NovelToon NovelToon
Bukan Kamu, Bukan Dia

Bukan Kamu, Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Trauma masa lalu / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Diam-Diam Cinta / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Oksy_K

Luka Vania belum tuntas dari cinta pertama yang tak terbalas, lalu datang Rayhan—sang primadona kampus, dengan pernyataan yang mengejutkan dan dengan sadar memberi kehangatan yang dulu sempat dia rasakan. Namun, semua itu penuh kepalsuan. Untuk kedua kalinya, Vania mendapatkan lara di atas luka yang masih bernanah.

Apakah lukanya akan sembuh atau justru mati rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oksy_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan

Perkenalkan, gue Malik Rayhan Aryasetya." Pandu menirukan kalimat Rayhan yang tadi dilontarkan. Masih dengan tawanya sampai bulir matanya menetes.

"Diem lo!"

Rayhan menatap Vania yang kini sudah berpamit pulang, dengan Okta yang mengikutinya di belakang. Entah benar-benar ada urusan yang terlupa, atau memang dia hanya ingin menghindar saja. Rayhan berdecak pelan, ia merasa kesal seolah mangsanya lolos dari cengkraman.

"Kencan gue gagal gara-gara lo." Ujar Pandu menyalahkannya.

"Kenapa jadi gue?"

"Iya lah, karena pertanyaan absurd lo. Anak orang jadi ngerasa risi!" katanya dengan nada mengejek.

"Coba lo pikir lagi, kenapa dia bisa gak tau siapa itu Rayhan? Aneh banget kan?" Ucap Rayhan masih kekeh dengan pendapatnya.

"Emang penting banget buat lo?"

"Penting! Ibaratnya nih ya, gue artisnya Univ Merdeka! Berada di pelosok mana dia kalau ngampus, nyampe gak pernah denger tentang gue." Ucapnya penuh keyakinan.

Memang benar adanya, semenjak Rayhan masuk kuliah, dia sudah dijadikan primadona kampus. Bukan cuma parasnya yang rupawan, tapi juga karena suaranya yang khas—berat dan dalam, yang mampu menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Ia adalah vokalis Band Delta yang berisikan Pandu dan Ali. Meski nama besar ayahnya sebagai pengusaha furniture terkenal masih melekat erat di belakangnya.

"Kalau kata gue ya, kurang kurangin pede lo deh. Gue yang malu." Protes Pandu.

"Tenang aja, orang ganteng itu bebas. Mau malu-maluin juga, gue tetep ganteng." Balasnya sambil menyibakkan rambut kebelakang, disambut beberapa suara kagum gadis-gadis di dalam kafe.

Pandu hanya menghela napas pelan, rasanya seperti berbicara dengan tembok, suaranya memantul balik ke dirinya sendiri.

Tak lama, Ali yang sedari tadi ditunggu, datang dengan wajah yang sumringah.

"Dari mana aja lo jam segini baru dateng. Ngaspal jalan?" sindir Rayhan.

Tanpa menanggapi, Ali duduk di samping Pandu dan meneguk minumannya tanpa sisa.

"Enak bener main samber aja." Ujar Pandu

"Kalian tau gak gue tadi papasan sama siapa?" tanya Ali tiba-tiba.

"Atta Halilintar?" jawab Rayhan.

"Bukan!"

"Pinkan Mambo?" jawab Pandu.

"Bukan artis."

"Bambang?" jawab Rahyhan lagi.

"Itu bapak gue." Ucap Ali mulai kesal sembari mengangkat gelas kosong.

Rayhan tertawa puas. "Terus siapa?"

"Gue tadi papasan sama Vania yang naik motor sama pacarnya Pandu." Ujar Ali.

"Bener kata kenalan gue di Klub Baca kampus, cantik dan imut banget. Apalagi rambutnya tadi di kepang, rasanya pengen gue jagain." imbuhnya dengan menggebu-gebu. Membuat Rayhan dan Pandu terheran.

"Iya tadi dari sini, dan pulang gara-gara anak ini." Ujar Pandu sambil menunjuk Rayhan dengan dagunya.

"Serius? Wah langka ini."

"Kenapa emang?" tanya Rayhan penasaran.

"Lo gak tau? kalau lo disukai banyak cewek-cewek di kampus, Vania juga banyak di sukai cowok-cowok di kampus terutama kakak tingkat."

"Terus?"

"Vania tuh vibes–nya kecil, imut, gitu, rasanya pengen ngelindungin aja. Tapi dia cukup penyendiri, kalau gak di kelas, ya di perpus. Dia juga selalu nolak semua cowok yang pernah nembak. Selalu menghindar kalau mau di deketin. Kalau bener dia duduk bareng kalian, itu udah termasuk rekor." Jelas Ali panjang lebar.

