NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Wanita Besi

Rahasia Sang Wanita Besi

Status: tamat
Genre:Tamat / CEO / Kehidupan di Kantor / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuah

Rahasia Sang Wanita Besi

Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.

Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Benang-Benang Masa Lalu

Malam itu, Adrian Lancaster duduk di kantornya, menatap kosong ke layar laptop yang penuh dengan laporan bisnis. Biasanya, dia bisa dengan mudah menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, tetapi kali ini pikirannya tidak bisa lepas dari satu hal—Evelyn Carter.

Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?

Lucas sudah memberinya informasi bahwa Evelyn pernah terlibat dalam operasi rahasia lima tahun lalu, tetapi tidak ada detail spesifik. Siapa dia sebelum menjadi sekretaris?

Dan lebih penting lagi, mengapa dia meninggalkan kehidupan lamanya?

Adrian menghela napas, lalu menutup laptopnya. Dia meraih ponselnya dan mengetik pesan kepada Lucas.

"Cari tahu lebih dalam tentang operasi rahasia lima tahun lalu yang melibatkan Evelyn. Aku ingin semua detailnya."

Butuh beberapa detik sebelum Lucas membalas.

"Mengerti. Tapi kau yakin ingin masuk terlalu dalam? Ini bisa berbahaya."

Adrian tersenyum tipis. Aku tahu.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak peduli pada risikonya.

Dia ingin tahu segala sesuatu tentang Evelyn Carter.

Sementara itu, di apartemennya, Evelyn Carter berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri.

Matanya yang selalu tampak tajam kini dipenuhi dengan bayangan masa lalu yang kembali mengusiknya.

Damian Rook kembali.

Dia seharusnya tidak pernah muncul lagi. Semua sudah selesai lima tahun lalu. Dia sudah mengubur masa lalunya, meninggalkan semuanya, dan membangun hidup baru.

Menjadi seorang sekretaris mungkin tampak seperti pekerjaan biasa bagi orang lain, tetapi bagi Evelyn, itu adalah kebebasan.

Dia tidak lagi harus melihat darah, tidak lagi harus berlari dalam kegelapan, tidak lagi harus membunuh.

Tetapi Damian muncul dan mengingatkannya bahwa dia tidak bisa lari dari masa lalunya.

Pikirannya melayang ke operasi terakhir mereka. Misi yang gagal.

Seseorang mengkhianati mereka.

Dan Evelyn hampir mati karena itu.

Dia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu.

Sekarang bukan waktunya untuk mengingat masa lalu. Dia harus tetap fokus pada pekerjaannya. Adrian Lancaster tidak boleh tahu.

Lalu, ponselnya bergetar.

Dia mengambilnya dan melihat nama di layar: Damian.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Dia tidak ingin mengangkatnya, tetapi dia tahu jika dia mengabaikannya, Damian hanya akan semakin mendesaknya.

Akhirnya, dengan napas panjang, dia menekan tombol jawab.

“Apa yang kau inginkan, Damian?”

Di ujung telepon, suara Damian terdengar tenang, tetapi ada ketegangan di baliknya.

“Kau tahu aku tidak akan datang tanpa alasan. Kita harus bicara.”

Evelyn mengepalkan tangannya. “Kita tidak punya urusan lagi. Aku sudah keluar.”

“Tapi masa lalumu belum selesai, Evelyn. Ada seseorang yang mencarimu.”

Napas Evelyn tertahan. “Siapa?”

Damian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Orang yang mengkhianati kita.”

Evelyn membeku.

Lima tahun lalu, ada seseorang yang menjebak tim mereka dalam misi terakhir. Akibatnya, hampir semua anggota tim terbunuh—hanya dia dan Damian yang berhasil bertahan.

Si pengkhianat itu hilang begitu saja.

Dan sekarang, dia kembali?

Evelyn menggigit bibirnya. “Aku tidak ingin terlibat lagi.”

“Kau tidak punya pilihan, Evelyn. Dia tahu kau masih hidup, dan dia akan mencarimu.”

Sebuah keheningan panjang mengisi udara.

Akhirnya, Damian berkata, “Temui aku besok malam. Ada sesuatu yang harus kau lihat.”

Lalu, telepon terputus.

Evelyn berdiri diam, masih memegang ponselnya.

Dia tahu dia tidak bisa mengabaikan ini.

Tetapi yang lebih buruk dari itu adalah…

Bagaimana jika Adrian Lancaster ikut terseret ke dalam semua ini?

Keesokan harinya, Adrian memperhatikan Evelyn dengan lebih cermat.

Wanita itu tampak seperti biasa—tenang, profesional, dan selalu efisien dalam pekerjaannya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Matanya tidak setajam biasanya. Seolah-olah dia memikirkan sesuatu yang mengganggunya.

Adrian tahu ada sesuatu yang salah.

Saat makan siang, dia memutuskan untuk mengajaknya berbicara.

"Evelyn, ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyanya langsung.

Evelyn terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak, Tuan Lancaster. Saya baik-baik saja."

