NovelToon NovelToon
Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Status: tamat
Genre:Romansa / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

"Menjadi prajurit butuh perjuangan, butuh pengorbanan. Berjuang untuk bumi tempat berpijak, demi setiap tarikan udara yang kita hirup dan demi orang-orang tercinta beserta kedaulatan. Berkorban, mengorbankan segala yang kita miliki sekalipun sebuah sumpah setia di ujung senapan."

~Teuku Al-Fath Ananta~

"Aku tak akan membuat pilihan antara aku atau bumi pertiwi, karena jelas keduanya memiliki tempat tersendiri di hatimu. Jadilah sang garuda meski sumpah setia kau pertaruhkan diujung senapan."

~Faranisa Danita~

Gimana jadinya kalo si sarjana desain grafis yang urakan dan tak suka pada setiap jengkal tanah yang ia pijaki bertemu dengan seorang prajurit komando pasukan khusus nan patriotisme dalam sebuah insiden tak terduga, apakah mereka akan seirama dan saling memahami satu sama lain, dalam menjejaki setiap jalanan yang akan mereka lalui ke depannya di belahan bumi pertiwi ini? Ikuti kisahnya disini yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHIDUPAN TAK SEINDAH SURGA

Hanya menempuh perjalanan 2 jam lebih melewati tol, Al Fath sampai di ibukota.

Sebagai tujuan utama, mobil dinas berplat merah itu memasuki Markas Besar Komando, dilewatinya sebuah gerbang dengan ciri khas kehijauan dan lambang elite khusus.

Mobil terhenti tepat disana, dihirupnya udara pagi menuju siang ibukota yang panas membuat alisnya sedikit mengernyit menghalau teriknya sinar yang sudah tak malu-malu lagi menunjukkan eksistensinya.

Langkah sepatu pantofel sampai di ruangan pemimpin.

"Surat tugas saya," ujarnya memberikan sebuah map, setelah menghormat.

"Wah..wah, akhirnya datang juga. Duduk--duduk Fath, jangan terlalu formal begitu lah." Ramah Jendral pimpinan ini.

Al Fath mengulas senyum kaku selayaknya seorang berwibawa, lalu duduk di sofa coklat yang ada di ruangan, mereka sedikit mengobrol demi mengusir rasa canggung. Desas-desus yang beredar, perwira menengah dengan segudang prestasi ini sebentar lagi akan dipromosikan untuk naik jabatan, setidaknya perwira ini banyak di gandrungi lawan jenis sesama tentara atau bahkan atasan yang ingin menjodohkan putrinya dengan Al Fath.

⚜️ DI BELAHAN PUNGGUNG BUMI YANG LAIN.

"Bujuggg!"

Prankkk!

Grombyang!!

Sesosok tubuh gadis berusia 23 tahun tergelonjak kaget, kelopak mata indah gadis itu sangat sulit terbuka, mungkin eyeliner dan maskara sudah bekerja sama dengan belek untuk kompakan mengelem kelopak matanya. Bahkan sinar mentari yang sudah berkacak pinggang di atas rumah pun tak membuatnya lantas membuka mata. Mungkin jika ibukota tenggelam ia akan ikut hanyut bersama ubur-ubur jadi santapan hiu.

Sebelah matanya ia paksakan terbuka, "apa sih mih? Pagi-pagi udah nambahin kerjaan dokter di rumah sakit, bikin orang punya penyakit jantung koroner," suaranya parau, bukannya bangun ia malah nyungseb lagi bertutupkan bantal. Sebentar lagi ibunya ini akan meledak seperti bom panci demi memarahinya.

"Mamih--mamih, ga usah belaga kaya anak gedongan. Kerja dulu yang bener! Nyak kuliahin lu cape-cape bukan kepengen lu jadi pengangguran!"

Duarrrrrr! Omelan itu setara dengan dentuman bom Hiroshima, tapi gadis itu anteng saja, seperti telinganya sudah kebal dengan suara sang ibu. Ia menganggap, hitung-hitung seperti sedang tinggal di tempat latihan tembak tentara.

