NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Keterbatasan Fisik dan Hancurnya Sabit

​Langit di atas lautan Grand Line berubah menjadi medan kematian.

​Ratusan bola besi panas meluncur menembus udara, menciptakan suara siulan tajam yang merobek ketenangan siang hari. Kilatan api dari moncong meriam tiga kapal perang Angkatan Laut menyilaukan mata, disusul oleh suara gemuruh ledakan mesiu yang menggetarkan tulang.

​Lintasan proyektil-proyektil itu bertemu di satu titik pusat. Kapal Bajak Laut Mugen.

​Bagi Robin, Reiju, dan Monet, ini adalah sebuah hujan peluru yang tidak mungkin bisa dihindari atau ditahan oleh kapal kayu kecil mereka. Ketiga wanita itu telah bersiap untuk mengerahkan kekuatan maksimal mereka hanya untuk melindungi lambung kapal dari beberapa peluru pertama.

​Tetapi, mereka tidak perlu melakukannya.

​Di atas pagar haluan, Uchiha Madara merespons dengan gerakan yang melampaui logika alam.

​Dia tidak mencabut sabitnya. Dia tidak menyemburkan bola api.

​Madara mengalirkan chakra biru pekat ke telapak kaki kanannya. Dengan satu sentakan tunggal yang luar biasa kuat, dia menendang udara kosong di depannya.

​Tenaga tolakan itu menghancurkan pagar kayu tempatnya berdiri menjadi serpihan debu.

​Tubuh pemuda berarmor merah itu melesat membelah udara dengan kecepatan supersonik. Dia tidak melompat mundur untuk berlindung, melainkan terbang lurus menembus hujan peluru artileri, mengarah langsung ke kapal perang utama tempat Laksamana Muda Onigumo berada.

​Ratusan peluru meriam berpapasan dengannya di udara.

​Kenbunshoku Haki tingkat dasar milik Madara membaca setiap lintasan bola besi tersebut dengan akurasi absolut. Di matanya, peluru-peluru raksasa itu seolah bergerak dalam tayangan lambat yang membosankan.

​Dia memiringkan bahunya beberapa sentimeter untuk menghindari peluru pertama yang mengarah ke dadanya.

​Peluru kedua melesat mengincar kepalanya. Madara hanya menekuk lehernya sedikit, membiarkan bola panas itu menyapu helaian rambut hitam panjangnya.

​Dia menari di tengah hujan baja.

​Lompatan udaranya tidak melambat sedikit pun. Dia menjadikan celah sempit di antara lintasan proyektil mematikan itu sebagai jalan setapak menuju tahta sang komandan Angkatan Laut.

​Brak.

​Suara hantaman keras bergema di atas geladak kapal perang utama Angkatan Laut.

​Pelat baja penyangga tiang layar kapal perang itu penyok tajam ke dalam akibat gaya gravitasi dan kecepatan pendaratan Madara. Angin kencang menyapu sekeliling, membuat ratusan prajurit elit yang sedang mengisi peluru meriam terpental mundur beberapa langkah.

​Madara berdiri tegak di tengah kepungan musuh. Asap tipis masih mengepul dari telapak sandalnya.

​“D-Dia berhasil melewati tembakan meriam?!” teriak seorang prajurit dengan suara bergetar panik. Senapan di tangannya hampir terlepas karena ketakutan.

​Madara tidak memberikan mereka waktu untuk berpikir atau mengatur ulang formasi.

​Dia menarik lengan kirinya yang dililit rantai baja gelap. Sabit besi hitam yang berada di punggungnya melesat ke tangan kanannya.

​Pembantaian dimulai.

​Madara tidak menggunakan ayunan sabit yang besar. Dia menggunakan gerak kaki yang luar biasa efisien. Taijutsu pembunuh yang diasah dari genangan darah ribuan pertempuran kini diperagakan di atas geladak yang bersih.

​Dia melangkah menyamping, menghindari tusukan bayonet dari seorang prajurit di sebelah kirinya. Dalam gerakan yang sama, pangkal gagang sabitnya menghantam keras jakun prajurit tersebut. Suara tulang rawan yang remuk terdengar kering.

​Tiga prajurit lain mencoba menembaknya dari jarak dekat.

