Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usianya. Tapi kenyataan berkata lain, terpisah jarak dan waktu membuat kisah cintanya kandas di tengah jalan.
Seiring waktu berjalan, Mega mulai menata hatinya kembali dan berdamai dengan masa lalunya. Lima tahun berlalu, Mega pulang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang dokter. Bukan lagi remaja tanggung yang manja dan cengeng seperti ucapan seseorang padanya dulu.
Pertemuannya kembali dengan Fajar Anugrah, seorang Insinyur Pertanian, pemilik banyak lahan dan perkebunan di desanya mulai mengusik hatinya. Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk memajukan desanya, dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada tawa, ada benci, ada cinta di balik cerita luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Aku baik-baik saja
"Maaf Neng, sudah sampai," suara kernet bis membuyarkan lamunan Mega.
"Makasih Pak," sahut Mega segera bergegas turun dari dalam bis.
Pandangannya mulai menyapu sekitar tempatnya kini berada, mencari sosok seseorang yang berjanji akan menjemputnya.
"Mega!"
Mega menolehkan wajahnya ke asal suara, senyumnya seketika mengembang saat melihat mas Rizky kakak lelakinya berdiri di depan mobilnya di antara barisan para penjemput lainnya dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Mas Iky!" Mega berteriak memanggil nama kakaknya, tapi suaranya kalah nyaring dengan suara knalpot motor para pengemudi ojek yang berjajar menawarkan jasanya pada para penumpang yang baru saja tiba dan turun dari dalam bis.
Sambil menyeret kopernya, Mega berjalan cepat menemui mas Rizky yang setengah berlari menyambut kedatangannya.
"Mas Iky sudah lama tadi nunggu disini?" Tanya Mega kemudian, sambil meraih dan mencium punggung tangan kakak lelakinya itu.
Rizky tersenyum lebar, mengangkat koper Mega lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Sementara Mega berjalan memutar dan segera masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pulang kembali ke rumah.
"Belum lama kok Dek, sepuluh menitan tadi Mas nunggu. Nggak lama bis Kamu datang."
"Ayah sama mama kok nggak ikutan jemput Mega, Mas? Mereka baik-baik aja kan, Mas?" Mega menatap kakak lelakinya itu, bertanya dengan raut wajah menyiratkan kekhawatiran.
Rizky kembali tersenyum lebar mendengar nada kekhawatiran dari pertanyaan Mega barusan. Dengan tangan kirinya, diusapnya rambut panjang adiknya itu.
"Alhamdulillah, ayah sama mama sehat walafiat. Sekarang mereka lagi di rumah bude Sita, jenguk anaknya yang lagi sakit."
"Anak bude Sita yang mana, Mas? Intan bukan, sih? Anak bude yang nomer dua ya, yang masih kecil itu kan?" Mega mencoba mengingat nama anak bude Sita, adik sepupu dari ayahnya.
"Iya, Intan. Sekarang sudah besar, sudah kelas dua SMP," jawab Rizky mengiyakan.
"Oh, jadi benar si Intan ya," kata Mega sambil menganggukkan kepalanya.
"Hei, dari tadi nggak nanyaain kabar Mas. Apa kamu nggak kangen sama kakak Kamu yang ganteng ini?" Rizky mengerucutkan bibirnya, manyun.
"Kangen lah, Mas. Banget!" Mega tersenyum sambil memeluk lengan Rizky, merebahkan kepalanya sejenak di bahu kakaknya itu.
Rizky terkekeh geli melihat sikap manja Mega padanya, sikap yang membuatnya selalu merasa dibutuhkan, membuatnya selalu ingin melindungi adiknya itu dari orang-orang yang berniat menyakitinya.
"Kamu baik-baik aja kan, Dek?"
"Iya, Mega baik-baik aja kok Mas. Sebentar, biarkan Mega seperti ini dulu. Mega kangen, lima menit aja, Mega mau peluk Mas," Mega memejamkan matanya, tangannya memeluk erat lengan Rizky. Tanpa sadar, bulir air mata mengalir di sudut matanya.
Rizky menarik napas dalam, membiarkan Mega memeluknya dengan tenang. Dia tahu, butuh keberanian yang kuat buat Mega untuk pulang dan kembali ke kota ini lagi.
Dia tahu, bagaimana perasaan adiknya itu saat ini, mencoba bersikap tegar walau sebenarnya hatinya terluka begitu dalam.
Saat dirasakannya bahunya basah, Rizky tahu kalau adiknya itu saat ini sedang menangis. Pasti gara-gara lelaki itu lagi, Rizky mencoba menahan emosi dalam hatinya.
Kalau tidak memandang Mega yang menangis meraung saat itu, mungkin saja Bayu sudah habis di tangannya.
Teringat bagaimana Mega yang seperti mayat hidup, patah hati karena Bayu, sahabat karib yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri. Tega menyakiti hati Mega dengan hubungan terlarangnya dengan Alya yang tidak lain adalah sahabat Mega sendiri.
"Dek? Sudah nangisnya?" Rizky mengusap pipi Mega yang basah. Mega mengangkat kepalanya, senyum samar tersemat di bibirnya.
"Hapus air matamu, jangan biarkan mama melihatmu bersedih lagi. Cukup! Lupakan dia."
"Iya," Mega menganggukkan kepalanya.
"Kita pulang. Mas antar Kamu pulang ke rumah, setelah itu Mas mau jemput ayah sama mama tempat bude Sita."
"Mega ikut Mas tempat bude Sita, sekalian jenguk Intan. Biar pulangnya barengan mama sama Ayah."
"Kamu nggak capek, nggak mau istirahat dulu? Ini sudah sore, kalau mau jenguk Intan biar besok Mas yang anterin Kamu tempat bude Sita."
"Nggak Mas, Mega tetap mau ikut Mas tempat bude Sita sekarang. Mega juga mau lihat langsung kondisi Intan sekarang."
🌹🌹🌹