Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.
Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.
Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.
"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.
"Kau adalah milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Dituduh Mencuri
Sora jatuh terduduk karena terlalu terkesima dengan pemandangan yang ada didepannya.
Sora tidak memperhatikan jalan dengan benar. Dia menabrak sekumpulan wanita yang memakai pakaian cantik dan terlihat mewah.
"Kau tidak punya mata ya!" marahnya.
Seorang wanita berambut merah dan mata berwarna hijau itu menatap Sora dengan sinis.
"Nona gaunmu kotor." timpal seorang wanita di belakangnya.
"Apa? Ini adalah gaun yang baru aku beli."
keluh wanita itu.
Sora melihat ada noda kecil karena terkena cipratan tanah. Nodanya kecil sekali tapi wanita itu bersikap seperti itu adalah noda besar.
Sora langsung bangkit, membersihkan bajunya dari debu dan membungkuk meminta maaf.
"Maafkan aku."
"Apa dengan minta maaf saja bisa memperbaiki gaunku. Kau tau berapa mahal harga gaunku ini. Jika kau bekerja seumur hidup pun tidak akan bisa membelinya." ucapnya sambil meremehkan.
Matanya menatap Sora dengan tajam, alisnya mengkerut. Darahnya memanas. la terlihat sangat marah.
Sora hanya terdiam. Jika dilihat gaun itu memang terlihat mahal. Mungkin terbuat dari bahan yang berkualitas. Apalagi saat ini dia tidak memiliki uang sama sekali. Ia memang tidak akan bisa memberikan uang ganti rugi.
"Lihat, nona. Pakaiannya terlihat aneh. Mungkin dia bukan orang sini." ujar seorang dibelakangnya.
"Benar. Pakaian itu terlihat aneh. Aku dengar baru-baru ini orang pulau berdatangan ke kota. Mungkin dia salah satunya." sahut yang lainnya.
Wanita berambut merah itu melemparkan pandangannya ke arah Sora. Memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pandangannya terlihat jijik.
"Sudahlah, nona. Untuk apa berurusan dengan orang rendahan sepertinya. Bikin sakit mata saja." sindir wanita lainnya.
"Benar, Bukankah kita harus segera pergi ke teater. Kita bisa terlambat." timpal yang lainnya.
Sora melihat 5 orang wanita yang berdiri dibelakang wanita berambut merah. Ketiga wanita itu memakai gaun yang mahal juga. 2 orang lainnya memakai pakaian yang lebih simpel. Sepertinya 2 orang itu pelayannya.
"Kau benar. Kau beruntung karena aku sedang sibuk." tuturnya. "Ayo kita pergi."
Wanita itu melangkahkan kakinya, berjalan pergi meninggalkan Sora diikuti 5 orang dibelakangnya. Mereka terlihat seperti seekor anak bebek yang mengikuti induknya.
"Gadis Pulau?" gumam Sora.
Sora kembali memperhatikan pakaiannya, mereka mengatakan pakaiannya aneh dan kemungkinan dia berasal dari pulau.
"Pulau? Pulau apa yang dimaksud?"
Sora berfikir untuk mencari tahu maksud dari perkataan para wanita itu. Tapi hal pertama yang harus dia lakukan adalah memikirkan cara untuk bertahan hidup disini. Ia tidak tau sedang ada dimana mungkin dunia lain tapi jika mau berusaha pasti ada hal yang bisa dia lakukan.
Hal pertama yang harus Sora lakukan adalah mencari pekerjaan. Jika memiliki uang dia tidak perlu pusing mencari tempat tinggal ataupun makan.
"Semangat! Aku pasti bisa melakukannya." ujarnya menyemangati dirinya.
...****************...
"Tunggu!" teriak gadis berambut merah yang belum berjalan terlalu jauh.
"Ada apa, nona?"
"Gelangku hilang?!" Wajahnya terlihat panik karena mendapati gelang ditangannya yang kosong.
"Gelang itu sangat berharga. Gelang itu pemberian tunanganku." ujarnya.
"Mungkin tertinggal di kamar nona." ujar pelayannya.
"Tidak! Aku yakin aku memakainya hari ini." kekehnya.
Semua orang mencari-cari keberadaan gelang itu. Mereka berfikir mungkin terjatuh disekitar.
"Tunggu!" Henti salah satu wanita lainnya. "Mungkin gadis pulau itu mencurinya. Dia sengaja menabrakmu untuk mengambil gelangmu." tuduhnya.
"Kau benar." setujunya. "Berhenti kau, Gadis Pulau." hentinya.
Dua orang wanita berlari kearah Sora dan menahan kedua tangannya.
"Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Sora memberontak.
Sora tidak mengerti apa yang diinginkan mereka. Bukankah masalah gaunnya sudah selesai. Tapi kenapa sekarang mereka menahannya.
"Kurang ajar!"
Wanita berambut merah itu menampar pipi Sora. Tamparannya sangat kuat membuat pipinya menjadi merah dan membuatnya terluka karena terkena kukunya.
"Dasar pencuri! Kembalikan gelangku!" tuduhnya.
"Gelang? Gelang apa yang anda maksud?"
Sora tidak mengerti gelang apa yang dimaksud wanita itu hingga membuatnya sangat marah.
"Jangan belagak bodoh. Aku tau kau sudah mencuri gelangku. Kau sengaja menabrakku agar aku bisa lengah dan dengan mudahnya mencurinya."
Sora membantah ucapan wanita itu. "Mencuri? Aku tidak mencuri apapun."
"Geledah gadis itu!" perintahnya.
Dengan kasarnya kedua wanita yang tadi memegangi tangan Sora langsung menggeledah tubuhnya. Merogoh kantung roknya.
"Maaf, Nona. Tidak ada." ujarnya setelah selesai menggeledah dan tidak menemukan apapun.
"Tentu saja tidak ada. karena aku tidak pernah mencurinya." Sora berusaha membela diri.
"Geledah yang benar." Wanita itu tidak percaya.
"Apa mungkin ia sudah memberikan ke temannya?" timpal yang lain.
"Benar. Itu sebabnya kita tidak bisa menemukannya." sahut yang satunya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bawa dia ke kantor keamanan. Kita bisa meminta bantuan penjaga disana."
"Kau benar. Bawa gadis itu."
Mereka menarik tangan Sora, berusaha menyeretnya ke suatu tempat.
"Tunggu. Aku tidak mencuri apapun."
Sora terus memberontak. Ini adalah hal yang tidak adil. Dia baru saja mengalami hal menakutkan semalam tapi sekarang ia harus mengalami hal buruk lainnya.
"Beri Jalan!"
Tiba-tiba datang segerombolan ksatria berbaju zirah datang. Di bagian terdepan terlihat 3 orang yang menunggangi kuda, mengawal sebuah kereta kuda yang tampak mewah.
Keretanya berwarna hitam dengan ukiran emas disekelilingnya. Dibagian pintunya ada sebuah lambang berbentuk ular yang melingkari pedang.
Di bagian belakangnya terlihat para pasukan prajurit membawa pedang dan tombak. Mereka berjalan mengikuti keretanya.
"Beri jalan!"
Semua orang menyingkir dari jalanan.
Berkerumun di tepian sambil bersorak memberi dukungan untuk mereka.
"Hei, bukankah itu kereta kuda milik Jendral Ashley?" ujarnya saat melihat lambang Keluarga di pintu kereta.
"Benar. Itu milik Jendral Ashley." sahutnya "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya."
"Seorang Jendral gagah berani yang sudah memiliki gelar duke sejak umur 15 tahun dan menjadi Jendral dari umur 17 tahun."
"Bukan hanya itu, wajahnya itu sungguh rupawan. Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta dengannya."
Semua orang memuji-muji kehebatan serta ketampanannya dan bersorak-sorak saat keretanya lewat.
Rombongan pasukan itu tiba setelah dari kunjungannya ke istana kerajaan. Mereka adalah pasukan gagah berani yang baru saja berperang di utara. Melawan sekumpulan penyihir hitam yang mengendalikan para monster.
Kehadiran para penyihir hitam sangat
meresahkan. Mereka menyerang para warga tak bersalah, memporak-porandakan desa dengan mengendalikan para monster.
Dengan perintah dari Raja pasukan itu berangkat dari setengah tahun yang lalu dan membunuh para penyihir hitam serta para monster.
"Tunggu, Jendral!"
Tiba-tiba wanita berambut merah menghentikan pasukan itu.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak seorang ksatria berkuda. "Beraninya kau menghentikan kereta milik Jendral!" bentaknya.
"Saya sedang memiliki masalah. Maukah anda membantu masalah saya." ujarnya.
"Jendral sangat sibuk dengan urusannya.
Bagaimana bisa mengurusi hal kecil. Sebaiknya anda meminta bantuan petugas keamanan kota." tukas Ksatria itu.
"Katakan masalah apa yang kau miliki?"
terdengar sahutan dari dalam kereta. Suaranya berat dan tegas. Sora merasa suaranya tak asing didengar.
"Terima kasih karena anda mau mendengarkan masalah saya." ujar wanita itu, lalu berjalan mendekati kereta.