​Madara memutar tubuhnya seperti pusaran angin. Rantai baja di lengan kirinya berkelebat menepis laras senapan mereka ke arah udara kosong saat pelatuk ditarik. Sebelum ketiga prajurit itu menyadari kegagalan mereka, bilah tumpul sabit Madara telah menyapu dada mereka secara beruntun, menghancurkan tulang rusuk dan organ dalam tanpa menumpahkan setetes darah pun.

​Teriakan kesakitan, suara senjata yang patah, dan derak tulang yang patah menggema di seluruh geladak kapal perang itu.

​Madara tidak menggunakan ninjutsu. Dia tidak menggunakan Haki. Dia menghemat chakranya. Dia hanya menggunakan refleks murni dan seni pertarungan fisik tingkat tinggi untuk membersihkan serangga-serangga yang menghalangi jalannya.

​Ratusan prajurit elit Angkatan Laut itu tidak lebih dari sekumpulan jerami yang menunggu untuk disabit.

​“Minggir dari sana, kalian semua yang lemah!”

​Sebuah suara bariton yang berat dan dipenuhi hawa membunuh memotong jeritan para prajurit.

​Dari atas anjungan kapal, Laksamana Muda Onigumo melompat turun.

​Pria bertubuh tinggi besar itu mendarat dengan dentuman keras, membuat geladak kapal sedikit bergetar. Mantel perwira putihnya berkibar. Cerutu di mulutnya masih menyala merah.

​“Kalian hanya membuang nyawa tanpa guna. Biarkan aku yang membereskan iblis rendahan ini,” perintah Onigumo dengan nada yang tidak menerima bantahan.

​Sisa-sisa prajurit yang masih hidup dan belum terluka parah segera mundur menjauh. Mereka membentuk lingkaran lebar, memberikan ruang arena pertarungan bagi komandan mereka. Keringat dingin membasahi wajah mereka, tetapi mereka menaruh harapan mutlak pada kekuatan sang Laksamana Muda.

​Madara menghentikan langkahnya. Dia mengibaskan sisa-sisa debu dari jubah hitamnya.

​Mata hitam kelamnya menatap Onigumo dengan pandangan menilai.

​'Energi spiritualnya sangat padat. Dia memiliki kontrol atas otot tubuhnya hingga ke tingkat seluler,' batin Madara, menganalisis fluktuasi energi dari pria yang merokok di depannya. 'Berbeda dengan raja siput yang bersembunyi di balik mesin, pria ini adalah petarung murni.'

​Onigumo tidak membuang waktu untuk berbicara. Paham Keadilan Absolutnya menuntut eksekusi instan.

​“Soru.”

​Satu kata singkat itu terucap.

​Dalam sekejap mata, tubuh besar Laksamana Muda Onigumo menghilang dari pandangan.

​Bukan sebuah ilusi atau manipulasi kecepatan optik. Onigumo menggunakan salah satu teknik Rokushiki, menendang lantai geladak puluhan kali dalam sepersekian detik untuk menghasilkan kecepatan lari yang melampaui batas kecepatan suara.

​Mata manusia biasa, bahkan para krunya yang ada di sana, tidak bisa melacak pergerakan tersebut. Onigumo lenyap bagaikan ditelan bumi.

​Namun, di dalam benak Madara, Kenbunshoku Haki-nya menangkap sebuah lintasan energi yang bergerak melingkar ke arah titik butanya.

​Di sebelah kanan belakang.

​Madara tidak memutar tubuhnya. Dia hanya mengangkat sabit besinya secara vertikal untuk melindungi punggung bagian kanannya.

​Trang.

​Suara benturan logam yang sangat keras memekakkan telinga.

​Onigumo telah muncul tepat di belakang Madara. Pria besar itu mengayunkan sebuah pedang panjang yang berkilau dingin, namun serangannya tertahan sempurna oleh bilah tebal sabit Madara.

​“Reaksi yang bagus untuk ukuran bajak laut amatir,” ejek Onigumo dengan seringai buas. Asap cerutunya menyengat hidung Madara.

​Onigumo tidak menarik pedangnya. Dia melepaskan tangan kirinya dari gagang pedang, lalu mengepalkannya dengan sangat erat.