Rayhan dan Pandu hanya mendengarkan, tidak terlalu kaget, mereka telah ngalamin sendiri. Vania saja kabur, tak lama setelah mereka datang, walaupun karena ulah Rayhan juga.

"Rayhan juga mungkin gak bakal bisa deketin Vania." Celetuk Ali sedikit mengejek.

Namun, Rayhan merasa tersulut. Ia paling tidak suka jika ada yang meremehkannya dalam bentuk apapun. Apa yang diinginkannya, akan dia usahakan. Dan sejauh ini, ia selalu mendapatkannya.

"Gue bisa." Jawabnya penuh yakin.

"Gak yakin gue, itu cewek susah banget di deketin. Banyak kating yang nyoba juga, enggak pernah ada yang berhasil, tuh."

"Deketin cewek gitu mah gampang, dikasih kado sama perhatian dikit juga nanti kesemsem." Ucap Rayhan meremehkan.

"Kalau lo bisa deketin Vania sampai pacaran, gue joget velocity di tengah lapangan kampus!" Seru Ali.

"Oke, kalau gue gak bisa, si Hummer buat lo." Jawab Rayhan tak mau kalah.

"Mantap, dapet mobil!" Ujar Ali girang.

Mendengar celotehan dua sahabatnya yang mulai salah arah, Pandu mencoba menghentikan ide gila mereka.

"Apa sih, kenapa jadi main taruhan gini," ucap Pandu sedikit kesal.

"Nggak usah lah kalian jadiin perasaan anak orang buat becandaan, buang-buang waktu dan tenaga." Sambungnya lagi.

"Serius gue, Pan. Cewek mana sih yang gak tertarik sama gue?"

Sungguh, Pandu sudah berusaha mengingatkan tindakan Rayhan. Jika suatu saat dia menyesali perbuatannya, Pandu angkat tangan.

"Oke, deal yah!" seru Ali dengan mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Rayhan tanpa pikir panjang.

***

Dalam ruangan berlantai marmer putih, Rayhan duduk di sofa abu-abu dengan elemen kayu di rangkanya. Tangannya sibuk memegang stik game dan matanya fokus menatap layar tv. Suasana malam itu sangat damai, dengan sinar bulan purnama menemaninya. Hingga sesuatu yang membuat fokus bermainnya runyam.

Ting

Notif chat dari Ali masuk, namun Rayhan tak langsung membalasnya, sebab ia sudah tau pasti apa isinya.

"Udah berhasil deketin Vania belum?"

Rayhan melempar ponselnya ke sembarang arah. Malas membalas. Sudah hampir seminggu ini Ali menerornya dengan hal yang sama. Seakan meledeknya, yang sampai sekarang belum bisa mendekati Vania, bahkan sekedar bertemu dengannya saja susah. Seolah mencari jarum di tumpukan jerami, batang hidung Vania tak pernah terlihat. Hingga membuatnya ragu kalau mereka satu Universitas.

"Ray!" terdengar suara wanita melengking memanggil namanya dari lantai atas.

"Ray! Sini!" pinta wanita lain yang tidak kalah melengkingnya.

Rayhan masih terdiam, berpura-pura tidak mendengar.

"Rayhan!" kini kedua wanita itu melolong bersamaan, hingga membuatnya bergidik ngeri.

Takut terjadi perang dunia ketiga, ia pun naik ke lantai atas menemui kedua kakak perempuannya yang berada di kamar.

"Rayhan menghadap pada nyonya Elsa dan nyonya Elma." Sapanya datar, badannya membungkuk seperti seorang pelayan.

"Lama banget sih lo, di panggil dari tadi juga." Ujar Elsa, kakak pertama Rayhan yang duduk di atas kasur dengan santai. Di sampingnya ada Elma—kembaran Elsa sekaligus kakak kedua Rayhan, ikut mengamati dengan ekspresi menyebalkan khas mereka.

"Iya iya, ini gue udah dateng. Kenapa?"

"Beliin pembalut dong, gue lupa stoknya udah habis."  Perintah Elma dengan entengnya.

Rayhan memijit pelipisnya, perintah tidak masuk akal itu sukses membuatnya menahan amarah yang sudah tertahan di tenggorokan. Ingin rasanya ia mengumpat di hadapan kedua kakaknya itu, namun tentu saja ia tidak berani melakukannya.

"Beli sendiri lah, kalau nggak online atau suruh Bi Ijah yang beli." Protes Rayhan mencoba negosiasi.

