Hara, gadis perfeksionis yang lebih mengedepankan logika daripada perasaan itu baru saja mengalami putus cinta dan memutuskan bahwa dirinya tidak akan menjalin hubungan lagi, karena menurutnya itu melelahkan.
Kama, lelaki yang menganggap bahwa komitmen dalam sebuah hubungan hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, membuatnya selalu menerapkan friendzone dengan banyak gadis. Dan bertekad tidak akan menjalin hubungan yang serius.
Mereka bertemu dan merasa saling cocok hingga memutuskan bersama dalam ikatan (boy)friendzone. Namun semuanya berubah saat Nael, mantan kekasih Hara memintanya kembali bersama.
Apakah Hara akan tetap dalam (boy)friendzone-nya dengan Kama atau memutuskan kembali pada Nael? Akankah Kama merubah prinsip yang selama ini dia pegang dan memutuskan menjalin hubungan yang serius dengan Hara?Bisakah mereka sama-sama menemukan cinta atau malah berakhir jatuh cinta bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizca Yulianah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Itu Patah Hati?
Hara membuka gembok gerbang kostnya, lalu menggeser kesamping besi tinggi beroda itu untuk membuat jalan agar dia bisa memasukkan motornya ke area parkir. Rutinitas yang sudah 6 tahun dia jalani ini tidak butuh banyak waktu dan bukan hal yang berat, seharusnya.
Tapi tidak bagi orang yang sedang patah hati, jangankan membuka gerbang, tidur pun bisa jadi aktifitas yang menguras tenaga.
Harus repot-repot mengusir bayangan saat masih bersama, harus fokus mengalihkan pikiran saat mulai meratapi dan muncul perasaan "kenapa", harus memeras otak untuk mengingat-ingat dimana letak salahnya, dan masih banyak lagi kegiatan menguras tenaga lainnya saat patah hati.
Setelah membereskan barang-barang dan membersihkan diri, Hara duduk di kursi meja belajarnya. Matanya nanar menatap jurnal hariannya. Melihat kembali setiap jadwal yang sudah dia rencanakan jauh sebelum "hari putus" itu tiba.
Senin, jam 19.30-21.00, me time
Selasa, jam 19.30-21.00, date with Nael
Rabu, jam 19.30-21.00, hang out with friends
Kamis, jam 19.30-21.00, me time
Jum'at, jam 19.30-21.00, hang out with friends
Sabtu, jam 19.30-21.00, date with Nael
Minggu, jam 19.30-21.00, decluttering
Rentetan jadwal harian di buku jurnalnya sudah terisi sampai 3 bulan ke depan, rapi terencana. Hara bahkan sudah merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan saat ngedate, apakah menonton bioskop, makan malam bersama, atau hanya sekedar jalan-jalan mengitari mall sebagai ganti pemenuh langkah harian yang kurang.
Tapi yang namanya manusia hanya bisa merencanakan, hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.
Rencana yang menurut Hara tidak akan meleset itu nyatanya berantakan. Sepanjang pengalamannya membuat prediksi rencana, baru kali ini dia tidak menyiapkan plan B.
Tapi plan B apa yang akan disiapkan saat pacaran? Apa punya pacar cadangan? Lagi pula mana ada orang yang berpikir putus saat mulai sebuah hubungan. Semua pasti berusaha agar hubungannya berjalan selamanya.
Orang gila mana yang berpikir tentang punya pacar cadangan? Hara bergidik ngeri membayangkannya.
Hara yang terorganisir selalu membuat rencana cadangan untuk apapun itu, entah jadwal belajar, jadwal pekerjaan, atau bahkan jadwal kegiatannya saat me time. Dan tidak pernah sekalipun jadwal itu berantakan.
Hara membuka lembar kosong dalam jurnalnya dan mulai menulis,
Apa itu patah hati?
Dia mengetuk-ngetukkan pena yang di pegangnya ke meja. Berpikir keras. Dia mencoba mendeskripsikan perasaannya saat ini, marah, sedih, kecewa, atau merasa gagal?
Kehidupan Hara yang rumit, bahkan untuk memvalidasi patah hatinya saja dia harus mengklasifikasikan perasaannya terlebih dulu.
Marah. Karena apa?
Sedih. Karena apa?
Kecewa. Karena apa?
Gagal. Karena apa?
Tulisnya kemudian, PR yang harus diisinya ini setidaknya mampu mengalihkan perasaan-perasaan negatifnya yang muncul pasca putus dari Nael. Sakit hati yang positif, kalau bisa di tertawakan pasti Hara akan mentertawakan keadaannya saat ini juga.