​“Tekkai.”

​Otot-otot di lengan kiri Onigumo membengkak dan mengeras secara instan. Kepadatan sel ototnya dipaksa meningkat hingga memiliki kekerasan yang setara dengan baja murni. Ini adalah teknik pertahanan Rokushiki yang digunakan sebagai serangan penyeruduk.

​Tinju baja Onigumo meluncur lurus ke arah tulang rusuk Madara.

​Madara tidak memiliki cukup ruang untuk menghindar. Dia merespons dengan melepaskan gagang sabitnya dengan tangan kiri. Dia meninju balik lengan baja Onigumo dengan tinju kirinya yang dilapisi sedikit aliran chakra.

​Bum.

​Benturan dua tinju itu menciptakan gelombang kejut udara yang menyapu lantai geladak.

​Madara merasakan rasa kebas yang tajam menyengat dari buku jari kirinya hingga ke siku.

​'Keras,' analisis Madara dalam waktu kurang dari satu detik. 'Tubuh fisiknya telah dilatih hingga melewati batasan manusia normal. Mengadu kekuatan kasar murni dengan monster berumur puluhan tahun ini adalah tindakan yang tidak efisien.'

​Madara menggunakan tolakan dari benturan tinju itu untuk melompat mundur.

​Dia membuat jarak sekitar lima meter dari Onigumo.

​Namun sang Laksamana Muda tidak memberikan celah sedikit pun. Saat Madara masih melayang di udara karena lompatan mundurnya, Onigumo mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi.

​“Rankyaku.”

​Onigumo mengayunkan kakinya ke bawah dengan kecepatan yang memecah udara.

​Gerakan itu menciptakan pisau angin berwarna biru pucat yang melesat keluar dari ujung kakinya. Pisau angin yang cukup tajam untuk memotong tiang besi baja itu meluncur lurus ke arah dada Madara yang masih berada di udara.

​Mata Madara menyipit tajam.

​Dia segera menyalurkan energi spiritual dari dalam dadanya. Pori-pori kulit di tangan kanan dan bilah sabitnya bereaksi seketika.

​Warna besi kusam pada sabitnya berubah menjadi hitam legam yang sangat mengilap. Busoshoku Haki tingkat dasar membungkus senjatanya, memberikan kepadatan absolut.

​Madara mengayunkan sabit hitamnya dari arah bawah ke atas, menyambut datangnya tebasan angin Rankyaku tersebut.

​Srang.

​Sabit berlapis Haki itu membelah pisau angin menjadi dua bagian yang sangat presisi. Sisa-sisa angin tajam itu melesat melewati sisi tubuh Madara, menghancurkan pagar kapal di belakangnya dan memotong rapi beberapa laras meriam baja hingga terbelah dua.

​Madara mendarat kembali di atas lantai geladak.

​Dia berdiri tegak, memegang sabit hitamnya dengan erat. Namun, napasnya kini terdengar tidak beraturan.

​Dada remajanya naik turun dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya. Keringat tipis mulai bermunculan di dahinya. Hawa panas dari pertarungan intensitas tinggi mulai membebani paru-parunya.

​Madara mengepalkan rahangnya. Rasa kesal yang luar biasa mulai merayap di dalam batinnya.

​Ini bukan soal keahlian. Dalam hal teknik bertarung, taktik, dan pembacaan serangan, Madara berada beberapa tingkat di atas Laksamana Muda tersebut. Jika dia menggunakan tubuh aslinya dari puncak masa kejayaannya saat perang dunia ninja, satu tendangan murni saja sudah cukup untuk menghancurkan Onigumo berkeping-keping.

​Tetapi realitas yang dia hadapi saat ini berbeda.

​Wadah fisik remajanya adalah batasan terbesar yang dia miliki.

​Tubuh ini berusia belasan tahun. Belum mencapai tahap kedewasaan penuh. Tulangnya belum sepadat baja, dan kapasitas staminanya sangat terbatas. Di dunia asalnya, shinobi mengandalkan ninjutsu dan kelincahan untuk membunuh dengan cepat. Namun di dunia ini, para monster seperti Onigumo bertarung dengan mengandalkan daya tahan fisik murni yang dilatih secara brutal selama berpuluh-puluh tahun di Grand Line.