"Lo lupa Bi Ijah lagi cuti karena anaknya melahirkan. Beli online lama, kita butuhnya sekarang." Jawab Elsa.

"Kita lagi PMS, lo mau kita ngamuk apa gimana? Lagian fungsi lo di rumah buat apa kalau bukan biat disuruh?" Ujar Elma yang kini sudah berkacak pinggang.

Merasa negosiasinya telah gagal, Rayhan memilih menerima dua lembar uang merah dari Elsa. Daripada dia harus mendengar wejangan dari kedua kakaknya yang sedang mode galak. Rayhan memilih pergi menuruti apa mau mereka.

"Beli berapa?" tanya Rayhan dengan setengah hati.

"Empat pack." Jawab Elma singkat.

"Jangan lupa yang ada sayapnya!" imbuh Elsa mengingatkan.

Rayhan mengangguk pasrah lalu pergi membeli pembalut bersayap untuk kedua kakak tercintanya. Supaya bisa terbang bebas, tanpa harus terus-terusan menjadikannya  sebagai pesuruh di rumah ini. Aamiin.

Sebelum memasuki minimarket dekat perumahan tempat tinggalnya, ia menutup kepalanya dengan hoodie. Sekedar jaga-jaga, kalau ada yang melihatnya membeli keperluan pribadi wanita lalu menganggapnya mesum.

Saat sedang memilih pembalut bersayap, tak sengaja ia berhadapan dengan seorang gadis. Mata bulat itu sedang menatap lemari pendingin berisi berbagai jenis minuman. Jemari lentiknya mengetuk bibir mungil, seolah bimbang harus membeli apa. Gadis yang selama ini ia cari-cari, kini berdiri tepat di hadapannya—Vania Celesstine.

"Vania, hai. Lagi belanja juga?" sapa Rayhan berusaha ramah.

Namun, Vania mengernyitkan dahi, seperti mencoba mengingat siapa pria tinggi yang kini berdiri dihadapannya. Akan tetapi, tidak ada satupun nama yang terlintas di benaknya.

"Siapa?"

.

.

.

.

1
@dadan_kusuma89
Silakan, Rayhan. Bawalah pergi Vania kemanapun kau mau. Jangan kau lukai dia ya!
MARDONI
Lah ini ketemuannya malah di minimarket sambil beli pembalut 😭😭 nasib Rayhan kok gini amat tapi justru bikin seru. Dari ribut rumah ke momen tak terduga, alurnya ngalir ringan tapi bikin penasaran
MARDONI
RAYHAN 😭😭 ini level percaya dirinya udah nggak ketolong. Bikin kesel tapi ngakak, tipikal karakter yang baru muncul dikit aja langsung nyedot perhatian. Dinamika Rayhan dan Pandu berisik tapi
MARDONI
KETAWA 😭 Vania tuh tipe yang polos tapi nyeletuknya mematikan. Rayhan udah kepedean dari tadi, sekali disambar kalimat ini langsung KO
MARDONI
Interaksi mereka gemas banget di sini 😆 kalah game berujung kepang rambut, rasanya ringan tapi hidup. Dinamika Vania Dan Okta langsung kebayang tanpa perlu dijelasin panjang-panjang.
Alyanceyoumee
🤣 kita sama an hey. Aku paling siaga tutup telinga kalo nonton horor. secara mata mah bisa nutup sendiri kalo takut. lah telinga? gimana nutup sendirinya haha
Alyanceyoumee
alasan sambil apa gitu kan ya Rey 🤭
Athena
mgkn stlh plng dr sini hahaha
Athena
mknya km jg cepet sat set gtu jgn bnyk mikir
Nuri_cha
Rayhan beneran jadi stalker 🤣
Nuri_cha
curiga, kalau Jalu juga suka sama vania
Nuri_cha
cieee Jalu masih inget kue kesukaan Vania.. cie cie cie
Nuri_cha
panjang umur bgt ya si Jalu... baru aja diomongin dah lgsg nongol aja
Nuri_cha
memang makan manis tuh paling mood booster bgt, Krn dia ngebantu ngeluarin endorfin, hormon kebahagiaan
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
ngaku Vania, jika ig itu Okta yang mengang. 🤭
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
Bisa ya gini? udah kayak emak-emak aja kamu okta. bedanya emak-emak buat IG untuk anaknya /Chuckle/
Xlyzy
hahaha iya itu ada yang niup niup itu ray 🤣
Xlyzy
hayu lah ada awas loh itu ada temen nya kamu ga sendiri di rumah
Xlyzy
jalan jalan keliling cari makanan enak tuh sekalian terakhir ya
Alyanceyoumee
definisi jodoh udah ini mah lah 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!