Adrian menatapnya tajam. "Kau tahu kau bisa memberitahuku jika ada masalah, kan?"

Untuk sesaat, dia melihat keraguan di mata Evelyn.

Tetapi kemudian, wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu. Terima kasih atas perhatian Anda."

Namun, Adrian tahu dia berbohong.

Dan dia bertekad untuk mencari tahu kebenarannya.

---

Malam itu, Lucas akhirnya mengirim laporan terbaru padanya.

"Aku menemukan sesuatu yang menarik. Evelyn Carter bukan hanya mantan agen biasa. Lima tahun lalu, dia terlibat dalam misi berbahaya yang menyebabkan kematian banyak agen. Misinya melibatkan pengkhianatan dari dalam. Seseorang di timnya menjebak mereka, dan hanya dia serta satu orang lain yang selamat."

Adrian membaca laporan itu dengan ekspresi serius.

Lucas melanjutkan, "Dan sekarang, pengkhianat itu sepertinya kembali."

Adrian mendongak.

Jadi ini alasan Evelyn tampak gelisah?

Jika pengkhianat itu masih hidup dan sedang mencari Evelyn…

Maka itu berarti Evelyn dalam bahaya.

Dan jika Evelyn dalam bahaya…

Maka dia tidak akan membiarkannya menghadapi ini sendirian.

Adrian memejamkan mata sejenak, lalu bangkit dari kursinya.

Dia harus mencari Evelyn.

Dan dia harus memastikan bahwa wanita itu tetap hidup.

.

.

Adrian melangkah keluar dari kantornya dengan langkah cepat. Langit malam yang gelap dan dingin tidak menghentikannya. Ada satu tujuan dalam pikirannya—Evelyn.

Dia tidak tahu apakah wanita itu masih di apartemennya atau tidak, tetapi dia tidak bisa menunggu. Dia harus bertindak sekarang sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Saat dia memasuki mobilnya, ponselnya bergetar. Lucas.

Adrian langsung menjawab.

“Apa yang kau temukan?”

Suara Lucas terdengar sedikit tegang. “Aku menelusuri lebih dalam tentang operasi lima tahun lalu. Dan aku menemukan sesuatu yang mungkin tidak ingin kau dengar.”

Adrian menggenggam kemudinya erat-erat. “Katakan saja.”

Lucas menghela napas. “Pengkhianat yang menghancurkan tim Evelyn… tidak hanya ingin menghabisinya lima tahun lalu, tetapi juga masih terus mencarinya hingga sekarang.”

Adrian mengepalkan rahangnya.

“Siapa orang itu?”

Lucas terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kami belum tahu pasti siapa identitasnya. Tapi ada satu hal yang bisa kupastikan—Evelyn tidak hanya menjadi target. Dia adalah satu-satunya saksi yang masih hidup dari pengkhianatan itu. Jika pengkhianat itu kembali, maka nyawanya dalam bahaya besar.”

Adrian tidak ragu lagi. Dia menyalakan mobilnya dan melaju ke apartemen Evelyn.

Di dalam apartemennya, Evelyn berdiri di depan jendela besar, memandangi cahaya kota yang berkelap-kelip.

Pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan buruk.

Damian mengatakan bahwa pengkhianat itu kembali. Tetapi siapa?

Dia telah mencoba melupakan semua itu. Mencoba hidup normal. Tetapi masa lalunya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Dia menutup matanya sejenak, lalu menghela napas panjang.

Tidak ada gunanya melarikan diri.

Kalau memang seseorang mengincarnya, maka dia harus bersiap.

Dia berjalan menuju lemari pakaian dan membuka laci paling bawah. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan pakaian biasa, ada sebuah kotak logam kecil.

Evelyn mengangkatnya dan membukanya perlahan.

Di dalamnya, ada sebuah pistol kecil berwarna hitam.

Sentuhan dinginnya terasa familiar di tangannya.

Sementara jari-jarinya melingkar di sekitar gagangnya, suara ketukan di pintu menginterupsi pikirannya.

Siapa itu?

Jantungnya berdegup cepat. Dia tidak pernah menerima tamu. Dan setelah telepon dari Damian, dia tidak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa ini bisa saja jebakan.

Dengan hati-hati, dia mengambil pistolnya, lalu berjalan mendekati pintu. Dia mengintip melalui lubang intip dan melihat Adrian Lancaster berdiri di sana.

Kejutan menyelimuti dirinya.

Apa yang dia lakukan di sini?

Evelyn menghela napas sebelum akhirnya membuka pintu.

"Tuan Lancaster? Apa yang Anda lakukan di sini?"

Adrian menatapnya dalam. "Kita perlu bicara."

Evelyn mempersilakan Adrian masuk. Dia menutup pintu di belakangnya, tetapi tidak pernah melepaskan pistol yang masih disembunyikannya di balik tubuhnya.

Adrian memperhatikan sekeliling apartemen Evelyn. Tempat itu bersih, rapi, tetapi… terlalu kosong.