​Menggunakan Busoshoku Haki untuk melapisi senjatanya menguras tenaga spiritual dan fisik Madara dengan sangat cepat.

​Setiap kali dia menangkis pukulan Tekkai atau membelah Rankyaku, otot-otot lengannya menerima beban tekanan yang hampir melebihi batas toleransi sel-sel remajanya.

​'Menyebalkan,' batin Madara dengan tatapan dingin. 'Tubuh ini terlalu lemah untuk menari dalam tempo yang cepat.'

​Onigumo berdiri di seberang sana. Dia melihat perubahan ritme napas lawannya.

​Sebagai seorang veteran, insting Onigumo langsung menangkap kelemahan krusial tersebut.

​“Haki Persenjataanmu cukup bagus, Bocah Iblis,” ucap Onigumo sambil menyeringai lebar. “Tetapi stamina fisikmu tidak sebanding dengan kesombongan mulutmu. Kau sudah mulai kehabisan napas setelah menahan tiga seranganku.”

​Pria bertubuh besar itu melemparkan pedang di tangan kanannya ke udara. Dia tidak menangkapnya kembali dengan tangan.

​Sebuah fenomena menjijikkan dan mengerikan mulai terjadi pada rambut Onigumo.

​Rambut hitamnya yang panjang tiba-tiba bergerak hidup seperti tentakel gurita. Rambut-rambut itu membelah diri menjadi enam lengan tambahan yang terbuat dari jalinan rambut yang sangat tebal dan keras.

​Enam lengan rambut itu menangkap pedang yang terlempar di udara. Kemudian, dari balik jubahnya, Onigumo mencabut enam pedang panjang lainnya.

​Kini, Laksamana Muda itu berdiri dengan delapan buah pedang di tubuhnya. Dua pedang dipegang oleh tangan aslinya, dan enam pedang dipegang oleh lengan rambut laba-labanya.

​Ini adalah bentuk setengah mutasi dari Buah Iblis tipe Zoan miliknya. Kumo Kumo no Mi.

​“Dalam nama Keadilan Absolut, aku akan mencincang tubuhmu menjadi potongan daging yang tidak bisa dikenali,” raung Onigumo.

​Warna hitam legam mulai menjalar dari genggaman tangan dan rambut Onigumo, menyelimuti kedelapan bilah pedangnya. Pria itu menguasai Busoshoku Haki tingkat menengah yang jauh lebih stabil dan tebal dibandingkan dengan Haki dasar milik Madara.

​Delapan pedang hitam berkilau memantulkan sinar matahari dengan mematikan.

​Onigumo kembali menggunakan Soru.

​Kali ini kecepatannya meningkat drastis. Tubuhnya bergerak berzig-zag melintasi geladak, menciptakan bayangan-bayangan sisa yang membingungkan pandangan mata.

​Madara memusatkan seluruh fokusnya pada Kenbunshoku Haki. Dunia di sekitarnya terasa sedikit melambat, namun tubuh fisiknya merespons lebih lambat dari pembacaan pikirannya.

​Onigumo muncul dari arah atas, meluncur turun seperti laba-laba raksasa yang siap memangsa.

​Kedelapan pedang hitam itu diayunkan secara serentak dari delapan sudut yang berbeda, menutup seluruh ruang gerak dan jalur pelarian Madara. Ini adalah teknik pembunuhan multi-arah yang sempurna.

​Madara tidak memiliki pilihan selain menangkis. Jika dia menghindar, setidaknya dua pedang akan berhasil menembus jantung atau lehernya.

​Madara mengerahkan seluruh tenaga fisik dari pinggang dan bahunya. Dia memutar sabit hitamnya dalam kecepatan maksimal, mencoba menangkis kedelapan pedang itu satu per satu dalam hitungan milidetik.

​Srang. Trang. Clang.

​Serangkaian benturan logam yang sangat keras dan bertubi-tubi meledak di udara.

​Bunga api bertebaran terang menyilaukan mata para prajurit Angkatan Laut yang menonton dari kejauhan.

​Gelombang kejut dari setiap benturan pedang berlapis Haki itu menciptakan tekanan udara yang meretakkan papan kayu geladak tempat Madara berdiri.