"Apa gue harus periksa dulu ke RSJ ya?" Oceh Hara pada dirinya sendiri.
Dia mengingat kembali ke kejadian 3 hari yang lalu. Saat dirinya meratapi kesedihannya di bilik toilet sepulang jam kerja. Menangis meringkuk, yang dia kira akan bertahan beberapa jam. Tapi nyatanya, baru lima menit dia menangis, ponselnya sudah berbunyi.
Ibu Manager Inggar
Buru-buru Hara menggeser tombol hijau di layarnya agar panggilan itu tersambung.
"Hara, maaf menganggu, kamu sudah pulang?" Tanya bu Inggar buru-buru, dari latar suara di belakangnya, Hara tau bu Inggar sudah di dalam mobilnya dan mungkin sudah dalam perjalanan pulang.
"Ini saya masih ada di kantor bu, sedang ada di toilet" Jawab Hara detail. Harusnya bagian toilet di coret saja, tapi dasar Hara yang terlalu detail, bahkan informasi pribadi itupun lolos dia beritahukan kepada atasannya. Bersyukur saja dia tidak menambahkan keterangan "sedang menangis karena baru di putus pacar"
"Oh thanks God!" Suara penuh kelegaan keluar dari bu Inggar.
"Hara saya minta maaf, tapi ada berkas-berkas yang tertinggal di meja saya, dan harusnya malam ini file itu di kirim ke klien. Kebetulan hari ini anak saya ada pentas balet di tempat lesnya, bisa tolong kamu urus berkas-berkasnya, dan nanti kirimkan ke klien. Saya minta maaf sekali Hara, tapi ini saya terjebak macet, kalau harus balik ke kantor..." Oceh bu Inggar tanpa jeda. Terdengar suara klakson mobil bersaut-sautan di sela ocehan panjang bu Inggar.
"Iya bu akan saya bereskan" Saut Hara cepat. Hilang sudah rasa ingin menangisnya tergantikan dengan bayangan dirinya akan bekerja lembur dadakan. Otaknya yang sudah terbiasa memetakan rencana-rencana langsung otomatis menyusun apa saja yang harus di kerjakannya agar dirinya tidak pulang terlalu larut malam.
Dan begitulah hari pertama patah hati Hara, dirinya bahkan tidak punya kesempatan menangis, meratapi dan bertanya kenapa semua ini terjadi.
Hara memejamkan matanya dan menghela napas panjang, dia menutup buku jurnalnya. Menyandarkan kepalanya di meja, bertumpu di atas bukunya. Otaknya buntu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu di jawabnya. Gagal mengklasifikasikan perasaannya saat ini.
"Apa gue salah dalam menjalani hidup ya?" Gumam Hara, menatap foto berbingkai yang ada di depannya. Foto wisuda kelulusannya bersama dengan kedua orang tuanya.
Senyum ceria menghiasi ketiga wajah di dalam gambar tersebut, seorang gadis mengenakan toga lengkap dengan karangan bunga dan ijazah bersertifikat magna cumlaude itu terlihat sangat puas dengan hasil yang telah dicapainya.
Hara yang seorang anak mantan TKI di desa kecil mampu menyelesaikan kuliahnya di kota besar sebagai lulusan terbaik, jelas adalah hal yang membanggakan bagi kedua orang tuanya.
Meskipun berat, Hara tidak pernah sekalipun menyerah dan mengeluh dengan keputusan yang telah diambilnya. Saat seluruh keluarga besar menentangnya melanjutkan kuliah dengan dalih "buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya harus di dapur" atau saat dia dihujani pertanyaan menyesakkan tentang "kapan nikah" di acara kumpul-kumpul keluarga beserta dengan drama lanjutan "si anu temanmu SD aja udah punya anak" atau adegan yang lebih kejam "perempuan umur segini kok belum nikah, nanti keburu jadi perawan tua loh, nggak ada yang mau gimana?" semua itu berhasil di lalui Hara dengan pembuktiannya saat ini.
"Apa gue gak cocok dengan yang namanya pacaran ya? Apa gue bisa nikah ya? Kalau pacaran aja semelelahkan ini, gimana kehidupan nikah ya?" Hara kembali menggumamkan isi pikirannya.
Si gadis perfeksionis dan logis dari desa kecil ini pun tertidur setelah lelah dengan pikirannya sendiri.
...----------------...