"Allahuuuu! Ngidam apa gua, punya anak gadis malesnya kebangetan!" omel ibunya berkacak pinggang, sebagai seorang ibu tangannya sudah terlatih untuk mengikuti kata hati, ia menyingkabkan selimut berwarna biru langit yang membalut tubuh putri semata wayangnya, hingga si anak menggeliat bak kaki seribu, ia pun membuka jendela kamar agar udara masuk ke dalam kamar ini, tentunya sambil ngomel-ngomel dengan ucapan pedas setara dengan ayam richesse level 5, bikin diare.

"Cari kerjaan sono! Mau sampe kapan nganggur, anak tetangga aja yang cuma lulusan SMA kerja di toko baju, bisa ngasilin duit, bukan cuma keluyuran ngga jelas sampe malem ke tempat-tempat ngga jelas juga!" titah yang mulia ratu.

Faranisa Danita, seorang gadis sarjana desain grafis, hingga kini masih menganggur. Ia adalah gadis kritis dengan pandangan apatis terhadap negara sepaket pemerintahannya. Menyaksikan begitu lucunya negri ini, dimana bantuan uang rakyat yang selalu salah sasaran, korupsi dan sebagainya. Negri yang katanya kaya, tapi sarjana pintar macam dirinya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dan sesuap nasi.

Kini gadis itu mulai tergerak untuk menegakkan badannya, meski mata masih menyesuaikan dengan cahaya kamar. Semalam ia membantu seorang teman menjadi desain creator dalam sebuah project kecil, lumayan buat jajan seblak sama ngasih uang beras, biar ngga dikata cuma numpang hidup.

"Kan nyak udah tau, tiap hari Fara beredar buat cari-cari kerja, tapi sampe sekarang belum dapet. Cari kerja susah 'nyak, malah buang-buang ongkos doang," jawabnya malas, ia merapikan surai panjang sepunggung dan mengikatnya asal yang penting ngga ngalangin penglihatan.

"Makanya bangun tuh pagi, mandi, beres-beres! Jam segini rejeki lu udah dipatok ayam!" debat ibunya, jika sudah debat begini, sudah dapat dipastikan tayangan live ini akan memakan waktu lama seperti siaran langsung sepakbola antara Indo dan Malay.

"Ck, rejeki Fara dipatok ayam. Ayamnya Fara balik patok!" dumelnya beringsut turun dari ranjang sambil menguap.

"Kalo nguap tutup!" sarkas ibunya sambil mendorong wajah Fara pelan, menghentikkan kenikmatan yang haqiqi.

"Nyak ih!" serunya tak terima.

"Itu se tan pada masuk, pantes aja males! Kalo nguap ngga pernah ditutup, berapa banyak tuh se tan yang masuk!" omelnya lagi membereskan ranjang anak gadisnya, meskipun begitu Fara adalah anak satu-satunya yang ia sayangi, terlampau ia sayangi.

"Nyak ngga boleh berentiin orang nguap ih, nguap tuh hak setiap warga negara yang ngga boleh diganggu gugat!" ia menyapukan jemari ke sudut mata demi membersihkan matanya, bibirnya merengut biar kata bau nafas pagi harinya sudah seperti aroma orang puasa 7 taun buat dapetin kapak naga Geni, tapi itu tak boleh dihentikan secara sembarang.

"Nyak ngga mau tau, kalo bulan depan lu ngga dapet kerjaan. Nyak mau jodohin lu," ancamnya. Sontak saja Fara langsung melotot dibuatnya.

"Jangan sadis gitu dong 'nyak, kita kan bestie!"

"Oke---oke Fara bakalan pantang nyerah buat cari kerjaan, lagian semalem Fara bantu temen ngerjain project, lumayan buat uang beras!"

Ibunya menghela nafas panjang, "ya udah sana ke kamar mandi, nasi goreng udah di meja!" titahnya kembali luluh. Senyum manis Fara tercetak, "nyak yang terbaik!"