​Madara berhasil menangkis ayunan pertama dari kedelapan pedang Onigumo.

​Namun, Laksamana Muda itu tidak memberikan jeda. Dengan memanfaatkan jumlah lengannya, Onigumo melancarkan gelombang serangan kedua, ketiga, dan keempat secara beruntun. Hujan tebasan pedang hitam menghujani posisi Madara tanpa ampun.

​Madara dipaksa masuk ke dalam posisi bertahan absolut.

​Sabit besinya menari-nari membelah udara, menangkis setiap tebasan maut. Namun setiap kali sabit hitamnya berbenturan dengan pedang hitam Onigumo, Madara merasakan otot tangannya semakin melemah. Hantaman tenaga fisik monster Grand Line itu perlahan meremukkan pertahanan seluler lengannya.

​Madara terdorong mundur satu langkah.

​Sandal kayunya bergeser kasar di atas lantai geladak yang retak.

​'Ini tidak bisa diteruskan,' batin Madara dengan pikiran analitis yang sangat jernih di tengah gempuran maut. 'Haki Persenjataanku belum cukup kuat untuk menetralisir perbedaan tenaga fisik ini. Senjataku harus menanggung sisa momentum dari setiap benturan.'

​Dan firasat buruk itu pun terjadi.

​Bilah sabit Kama milik Madara adalah senjata yang dia tempa sendiri pagi tadi. Logam dasarnya adalah baja eksoskeleton dari pasukan Germa 66. Baja itu memang diakui sebagai salah satu logam teringan dan terkuat buatan manusia di perairan North Blue.

​Namun, baja buatan manusia memiliki batas ketahanan yang disebut kelelahan material (Material Fatigue).

​Meskipun sabit itu telah dilapisi oleh Haki Persenjataan hitam, inti material di dalam lapisan Haki tersebut tetaplah baja Germa yang sudah mencapai titik leburnya. Menerima puluhan benturan dari delapan pedang berlapis Haki tingkat menengah yang diayunkan oleh monster sekelas Vice-Admiral secara terus menerus, telah melampaui batas batas fisika dari logam tersebut.

​Tepat saat Madara mengayunkan sabitnya ke atas untuk menahan tebasan pedang utama Onigumo dari arah vertikal.

​Trang.

​Suara benturan logam kali ini terdengar berbeda.

​Tidak ada suara pantulan yang tajam. Yang terdengar adalah sebuah suara retakan kering yang sangat nyaring.

​Waktu seolah membeku bagi Madara.

​Di depan matanya sendiri, warna hitam legam dari Haki Persenjataannya tidak mampu menahan tekanan dari dalam.

​Bilah sabit besi di tangannya hancur.

​Krak.

​Logam tebal itu pecah berkeping-keping di tengah benturan keras. Serpihan baja berwarna abu-abu gelap berhamburan ke udara, memantulkan kilatan sinar matahari di depan wajah Madara yang mematung.

​Hilangnya penahan dari sabit yang patah membuat pedang utama Onigumo tidak memiliki rintangan lagi.

​Bilah pedang hitam sang Laksamana Muda meluncur mulus menembus pertahanan Madara.

​Pedang itu menyayat secara diagonal melintasi dada kiri Madara.

​Beruntung bagi Madara, refleks mematikannya mengambil alih. Meskipun tubuh fisiknya mencapai batas, instingnya masih tajam. Dia menarik tubuhnya ke belakang sepersekian milimeter saat pedang itu merobek udaranya.

​Pedang itu mengenai pelindung dada merah yang Madara kenakan.

​Suara robekan material pelindung terdengar. Pelindung dada legendaris itu berhasil meredam sebagian besar daya potong pedang Onigumo, namun ujung tajamnya masih sempat merobek kulit di bawahnya.

​Tenaga hantaman sisa dari pedang Onigumo, digabungkan dengan ledakan kejut Haki, menghantam dada Madara layaknya palu godam.

​Madara terlempar ke udara.

​Tubuhnya melayang mundur, terpental melintasi geladak kapal perang yang luas.

​Dia mencoba menyeimbangkan tubuhnya di udara, namun kakinya tidak bisa menemukan pijakan karena tenaga hantaman itu terlalu besar.