Tidak ada hiasan pribadi, tidak ada foto keluarga, tidak ada yang benar-benar mencerminkan kepribadian pemiliknya.

Seolah-olah ini hanya tempat singgah sementara, bukan rumah.

Dia berbalik dan menatap Evelyn yang masih berdiri di dekat pintu, sorot matanya tajam, seolah siap menyerang kapan saja.

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Evelyn."

Evelyn tidak menunjukkan ekspresi. "Saya tidak mengerti maksud Anda."

Adrian menyilangkan lengannya. "Aku tahu tentang masa lalumu."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Evelyn berubah.

Matanya sedikit membesar, dan meskipun dia segera kembali memasang wajah tanpa ekspresi, Adrian sudah melihat cukup banyak untuk tahu bahwa dia telah menyentuh titik sensitifnya.

Evelyn menelan ludahnya, lalu berkata dengan suara datar, "Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan."

Adrian mendekatinya perlahan.

"Lima tahun lalu, kau adalah bagian dari operasi rahasia yang gagal. Seseorang mengkhianatimu. Dan sekarang, orang itu kembali."

Tangan Evelyn menegang di balik tubuhnya.

Dia tahu Adrian cerdas, tetapi tidak menyangka dia bisa mengungkap begitu banyak dalam waktu sesingkat itu.

"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau tahu semua itu," katanya akhirnya. "Tetapi itu bukan urusan Anda."

"Salah." Suara Adrian dingin. "Sekarang itu urusanku. Karena seseorang mengincarmu, dan aku tidak akan membiarkan orang itu menyentuhmu."

Mata Evelyn menatapnya, penuh dengan emosi yang sulit diartikan.

"Mengapa Anda peduli?" tanyanya akhirnya.

Adrian menatap langsung ke dalam matanya.

"Karena aku tidak akan membiarkan seseorang yang berarti bagiku terluka."

Kata-kata itu membuat Evelyn membeku.

Seseorang yang berarti baginya?

Evelyn bukan orang yang mudah terkejut, tetapi saat itu, dia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan.

Tetapi sebelum dia bisa merespons, ponselnya bergetar.

Dia melirik layar. Damian.

Adrian melihat reaksi Evelyn dan menyadari ada sesuatu yang salah.

"Siapa itu?"

Evelyn menatapnya tajam. "Ini bukan urusan Anda, Tuan Lancaster."

Adrian tidak membiarkan jawabannya begitu saja.

"Kalau itu tidak penting, kenapa kau tampak begitu tegang?"

Evelyn mengabaikannya dan akhirnya mengangkat teleponnya.

"Katakan, Damian."

Suara di ujung telepon terdengar tegang.

"Evelyn, kau harus pergi sekarang juga. Mereka menemuk—"

DOR!

Suara tembakan menggema dari telepon.

Evelyn membelalakkan matanya.

"Damian? Damian?!"

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menegangkan.

Evelyn menggenggam ponselnya erat-erat.

Dan Adrian melihat sesuatu yang jarang dia lihat dalam mata wanita itu—

Ketakutan.

Dia tahu saat itu juga—apa pun yang sedang terjadi, ini jauh lebih besar daripada yang ia duga.

"Kita harus pergi sekarang."

Evelyn mengangguk tanpa banyak bicara.

Untuk pertama kalinya, dia tidak menolak bantuan Adrian.

Karena dia tahu—

Musuhnya akhirnya menemukan dirinya.

---

1
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa tuh sosok yang bertopeng apakah dia suruhan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
bnr selesai aja misi nya baru deh nanti bicara soal perasaan 🤭
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
pasti kalian bisa menghancurkan musuh² itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
meskipun Leo udh ditahan masih aja ada musuh lain yang mau mengalahkan lyn dan teman² nya,
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
hati hati takutnya ada jebakan disana,semoga aja kalian menang melawan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga misi nya berhasil mengalahkan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
JD benar kah lyn itu hasil penelitian dari leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
kapan perang dimulainya udh GK sabar nih melihat lyn dan sopi menghancurkan robot yg dibuat oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga lyn dan sopi bisa mengatasi robot yg digunakan oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
keren ceritanya nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga aja lyn selamat dan bisa keluar dari perangkap nya leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
sebentar lagi perang akan dimulai
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung aja lyn udh keluar dari gedung itu coba kalau TDK pasti udh ketangkep sama Leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
km pasti bisa mengatasi semua ini Evelyn biar rahasia nya tak terbongkar smaa org lain
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
walaupun udh ketangkep pria misterius itu masih aja belum cerita siapa org yg nyuruh mereka buat menghancurkan evelyn
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa org yg sudah mengkhianati nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung ada Adrian JD kau bisa selamat dari musuh itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
Adrian masih penasaran sama sekertaris nya apakah dia akan mencari info lebih dalam
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
ada yang mata²n mereka kah ko Adrian bisa tau.
QueenRaa🌺
Keren banget ceritanya thorr✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!