Maka disinilah Fara, bermodalkan ijazah sarjana S1 nya ia berharap jika hari ini adalah keberuntungannya, meski negara tempatnya berpijak terasa tak adil baginya, dengan menyia-nyiakan sumber daya manusia berpotensi seperti dirinya luntang-lantung seperti kucing kampung tanpa tujuan hidup.

Fara tak tau kemana tujuan kakinya akan melangkah, yang jelas ia harus keluar dulu dari gubuk kecilnya bersama sang ibu, yang lebih mirip sarang berang-berang.

Langkahnya menyusuri gang sempit diantara megahnya jalanan ibukota, sesekali ia tersenyum miring setengah mencibir tatkala melihat spanduk, baligho dan poster caleg yang ingin melenggang ke Senayan. Baginya siapapun nanti yang terpilih sama saja, hidupnya tak akan semudah Dilan mengucapkan kata gombalannya pada Milea, tak akan langsung membuatnya kaya raya mirip keluarga Beckham.

Kulit mulusnya tersapu debu dan angin jalan, tapi ia sudah biasa. Ia menyetop kopaja, berdesakan dan berpegal-pegal ria dengan sejuta aroma adalah makanannya sehari-hari, membuat betis perempuannya jauh dari kata jenjang nan mungil, mungkin lebih tepatnya betis singkong.

Perusahaan, Cv sampai lubang semut pun ia datangi, tapi selalu mereka menjawab tak ada lowongan pekerjaan.

"Bang es dawet satu!" Fara mengipasi wajah cantiknya yang memerah dan lusuh karena debu dan keringat. Semangatnya kian menciut jadi sebesar kismis.

Hanya sebuah pohon besarlah tempat ia beristirahat ditemani kang dawet, di waktu yang sudah tergelincir ke sore. Ia ragu untuk pulang, sudah dapat dipastikan ibunya akan kembali mengomel.

"Apa gua kasbon dulu ke Rio ya? Paling engga bawain martabak gitu buat 'nyak?!" gumamnya sendiri.

"Berapa bang?" tanya Fara.

Si pria bertopi merah machester ini kemudian menjawab, "goceng aja neng," lembaran sisa-sisa kehidupan dompet Fara ia keluarkan, lalu bergegas menuju tempat temannya Rio, karena hari sudah mulai gelap. Bagaimana pun 'nyak adalah ibunya, perempuan itu walaupun sering mengomel sadis tapi selalu mengkhawatirkannya.

"Yo!" senyumnya lebar nan manis.

Wajah Rio menatap malas, jika memasang tampang calon anggota legislatif lagi foto shot begini, sudah pasti jawabannya adalah money. Rio bukan tak tau sobatnya sejak di bangku kuliah ini, bahkan sudah tau dalam-dalamnya Fara.

"Apa? Jangan bilang lu mau kasbon?!" cebiknya malas.

"Ayo dong yo, lu kan tau 'nyak gua?!" mata berkaca-kaca sebening tetesan embun di kaca spion, jurus jitu marimar minta warisan sama fernando.

"Ya udah, gua anggap ini dp kerjaan lu ya?!" balas Rio, membuat senyuman Fara semakin mengembang, tak ada senyuman manis mengalahkan senyuman Fara, bahkan senyuman model pasta gigi saja kalah telak sama Fara yang kasbonnya di acc. Ada hati yang iba di hati Rio melihatnya, kehidupan Fara tidaklah mudah. Jujur, ia menyukai sahabatnya itu, Fara memang begitu, tapi di balik itu semua Fara adalah gadis pintar dan terbilang mahir sebagai creative grafis, ia juga baik meskipun nyablak, ia gadis berani, dan segala yang ada di dirinya adalah magnet tersendiri untuk lelaki. Pernah sekali ia mengungkapkan perasaannya tapi Fara hanya menganggap itu sebuah lelucon.

Rio mengambil lembaran merah, tak banyak..tapi bagi seorang Fara cukup untuk menyumpal mulut ibunya untuk seminggu, setidaknya ada waktu untuknya mempersiapkan diri, mental dan fisik, telinga khususnya. Menghadapi kembali amukan Gargantuar di rumahnya.

