Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Melihat Dinzy mendapat pujian dari Adam dan koleganya, beberapa staff lain mulai bergosip. Tidak semua orang menyukai hal tersebut, ada yang merasa iri, ada yang merasa senang melihat kemampuan Dinzy.
Namun Dinzy tidsk menghiraukan hal tersebut, Dinzy datang ke kantor ini untuk bekerja bukan untuk bersaing dengan siapapun.
"Saya bangga sama kamu. Kamu sangat berkompeten Dinzy" - Luca
Dinzy membaca pesan tersebut dan tersenyum manis. Kemudian jari lentiknya mulai mengetik dan membalas pesan tersebut.
"Terimakasih Pak Luca" - Dinzy
"Selamat bergabung, kita akan sering bertemu kedepannya" - Luca
"Sekali lagi terimakasih Pak" - Dinzy
Luca tersenyum tipis kemudian memasukan ponsel kedalam sakunya dan setelah itu meninggalkan kantor tersebut dan ia segera menuju kantornya.
Ting! Ponsel Dinzy berdering
"Dinzy, bisa ke apartemen aku gak setelah kerja?" - Siska
Tanpa berpikir panjang, Dinzy segera membalas pesan Siska dan mengatakan iya untuk permintaan Siska.
Setelah jam kantor selesai, Dinzy segera memasan taksi online lalu menuju apartemen Siska yang berada tidak jauh dari kantornya.
Dinzy naik menuju unit Siska yang berada di lantai 8. Kemudian dia mengetuk perlahan pintu tersebut.
Ceklek!
Siska membuka pintu apartemennya, kemudian mempersilahkan Dinzy untuk masuk.
Mata Dinzy terbelalak melihat Siska dengan luka cakaran dan memar di bagian wajahnya.
"Mbak..." ucap Siska
Siska menangis di pelukan Dinzy. Tidak ada yang keluar dari mulut Dinzy, hanya tangan yang mengusap punggung Siska dengan lembut dan berusaha menenangkan Siska yang sedang terisak.
"Aku ketahuan istrinya Din" ucap Siska lirih
DEG!
"Jadi ini perbuatan istrinya Mbak?"
"Iya, tadi pagi aku mau ke kantor. Tapi dia ada di lobby menungguku"
Siska menceritakan detail kronologi kejadian tersebut. Istri dari kekasihnya tidak datang sendirian, namun bersama asistennya.
Mereka mengeroyok Siska begitu saja, meskipun sudah dipisah oleh petugas keamanan apartemen tersebut,namun Siska terlanjur babak belur di hajar oleh Istri dari kekasihnya.
"Dia tahu Mbak?" tanya Dinzy
"Mungkin tahu, tapi aku belum bisa terhubung sama dia"
"Mbak Siska mau tinggal di kontrakan aku dulu gak untuk sementara? Menghindari hal-hal seperti ini Mbak, aku hawatir sama Mbak Siska"
"Gak apa-apa aku tinggal sama kamu?"
"Mbak... Selama ini Mbak Siska selalu baik sama aku.Bahkan Mbak Siska bisa selamanya tinggal sama aku, demi keamanan Mbak Siska"
Siska memeluk Dinzy dengan erat. Dia merasa Dinzy begitu tulus. Siska tidak salah memilih teman untuk ia percayakan.
"Thanks Din. Aku pasti akan merepotkan kamu sampai semua keadaan baik-baik saja"
"Gak apa-apa Mbak, asal Mbak Siska aman dan baik-baik saja. Mbak, aku bantu packing ya, kita tinggalkan apartemen ini"
Siska mengangguk pelan, keduanya segera memasukkan baju sepatu dan beberapa lainnya kedalam koper besar milik Siska, kemudian mereka segera turun ke basement.
Mobil Siska melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan apartemen tersebut, keduanya menuju kontrakan Dinzy yang memang tidak jauh dari apartemen Siska.
Begitu sampai di kontrakan, Dinzy membantu Siska untuk menurunkan barang-barangnya kemudian mengantarkan Siska menuju kamar yang akan digunakan Siska sementara waktu ini.
"Maaf ya Mbak, kalau kamarnya kecil. Rumah ini hanya punya 2 kamar aja" ucap Dinzy
"Din, rumah ini nyaman kok. Terimakasih ya" ucap Siska
Dinzy mulai merapikan tempat tidur tersebut, sementara Siska meletakkan beberapa pakaian di dalam lemari tersebut.