"Berhenti disitu! Jangan mendekat lebih dari itu!"
Sang ksatria turun dari atas kudanya menghentikan langkah wanita itu. Wajah wanita itu terlihat kesal dan memandang tajam ke arahnya ksatria.
"Perkenalkan nama saya Arabella Prison dari Count Prison." salamnya.
"Saya ingin meminta keadilan." ujarnya.
"Keadilan apa yang anda maksud?" sahut suara dari dalam kereta.
"Gadis itu telah mencuri gelang kesayanganku." keluhnya.
Jari telunjuk nya menunjuk ke arah Sora. Wanita ini benar-benar tidak mau mengakui kesalahannya. la tetap menuduhnya padahal tak ada bukti.
"Masalah sepele seperti ini. Kenapa Jendral harus membantumu. Masalah seperti ini petugas keamanan bisa membantumu!" seru sang ksatria.
Terdengar lagi suara dari dalam kereta. "Tak apa. Masalah ini tidak memakan waktu. Aku akan membantumu, nona." ujarnya.
"Bawa gadis itu mendekat!" perintahnya.
Kedua pelayan yang sedari tadi memegangi tangan Sora langsung mendorongnya ke arah kereta. Karena dorongannya terlalu kuat, membuat Sora jatuh terduduk dan melukai lutut kakinya yang membuatnya berdarah.
"Kau!" Sang ksatria menarik tangan Sora.
"Javier! Lepaskan!" hentinya. Volume suaranya meninggi. Ksatria itu langsung melepaskan tangan Sora.
Sekilas Sora melihat bayangan berwarna merah di mata ksatria itu. Sora memperhatikannya lagi tapi saat dia melihatnya matanya masih berwarna hitam.
'Sepertinya itu hanya halusinasiku saja.' batin Sora.
"Apa kau yakin gadis ini yang sudah mencuri barang milikmu?" Suaranya kembali normal. Berat dan tenang.
"Iya aku yakin!" sahut wanita itu.
Sora melirik ke arah kereta. Disela-sela tirainya, dia melihat sepasang bola mata hitam sedang memandanginya. Tatapannya tajam, membuat bulu kuduknya sedikit berdiri. Sora pernah melihat pandangan mata itu.
"Javier!" Panggilnya.
"Bawa gadis itu ke camp. Aku akan mengintrogasi nya sendiri!" perintahnya.
"Baik Jendral!" sahut Javier.
Ksatria itu membantu Sora berdiri, mengajak Sora masuk kedalam kumpulan pasukan prajurit dibelakang kereta.
"Tunggu, Jendral!" Arabella menghentikan keretanya lagi.
"Ada apa lagi?" Javier kembali menghadang Arabella.
"Apakah saya boleh ikut dengan anda."
pintanya. "Karena ini menyangkut barang milik saya, jadi izinkan saya untuk menjadi sanksi. Karena hanya saya yang tahu bagaimana bentuknya." jelasnya.
Terlihat jelas keinginan wanita itu bukanlah gelang itu, melainkan orang yang ada didalam kereta. Wanita itu ingin mendekati Jendral dan berharap bisa menjalin hubungan dengannya. la memanfaatkan kasus ini untuk bisa dekat dengannya.
"Tidak perlu!" tolaknya "Camp pelatihan bukanlah tempat yang cocok untuk wanita terhormat untuk anda." tutur suara dari dalam kereta.
Kekecewaan tampak jelas di wajah wanita itu. Ia mengerutkan alisnya sambil mengepalkan tangannya.
"Anda benar. Saya berterima kasih atas bantuan anda dan berharap anda dapat menemukan gelang saya." jawabnya.
"Javier, Ayo berangkat!"
"Baik!"
Javier naik ke atas kudanya dan kembali
Memimpin rombongan.
Wajah wanita itu masih cemberut. Apa yang diinginkannya tidak terwujud. Sora tertawa kecil.
Entah mengapa itu membuatnya senang bisa melihat wajah marah wanita itu.
Sora berjalan mengikuti rombongan, melewati hiruk pikuk orang-orang yang bersorak menyambut rombongan itu.
Semakin lama rombongan itu menjauh dari keramaian dan berjalan keluar kota. Mereka masuk kedalam hutan di sisi timur. Hutannya tidak begitu lebat, pohon-pohon pinus menjulang tinggi.
Jalanannya sudah ditata rapi sehingga kereta kuda bisa melewatinya dengan mudah.
"Kita mau kemana?" tanya Sora.
"Apakah kau tadi tidak mendengarnya? Kita mau ke camp pelatihan." sahut seorang ksatria yang berdiri disebelahnya.
"Camp pelatihan?"