"Heemmmm!" ia menciumi aroma uang yang diberikan Rio.

"Wangi duit kasbon emang beda, bau balsem!" selorohnya.

"Si*alan," desis Rio.

"Ya udah kalo gitu, gua balik yo!" pamitnya.

Malam telah seluruhnya menyelimuti langit ibukota, perwira yang baru saja tiba, belum sempat membeli perabotan baru lagi, hari ini ia disibukkan dengan sambutan dari rekan dan atasan.

Sekuat-kuatnya tentara, tetap saja tak akan kuat menahan perut yang sudah bertabuh minta diisi.

Tadi sore Yohanes mengantarkan motor inventaris bilamana sang perwira akan mencari sesuatu diluar markas dan kompleks.

Al Fath memakai jaket hijau kebanggannya lalu menyalakan motor, ia keluar dari markas mencari makan malam.

.

.

.

Note :

*Gargantuar : monster besar nan seram.

1
merry yuliana
ini entah ke berapa puluh atau ratus kali ya baca ini dan selalu ngakak pa sbaca bab ini sambil kasian sm.abi fath pusing beruntun 🤣🤣🤣🤣🤣
novel destiny
sebagai seorang istri prajurit harus tegar yaaa...
apalagi kalo suaminya ada tugas perang kaya gini 🥺🥺😢😢
novel destiny
klo udah gelap mata manusia gtu yaa..
duit halal atau haram sikat ajah teruss
novel destiny
perang sebentar lagi di mulai
novel destiny
bang fath puasa 2 hari udah kangen fara ..
gimana nasib bang yo yg harus puasa 2 bulan 4 hari 🤣🤣🤣🤣🤣
novel destiny
fara mah ga dimana2 menebar aura positif 😁😁
novel destiny
rame entar disana..
geng duda kelam hadir disana 🤣🤣🤣
novel destiny
gimana fara ga gembil coba?
awal2 hamil ajah , apa ajah di lahap 🤣🤣🤣🤣
hamil kebo nih ya fara. walaupun pagi2 nya tetep ada mual nya
novel destiny
kalo baca tulisan teh sin tuh kaya, kita beneran ada disitu langsung tau.. dapet banget aku setiap baca novel nya ka Shin. karna ga terlalu berat, diselingi lawakan2 receh.. 🤣🤣🤣
teteh sin tetep disini yaaaa 😘😘
novel destiny
wkwkwkwkw...
umi syalwa ampun dahh.. hemponggggg 🤣🤣🤣🤣
stevany indri
SKOUW.... pintu perbatasan dg negeri tetangga. dah nyampe sana. garis pantainy bgs bgt dg pasir putih dan air laut yg biru
stevany indri
betul sekaleee.... kelengkeng rasa durian😁
stevany indri: matoa kelapa yg sdh sy cb mkn tp g suka krn aroma duren itu.
total 1 replies
merry yuliana
nunggu up unyu balik baca klan ananta daku teh😍🤣
Evi Aja
yah lagi seru tiba² end,,sukses terus buat author.
novel destiny
pengen coba ihh buahnya kaya gimana rasanya 🤤🤤🤤
novel destiny
belom ilang suaranya al Fath penuh nasihat, eh bininya udah punya segudang pemikiran absurd nya 🤣🤣🤣🤣
novel destiny
ohohooo...
bang fath nyobain ranjang. takut terjadi tragedi ranjang 2 🤣🤣🤣
novel destiny
aya aya wae lah mereka 🤣🤣🤣🤣
novel destiny
kejadian yg terulang di masa depan. mirisnya bangsa ini
novel destiny
kenapa setiap baca karya teteh shin tuh gimana yaa..
ada pelajaran di sela2 ceritanya. ada sesuatu yg bikin kita tenggelam di dalam bacaannya. ada nasihat di sela2 kalimat nya.
yg bikin heran tuh, kok ya tulisan sebagus ini, se effort ini, author nya se kece ini, kok ya sepi pembacanya??

ga ngerti banget deh aku tuh!!!

yg belom baca tulisan teh Shin mending buruan baca deh!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!