Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan pertama
Kediaman Senju Butsuma, Siang Hari
Proses persalinan Uzumaki Ai sedang berlangsung. Di depan ruangan, Senju Butsuma tampak gelisah, ia mondar-mandir menunggu kelahiran anak kandungnya. Sementara itu, di kamarnya sendiri, Raiden sedang berbaring malas di atas ranjang.
‘Haaahhh, menjadi bayi sungguh tidak menyenangkan,’ batinnya bosan.
Raiden hanya bisa berguling ke sana kemari di tempat tidurnya. Namun, di balik rasa bosannya, ia merasa bahagia karena hari ini adiknya, Hashirama, akan lahir. Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas dan membuatnya termenung.
‘Hmm, tunggu sebentar. Bukankah aku akan memiliki tiga adik? Hashirama, Tobirama, dan Itama...’
Pikiran itu terus terngiang di benaknya. Ia tahu betul bahwa pada zaman ini perang terus berkecamuk. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun dipaksa ikut andil dalam pertumpahan darah. Raiden kembali menghela napas panjang.
‘Aku sudah tahu bagaimana alur cerita ini akan berjalan. Namun, apakah aku harus mengubahnya?’
Raiden bimbang. Ia bingung apakah harus membiarkan takdir berjalan apa adanya atau melakukan intervensi. Namun, ia teringat bahwa kedamaian besar terkadang memerlukan pengorbanan.
‘Ah, lebih baik biarkan mengalir saja sesuai ceritanya. Lagi pula, dengan keberadaanku di sini saja, alurnya pasti sudah sedikit bergeser. Maafkan aku, Itama... aku mungkin harus membiarkan takdirmu terjadi.’
Karena keterbatasan fisik tubuh bayinya, rasa kantuk segera menyerang. Raiden pun kembali tertidur lelap.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi pecah dari dalam kamar Ai. Tanpa menunggu lama, Butsuma segera membuka pintu. Raut wajahnya tampak berseri-seri. Ia bergegas mendekati Ai dan menggendong bayi mungil yang berada di samping istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Beristirahatlah, aku tahu kau sangat lelah," ucap Butsuma dengan senyum hangat.
"Baiklah. Jadi, siapa nama anak kita ini?" tanya Ai lemah namun bahagia.
Butsuma terdiam sejenak, menatap bayi di pelukannya. "Hashirama. Hashirama Senju, itulah namanya. Hehehe, aku yakin kakakmu akan sangat senang. Dari kemarin dia selalu mengelus perut ibumu," lanjutnya lembut.
Hashirama yang berada di gendongan ayahnya hanya tertawa riang, seolah mengerti ucapan sang ayah. Setelah itu, Butsuma meletakkan Hashirama kembali ke samping Ai.
"Aku pergi dulu, masih banyak urusan klan yang harus kuselesaikan. Jangan lupa beristirahat," pesan Butsuma.
"Emmm," jawab Ai sambil mengangguk kecil. Butsuma mencium kening istrinya sebelum melangkah keluar ruangan.
Time Skip: 2 Tahun Kemudian
Dua tahun telah berlalu dengan cepat. Kemarin, adik kedua Raiden, Tobirama Senju, telah lahir ke dunia.
Selama dua tahun ini, Raiden bersandiwara dengan bertingkah seperti anak-anak pada umumnya; bermain bersama Hashirama, bermanja dengan ibunya, dan aktivitas lainnya. Namun secara diam-diam, ia sering menyelinap ke ruang penyimpanan teknik rahasia keluarga Senju. Meski di sana hanya terdapat teknik-teknik dasar—karena ia tahu teknik Elemen Kayu (Mokuton) belum ada yang membangkitkannya—hal itu tidak menyurutkan niat belajarnya.
Suatu hari, ia bahkan pernah dihukum oleh ibunya karena ketahuan mencoba memanipulasi cakra. Ia dikurung selama satu hari penuh. Namun, berkat wajah imut dan sikap manis Raiden, Ai merasa iba dan tidak tega meneruskan hukumannya.
Dua hari setelah kelahiran Tobirama, Raiden merasakan sesuatu yang aneh pada matanya. Rasanya perih dan gatal secara bersamaan. Ai yang melihat Raiden terus-menerus mengucek matanya mulai merasa khawatir.
"Ada apa, Nak? Kenapa kau terus mengucek matamu?" tanya Ai lembut.
"Tidak tahu, Ibu. Mataku terasa perih dan sangat gatal," sahut Raiden.
Melihat kondisi anaknya, Ai segera memanggil Butsuma. Di sisi lain, Raiden terus menahan rasa tidak nyaman itu. ‘Ah, apa-apaan ini? Tidak terlalu sakit, tapi rasa gatalnya luar biasa!’ batinnya.
Ia tidak menyadari bahwa warna matanya yang semula hitam perlahan berubah menjadi putih dengan corak biru kehijauan yang indah. Sesaat kemudian, Ai kembali bersama Butsuma.
"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi dengan matamu?" tanya Butsuma panik sambil memegang bahu Raiden.
"Tidak tahu, Ayah. Tapi sekarang sudah tidak sakit lagi," jawab Raiden pelan.
Saat Raiden menurunkan tangannya dan membuka kelopak mata, Butsuma dan Ai tersentak hebat. Mereka terpaku melihat perubahan pada bola mata putra sulung mereka.
‘Mata apa ini? Aku belum pernah melihatnya. Aku tahu leluhur Shinobi memiliki Doujutsu yang kuat, tapi bentuknya tidak seperti ini,’ batin mereka berdua diliputi keheranan.
Melihat kedua orang tuanya terdiam sambil menatapnya dengan sangat serius, Raiden bertanya, "Ada apa, Ayah? Ibu? Apa ada yang salah denganku?"
Suara Raiden menyadarkan mereka dari lamunan.
"A-ahhh, tidak ada apa-apa, Nak. Kami hanya senang kau baik-baik saja. Ya kan, Sayang?" ucap Ai cepat sambil melirik Butsuma.
Butsuma yang mengerti maksud lirikan istrinya segera menimpali untuk menenangkan suasana. "Y-ya, benar kata ibumu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapnya sambil menepuk pundak Raiden dengan senyum yang sedikit canggung.
Raiden tahu ada sesuatu yang disembunyikan orang tuanya, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Saat ini, ia merasa penglihatannya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam. Ia bahkan bisa melihat aliran cakra di dalam tubuh orang tuanya dengan sangat jelas.
‘Tenseigan... Ternyata aku mendapatkan mata ini. Pantas saja mereka terkejut,’ batin Raiden puas.
Meski awalnya ia berharap mendapatkan Rinnegan, ia tidak merasa kecewa. Ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki potensi satu mata lagi di dahinya, mirip seperti Dewi Kaguya.
Setelah itu, suasana kembali normal. Butsuma pergi untuk mengurus urusan klan, sementara Ai kembali fokus menyusui dan merawat bayi Tobirama.