Plash! Sebuah siraman air tepat di depan wajah laki-laki berkaos hitam itu membuat orang-orang di sekitar menoleh.
Sebagian takut-takut melirik, sebagian tidak punya empati dan dengan sangat jelas melihat kejadian itu untuk mereka nikmati dramanya, dan sebagian lagi acuh tak acuh karena itu bukan urusan mereka.
Food court di salah satu mall terbesar di kota itu selalu ramai pengunjung, tak peduli weekday atau weekend.
Dan salah satu peramainya adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang saat ini tengah terlibat adegan penyiraman tersebut.
"Apa kamu bilang? Kita nggak pacaran?" Teriak seorang perempuan yang membuat mata orang-orang sekitar melihat ke arah mereka.
Laki-laki yang menjadi korban penyiraman air itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan sapu tangan dan terlihat tidak ingin memperpanjang masalah ini dengan menanggapi histeria si wanita.
"Gila lo ya, gue udah habis-habisan sama lo dan lo bilang kita gak pacaran?" Cecarnya kembali penuh amarah.
"Terus selama ini kita apa, gue panggil sayang lo juga panggil gue sayang, kita ngedate, kita nonton bareng, bahkan kita..." Kejarnya masih tidak terima. Suaranya yang melengking semakin membuat orang-orang tertarik dengan kelanjutan drama percintaan anak muda jaman sekarang.
Perempuan yang masih diliputi amarah dengan napas terengah-engah itu menatap satu lagi gelas yang tersisa. Yang masih penuh dengan cairan berwarna mokka.
Si laki-laki yang tau bahwa akan ada tragedi penyiraman session 2 itupun buru-buru mengamankan gelas yang ada di hadapannya. Dengan kecepatan tangan yang gesit, dia meraih gelas itu dan meneguk habis isinya. Menyisakan sedikit cairan didalamnya yang menurut kalkulasi perhitungannya tidak akan bisa di siramkan kepada siapapun dalam radius jarak di atas 50 cm.
"Dasar cowok brengsek, bejat, sialan..." Berbagai ucapan sumpah serapah berisi deretan nama-nama penghuni kebun binatang itupun di lontarkan tanpa jeda oleh cewek yang sedang sakit hati tersebut.
Namun tak satupun dari makian itu yang terbalaskan, si cowok hanya menatapnya dengan santai seakan kejadian ini sudah dalam prediksinya.
Setelah beberapa menit mengabsen seluruh nama binatang yang dia tau, si cewek itupun pergi dengan amarah yang masih membara, layaknya cewek-cewek di kota besar, yang berani dan tak malu menjadi pusat perhatian. Meninggalkan si cowok yang masih konsisten memasang ekspresi santainya.
Tak sedikitpun raut menyesal, malu atau marah tergambar di wajahnya yang bisa di bilang di atas rata-rata. Ganteng mempesona.
Dia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang bergetar. Sebuah nama yang muncul di layarnya membuat sebuah senyuman di wajahnya.
"Hahaha...." Suara tawa terpingkal-pingkal langsung menyambutnya begitu dia menjawab panggilan tersebut.
"Kama si donjuan akhirnya mendapat lawan setimpal" Kembali suara itu mengejek dengan intonasi layaknya komentator sepak bola.
"Sialan lo" Balas Kama santai seolah ejekan itu sudah seperti bubur ayam sarapannya di pagi hari, biasa saja.
"Sumpah deh baru kali ini gue lihat yang beginian, gue kira adegan begitu cuma ada di sinetron sinetron" Lagi-lagi belum puas, dia melanjutkan komentarnya atas kejadian yang baru saja menimpa temannya itu.
"Udah deh gak usah banyak bacot, lu dimana sekarang, buruan kesini" Pungkas Kama dan kemudian menutup sambungan teleponnya.
Tak selang berapa lama, si penelepon itupun sudah muncul di depan Kama, masih dengan tawa terpingkal-pingkalnya.
"Gila si Kaira, ganas banget jadi cewek" Masih setia dengan tawanya dia mengomentari gadis yang baru saja pergi setelah menyiram temannya itu dengan air.
"Untung aja bukan gue yang pedekate-in dia" lanjutnya setelah tawanya sedikit mereda.
"Pede banget lo, lagian memang Kaira-nya yang kagak doyan sama lo" Jawab Kama balas meledek Rio, teman yang sedari tadi ikut menyaksikan siaran langsung drama percintaannya.
