sama kamu kan? Kamu ini.” Ucap Mama.
“Bukan gitu, Ma. Maksudku muka Mama nggak pernah seserius ini, aku jadi gemeteran nih. Apa aku lakuin kesalahan ya sama Mama?.” Tanya Rayna memastikan.
“Enggak... Udah ayok ikut mama dulu.” Ucap Mama sambil mengulurkan tangannya.
“Oke, Ma.” Jawabnya singkat.
Rayna mengikuti Mama menuju ruang tamu. Matanya langsung menangkap sepasang suami istri yang duduk di sofa dan...
Ben? Apa yang dia lakukan disini?
Rayna mengerutkan kening.
Ben adalah cowok yang sempat ia tegur di hari pertama sekolah. Waktu itu, sikapnya dingin. Tak pernah Rayna sangka, tiba-tiba sosok itu berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
"Ini ada apa ya, Ma?" tanyanya, bingung.
"Sini sayang, duduk di samping Mama dulu," ajak Mama sambil menepuk sofa.
Suasa a di ruangan itu terasa aneh. Tidak nyaman. Obrolan mereka terdengar formal, penuh rencana yang tak ia pahami. Rayna hanya duduk diam, mendengarkan semua dengan jantung yang tak tenang.
“Ini Ben, anak dari teman mama, katanya kalian satu kelas kan di sekolah.” Ucap Mamanya.
“Iya, Ma. Ben memang temen sekelas aku. Tapi ini sebenernya ada apa, Ma?” tanya Rayna keheranan.
Saat itu, Ben hanya tersenyum mendengar percakapan itu.
“Bagus dong kalau gitu, berarti kalian nggak harus perkenalan lagi.” Kata Mama Ben.
“Emm.. O- Okey.. lalu apa?” Rayna menatap kesemua mata yang ada disana.
"Mama harap kamu dan Ben bisa terus bersama sampai tua, ya," ujar Mama dengan nada penuh harap.
"Iya, kami semua juga berharap seperti itu sih, karena kelihatannya kalian memang cocok. Ya kan, Bu?," timpal Mama Ben.
“Iya benar itu, Nak. Lagi pula Ben juga anak yang baik, pinter juga kan disekolahnya. Mungkin kamu lebih tau soal dia gimana.”
Rayna hanya terdiam. Ia merasa bingung dan ingin segera keluar dari ruangan itu. Namun ia tetap mencoba menahan diri, walau hatinya semakin kacau.
"Aku sama sekali nggak ngerti dengan apa yang Mama dan Tante omongin. Mm.. Maksudnya gimana ya?" tanyanya, akhirnya tak mampu lagi menahan.
“Mama… dan orang tuanya Ben… ingin kamu dan Ben menikah,” ucap Mama pelan tapi tegas.
"Hah? Menikah?" wajah Rayna langsung berkaca-kaca.
"Tt... Tapi, Ma. Lagian aku masih sekolah. Mama ini kenapa sih? Aneh-aneh aja!."
Ucapannya tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya jatuh juga. Tanpa bisa berkata lebih lanjut, Rayna bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar.
Mama menyusulnya meninggalkan para tamu yang masih duduk disana. Ia masuk ke kamar dan duduk di samping Rayna yang sudah meringkuk sambil menangis.
"Ma... aku nggak mau, Ma... hiksss.. hiksss..." isaknya.
“Aku nggak ngerti kenapa mama tiba-tiba mau menjodohkan aku dengan Ben. Orang yang bahkan baru aja aku kenal di sekolah beberapa hari lalu.” Lanjutnya Rayna dengan terus meneteskan air matanya.
“Apa ini sebenernya alasan Mama, minta untuk kita pindah cepat ke Jakarta?” tanyanya terus menerus.
"Kamu harus mau, sayang. Ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita," ucap Mama, menatap penuh tekanan.
Rayna menatap balik, penuh luka.
“Kk.. Kebaikanku? Kebaikan apa sih yang ada dibayangan Mama?”, ucap Rayna. Dadanya terasa sangat sesak.
“Mama tahu kan, aku sayang dan cinta sama Vando. Aku maunya sama dia. Kebaikan buatku itu kalau aku bisa bersama Vando, Ma... hikss..." lanjut Rayna.
"Ben anak yang baik, Sayang. Kamu nggak boleh nolak dia," kata Mama tegas.
"Tapi, Ma... aku nggak cinta sama dia. Aku cintanya cuman sama Vando!"
"Cinta?" bentak Mama. "Tahu apa kamu tentang cinta, hah?!"
Rayna menatap wajah Mamanya yang mulai basah air mata.
“Cinta cuma bikin hancur, Rayna,” suara Mama bergetar. “Mama dulu juga pernah percaya cinta. Papa kamu bilang hal yang sama, katanya cinta bisa bikin hidup bahagia.”
Mama tersenyum pahit. “Nyatanya, dia pergi. Meninggalkan Mama dengan luka dan anak kecil yang harus Mama besarkan sendirian.”
Rayna terdiam. Hatinya terasa berat. Ia baru sadar, semua keputusan Mama mungkin lahir dari rasa takut, bukan kebencian.
“Makanya, Mama cuma mau kamu aman,” lanjutnya pelan. “Nggak usah mikirin cinta. Yang penting hidupmu tenang, ada orang yang bisa jaga kamu. Itu cukup.”
Tangis Mama akhirnya pecah.
Ya, memang benar. Mama dan Papa Rayna sudah lama bercerai. Saat itu Rayna masih kecil. Papa Rayna sering berselingkuh dan kasar, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Padahal sejak awal mereka menikah itu, alasan utamanya ialah karena saling mencintai satu sama lain.
Setelah bercerai, Mama membawanya ke Eropa, berharap bisa sembuh dari luka itu. Tapi luka lama tak pernah benar-benar hilang.
Sementara itu, Rayna hanya bisa terisak. Hancur. Bimbang. Tak tahu harus berbuat apa.
“Tolong pikirkan baik-baik apa yang Mama bilang,” ucap Mama pelan sebelum berdiri dan melangkah ke pintu. Ia membuka, lalu menutupnya perlahan, meninggalkan Rayna sendirian di kamar.
Rayna hanya bisa menangis sambil memeluk gulingnya. Sesekali ia menatap ponselnya yang tergeletak di atas laci kecil persis di samping tempat tidurnya. Lalu kemudian menyimpannya kembali di tempat semula.
Rasanya ia ingin menceritakan semua yang telah terjadi hari ini kepada seseorang.
Tapi kepada siapa?
Ia sudah tak punya siapa pun untuk bercerita. Dulu ada Vando. Tapi sekarang, bahkan pesan yang ia kirim beberapa hari lalu pun belum dibalas.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
Lo aja masih mikirin vando