​Brak.

​Tubuh Madara mendarat dengan keras, berguling beberapa kali di atas lantai geladak hingga punggungnya menabrak pagar pembatas di ujung kapal perang. Pagar kayu yang tebal itu hancur sebagian akibat benturan punggung remajanya.

​Udara di sekitar geladak seketika menjadi sunyi senyap.

​Para prajurit Angkatan Laut yang sedari tadi menahan napas kini membuka mata mereka lebar-lebar. Mereka melihat apa yang baru saja terjadi.

​Pemuda iblis berarmor merah yang telah menembus hujan meriam tanpa luka itu, kini duduk bersandar di antara puing-puing kayu pagar.

​Senjata sabitnya telah hancur. Rantai bajanya menjuntai tidak berguna di lantai.

​Kepala Madara menunduk, disembunyikan oleh poni rambut hitamnya yang berantakan. Napasnya tersengal keras.

​Setetes cairan kental berwarna merah gelap jatuh menetes dari sudut bibir Madara. Cairan itu jatuh ke atas pelindung dada merahnya, menodai lambang klan di dadanya. Sebuah goresan luka melintang terlihat di bawah armor yang robek.

​Sang iblis telah terluka.

​Laksamana Muda Onigumo berdiri tegak di tengah geladak. Kedelapan pedang hitamnya kembali bersinar di bawah matahari. Dia menghisap cerutunya dalam-dalam, menghembuskan asap kemenangan yang kental.

​“Keadilan selalu berdiri tegak pada akhirnya, Bocah Sialan,” raung Onigumo dengan nada kemenangan yang absolut. “Kekuatan palsumu telah hancur. Bersiaplah menerima eksekusi mati dari ujung pedang ini.”

​Ribuan prajurit Angkatan Laut yang melihat komandan mereka berhasil menjatuhkan monster itu tidak bisa lagi menahan kegembiraan mereka.

​Suara sorak sorai kemenangan meledak memenuhi lautan. Mereka mengangkat senjata mereka ke udara, meneriakkan nama Keadilan dan nama Onigumo secara berulang-ulang. Teriakan perayaan yang terdengar seperti ejekan memuakkan di telinga Madara.

​Di atas Kapal Bajak Laut Mugen yang tertinggal di belakang, kepanikan total meledak.

​Robin melebarkan matanya hingga batas maksimal. Tangan kirinya tanpa sadar mencengkeram kusen pintu kemudi hingga kayu itu retak. Dia melihat darah menetes dari bibir pemuda yang dia anggap sebagai dewa pelindung absolut. Ilusi tentang kekuatan tak terkalahkan Madara seolah retak di matanya.

​Reiju menggigit bibirnya hingga berdarah. Sang putri racun itu bersiap mengaktifkan sepatu terbangnya untuk melakukan misi penyelamatan bunuh diri.

​Sementara itu, Monet, sang pengintai udara yang baru bergabung, jatuh terduduk di atas geladak yang bersalju, menutupi mulutnya dengan kedua tangan yang bergetar. Hatinya hancur melihat penyelamatnya terpuruk di ujung geladak musuh.

​Kekalahan tampak sudah di depan mata. Keterbatasan fisik dan kelelahan material telah membawa sang dewa perang ke titik terendah pertarungan.

​Namun, baik Laksamana Muda Onigumo, ribuan prajurit Angkatan Laut yang bersorak, maupun kru kapalnya sendiri, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari sebuah kebenaran mengerikan.

​Bagi seorang Uchiha, rasa sakit dan kehancuran senjata bukanlah akhir dari sebuah pertarungan.

​Darah yang menetes dari bibir itu, dan rasa sesak di dadanya, bukanlah tanda kelemahan. Semua itu hanyalah kunci pemantik.

​Pemantik untuk membangunkan sebuah monster purba yang telah lama tertidur di dalam kegelapan jiwa Madara. Sebuah emosi kemarahan dan harga diri absolut yang tidak akan pernah mau bertekuk lutut pada keadilan palsu milik dunia yang menyedihkan ini.

​Kesombongan sejati baru saja terluka, dan balasan yang akan diberikan akan melampaui mimpi buruk paling kelam yang pernah dibayangkan oleh Grand Line.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!