"Lagian sih lo, semua cewek di friendzone-in, semua cewek di HTS-in, dipanggil sayang tapi nggak diajak pacaran" Rio mengusap air mata akibat tawa yang terpingkal-pingkal itu.
"Ya abis mau gimana lagi, gue nggak bisa klik sama mereka, gimana ya, bukan taste yang gue cari" Jawab Kama enteng.
"Gaya lo pake ngomongi taste segala, bilang aja lo itu nggak mau berkomitmen, lo itu nggak mau terikat" Cibir Rio balik mematahkan argumen Kama.
Yang di tuduh cuma bisa nyengir-nyengir santai, tidak mau terlalu ambil pusing untuk urusan percintaan begini.
Baginya hubungan yang terikat itu melelahkan, asal suka sama suka apapun bisa di lakukan. Nonton bareng, ngedate, bahkan sex, semua bisa. Tak perlu repot-repot deklarasi dibawah kata pacaran. Saat sudah bosan dan tidak lagi sejalan ya tinggal pergi saja. Tak perlu repot melalui tahapan bertengkar, lalu kemudian putus. Tak perlu repot merasakan yang namanya sakit hati, patah hati atau apalah sebutan lainnya.
Apa itu patah hati? Lelucon konyol.
Begitulah kiranya isi pikiran Kama, si paling anti dengan yang namanya komitmen.
"Terus sekarang gimana? Kaira udah selesai, terus besok siapa lagi?" Tanya Rio.
"Yang paling ganas sih Kaira, lainnya mah gampang, tinggal bilang aja gue sibuk terus menjauh menghilang, beres" Jawab Kama santai, sembari melihat daftar kontak di ponselnya, menghapus nama Kaira setelah memblokirnya terlebih dahulu. Dan di bawah nama Kaira masih banyak berderet-deret nama perempuan yang akan menjadi tugasnya mulai besok, menghilang.
"Terus kapan lo mau ngehubungin cewek yang namanya Hara itu?" Tanya Rio yang mulai asik dengan ponselnya juga.
"Besok mungkin" Jawab Kama asal.
Kama kembali memeriksa nama Hara, perempuan yang membuatnya merasakan sedikit taste yang dia cari selama ini.
Cinta pada pandangan pertama.
Dia ingin memastikan apakah taste yang dia rasakan ini hanya keinginan sesaat seperti sebelum-sebelumnya atau memang ada sesuatu yang lain.
Friendzone atau malah boyfriendzone?
Senyum Kama diliputi buncahan adrenalin yang memicu detak jantungnya.
Baru kali ini dia melihat seorang gadis yang sama sekali tidak tertarik padanya. Jangankan tersipu malu karena pesonanya, gadis itu malah sibuk merubah warna wajah dan ekspresinya hanya karena sebuah SIM.
Umumnya para gadis memiliki fantasi dengan cowok berseragam, selama ini dia meyakini hal itu. Sepanjang karirnya menjadi playboy, belum pernah ada gadis yang tidak takluk dengan pesonanya.
Pesona cowok berseragam, saat SMA sekolahnya memiliki seragam khusus yang berbeda dari sekolah-sekolah lainnya, membuatnya terlihat apik dan sangat pas dengan stylenya.
Lalu saat dia menjadi anggota paskibraka, seragam itupun semakin membuatnya digilai para cewek, hanya bermodalkan foto profil dengan mengenakan seragam itu, setiap cewek yang menerima DM-nya tidak pernah tidak membalas.
Dan puncaknya adalah saat dia berhasil mendapatkan seragam kebanggaannya. Seragam yang setiap hari dia kenakan untuk berkerja. Buktinya setiap kali menjadi petugas operasi gabungan, para ceweklah yang selalu saja antri meminta nomornya. Entah beralasan untuk mengurus kelanjutan tilang mereka, atau hal-hal administratif kenegaraan lainnya yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya.
Dan inti dari semua itu adalah pesona cowok berseragam.
Ananta Hara.
Gumam Kama lirih, bahkan namanya saja terasa menggelitik lidahnya, aneh tapi nyaman diucapkan.
kasih kesempatan sama Kama dong,buat taklukkin Hara😁😁
menjaga pujaan hati jangan sampai di bawa lari cowok lain🤣🤣🤣
Nggak kuat aku lihat Kama tersiksa sama Hara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku bakalan nungguin kamu yang bucin duluan sama Hara😁😁😁
tiba-tiba banget Pak Polici kirim buket bunga pagi' 😁😁😁😁😁
tapi kenapa tiba-tiba Hara telp ya????